NovelToon NovelToon
Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Sci-Fi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Rjm10

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Turun ke Mulut Neraka

Tepi batas Sektor Satu adalah tempat di mana Distrik Bawah berhenti berpura-pura menjadi peradaban. Tidak ada lagi pendar lampu neon atau kerumunan penjahat yang mabuk. Di depan Kaelen, Lyra, dan Silas, membentang sebuah ngarai bawah tanah yang dipenuhi reruntuhan kuil kuno—semuanya tertutup lapisan lumut fosfor dan kabut hijau tebal yang berbau seperti belerang busuk.

Zona Mati.

Silas membagikan tiga buah masker respirator dari kulit yang dipasangi kristal penyaring udara. "Kabut ini tidak hanya merusak paru-paru, tapi juga mengacaukan orientasi mana," gumam pria tua itu, memasang maskernya dengan tangan gemetar. "Dulu, ini adalah fondasi kekaisaran pertama sebelum hancur. Akar Magma menyebar di bawah kita, memompa energi ke atas, tapi di saat yang sama memuntahkan limbah sihirnya ke tempat ini."

Lyra mengikat rambut pendeknya dan menyelipkan sepasang belati karambit ke sarung di pahanya. "Kuharap kau tahu jalan masuknya, Dokter. Aku tidak ingin menjadi makan malam cacing mutan."

Kaelen tidak langsung memasang maskernya. Ia menatap ke dalam kabut hijau pekat itu. Di balik jubah kulitnya, Inti Leviathan berdenyut cepat, seolah merespons resonansi energi purba yang tersembunyi jauh di bawah sana. Artefak itu lapar, dan Akar Magma adalah prasmanan terbesar di seluruh kekaisaran.

"Kita bergerak sekarang," perintah Kaelen, menarik maskernya menutupi separuh wajah. "Jaga jarak rapat. Jangan gunakan sihir cahaya, itu hanya akan menarik perhatian."

Mereka mulai menuruni tangga batu rapuh yang mengarah langsung ke perut Zona Mati. Suasana begitu hening hingga suara tetesan air terdengar seperti dentuman jam. Semakin dalam mereka berjalan, suhu udara perlahan meningkat. Di dinding-dinding gua raksasa itu, mulai terlihat urat-urat raksasa bercahaya jingga redup—cabang-cabang luar dari Akar Magma yang memompa panas ke Kastil Adiwangsa.

Namun, keheningan itu justru membuat insting Kaelen meronta.

Di tengah lorong sempit yang diapit oleh patung-patung batu tanpa kepala, langkah Kaelen tiba-tiba terhenti. Ia mengangkat sebelah tangan, memberi isyarat agar Lyra dan Silas membeku di tempat.

"Ada apa?" bisik Lyra, tangannya refleks menggenggam gagang belati.

Kaelen menyipitkan mata, menembus kabut hijau di depan mereka. "Terlalu sepi. Bahkan cacing mutan atau tikus got seharusnya membuat suara."

Sebuah desir halus membelah udara. Bukan suara letupan api atau derik sihir, melainkan gesekan murni antara logam tipis dan angin.

Kaelen memiringkan kepalanya dengan kecepatan kilat. Trang! Sebuah jarum baja hitam pekat menancap di dinding batu, hanya berjarak satu milimeter dari telinga Kaelen. Jarum itu tidak memancarkan hawa panas, melainkan bau anyir darah yang menyengat.

"Menghindar!" teriak Kaelen.

Dari balik langit-langit yang gelap, empat sosok berpakaian hitam ketat menjatuhkan diri tanpa suara. Mereka tidak memakai zirah berat seperti ksatria Ignis, melainkan balutan kain khusus yang menyerap cahaya.

Salah satu pembunuh itu menerjang Kaelen dengan sepasang belati melengkung. Kaelen merentangkan tangan kirinya, bersiap memanggil pusaran Null untuk menyedot energi lawan. Namun, saat belati itu hampir mengenainya, Kaelen menyadari satu hal yang mengerikan.

Tidak ada elemen sihir. Tidak ada api.

Pisau itu adalah baja murni yang dilapisi cairan kental berwarna merah kehitaman.

"Kaelen, jangan telan itu!" teriak Silas dari belakang tumpukan batu, wajahnya pucat pasi. "Itu Garda Gerhana! Senjata mereka dilumuri kutukan darah murni! Jika kau menyerapnya, darahmu sendiri yang akan mendidih!"

