Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: 3 Tahun
Hutan hujan tropis itu seakan menjadi saksi bisu dari keputusasaan yang berlari di atas tanah berlumpur. Suara gonggongan anjing pelacak terdengar semakin ganas, menggema memantul di antara batang-batang pohon raksasa. Maya memaksakan kakinya yang sudah mati rasa untuk terus melangkah, diseret oleh genggaman tangan Adrian yang tak sedikit pun mengendur. Napas mereka memburu, berbaur dengan derau angin dan gemuruh aliran sungai yang kini terdengar semakin dekat.
Namun, tepat ketika mereka menembus semak berduri terakhir, langkah Adrian terhenti paksa. Di hadapan mereka membentang aliran sungai yang meluap dengan arus cokelat yang sangat deras, menyapu batang-batang kayu dengan kecepatan mematikan. Jalan buntu. Di belakang mereka, suara derap sepatu lars militer dan gonggongan anjing pelacak mengunci setiap rute pelarian. Adrian menarik Maya ke balik sebuah batu kali raksasa, menyembunyikan tubuh gadis itu di belakang punggungnya. Ia mengangkat senapan laras panjang rampasannya, mengokangnya dengan sisa tenaga, siap untuk mati demi melindungi gadis yang bergetar hebat di belakangnya.
Di detik yang mematikan itu, ketika bayangan para penculik mulai terlihat dari balik pepohonan, sebuah suara gemuruh yang jauh lebih memekakkan telinga dari arus sungai membelah langit malam. Awan kelabu tersibak oleh putaran baling-baling raksasa. Tiga buah helikopter taktis berwarna hitam pekat tiba-tiba muncul dari atas kanopi hutan, menyorotkan lampu benderang yang menyilaukan mata tepat ke arah para penculik. Suara peringatan dari pengeras suara helikopter menggelegar, disusul oleh puluhan pasukan berseragam hitam elit yang turun menggunakan tali (fast-roping) dengan kecepatan kilat.
Mereka bukan kelompok pembunuh. Maya yang memicingkan mata di balik punggung Adrian melihat lambang emas yang tersemat di bahu seragam pasukan itu—lambang yang sama dengan stempel di surat undian liburan palsu yang Adrian berikan kepadanya. Adrian menurunkan senjatanya perlahan, napasnya terhembus panjang dalam sebuah kelegaan yang absolut. Tim pengawal pribadi keluarga besarnya akhirnya tiba. Hanya dalam hitungan kurang dari dua menit, para penculik bersenjata itu dilumpuhkan tanpa ampun.
Seorang komandan pasukan berlari menghampiri Adrian, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun Adrian tidak memedulikan penghormatan itu. Tubuhnya mendadak terhuyung ke belakang. Adrenalin yang sejak tadi menopang tubuhnya menguap seketika, membiarkan rasa sakit dari bahu kirinya mengambil alih kesadaran.
"Adrian!" jerit Maya histeris, melompat maju menahan tubuh pemuda itu agar tidak membentur batu. Ia melihat darah yang masih merembes dari balutan kain bajunya. Ketakutan kembali mencengkeram leher Maya saat pasukan medis dengan sigap mengangkat tubuh Adrian ke dalam tandu dan membawa mereka berdua naik ke dalam helikopter.
Di dalam kabin helikopter yang benderang, seorang dokter militer dengan cepat memotong sisa kemeja Adrian untuk memeriksa luka tembak yang menganga di bahu kirinya. Maya duduk di sudut kabin, memeluk lututnya sendiri yang gemetar, air matanya tak berhenti mengalir membayangkan peluru itu telah menghancurkan tulang sahabatnya. Namun, ketika dokter itu menyeka darah yang mengental dengan cairan antiseptik, raut wajah tegang sang dokter memudar, digantikan oleh hela napas lega.
Dokter itu menoleh ke arah Maya dan tersenyum tipis. Luka tembak yang terlihat sangat mengerikan dan mengeluarkan darah segar yang kental itu ternyata hanyalah goresan saja. Peluru panas tersebut hanya menyerempet lapisan kulit luar dan sedikit jaringan otot dangkal, sebuah luka sayat yang memicu pendarahan luar biasa karena pecahnya pembuluh darah kecil di permukaan kulit, namun sama sekali tidak membahayakan nyawa, tidak merobek daging bagian dalam, dan tidak menyentuh tulang lengan Adrian. Pemuda itu pucat murni karena kelelahan ekstrem dan hilangnya cairan tubuh, bukan karena luka fatal. Maya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis sejadi-jadinya, kali ini karena rasa syukur yang tak terhingga.
