Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu terdengar sangat keras dan beruntun memecah keheningan pagi yang masih berkabut.
Arga yang sedang duduk di ruang tengah mengasah goloknya langsung menghentikan pekerjaannya.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi buta begini?"
Arga bergumam pelan sambil meletakkan batu asahnya di atas lantai tanah.
Pria itu berdiri dan berjalan membuka pintu kayu rumahnya yang mulai lapuk.
Kriet.
Pintu terbuka dan menampilkan beberapa orang warga desa yang sudah berdiri berjejer di halaman.
Ada Mang Udin, Pak Joko, dan dua orang ibu-ibu tetangga sebelah yang membawa keranjang anyaman.
"Selamat pagi, Arga."
Mang Udin menyapa dengan senyum lebar yang terlihat sangat canggung.
"Maaf kalau kami mengganggu waktu istirahat keluargamu pagi-pagi begini."
"Kalian tidak mengganggu kok, tapi ada keperluan penting apa kalian semua berkumpul di sini?"
Arga mengerutkan keningnya melihat barang bawaan tetangganya yang terlihat seperti sesajen.
Pak Joko membawa seekor ayam jantan, sementara ibu-ibu membawa sekeranjang buah ceri dan sayuran segar.
"Kami hanya ingin meminta tolong sedikit pada putri kecilmu, Natasya."
Pak Joko menyodorkan ayam jantan itu ke depan dada Arga dengan tangan gemetar.
"Aku ingin memberikan ayam ini sebagai hadiah kecil untuk anakmu."
"Hadiah untuk Natasya?"
Arga menolak ayam itu secara halus dengan mendorong kembali tangan Pak Joko.
"Untuk apa kalian memberikan hadiah makanan sebanyak ini pada anak perempuanku?"
"Kami dengar dari pembicaraan di warung kemarin sore kalau Natasya itu adalah anak pembawa hoki."
Salah satu ibu-ibu tetangga ikut menyela pembicaraan dengan nada suara yang penuh harap.
"Kami hanya ingin Natasya mendoakan ladang kecil kami agar tidak terserang hama lagi seperti ladang lembah itu."
"Benar sekali, Arga, kami juga ingin Natasya menyentuh alat-alat bertani kami."
Mang Udin mengangkat cangkulnya tinggi-tinggi ke udara.
"Kata Bu Rini, barang apapun yang disentuh oleh Natasya pasti akan membawa keberuntungan besar."
Arga seketika membelalakkan matanya mendengar alasan konyol dari para tetangganya tersebut.
Kepalanya langsung berdenyut nyeri memikirkan betapa cepatnya rumor bodoh itu menyebar.
"Natasya itu cuma anak kecil biasa, Mang Udin, Pak Joko."
"Dia sama sekali bukan dukun atau anak ajaib pembawa berkah seperti yang kalian bicarakan itu."
Arga berusaha menjelaskan dengan nada sabar namun suaranya terdengar mulai meninggi.
"Semua yang terjadi belakangan ini hanya kebetulan belaka dan kebaikan dari Tuhan, bukan karena putriku."
"Kau jangan mencoba menyembunyikan keajaiban anakmu untuk keluargamu sendiri, Arga."
Ibu tetangga itu mendengus pelan merasa tidak terima dengan penolakan Arga.
"Kami kan juga ingin mencicipi sedikit nasib baik seperti keluargamu yang tiba-tiba makmur ini."
Keributan kecil di depan pintu itu akhirnya membangunkan Mira dan Natasya yang masih tertidur di kamar.
Natasya berjalan keluar kamar sambil mengucek matanya dengan bingung.
"Ayah, kenapa berisik sekali di depan rumah?"
Mendengar suara gadis kecil itu, para warga yang berkumpul langsung menyorongkan kepala mereka ke dalam.
"Natasya, tolong pegang cangkul Paman sebentar saja."
Mang Udin berteriak memohon dari ambang pintu dengan wajah memelas.
"Tolong doakan ayam jago ini biar menetas banyak, Natasya."
Pak Joko ikut berteriak saling sahut-menyahut membuat suasana pagi menjadi sangat kacau.
"Cukup, hentikan semua omong kosong ini sekarang juga."
Arga membentak keras hingga suaranya menggema menghentikan keributan para tetangga seketika.
Pria kekar itu merentangkan kedua tangannya menutupi tubuh mungil Natasya dari pandangan warga.
"Kalian benar-benar sudah kehilangan akal sehat karena terlalu banyak mendengar gosip murahan Bu Rini."
Arga menatap satu per satu wajah tetangganya dengan sorot mata marah yang sangat tajam.
"Cepat pulang ke rumah kalian masing-masing dan jangan pernah datang ke sini lagi membawa sesajen konyol seperti ini."
Brak.
Arga langsung membanting pintu rumahnya menutup rapat tanpa menunggu balasan dari para warga.
Pria itu menyandarkan punggungnya ke pintu sambil membuang napas panjang yang sangat berat.
"Mereka semua benar-benar sudah gila."
Arga mengusap wajahnya dengan kasar merasa sangat frustrasi dengan kelakuan orang dewasa di desanya.
"Ayah kenapa marah-marah pada Paman Udin dan Pak Joko?"
Natasya berjalan mendekati ayahnya dan menarik ujung baju pria itu dengan pelan.
"Mereka tadi mau memberiku ayam jago yang bagus loh, Ayah."
"Kamu tidak boleh menerima barang apapun dari mereka, Natasya."
Arga berjongkok dan memegang kedua bahu putrinya dengan raut wajah yang sangat serius.
"Mereka mengira kamu punya kekuatan gaib karena semua kebetulan yang menyelamatkan desa kita belakangan ini."
Mira yang baru keluar dari dapur ikut bergabung dan duduk di samping suaminya.
"Ibu sangat khawatir kalau rumor ini sampai ke telinga Kepala Desa, Mas Arga."
"Bisa-bisa Natasya disuruh menjadi tetua penolak bala setiap kali ada musibah di desa kita."
Natasya menundukkan kepalanya dalam-dalam mendengarkan percakapan cemas kedua orang tuanya.
Rasa bersalah langsung menyelimuti hati kecilnya karena niat baiknya ternyata berbuntut panjang.
"Aku tidak bermaksud membuat Ayah dan Ibu repot seperti ini."
"Ini sama sekali bukan salahmu, sayang."
Mira memeluk Natasya dan mengelus rambut hitam putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ini semua salah mulut orang-orang yang terlalu suka melebih-lebihkan sebuah kejadian."
"Mulai sekarang, kamu jangan sering-sering keluar rumah dulu ya, Natasya."
Arga memberikan perintah tegas untuk melindungi putrinya dari tatapan aneh warga desa.
"Ayah tidak mau kamu diganggu oleh orang-orang putus asa yang meminta keajaiban padamu."
Natasya hanya bisa mengangguk pelan meskipun hatinya merasa sangat sesak.
Gadis kecil itu tidak suka dikurung di dalam rumah karena ia terbiasa bermain bebas di alam.
Siang harinya, saat Arga dan Mira sedang sibuk di belakang rumah, Natasya kembali menyelinap keluar.
Ia tidak bisa menahan rasa pusingnya dan butuh teman curhat yang bisa mengerti keadaannya.
Kaki kecilnya berlari menyusuri jalan setapak pinggir desa yang sepi menuju batas hutan.
Sesampainya di bawah pohon mangga, Natasya memanggil sahabat setianya dengan suara pelan.