Kaelen membatalkan pusarannya di detik terakhir. Ia menggeser tubuhnya, membiarkan bilah belati itu merobek tepi jubah kulitnya. Dengan gerakan memutar, Kaelen menghantamkan siku kanannya ke rahang sang pembunuh, menggunakan tenaga fisik murni yang diperkuat oleh aliran mana netral dari Inti Leviathan. Bunyi tulang retak terdengar, dan pembunuh itu terpental ke tanah.

Namun, tiga pembunuh lainnya tidak memberi jeda. Mereka bergerak seperti bayangan, menggunakan kelincahan akrobatik untuk mengepung.

"Mereka tahu titik lemahmu!" Lyra melompat maju, menangkis sabetan pedang salah satu pembunuh dengan belatinya. Percikan api murni dari gesekan baja menerangi kabut sejenak. "Mereka sengaja tidak menggunakan sihir elemen agar kau tidak bisa menelannya!"

Paman Varian rupanya belajar dengan cepat. Mengirim ksatria api untuk melawan pemakan sihir adalah tindakan bunuh diri, maka ia mengirim bayangan yang bertarung murni dengan otot, baja, dan racun mematikan.

Pemimpin pembunuh bayaran itu, sosok bermata merah yang wajahnya tertutup kain, melesat ke arah Kaelen sambil melempar tiga jarum darah berturut-turut. Kaelen meliuk, menepis jarum-jarum itu dengan sarung tangan kulitnya, meski satu jarum berhasil menggores lengan atasnya.

Rasa panas yang menjijikkan seketika merayap masuk dari luka goresan itu. Kutukan darah. Jaringan otot Kaelen di sekitar luka mulai berkedut hebat.

"Kau terlalu bergantung pada pusaranmu, Anomali," desis pemimpin pembunuh itu, suaranya terdengar seperti gesekan ampelas. Ia menerjang maju, mengayunkan rantai besi tipis yang berujung kait beracun.

Kaelen mengertakkan gigi menahan sakit di lengannya. Pria ini benar. Jika ia tidak bisa menyerap sihir dari luar, ia harus menggunakan apa yang sudah ada di dalam.

Jangkar Mana di dada Kaelen menyala terang menembus pakaiannya. Kaelen memutar aliran energinya. Alih-alih membuka pusaran untuk menyerap, ia memompa seluruh mana netral yang ia curi dari pasukan Komandan Kael ke seluruh jaringan otot kakinya.

Saat kait beracun itu melesat ke arah wajahnya, Kaelen tidak menghindar. Ia melesat maju menembus serangan itu. Kecepatannya meledak hingga menciptakan dentuman udara kecil.

Mata sang pemimpin pembunuh melebar. Ia tidak menyangka seorang penyihir buangan memiliki akselerasi fisik setara dengan monster mutasi kelas atas.

Sebelum pria itu sempat menarik rantainya, tangan Kaelen sudah mencengkeram lehernya. Tenaga cengkeraman Kaelen kini sekuat catut baja. Ia mengangkat tubuh pemimpin pembunuh itu dari tanah dengan satu tangan.

"Aku mungkin tidak bisa menelan kutukan darahmu," bisik Kaelen, menatap tajam ke mata merah pria itu yang kini melotot panik menahan napas. "Tapi tulang lehermu hanya terbuat dari kalsium biasa."

Dengan satu sentakan brutal, Kaelen mematahkan leher sang pemimpin. Pria itu lemas seketika, tubuhnya dihempaskan Kaelen ke tanah berdebu.

Melihat pemimpin mereka tewas dalam hitungan detik oleh kekuatan fisik yang tidak masuk akal, dua pembunuh yang tersisa kehilangan ritme bertarung mereka. Lyra memanfaatkan momen itu, melompat dari dinding batu dan menancapkan kedua belatinya tepat ke pangkal leher salah satu pembunuh.

Pembunuh terakhir mencoba melarikan diri, berbalik arah untuk kembali ke permukaan. Namun, sebelum ia melangkah lebih dari lima meter, sebutir peluru cahaya hijau menembus tempurung lututnya. Pria itu menjerit dan jatuh tertelungkup. Silas berdiri di balik batu, asap tipis mengepul dari laras senapan mana modifikasi di tangan mekaniknya.

