Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 KEPULANGAN SANG PENGEMBARA
Matahari sore di kawasan perumahan mewah Ciumbuleuit perlahan-lahan mulai bergeser ke barat, memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat dan lembut, menyinari halaman depan rumah kolonial berarsitektur klasik milik keluarga Hartono.
Di teras depan yang luas, Nadia mondar-mandir gelisah dengan langkah cepat tanpa arah yang jelas, sementara kedua lengannya saling memeluk erat dada untuk meredakan debar jantungnya yang tidak karuan.
Sudah tiga hari penuh pemuda desa berhati baja itu pergi meninggalkan Bandung menuju Hutan Purba Mandalagiri, tanpa ada satupun alat komunikasi modern yang bisa dihubungi di tengah belantara terpencil. Setiap kali hembusan angin sore menggoyangkan dedaunan pohon kamboja, atau ketika suara mesin kendaraan bermotor melintas di luar gerbang, Nadia pasti langsung melompat kaget dan menoleh penuh harap, sangat ingin melihat sosok berjaket usang itu tiba-tiba muncul di balik gerbang kayu jati.
Di dalam ruang tamu yang terbuka menghadap teras, Kirana—yang setia menemani Nadia menghabiskan waktu sambil melukis kanvas—hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali melihat tingkah sahabatnya yang sudah kehilangan akal sehat karena dilanda rindu berat.
"Nadia, demi Tuhan, berhentilah mondar-mandir seperti setrikaan rusak bolak-balik begitu terus," goda Kirana sambil menahan senyum jahil di bibirnya, lalu menyuap sepotong kue bolu cokelat ke dalam mulutnya.
"Kakimu itu tidak pegal memangnya? Raka itu petarung sakti, mandraguna, dan tahan banting. Dia pasti pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun. Lagipula, siapa tahu di dalam hatinya dia sebenarnya paling kangen sama masakan buatanku, bukan cuma kangen sama omelanmu!"
Mendengar kalimat usil itu, Nadia langsung berhenti melangkah secara mendadak. Ia menoleh tajam ke arah Kirana dengan mata melotot galak dan pipi yang langsung bersemu merah padam karena malu sekaligus sebal.
"Heh! Enak saja ngomong begitu!" tukas Nadia sewot, berkacak pinggang dengan gaya paling mengancam. "Kalau sampai pria itu berani-beraninya kangen masakanmu alih-alih kangen aku, kubuang botol obat pusaka miliknya ke sumur tua di belakang rumah!"
Kirana tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman kekanak-kanakan itu, membuat wajah Nadia semakin merona merah seperti kepiting rebus.
Namun, sebelum Kirana sempat melontarkan balasan usil lainnya, suara derit engsel gerbang kayu jati utama terdengar bergeser pelan dari arah depan.
Ceklek... Sreeet.
Nadia dan Kirana langsung tertegun seketika. Kedua kepala mereka menoleh serentak ke arah halaman depan dengan mata terbuka lebar.
Di sana, tepat di tengah pelataran halaman yang dinaungi cahaya jingga senja, berdiri sosok pria berjaket usang dengan ransel kulit tua tersampir di punggungnya.
Penampilannya tampak sedikit berdebu, lelah, dan pakaiannya menyisakan jejak perjalanan panjang. Namun, sorot matanya begitu tajam, jernih, dan memancarkan wibawa spiritual yang jauh lebih matang, tenang, serta berkarisma dari sebelumnya.
Luka robek di bahu kirinya akibat cakar iblis tempo hari sudah lenyap tak berbekas, disembuhkan oleh khasiat akar puspa wandana dan energi alam Mandalagiri.
Tanpa membuang waktu barang satu detik pun, Nadia seketika melupakan seluruh gengsi, harga diri, dan sifat angkuhnya sebagai nona muda terpandang. Ia melompat menuruni tangga teras, berlari kencang menerjang rumput halaman, mengabaikan teriakannya sendiri, lalu langsung menghambur memeluk leher Raka dengan begitu erat hingga pemuda itu terdorong mundur setengah langkah karena kaget.
