Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 29 - Semua Orang Boleh Tertipu
Malam ini Davion tidak langsung kembali ke apartemen, meskipun sudah tahu akan pulang larut malam namun ia tak menghubungi Aluna lebih dulu. Membuat Aluna menunggu dan tersiksa sendiri adalah sebuah kepuasan bagi Davion.
Malam ini ia datang ke rumah utama keluarga Harold karena Daddy Aston memintanya berdiskusi langsung mengenai masalah perusahaan keluarga Myles. Dan sekarang keduanya masih berada di ruang kerja pribadi Aston, ditemani dua gelas kopi yang mulai dingin di atas meja.
Davion duduk bersandar dan beberapa kali mengusap rambutnya kasar, mencoba tetap tenang meski pembicaraan mereka sejak tadi cukup alot.
“Aku tetap pada pendirianku, Dad,” ucap Davion. “Jika Harold Kingdom turun tangan, maka kita masuk sebagai investor dan ambil kendali mayoritas. Aku tidak akan membuang uang untuk menyelamatkan perusahaan yang bahkan tidak mampu mengatur keuangannya sendiri.”
Daddy Aston menghela napas panjang, apa yang diucapkan oleh Davion memang benar. Tapi tetap saja, baginya untuk beberapa hal harus ada pengecualian. Pria tua itu kemudian menatap putranya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Apa memang harus sejauh itu, Dav?”
“Ini bisnis, Dad.”
“Tidak semua hal harus diselesaikan seperti bisnis.”
“Kalau bukan bisnis, lalu apa?” balas Davion. “Mereka datang meminta bantuan karena bangkrut. Kalau mereka tidak mau kehilangan saham, seharusnya mereka tidak usah mencari bantuan.”
Aston terdiam sesaat.
Lalu pria paruh baya itu menatap Davion serius, suaranya berubah lebih berat dari sebelumnya. “Apa kamu tidak sadar?”
Davion mengernyit.
“Mereka menjadikan Aluna sebagai alat," ucap Daddy Aston kemudian.
Kalimat itu membuat Davion diam.
“Daddy sudah hidup cukup lama untuk tahu bagaimana keluarga seperti Myles berpikir. Mereka menikahkan Aluna padamu bukan hanya karena hubungan keluarga. Mereka ingin menggunakan gadis itu untuk mengikat kita.” jelas Daddy Aston pula.
Davion menatap ayahnya tanpa ekspresi, tapi rahangnya sedikit menegang membicarakan hal ini.
“Dengan adanya Aluna, mereka yakin kita akan memberi bantuan karena rasa kasihan atau karena hubungan suami istri.”
Davion terkekeh pelan, senyum dingin muncul di bibirnya. “Jadi akhirnya Daddy sadar juga kalau wanita itu memang licik.”
Namun Aston langsung menggeleng cepat. “Tidak, justru sebaliknya.”
Senyum Davion perlahan memudar. Sementara Aston menatap putranya lurus. “Daddy rasa selama ini kamu terlalu keras padanya.”
Davion terdiam.
“Dari yang Daddy lihat, Aluna justru anak yang paling menderita dalam keluarga itu.” Suara Aston melembut. “Dia terlihat seperti gadis yang bahkan tidak tahu bagaimana membela dirinya sendiri. Dan keluarga Myles jelas memanfaatkan sifat polosnya.”
Davion membeku, benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran sang ayah. Daddy Aston telah termakan oleh sandiwara Aluna.
Wanita licik itu benar-benar berhasil membuat semua orang percaya bahwa dirinya lugu dan suci.
“Lunasi saja hutang perusahaan mereka, Dav.” Daddy Aston menatap putranya dalam. “Tapi katakan pada mereka untuk jangan ganggu Aluna lagi.”
Davion menatap ayahnya beberapa saat tanpa berkedip. Entah kenapa mendengar kalimat itu, dada Davion justru terasa panas.
“Daddy terlalu mudah percaya pada orang,” ucap Davion dingin, akhirnya buka suara setelah sejak tadi terus mendengarkan perkataan sang ayah.
“Dan kamu terlalu keras kepala untuk mengakui jika tidak semua orang seburuk yang kamu pikirkan, Dav.”
Suasana langsung menegang.
Davion berdiri dari kursinya dan merapikan jas, “Kalau Daddy mau membantu mereka, lakukan sendiri. Tapi aku tidak akan mencampuri bisnis dengan perasaan," putus Davion.
Setelah mengatakan itu, Davion berbalik pergi keluar ruangan tanpa menunggu jawaban.
Namun sepanjang langkahnya menuju mobil, kata-kata Aston terus berputar di kepalanya.
'Jangan ganggu Aluna lagi. Dia hanya sedang dimanfaatkan keluarganya.'
Davion mengepalkan tangan.
Sepanjang perjalanan pulang, Davion menggenggam setir mobil begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat.
