Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Perjalanan ke Lembah Tengkorak Merah
Fajar baru saja menyingsing di balik tebing-tebing terjal Pegunungan Shiwan. Udara pagi terasa menggigit, menyelimuti rombongan kecil yang melangkah keluar dari gerbang selatan Akademi Kultus Iblis.
Ryeon berjalan di paling depan dengan jubah hitam ringkas berlogo Roda Bintang di dada. Di belakangnya, Tang Jin-Bao membawa tas perbekalan tebal berisi botol-botol kimia dan amunisi jarum mikro-karbon. Gong Son-mi berjalan tegap mengempit palu kompositnya, sementara seorang pemuda kurus berwajah tirus dengan tatapan mata serangga yang tajam bergerak di sisi samping—Baek Hyun, mantan pembunuh jalanan yang baru saja direkrut sebagai kepala intelijen lapangan.
"Wilayah Lembah Tengkorak Merah itu berada empat puluh mil dari perbatasan luar," pimpin Baek Hyun dengan suara pelan dan serak khas anak jalanan. "Tempat itu tadinya jalur perdagangan netral, tapi sejak tiga minggu lalu, tidak ada satu pun karavan yang keluar setelah masuk ke sana."
Jin-Bao merapatkan mantelnya sambil bergidik. "Kabar angin dari pasar bilang tempat itu sekarang dihuni hantu pemakan Dantian, Bos."
"Bukan hantu," potong Ryeon datar, matanya menyapu jejak-jejak tanah di sepanjang jalan setapak. "Hantu tidak meninggalkan serbuk logam fusi dan sisa reaksi radiasi energi di tanah."
Setelah menempuh perjalanan penuh kehati-hatian selama hampir seharian, rombongan tiba di mulut Lembah Tengkorak Merah saat matahari mulai tenggelam.
Pemandangan di depan mereka tampak mengerikan. Tebing-tebing batu berwarna merah darah mengapit jalan sempit yang penuh dengan reruntuhan kereta pedagang yang hancur terbakar. Bau belerang dan aroma besi berkarat menusuk hidung.
"Lihat ini, Ryeon," panggil Son-mi sambil berlutut di dekat sebuah roda kereta yang patah.
Ryeon mendekat dan memeriksa bekas tebasan di rangka kayu kereta tersebut. Bekas potongannya sangat rata, seolah dipotong oleh sinar berikatan molekul tinggi, bukan oleh tebasan pedang Ki biasa.
"Ini bukan tebasan pedang Murim," analisis Ryeon, jemarinya menyentuh sisa-sisa endapan abu di tepi kayu. "Mata pisaunya bergetar dalam frekuensi gelombang di atas lima ribu Hertz. Logam biasa bakal langsung hancur kalau terkena gesekan seperti ini."
"Bos! Di sebelah sana ada mayat!" seru Baek Hyun dari balik semak-semak batu.
Ryeon, Son-mi, dan Jin-Bao melangkah cepat ke arah Baek Hyun.
Di sana, tergeletak tiga mayat pengawal berseragam Aliansi Ortodoks. Yang mengerikan, tidak ada luka tebasan besar di tubuh mereka. Namun, bagian perut bawah—tepat di lokasi Dantian—berlubang rapi seperti habis disedot oleh sebuah instrumen khusus.
"Dantian mereka..." Jin-Bao menelan ludah dengan wajah pucat. "Dantian mereka hilang ditarik keluar!"
Ryeon berlutut, mengamati lubang bekas ekstraksi tersebut dengan mata analitisnya.
Ekstraksi bio-energi secara paksa, batin Ryeon dingin. Mereka memanen energi Dantian para master Murim buat dijadikan bahan bakar rektor atau artefak kuno.
Belum sempat Ryeon berdiri, suara hembusan angin yang sangat tipis dan tak alami bergema dari atas tebing batu di sekeliling mereka.
SWOOSH! SWOOSH! SWOOSH!
"Formasi Bertahan!" teriak Ryeon tegas.
Son-mi merespons kilat. Dia menghentakkan kaki kirinya, memutar perisai kompositnya ke depan untuk melindungi Jin-Bao dan Baek Hyun.
TRANG! TRANG! TRANG!
Belasan belati berukuran kecil meluncur menghantam perisai Son-mi. Percikan bunga api menyembur di tengah kegelapan yang mulai turun.
Empat sosok berpakaian serba abu-abu dengan topeng besi tanpa wajah melompat turun dari tebing, mengepung rombongan Ryeon dalam formasi melingkar. Di dada jubah abu-abu mereka, terukir lambang Mata Merah yang Diapit Dua Dantian—simbol rahasia dari Ordo Mata Dantian.
"Tikus-tikus dari Kultus Iblis," suara salah satu pria bertopeng itu terdengar mekanis dan tanpa emosi, berasal dari alat pendorong suara di balik topengnya. "Kalian melangkah terlalu jauh ke wilayah terlarang."
Pria bertopeng itu mencabut sebilah pedang aneh bercabang dua yang dialiri cahaya berwarna biru keperakan—cahaya yang berasal dari sirkulasi Ki Dantian yang telah diekstraksi!
Ranah Master (Ki Projection) Tingkat Menengah!
"Serahkan Dantian kalian untuk keagungan Core Sovereign!" teriaknya sambil melesat maju bersama tiga rekannya dengan kecepatan yang sangat tinggi!
