NovelToon NovelToon
Jodoh Pak Dokter

Jodoh Pak Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Ibu susu / Nikah Kontrak
Popularitas:24.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.

Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.

Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.

Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Setelah kumandang azan Magrib bersahutan dan mereka menunaikan ibadahnya, makan malam keluarga pun dimulai. Malam ini suasana terasa lebih tenang karena Baby Ziva sudah tertidur pulas setelah disusui oleh Shanum. Bayi mungil itu kini dijaga dengan aman oleh Bik Sumi di kamarnya, memberikan waktu bagi para orang dewasa untuk menikmati hidangan tanpa gangguan.

Kini, di meja makan jati yang mewah, Shanum, Daniel, Nyonya Tania, dan Tuan Lee duduk bersama. Aroma gurih sayur lodeh dan wanginya pindang ikan patin langsung menguar, menggugah selera siapa saja yang menghirupnya. Dengan telaten, Shanum mengambilkan nasi serta lauk-pauk ke dalam piringnya Daniel, memperlakukannya layaknya seorang istri yang berbakti di depan kedua mertuanya.

Daniel menerima piring itu dengan anggukan sopan, lalu mulai menyendok kan suapan pertama ke dalam mulutnya. Begitu rasa masakan itu menyentuh lidahnya, Daniel sempat tertegun sejenak. Ia merasakan perpaduan bumbu yang begitu pas, tak kalah jauh lezatnya dengan masakan sang ibu yang selama ini menjadi standar lidahnya.

Nyonya Tania yang sejak tadi memperhatikan ekspresi putranya langsung tersenyum penuh arti. "Bagaimana dengan masakan istrimu ini, Daniel?" tanyanya memancing.

Daniel mengunyah makanannya perlahan, lalu menatap ibunya sebelum mengalihkan pandangan pada Shanum. "Enak, Mah. Masakannya pas sekali di lidah Daniel, rasanya hampir sama persis seperti masakan Mamah," jawab Daniel sambil melemparkan senyum tipisnya.

Mendengar pujian yang meluncur jujur dari bibir sang suami, Shanum seketika tersipu. Ia buru-buru menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan rona merah yang mendadak terbit di kedua pipinya akibat rasa senang dan malu yang bercampur menjadi satu.

Makan malam pun berlanjut dengan penuh kehangatan. Daniel bahkan sampai menambah porsinya hingga dua kali, terutama untuk hidangan ikan patin. Ada satu detail kecil yang membuat masakan Shanum malam ini terasa sedikit berbeda dari buatan ibunya, yaitu adanya taburan daun kemangi segar di atas bumbu pindang. Hal itu membuat aroma amis ikan patin benar-benar hilang, berganti dengan wangi segar yang semakin menggugah selera makannya.

Selesai makan malam bersama dan membantu merapikan meja makan, Daniel bergegas pamit untuk masuk ke dalam ruang kerja pribadinya. "Papah, Mamah, dan juga Shanum...aku pamit ke ruangan kerja dulu, ya. Besok pagi ada jadwal dua operasi jantung besar berturut-turut yang harus aku pimpin, jadi malam ini harus meninjau kembali rekam medis pasien," pamitnya dengan rapi.

"Iya, Sayang. Jangan tidur terlalu larut, ya," pesan Nyonya Tania hangat.

Sementara Daniel berkutat dengan dunianya, Shanum menyempatkan diri mengobrol santai sejenak dengan ibu mertuanya di ruang tengah, membahas perkembangan Baby Ziva yang semakin menggemaskan. Setelah obrolan usai, Shanum melangkah pelan menuju kamar Ziva terlebih dahulu. Ia membuka pintu dengan sangat hati-hati, memastikan putri sambungnya itu masih tertidur lelap dalam balutan selimutnya. Setelah mengecup keningnya Ziva dengan sayang, Shanum menutup kembali pintu kamar tersebut tanpa menimbulkan suara.

Shanum kemudian melangkah menuju kamarnya sendiri, kamar yang beberapa hari lalu sempat disulap menjadi kamar pengantin. Setelah membersihkan diri, ia mengganti pakaiannya dengan stelan piyama tidur yang longgar dan nyaman, lalu mendudukkan diri secara santai di kursi sofa yang empuk.

Untuk mengisi kekosongan waktu malam ini selagi sang suami sibuk, Shanum meraih ponselnya, ponsel yang telah di belikan oleh Daniel sebelum mereka menikah. Ia membuka sebuah aplikasi platform novel online. Sedari dulu, Shanum memang memiliki hobi yang mendalam di dunia menulis. Dari kreativitas merangkai kata itulah, ia dulu bisa mendapatkan sedikit penghasilan tambahan untuk menopang kebutuhannya bersama sang Nenek, meskipun jumlahnya tidak seberapa.

