Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Setelah Badai
Lembah tersembunyi itu kembali sunyi, tapi kesunyian kali ini terasa berbeda—bukan lagi kesunyian tiga ratus tahun yang menunggu, melainkan kesunyian lega setelah badai panjang akhirnya berlalu.
Su Mei, meski kekuatan jiwanya terkuras hampir habis, dengan susah payah membantu Yun Xia dan Old Bo yang mengalami luka-luka ringan dari pertarungan, sementara Ji Ming masih terlalu lemah untuk berdiri sendiri, dipapah keluar dari ruang bawah tanah oleh Tetua Feng yang, meski sudah renta, masih menyisakan kekuatan yang mengejutkan.
Tetua Kang duduk terpuruk di reruntuhan batu, kepalanya tertunduk, tubuhnya masih gemetar dari pengalaman yang baru saja ia lalui.
"Aku tidak tahu harus berkata apa," katanya akhirnya, suaranya kini benar-benar suaranya sendiri, tanpa gema kegelapan yang selama ini menyertainya. "Tiga puluh tahun. Aku pikir aku yang mengendalikan kekuatan itu, bukan sebaliknya. Aku pikir aku cukup kuat untuk menggunakannya tanpa dikuasai."
"Itulah yang selalu dikatakan setiap orang yang akhirnya dikuasai," Tetua Feng berkata, tanpa nada menghakimi, hanya kelelahan seorang yang telah melihat terlalu banyak kesalahan serupa sepanjang hidupnya. "Mo Yan sendiri dulu berkata hal yang sama, sebelum semuanya berubah jadi bencana."
"Apa yang akan terjadi padaku sekarang?" Tetua Kang bertanya, menatap mereka satu per satu, terutama pada Ji Ming yang kini duduk bersandar ke dinding batu, masih berusaha memulihkan sedikit kekuatan yang tersisa.
Ji Ming menatapnya lama, memikirkan delapan belas tahun dihina, tiga minggu terakhir dikejar dan difitnah, tapi juga memikirkan kata-kata Su Mei tentang Guru Chen—bahwa yang membuat seni ini layak diwariskan bukan kemarahan, melainkan kemampuan untuk melindungi dan memaafkan tanpa melupakan kebenaran.
"Kau akan kembali ke Puncak Elang Hitam," Ji Ming berkata pelan, "dan kau akan mengaku semuanya. Bukan hanya tentang apa yang terjadi padamu tiga puluh tahun lalu, tapi juga bahwa aku tidak pernah mencuri apa pun—bahwa Guru Chen mewariskan warisannya padaku dengan sukarela, dan bahwa kaulah yang memburuku karena takut rahasiamu sendiri terbongkar."
"Mereka tidak akan mudah percaya," Tetua Kang berkata, wajahnya pucat memikirkan konsekuensi yang menantinya. "Aku sudah menjadi tetua terhormat selama tiga puluh tahun. Pengakuan seperti itu bisa menghancurkan segalanya—reputasiku, kepercayaan sekte, mungkin bahkan nyawaku sendiri kalau Dewan Aliansi Sekte menganggap ini pengkhianatan berat."
"Itu konsekuensi dari pilihan yang kau buat tiga puluh tahun lalu," Yun Xia berkata tajam, meski tak sepenuhnya tanpa simpati. "Tapi itu jauh lebih baik daripada terus hidup dengan kebohongan yang bisa menghancurkan lebih banyak orang lagi di masa depan."
Tetua Kang terdiam lama, menatap tangannya sendiri yang kini bersih dari urat-urat hitam yang selama ini menjalar diam-diam, seolah baru benar-benar melihatnya untuk pertama kalinya dalam tiga dekade.
"Baiklah," katanya akhirnya, suara yang dipenuhi tekad rapuh namun tulus. "Aku akan kembali dan mengaku semuanya. Bukan untuk menyelamatkan reputasiku, tapi karena Nak ini—" ia menatap Ji Ming, "—pantas mendapatkan namanya kembali, tanpa bayang-bayang tuduhan yang tidak pernah benar sejak awal."
Mereka menghabiskan dua hari berikutnya beristirahat di reruntuhan lembah, memulihkan kekuatan yang terkuras habis dari pertarungan dan ritual, sementara Tetua Feng dengan hati-hati mulai menyortir arsip-arsip berharga yang mungkin bisa membantu proses pemulihan nama baik pengukir jiwa di mata dunia luar.
"Aku akan tetap di sini," Tetua Feng berkata pada hari ketiga, saat mereka bersiap untuk perjalanan kembali. "Seseorang harus menjaga arsip ini, memastikan sejarah yang sebenarnya tak hilang lagi. Tapi kalian—" ia menatap Ji Ming, Su Mei, Yun Xia, dan Old Bo satu per satu, "—kalian punya jalan lain yang harus ditempuh. Membawa kebenaran ini kembali ke dunia, dan mungkin, membantu Tetua Kang menghadapi konsekuensi pilihannya dengan cara yang benar."
Ji Ming menatap Xiao Mu dan Xiao Yu yang duduk berdampingan di sampingnya, keduanya seolah menyimpan kelegaan yang sama dengan dirinya—perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah gerbang berkarat di Makam Terlarang, kini membawa mereka ke titik yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Terima kasih," Ji Ming berkata pada Tetua Feng, suaranya penuh rasa hormat yang tulus. "Untuk semuanya. Untuk tiga puluh tahun menjaga tempat ini sendirian, menunggu seseorang seperti kami datang."
Tetua Feng tersenyum, senyum lelah namun penuh kedamaian yang telah lama ia rindukan. "Penantian itu sepadan, Nak. Sekarang, pergilah—dunia di luar sana masih punya banyak yang harus diperbaiki, dan kau baru saja membuktikan bahwa kau lebih dari mampu untuk memulainya."
Rombongan itu—kini bertambah satu dengan kehadiran Tetua Kang yang berjalan dengan kepala tertunduk namun langkah yang mantap—meninggalkan lembah tersembunyi menuju Mulut Lembah, kembali ke dunia yang telah mereka tinggalkan.