Ucapan Daddy Aston terus terngiang di kepalanya, tapi bukannya menggoyahkan keyakinannya, justru semakin membuat emosi Davion mendidih.
Baginya semua itu hanyalah bukti bahwa Aluna memang sangat pandai bermain peran.
Bahkan Daddy Aston yang terkenal tegas dan sulit percaya pada orang saja bisa dibuat luluh oleh wajah polos wanita itu.
'Sungguh menjijikkan.' Davion mendecakkan lidah pelan.
“Wanita licik,” gumamnya dingin.
Dalam benaknya semua kepolosan Aluna, semua tatapan lembutnya, semua sikap penurutnya hanyalah topeng semata. Topeng untuk menutupi ambisi keluarga Myles dan memanipulasi keluarga Harold dari dalam.
Dan fakta bahwa Daddy Aston mulai membela Aluna hanya membuat Davion semakin yakin. Bahwa wanita itu benar-benar berbahaya.
Saat mobil Davion memasuki basement apartemen, waktu sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam.
Langkah kaki pria itu terdengar berat saat berjalan menuju unit penthouse mereka. Begitu pintu terbuka hal pertama yang ia lihat adalah Aluna.
Aluna.
Wanita itu masih duduk di sofa ruang tengah dengan memeluk bantal kecil di pangkuannya. Televisi menyala tanpa suara, namun jelas sejak tadi ia tidak benar-benar menonton.
Begitu mendengar pintu terbuka, wajah Aluna langsung menoleh cepat. Dan seperti biasa, senyum lembut itu langsung muncul di wajah cantiknya.
“Dav... kamu sudah pulang,” ucapnya pelan, suaranya penuh kelegaan. “Aku menunggumu.”
Entah kenapa kalimat sederhana itu justru membuat dada Davion terasa makin sesak. Karena untuk sesaat ucapan Daddy Aston kembali terngiang. 'Mereka menjadikan Aluna sebagai alat.'
Davion langsung membuang pikiran itu jauh-jauh. Tanpa membalas satu kata pun, ia berjalan lurus melewati Aluna.
Senyum di wajah Aluna sedikit memudar. “Dav, ” panggilnya pelan, ia benar-benar bingung.
Namun Davion tetap tak menoleh. Langkah panjang pria itu langsung menuju lorong kamar, lalu...
BRAK! Pintu kamar tertutup keras tepat di depan wajah Aluna.
Suara benturan itu menggema di seluruh apartemen. Aluna sampai tersentak kaget di tempatnya.
Tubuhnya refleks menegang, matanya membesar menatap ke arah pintu kamar yang baru saja dibanting begitu keras. Ruangan yang semula hangat mendadak terasa dingin membekukan.
Aluna menunduk perlahan, coba menenangkan jantungnya sendiri yang berdegup cepat. Namun akhirnya berujung terasa sesak..
Ia tidak tahu apa yang salah.
Tidak tahu apa yang terjadi.
Padahal pagi tadi semuanya masih baik-baik saja.
Padahal semalam Davion bahkan membiarkannya tidur di sisinya.
"Apa aku melakukan kesalahan? tapi apa?" Bibir Aluna bergetar kecil. Namun seperti biasa, ia menelan semua pertanyaan itu sendirian.
Tak berani mengetuk pintu kamar Davion, karena Aluna terlalu takut jika keberadaannya justru semakin membuat Davion marah.
Dengan langkah pelan Aluna kembali duduk di sofa. Matanya terus memandang pintu kamar Davion yang tertutup rapat. Menunggu pintu itu terbuka kembali.
Di balik pintu kamar, Davion berdiri diam dengan napas kasar. Dasi di lehernya ia lepas kasar lalu dilempar ke ranjang. Entah kenapa melihat Aluna menunggunya justru membuat emosinya semakin kacau.
Wajah lembut itu.
Tatapan hangat itu.
Sikap seperti istri yang menunggu suaminya pulang.
Semua terasa begitu nyata dan justru itu yang paling membuat Davion marah. Karena jika semua itu memang hanya sandiwara, maka Aluna adalah pembohong paling hebat yang pernah ia temui.
"Semua orang boleh tertipu olehmu, Aluna. Tapi aku tidak akan pernah."
Belajar untuk membiarkan Aluna merasakan hidup sendiri tanpa tekanan dari siapapun dan menjadi dirinya sendiri...
Tetaplah dukung dan terus berada disisinya walaupun kalian terpisah tunjukan bahwa cinta yang tulus itu mulai tumbuh dihatimu ...
Nah apakah disini Aluna dan Davion bisa bersama? sedangkan Aluna sdh nyaman hidup seperti ini, Davion setelah bertemu Aluna mungkin sdh tidak bermain wanita lagi. Tapi entahlah dulu sampai tahap mana dia bermain, Yang pasti Aluna sdh tidak peduli lagi. Mungkin akan sedikit tersentuh kalau Davion berhasil membawa Aluna bertemh keluarga kandungnya kembali.