Keheningan kembali menyelimuti reruntuhan itu, hanya diselingi napas memburu ketiganya.

Kaelen menunduk, merobek lengan bajunya. Goresan jarum tadi kini berubah menjadi garis hitam kemerahan yang mulai menjalar ke arah bahu. Kutukan darah itu mencoba menginfeksi aliran nadinya.

"Sial," rutuk Lyra, menghampiri Kaelen. "Kutukan darah Garda Gerhana. Jika itu mencapai jantungmu, kau akan meledak dari dalam. Silas, kau punya penawarnya?!"

Silas berjalan mendekat, wajahnya dipenuhi keringat dingin. "Penawarnya adalah darah si perapal mantra sendiri, dan pria ini sudah mati," ucapnya sambil menatap mayat sang pemimpin. "Aku tidak membawa perlengkapan pemurnian darah."

Kaelen menatap urat hitam yang merambat naik di lengannya. Ia bisa merasakan hawa jahat dari sihir itu. Tapi, sebuah ide gila melintas di kepalanya. Jika tubuhnya dipasangi Inti Leviathan untuk menyaring mana, mengapa tidak memaksa mesin itu bekerja secara internal?

"Lyra, pegang lenganku," perintah Kaelen, duduk bersila di tanah berdebu.

"Kau mau apa?!"

"Paksa aliran mana netralku menekan kutukan ini ke arah dadaku," Kaelen memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada Inti Leviathan. "Aku akan membiarkan jangkar ini menelan sihir itu dari dalam darahku sendiri."

"Itu bunuh diri!" Silas memprotes keras. "Inti Leviathan didesain untuk menyaring mana eksternal sebelum masuk ke pembuluh darahmu, bukan menyedot racun yang sudah menyatu dengan sel darah merahmu! Kau bisa merusak jantungmu!"

"Lakukan saja!" raung Kaelen. Waktunya menipis; garis hitam itu sudah melewati bahunya.

Lyra menggigit bibir, menekan lengan Kaelen keras-keras. Kaelen memutar polaritas di dalam dadanya. Pendar biru dari Inti Leviathan seketika berubah menjadi ungu kelam. Sensasi seperti ribuan jarum panas merobek pembuluh darah lengan Kaelen saat kutukan darah itu disedot paksa keluar dari sel-selnya, ditarik langsung ke dalam pusaran mekanis di atas jantungnya.

Kaelen menjerit tertahan. Tubuhnya bergetar hebat. Pembuluh darah di sekujur tubuhnya menonjol, melawan tarikan gravitasi internal yang mengerikan. Selama sepuluh detik yang terasa seperti neraka tanpa akhir, Kaelen bertarung melawan tubuhnya sendiri.

Lalu, bunyi mendesis terdengar dari logam di dadanya, diikuti kepulan asap hitam tipis yang berbau seperti darah terbakar. Garis hitam di lengan Kaelen memudar, menyisakan kulit yang pucat pasi.

Kaelen ambruk ke depan, terengah-engah menahan mual. Ia berhasil memakannya. Artefak itu berhasil mengurai kutukan darah menjadi ketiadaan.

Silas menatap pemandangan itu dengan mulut setengah terbuka. "Kau... kau baru saja membengkokkan hukum anatomi sihir, Nak. Tidak ada manusia yang bisa menahan rasa sakit penyaringan internal seperti itu tanpa kehilangan akal."

Kaelen perlahan mengangkat wajahnya, menyeka keringat dingin yang membanjiri pelipisnya. Senyum tipis dan mematikan tersungging di bibirnya. "Aku berhenti menjadi manusia sejak pamanku membuangku ke tempat ini."

Ia bangkit berdiri, rasa sakit di lengannya digantikan oleh lonjakan adrenalin baru. Tatapannya tertuju pada lorong raksasa di depan mereka, di mana cahaya jingga dari Akar Magma kini terlihat semakin terang, memancarkan hawa panas yang membakar kulit.

"Ayo," ucap Kaelen, melangkah melewati mayat-mayat utusan pamannya. "Paman Varian baru saja mengingatkanku betapa ia sangat ingin aku mati. Kita pastikan malam ini kubah pelindungnya padam, dan Kastil Adiwangsa terbakar oleh apinya sendiri."

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai outhor salam kenal . mau masuk grup ku gak saling support
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ayo saling folow
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!