Semenjak masuk ke dalam pusaran masalah keluarganya Daniel dan disibukkan dengan status barunya, Shanum memang sempat vakum total dari dunia literasi digital tersebut. Namun malam ini, di tengah keheningan kamar pengantinnya, jemari lentik Shanum mulai kembali menari di atas layar ponsel. Ia mulai mengetikkan baris demi baris kalimat, membiarkan imajinasinya mengalir bebas, mencoba membangkitkan kembali kemampuan menulisnya yang sempat mati suri beberapa pekan terakhir.

Waktu terus bergulir hingga jarum jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Daniel meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku setelah berjam-jam menatap dan mengecek kembali rekam medis pasien di ruang kerjanya. Ia melangkah keluar dengan harapan besar bahwa kedua orang tuanya sudah terlelap, sehingga malam ini ia bisa kembali menyelinap untuk tidur di kamarnya sendiri tanpa harus berbagi ruangan dengan Shanum.

Namun, takdir berkata lain. Begitu Daniel melangkah di koridor lantai dua, langkahnya langsung terhenti. Tepat di depan pintu kamarnya yang tertutup rapat, ia melihat sang ibu sudah berdiri menunggu di sana sembari memegang nampan kayu berisi dua gelas susu hangat. Daniel seketika menghela napas panjang di dalam hati, sepertinya malam ini ia harus pasrah tidur satu kamar lagi dengan Shanum.

"Mamah? Kok belum tidur jam segini?" tanya Daniel sembari melangkah mendekat.

Nyonya Tania menoleh, lalu mengulas senyum lembut. "Belum ngantuk, Sayang. Kamu lama sekali di ruangan kerjamu, Nak, sampai selarut ini!"

"Maaf, Mah. Soalnya kasus operasi besok pagi merupakan operasi jantung yang cukup berisiko tinggi. Daniel tidak mau sampai membuat kesalahan sekecil apa pun di ruang bedah," jelas Daniel dengan nada serius.

Nyonya Tania menghela napasnya, terselip rasa cemas di dalam benaknya sebagai seorang ibu, namun ia tetap memberikan dukungan terbaiknya. "Ya sudah, sekarang kamu istirahat dan tidur. Sepertinya di dalam Shanum juga belum tidur, dia pasti menunggumu, Daniel. Cepat bawa dua gelas susu ini ke dalam, dan jangan sampai tidak diminum, ya!"

Daniel hanya bisa pasrah, ia meraih nampan kayu berisi dua gelas susu hangat itu dari tangan ibunya. Setelah memastikan Daniel melangkah masuk ke dalam kamar pengantin, Nyonya Tania bergegas pergi menuju kamarnya sendiri dengan senyum kemenangan. Di dalam kamar utama, Tuan Lee yang melihat istrinya baru masuk hanya bisa menepuk jidatnya, tak habis pikir dengan tingkah ajaib sang istri yang mengawasi anak mereka bak satpam.

Di dalam kamar, Shanum baru saja selesai menunaikan salat Isya yang sempat tertunda karena keasyikan menulis. Ia cukup terkejut saat mendengar pintu terbuka dan mendapati Daniel melangkah masuk.

"Saya kira Pak Dokter sudah tidur di kamarnya Pak Dokter?" tanya Shanum spontan sembari melepaskan mukena putihnya, memperlihatkan kembali rambut panjangnya yang indah dan menawan tanpa balutan hijab.

Daniel meletakkan nampan susu di atas meja kayu, lalu menggaruk alisnya yang tidak gatal dengan salah tingkah. "Maaf ya, Num... aku terpaksa tidur di sini lagi, di kamarmu. Soalnya Mamah sudah berdiri di depan pintu kamarku seperti satpam penjaga."

Shanum sempat tertawa kecil mendengar perkataan suaminya. "Iya, tidak apa-apa, Pak Dokter. Lagipula ini kan rumahmu, jadi anda bisa bebas tidur di mana saja. Kita bisa membuat pembatas di atas tempat tidur menggunakan guling seperti kemarin malam," ujar Shanum hangat sembari melemparkan senyum tulus yang menenangkan.

Daniel seketika merasa lega luar biasa atas jawaban istrinya yang berhati lembut itu. Mereka berdua kemudian duduk di sisi ranjang untuk meminum susu hangat yang telah dibuat oleh Nyonya Tania sampai tandas.

Setelah meletakkan gelas kosong, Daniel memposisikan dirinya bersandar di kepala ranjang, menatap Shanum yang bersiap untuk tidur. Suasananya mendadak berubah serius saat Daniel mulai membuka pembicaraan penting.

"Num, ada hal penting yang harus aku sampaikan. Mengenai persidangan gugatan hak asuh Ziva yang diajukan Klara... sidangnya akan digelar dalam minggu-minggu ini. Dan berdasarkan strategi pengacara kita, kau diwajibkan untuk hadir di persidangan nanti."