"Rakaaa! Kau ini dari mana saja hah?! Tiga hari tanpa kabar berita sama sekali, dikira aku tidak cemas setengah mati di sini?!" tangis kecil Nadia pecah di dada bidang Raka, mencengkeram erat kain kemeja pemuda itu seolah takut jika ia melepaskannya barang sedetik saja, sosok di hadapannya akan lenyap menjadi asap angin.
Raka terpaku kaget untuk sesaat merasakan hantaman pelukan yang begitu tiba-tiba dan penuh emosi itu. Namun, senyuman paling hangat yang pernah ia tunjukkan seketika mengembang tulus di bibirnya. Ia membalas dekapan erat tersebut dengan melingkarkan kedua tangannya secara lembut di pinggang Nadia, lalu mendaratkan kecupan penuh kasih di puncak kepala sang gadis.
"Maafkan aku karena membuatmu cemas setengah mati, Nadia. Misinya sudah tuntas dengan sempurna. Aku sudah pulang kembali ke sini," bisik Raka dengan suara rendah, tenang, dan sangat menenangkan tepat di dekat telinga Nadia.
Kirana yang menyusul berdiri di ambang pintu teras berdehem pelan sambil sengaja menutup matanya dengan sebelah telapak tangan, tersenyum geli melihat drama romantis yang tersaji di hadapannya.
"Ehem! Dunia ini rasanya indah sekali ya, milik berdua saja. Yang berstatus jomblo mohon bersabar dan tabah menyaksikan reuni penuh air mata dan pelukan erat ini," seru Kirana dengan nada sengaja dikeraskan.
Seketika itu juga, Nadia tersadar dari dunianya sendiri. Wajah cantiknya berubah merah padam hingga ke pangkal telinga. Ia buru-buru melepaskan pelukannya dari tubuh Raka, merapikan helaian rambutnya yang sedikit berantakan akibat angin, lalu berdehem salah tingkah sambil melotot tajam ke arah Kirana.
"Apaan sih, Kirana! Si... siapa juga yang melukis-lukis manja atau melukis orang sembarangan! Aku cuma... cuma memastikan dia tidak membawa pulang kutukan aneh dari hutan!" bela Nadia mati-matian, menutupi rasa malunya.
Raka tertawa renyah—sebuah tawa lepas yang jarang sekali terdengar dari mulut sang pengembara, membuat hati Nadia semakin berdesir hebat penuh kebahagiaan.
Namun, momen reuni manis yang dipenuhi gelak tawa itu tidak berjalan lama. Tiba-tiba, tiupan angin sore dari arah dalam rumah membawa masuk sebuah aroma yang sangat menyengat dan mencurigakan ke hidung mereka.
Bau hangus yang pekat!
"Ya ampun! Panci sop buntut buatan bibi yang kutinggal di kompor dapur!" teriak Kirana histeris sejadi-jadinya.
Wajah Kirana langsung pucat pasi. Tanpa membuang waktu, gadis mahasiswi kedokteran itu melompat dari kursinya dan berlari tunggang-langgang terbirit-birit masuk ke dalam rumah karena baru ingat ia meninggalkan kompor menyala saat asyik menggoda percintaan Nadia di teras. Tak lama kemudian, suara batuk-batuk dan kepulan asap tipis mengepul dari arah jendela dapur utama.
Raka dan Nadia saling berpandangan selama beberapa detik, sebelum akhirnya keduanya meledakkan tawa bersama-sama dengan lepas di tengah halaman sore itu.
Badai ancaman Prabu Baskara telah runtuh sepenuhnya, teror gaib di rumah sakit telah musnah tuntas, dan di tengah kekacauan dapur Kirana yang berasap serta gelak tawa yang menghangatkan jiwa, babak baru kehidupan Raka dan Nadia yang penuh warna, kehangatan, dan cinta sejati resmi dimulai di bawah naungan langit Ciumbuleuit.