Beberapa menit kemudian, mereka tidak lagi berada di hutan neraka itu. Helikopter mendarat dengan mulus di atas helipad sebuah kapal pesiar mewah berwarna putih berkilau dan garis perak elegan. Kapal yang sama persis dengan yang membawa mereka berangkat menuju pulau ini. Maya menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk saat ia digiring menuju kamar yang hangat.
Keesokan paginya, kapal pesiar mewah itu berlayar tenang membelah ombak laut biru, membawa mereka pulang. Maya berdiri di dek kapal, bersandar pada pagar pembatas berbahan krom yang mengilap, membiarkan angin laut menerpa wajahnya. Perasaannya masih kacau. Ia tidak lagi melihat Adrian sebagai seorang cleaning service konyol yang selalu merebut telur dadarnya.
Suara langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Adrian berdiri di sampingnya. Bahu kirinya kini hanya ditempeli perban medis yang rapi, tersembunyi di balik kemeja kasual berbahan linen yang mahal. Ia tidak lagi terlihat seperti pemuda ceroboh; postur tubuhnya, tatapan matanya, dan auranya memancarkan wibawa seorang pewaris takhta yang sesungguhnya.
"Kupikir kau masih tidur, Gadis Kecil," sapa Adrian dengan nada hangat yang familier, mencoba mencairkan kecanggungan yang membentang di antara mereka.
Maya menoleh, tersenyum kecut. "Sulit untuk tidur nyenyak setelah kau tahu teman mengepel lantaimu ternyata adalah putra mahkota perusahaan."
Adrian tertawa pelan, tawanya mengalahkan deburan ombak. Ia menyandarkan kedua lengannya di pagar dek. "Maafkan aku, Maya. Aku tidak pernah bermaksud membohongimu. Ayahku mengirimku untuk memulai dari posisi paling bawah, untuk belajar bagaimana rasanya menjadi pekerja sesungguhnya sebelum aku mengambil alih kursi direksi. Dan aku bersyukur ia melakukannya. Kalau tidak, aku tidak akan pernah bertemu dengan gadis kuat yang membawa jas hujan tebal, kompas, pisau serbaguna, pemantik api, dan payung motif bunga ke pulau pesiar."
Maya tersipu malu, mengingat ransel bertahan hidup yang dipaksakan oleh ibunya, Clara. "Ibuku memang selalu bersiap untuk yang terburuk. Ternyata firasatnya benar."
Adrian menatap lautan lepas, raut wajahnya perlahan berubah serius. "Maya, insiden penculikan ini telah mengubah segalanya. Ayahku menarikku keluar dari masa penyamaranku. Keselamatanku dipertaruhkan, dan aku tidak bisa lagi bermain-main." Ia menoleh menatap mata Maya dalam-dalam. "Begitu kapal ini bersandar, aku harus langsung terbang pulang ke Inggris. Keluargaku memintaku menyelesaikan studiku dan mengambil alih kendali penuh dari kantor pusat di sana."
Dada Maya terasa sesak. Ada keheningan yang cukup lama memisahkan mereka. Kabar itu terasa lebih dingin daripada angin laut pagi ini. Kehilangan seorang Adrian berarti ia akan kembali menghadapi hari-hari sepi di ruang basement gedung itu. Namun, Maya adalah gadis yang tangguh. Ia mengangguk pelan, memaksakan sebuah senyum tulus yang memancarkan dukungan.
"Kau harus pergi, Adrian. Tempatmu bukan di ruang loker kebersihan. Tempatmu ada di kursi kepemimpinan," ucap Maya tegar.
Pelayaran pulang itu dihabiskan dengan cerita-cerita kecil yang merangkum satu tahun kebersamaan mereka. Ketika kapal pesiar akhirnya bersandar di pelabuhan kota, sebuah iring-iringan mobil mewah berwarna hitam pekat sudah menunggu di dermaga. Adrian tidak membiarkan Maya pulang menggunakan bus umum. Ia memerintahkan sopir pribadinya untuk mengantar Maya hingga ke perbatasan permukiman padat tempat gadis itu tinggal.
Mobil sedan mewah itu bergerak pelan dan akhirnya berhenti di ujung jalan raya, tepat di depan gang sempit yang membelah area ruko tua menuju kawasan padat penduduk tempat kontrakan Clara dan Maya berada. Kontras antara kendaraan berharga miliaran itu dengan jalanan becek di depannya terasa sangat nyata.
Adrian turun dari mobil, mengabaikan tatapan heran dari beberapa pejalan kaki. Ia membukakan pintu untuk Maya dan membantu gadis itu mengeluarkan ransel raksasanya dari bagasi. Maya memanggul tas berat itu, menatap Adrian dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Ini adalah garis akhir dari kebersamaan mereka.