Shanum sempat tertegun sejenak, namun beberapa detik kemudian ia mencoba menguasai dirinya untuk tetap tenang. "Anda tenang saja, Pak Dokter. Saya pasti akan hadir dan mengikuti jalannya persidangan. Lagipula saya tidak salah, jadi tidak ada yang perlu saya takuti."

Mendengar jawaban berani dan penuh keyakinan dari Shanum, Daniel tersenyum lega. Setelah itu, keduanya memutuskan untuk beristirahat. Daniel mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur yang memancarkan cahaya kekuningan yang temaram. Seperti malam sebelumnya, sebuah guling panjang diletakkan tepat di tengah-tengah kasur sebagai benteng pembatas.

Waktu bergulir dalam keheningan malam yang pekat. Dinginnya pendingin ruangan yang menusuk perlahan membuat kedua insan yang kelelahan itu terlelap semakin dalam.

Tanpa disadari oleh keduanya, di tengah lelapnya tidur, entah siapa yang menggerakkan kaki terlebih dahulu, guling panjang yang menjadi pembatas suci di tengah ranjang itu tersenggol. Guling itu perlahan bergeser hingga akhirnya jatuh tanpa suara ke atas lantai marmer yang berkarpet bulu.

Hilangnya pembatas tersebut membuat posisi tidur keduanya secara tidak sadar semakin mengikis jarak. Di alam bawah sadarnya, Shanum yang mendadak merasa kedinginan mulai mencari sumber kehangatan. Jemari lentiknya bergerak meraba kasur, hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang besar, kokoh, dan hangat.

Mengira objek tersebut adalah guling pembatasnya yang empuk, Shanum dengan nyaman merapatkan tubuhnya, lalu melingkarkan kedua tangan dan kakinya untuk memeluk erat "guling" tersebut. Wajah polosnya bersandar nyaman di sana, tanpa menyadari bahwa yang sedang ia dekap dengan teramat erat malam ini adalah tubuh kekar dan dada bidang milik suaminya sendiri, Daniel.

Bersambung...

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎
Nar Sih
siip daniel hajar terus sampai klara ngk bisa berkutik dan kmu lah yg jdi pemenang nya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😉
total 1 replies
neny
makanya jng menganggap sepele sm orang lain,, apalagi masa lalu itu km sendiri yg menghancurkan nya,,
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
neny: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Nar Sih
semagat 💪daniel smoga kmu lah yg menang atas tuntutan hak asuh ziva
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin 😊
total 1 replies
~Ni Inda~
Klw perlu karir yg dia bangun mati²an dg memanfaatkan Sony...hancur berkeping²
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: setuju kak, hancur dengan sikapnya sendiri
total 1 replies
~Ni Inda~
Masalah gakan selesai dg saling menduga
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, mantap uji nyali ya kak🤭
total 1 replies
Ilfa Yarni
hajR trus spe masuk bui tuh perempuan licik dia yg berulah dia yg emosi hahaha kau ga bakal menang Kiara dasar perempuan murahan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
neny
ya iya lah daniel,,km yg buat Hanum seperti itu,,muka km hrs menyelesaikan Maslah ini,,spy kalian berdua harmonis lg🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
semoga shanum dan Daniel yg memenangkan hak asuh ziva
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aamiin 🤲🏼
total 1 replies
neny
semuanya serba salah faham,,sebaik nya jujur ajh sm perasaan masing2,,drpd kesalah fahaman ini ber larut2
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul, tunggu saatnya tiba, harus ada salah satu yang mengalah
total 1 replies
Teh Yen
nanti malam.jangan.salahkan.shanum.klaau Tidka.mau.tidur sekamar lagi yah dok.huuh 😤
Teh Yen
lah knp malah kata kata itu yg keluar dari mulutmu Daniel hadeeuh kasian kan shanum terluka padhl dia jg berharap loh dokter Suka smaa dia 🙈
Teh Yen
nah gt dong untung dokter daniel.cepat sadar dengan perasaannya yah ,, smoga shanum jg mau mengakui perasaannya pada Daniel yah
Teh Yen
kasian dokter.daniel.sakit.karena kelelahan mungkin yah
Teh Yen
xixixi .... engg pa pa num pijit ajah lumayan bikin badan rileks kan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣
total 1 replies
Teh Yen
yah kali ini gagal mah umpannya 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Yen
Xixixiii mamah Daniel bisa aj nih bikin pengantin baru salah tingkah d nurutin kemauannya dari pada sandiwaranya terbongkar hihii tp bagus sih anggap aj latihan yah 😁
Teh Yen
duh udh main peluk peluk aj nih shanum cie daniel.deg deg gan engg tuh hihii 🤭
Nar Sih
dr daniel ,,jujur dgn shanum biar gak ada slh paham lgi
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😀
total 1 replies
Nar Sih
bnr kan ahir nya dr daniel jatuh cinta dgn mu shanum☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!