NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Ustaz yang Tidak Pernah Salah

Kelas nahwu dimulai selepas dhuha, di serambi masjid yang lantainya dingin dan berbau kayu tua. Sekitar dua puluh santri duduk bersila membentuk setengah lingkaran, masing-masing memangku kitab dengan wajah yang berusaha terlihat siap.

Zaki duduk di baris kedua, diapit Darto yang sibuk menahan kuap dan seorang santri bernama Kang Fadil yang mencatat semuanya dengan kecepatan yang menakutkan.

"Ini kelas favorit saya," bisik Darto tanpa menggerakkan bibir. "Karena kalau saya ketiduran, Ustaz tidak akan tahu."

"Kenapa?"

"Matanya minus tujuh. Beliau hanya bisa melihat orang yang berdiri."

"Itu tidak terlalu meyakinkan."

"Percayalah, saya sudah riset."

Ustaz Malik masuk. Langkahnya pelan dan teratur, kacamatanya seperti biasa melorot sampai ke ujung hidung. Seluruh serambi mendadak sunyi, bahkan Darto langsung menegakkan punggung dan menyelipkan kuapnya kembali ke dalam.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Ustaz."

Beliau duduk, membuka kitabnya, dan mulai membaca dengan suara dalam yang mengalir seperti sungai di musim kemarau. Zaki mengikuti dengan seksama. Sesekali ia melirik catatan pinggirnya sendiri, dan di sudut matanya, ia teringat goresan pensil kecil di halaman ketiga kitabnya.

Bukan begini i'rab-nya, Kang. Coba baca ulang bab sebelumnya.

Ia sudah membaca ulang bab itu semalam, dua kali malah, di bawah lampu minyak yang temaram, sementara Kang Ridwan mendengkur dengan iramanya yang khas. Dan ia harus mengakui, koreksi itu benar. Ada satu kaidah kecil yang selama ini ia pahami keliru bertahun-tahun, dan hanya butuh satu baris pensil dari orang yang tak ia kenal untuk memperbaikinya.

"Baik," kata Ustaz Malik, menutup satu bagian. "Sekarang saya ingin bertanya. Kalimat ini, siapa yang bisa menjelaskan kedudukan kata yang ada di ujungnya?"

Hening. Dua puluh santri mendadak sangat tertarik pada lantai.

Ustaz Malik menunggu. Beliau selalu menunggu. Itu salah satu hal yang paling menakutkan darinya.

Zaki menelan ludah. Ia tahu jawabannya. Itu adalah kaidah yang persis dibetulkan oleh pensil itu. Tapi mengangkat tangan di hari ketiga sebagai santri baru terasa seperti melompat ke sungai tanpa tahu dalamnya.

"Tidak ada?" tanya Ustaz.

Darto menyikut pelan. "Jawab," desisnya. "Kamu tahu, kan? Wajahmu keliatan."

"Saya tidak..."

"Kamu tahu."

Zaki menarik napas. "Saya, Ustaz."

Semua kepala menoleh. Ustaz Malik memiringkan wajahnya ke arah suara, kacamatanya nyaris jatuh. "Yang baru?"

"Inggih. Zaki, Ustaz."

"Silakan."

Zaki menjelaskan pelan-pelan. Kata itu berkedudukan sebagai apa, mengapa harus begitu, dan apa yang membedakannya dari kaidah yang sekilas mirip. Ia menyebutkan satu contoh dari kitab lain untuk menguatkan. Kata-katanya mengalir lebih lancar dari yang ia duga, dan selama berbicara, ia sadar ia bukan sedang mengingat pelajaran, melainkan mengingat satu baris pensil yang miring ke kanan.

Ketika ia selesai, serambi masjid sunyi. Ustaz Malik tidak bergerak.

"Hm," katanya akhirnya. Cuma itu. "Hm."

Zaki menunggu vonis. Darto menahan napas. Kang Fadil berhenti mencatat, yang mungkin baru pertama kalinya terjadi dalam sejarah.

"Benar," kata Ustaz Malik. "Dan cara menjelaskannya... rapi." Beliau berhenti sebentar. "Dari mana kamu belajar bagian itu?"

"Dari kesalahan saya sendiri, Ustaz."

Tanda tanya kecil muncul di wajah Ustaz. Tapi beliau tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk perlahan dan melanjutkan pelajaran, meski sesekali kepalanya miring seperti orang yang sedang menyimpan pikiran.

"Kamu gila," kata Darto begitu kelas bubar dan mereka berjalan ke sumur. "Kamu tahu apa yang barusan kamu lakukan?"

"Menjawab pertanyaan?"

"Kamu dapat pujian dari Ustaz Malik. Di hari ketiga. Kang Fadil saja butuh setahun untuk dapat 'Hm' yang seperti itu."