"Serangan dari empat sudut, kecepatan dua belas meter per detik," analisis Ryeon bekerja kilat dalam hitungan mikrodetik. "Jin-Bao, semburkan kabut penetralisir di koordinat tiga! Son-mi, sapu pergelangan kaki kiri mereka! Baek Hyun, kuncikan jalur melarikan diri dari atas!"
"SIAP!"
Jin-Bao melempar dua selongsong tanah liat yang meledak menciptakan awan asap asam di udara. Dalam sekejap, pandangan dan pasokan oksigen keempat prajurit bertopeng itu terganggu!
Son-mi memanfaatkan momen itu. Menggunakan biomekanika tumpuan beban, dia mengayunkan palu besinya dari bawah, menghantam tanah hingga gelombang kinetik meledak meretakkan batu di bawah kaki musuh!
BOOM!
Dua prajurit bertopeng hilang keseimbangan di atas tanah yang runtuh.
Ryeon bergerak bagaikan kilat malam. Dia memutar pedang mikro-karbonnya dengan Sudut Defleksi Resonansi, menepis pedang bercabang dua milik pimpinan musuh hingga terpental ke atas.
TAK! TAK!
Dua totokan Kompresi Kinetik meluncur presisi menghantam simpul saraf di bawah ketiak dan leher pimpinan musuh!
"GUAAGH!"
Pria bertopeng itu menyemburkan darah, aura biru di pedangnya padam seketika, dan tubuhnya roboh berlutut di depan Ryeon!
Tiga anak buahnya yang panik mencoba melompat mundur ke atas tebing, tapi Baek Hyun yang sudah mengintai dari atas melepaskan jaring jarum komposit yang mengunci sirkulasi kaki mereka, membuat mereka jatuh tersungkur ke tanah!
Seluruh bentrokan dengan pasukan khusus Ordo Mata Dantian... selesai dalam waktu kurang dari dua menit!
Ryeon melangkah mendekati pimpinan bertopeng yang terkulai lemas di tanah, lalu mencabut topeng besinya dengan ujung pedang.
Di balik topeng itu, terlihat wajah seorang pria paruh baya dengan pola garis-garis pembuluh darah berwarna biru kehitaman yang membengkak di sekitar lehernya—tanda dari infeksi ekstraksi Dantian yang gagal.
"Siapa yang menyuruh kalian memanen Dantian di sini?" tanya Ryeon dingin, mengarahkan mata pedangnya ke leher pria itu.
Pria itu meringis kejam, tertawa serak bercampur darah. "Kau... tidak bakal bisa menghentikan kebangkitan Core Sovereign... Seluruh Dantian di benua ini... bakal jadi bahan bakar untuk—"
Sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya, pembuluh darah di lehernya mendadak membengkak hebat dan meledak dari dalam!
PFFFT!
Pria itu tewas seketika akibat pemicu racun pemutus saraf otomatis yang ditanam di dalam tubuhnya. Tiga anak buahnya yang lain mengalami hal yang sama di saat bersamaan.
"Gila..." cicit Jin-Bao dengan muka pucat melihat mayat-mayat itu. "Mereka menanam racun pemicu di dalam tubuh sendiri supaya tidak bisa diinterogasi!"
Baek Hyun berlutut di samping salah satu mayat, merogoh saku jubah abu-abu tersebut dan menarik keluar sebuah peta kulit lembu.
"Bos," panggil Baek Hyun menyerahkan peta itu pada Ryeon. "Ini peta lokasi markas cabang mereka di dalam gua Lembah Tengkorak Merah."
Ryeon menerima peta itu, mengamati ukiran dan koordinat geografis yang tertera di atasnya.
Di saat yang sama, sebuah suara langkah kaki yang sangat halus bergema dari balik reruntuhan batu di atas tebing.
"Rupanya ketajaman taktikmu tidak berkurang sedikit pun, Cheon Ryeon."
Sesosok gadis berpakaian sutra perak melompat turun dengan anggun dari atas tebing, membuka kipas lipatnya dengan bunyi TAK yang jernih.
Itu adalah Jaegal So-yeon!
"Kau terlambat dua menit, Putri Jaegal," sahut Ryeon datar tanpa berpaling.
So-yeon tersenyum tipis, melangkah mendekati Ryeon sambil memandangi mayat-mayat Ordo Mata Dantian di tanah.
"Aku sengaja membiarkanmu menangani mereka dulu buat memastikan dugaan kita," kata So-yeon dengan suara serius. "Kepingan logam yang kutunjukkan padamu kemarin berasal dari fasilitas pemurnian mereka di dalam gua ini. Mereka sedang merakit kembali Reaktor Inti Kuno."
Mata hitam Ryeon berkilat dingin di bawah naungan cahaya rembulan.
Peta di tangannya, mayat Ordo Mata Dantian, dan kehadiran Jaegal So-yeon di sampingnya... semua potongan teka-teki kini telah menyatu.
"Jin-Bao, Son-mi, Baek Hyun," komando Ryeon tegas sambil memasukkan pedangnya ke sarungnya. "Siapkan seluruh amunisi dan zirah komposit. Malam ini, kita bakal meratakan fasilitas pemurnian Ordo Mata Dantian sampai ke akar-akarnya."