"Terima kasih untuk tumpangannya, Senior," ucap Maya pelan, mencoba terdengar ceria meskipun matanya berkaca-kaca. "Dan terima kasih sudah melindungiku di hutan itu."
Adrian melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Pemuda itu menatap Maya dengan sebuah kelembutan yang sangat murni, sebuah tatapan yang tidak dipenuhi oleh nafsu atau ambisi romantis picisan, melainkan penghormatan dan kasih sayang yang mendalam terhadap jiwa tangguh gadis di depannya.
"Dengarkan aku baik-baik, Maya," ucap Adrian dengan suara baritonnya yang mantap. "Aku pergi ke Inggris bukan untuk melarikan diri, dan ini bukanlah sebuah akhir. Kau adalah orang pertama yang menilaiku bukan dari kekayaanku, melainkan dari seberapa bersih aku bisa mengepel lantai. Aku tidak akan pernah melupakan itu."
Maya menunduk, membiarkan sebutir air mata jatuh menetes mengenai sepatu kanvasnya yang usang.
Adrian mengangkat dagu Maya dengan jari telunjuknya, memaksanya menatap lurus. "Beri aku waktu tiga tahun," janji Adrian, setiap suku katanya ditekankan dengan keyakinan absolut. "Tiga tahun dari sekarang, aku akan kembali ke perusahaan kita bekerja. Dan saat aku kembali, aku berjanji akan mencarimu."
Maya menatap mata pemuda itu, mencari kebohongan, namun hanya menemukan ketulusan. "Kenapa kau harus kembali mencariku?"
Adrian tersenyum lebar, senyum menyebalkan namun menghangatkan hati yang selalu ia tunjukkan saat mereka berdebat di ruang istirahat. "Karena aku membutuhkan seorang sahabat sejati yang bisa kuandalkan. Seseorang yang tidak takut menegurku saat aku berbuat salah. Ingat, Gadis Kecil, janjiku ini bukan rayuan murahan untuk memintamu menungguku sebagai kekasih. Janji ini adalah sumpah seorang teman, seorang saudara seperjuangan. Aku akan kembali sebagai sahabatmu, untuk memastikan bahwa masa depanmu jauh lebih cerah daripada yang pernah kau impikan."
Kejelasan dari niat murni itu menembus pertahanan hati Maya. Tidak ada beban ekspektasi romantis yang memusingkan, hanya ikatan persahabatan kokoh yang lahir dari pertaruhan nyawa. Maya mengangguk kuat-kuat, menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
"Tiga tahun, Adrian. Aku pegang janjimu," balas Maya mantap, kembali memancarkan ketegaran yang selalu membuat Adrian kagum. "Kalau kau kembali dan ternyata kau berubah menjadi bos yang sombong, aku sendiri yang akan memukul kepalamu dengan gagang sapu."
Adrian tertawa terbahak-bahak, tawa yang bergema di mulut gang kumuh itu. "Aku menantikannya, Gadis Kecil."
Tanpa canggung, Adrian menarik Maya ke dalam sebuah pelukan perpisahan yang hangat dan singkat. Sebuah tepukan menyemangati di punggung Maya menjadi salam perpisahan terakhir mereka. Adrian mundur, memberikan hormat militer dengan gaya jenaka, lalu berbalik masuk ke dalam mobil mewahnya. Kaca jendela mobil yang gelap perlahan naik, dan iring-iringan kendaraan itu melaju mulus meninggalkan kawasan tersebut, membawa Adrian menuju bandara internasional untuk penerbangannya kembali ke Inggris.
Maya berdiri mematung di pinggir jalan, menatap pendar lampu belakang mobil yang perlahan menghilang ditelan hiruk-pikuk lalu lintas kota. Angin sore meniup rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menarik napas panjang, menghirup udara kotanya yang penuh debu namun terasa begitu hidup. Ransel raksasa di punggungnya terasa lebih ringan sekarang.
Dengan langkah mantap dan senyuman baru yang menghiasi wajahnya, Maya membalikkan badan dan berjalan menyusuri gang sempit menuju rumah petaknya. Ia siap menghadapi ibunya, siap menghadapi omelan Clara tentang liburan yang gagal, dan siap menghadapi kerasnya dunia untuk tiga tahun ke depan. Ia tidak lagi merasa sendirian. Di seberang lautan sana, ada seorang sahabat yang sedang berjuang membangun kerajaannya, dan di sini, Maya juga akan berjuang merajut masa depannya, menyongsong hari di mana janji tiga tahun itu akan ditepati.