"Cuma kebetulan."

"Kebetulan yang bagus." Darto menimba air dan menyodorkan ember ke Zaki. "Tapi kamu tahu, kan, Ustaz Malik itu punya reputasi?"

"Reputasi apa?"

Darto menoleh kanan-kiri, lalu merendahkan suara seperti pencuri yang hendak membocorkan lokasi harta karun. "Beliau itu terkenal sebagai ustaz yang tidak pernah salah. Kalau ada santri yang berani mengoreksi, ujung-ujungnya beliau akan bilang, 'Oh, itu bukan salah, itu cuma penjelasan yang tidak lengkap.' Selalu begitu."

"Wah."

"Tapi ada satu kali beliau benar-benar kena."

Zaki mencondongkan badan. "Siapa?"

"Nah, ini yang menarik." Darto menikmati momen itu dengan sengaja lambat. "Ceritanya dua tahun lalu. Ustaz Malik mengajar di kelas putri juga, tentu saja dari balik tirai, karena begitu aturannya. Suatu hari beliau salah membaca satu kata di sebuah kitab. Cuma satu kata. Dan dari balik tirai, terdengar suara perempuan yang sopan sekali, 'Mohon maaf, Ustaz, sepertinya di sini harusnya dibaca begini.'"

"Dan?"

"Dan Ustaz Malik diam lama sekali. Semua santriwati menahan napas. Kata orang, kacamata beliau sampai jatuh." Darto terkekeh. "Lalu beliau bilang, 'Hm. Benar. Terima kasih.' Dan tidak ada yang pernah membahasnya lagi. Tapi sejak itu, kata orang, kalau ada yang paling ditakuti Ustaz Malik di kelas putri, ya dia itu."

"Siapa namanya?"

Darto memandangnya dengan wajah geli yang sudah seperti menunggu pertanyaan itu sejak tadi. "Kamu baru tiga hari di sini, tapi sudah menanyakan nama santriwati?"

"Saya cuma penasaran soal Ustaz."

"Iya, iya. Soal Ustaz." Darto menepuk bahunya. "Nafisah. Nafisah Zahra. Santriwati paling pintar nahwu di seluruh Al-Hikmah. Tulisannya rapi, katanya, dan miring ke kanan."

Ember di tangan Zaki hampir jatuh.

"Miring... ke kanan?"

"Katanya begitu. Kang Fadil pernah lihat catatannya waktu ada pinjam-meminjam kitab lewat Bu Nyai." Darto menyipitkan mata. "Kenapa? Kok wajahmu aneh?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa."

"Kang Zaki."

"Serius."

"Kang Zaki."

"Sudah, timba lagi airnya."

Darto tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk ember. Zaki memilih pura-pura sibuk membasuh wajah supaya tidak perlu menjelaskan apa pun. Air sumur yang dingin menampar kulitnya, tapi tidak cukup untuk menenangkan dadanya yang tiba-tiba ribut sendiri.

Nafisah Zahra.

Nama itu terdengar seperti sesuatu yang seharusnya sudah ia kenal dari dulu.

Malam itu, selepas isya, Zaki duduk sendirian di teras asrama dengan lampu minyak kecil di sampingnya. Ia membuka kitab tipisnya di halaman ketiga. Di pinggir, goresan pensil tipis itu masih ada.

Bukan begini i'rab-nya, Kang. Coba baca ulang bab sebelumnya.

Ia mengambil pensilnya sendiri. Sudah lama ia tidak sebimbang ini hanya karena sebaris kalimat. Bolehkah? Pantaskah? Bagaimana kalau kitab ini tidak pernah lagi melewati lubang pemberian itu?

Setelah cukup lama menimbang, ia menulis di bawah goresan pensil itu, sekecil dan serapi yang ia bisa:

"Terima kasih, sudah saya baca ulang. Ternyata memang saya yang keliru."

Ia berhenti, membaca ulang, lalu menambahkan satu baris lagi dengan tangan yang sedikit gemetar:

"Semoga Ustaz tidak marah kalau saya menjawab benar di kelas tadi. — Z."

Kali ini ia tertawa kecil sendiri, karena kalimat terakhir itu sama sekali tidak perlu. Tapi ia membiarkannya di sana.

Zaki menutup kitab, memeluknya sebentar, lalu menatap tembok tinggi di kejauhan yang samar di bawah cahaya bulan. Ia tidak tahu apakah kitab ini akan pernah kembali melewati lubang itu. Ia tidak tahu apakah orang di seberang akan membacanya. Ia bahkan tidak tahu apakah suara puisi di balik tembok itu benar-benar milik orang yang sama.

Yang ia tahu, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, ia tidak merasa sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!