Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Bayangan Masa Lalu
Malam makin merambat pekat di atas langit Jakarta. Di dalam kamar utamanya yang luas dan hening, Alya duduk di tepi tempat tidur besar bernuansa abu-abu dan perak. Gaun malam sutranya yang lembut membingkai tubuhnya yang kini begitu ramping, anggun, dan proposional.
Lampu kamar yang sengaja diredupkan menciptakan pendar temaram, membiaskan bayangan Alya di kaca meja rias. Alya menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin. Ia menyentuh garis rahangnya yang tegas dan leher jenjangnya secara perlahan.
Tubuh yang kini dipuji banyak orang karena keanggunannya ini menyimpan jejak perjuangan, rasa sakit, dan rasa trauma yang amat mendalam.
Pikiran Alya melayang mundur, menembus lorong waktu beberapa tahun silam—ke masa-masa ketika ia masih menjadi Alya yang polos, lugu, dan tidak berdaya. Masa di mana ia adalah seorang wanita berbadan gempal yang selalu memendam rasa rendah diri, wanita yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan senyuman di wajah suaminya, Rendy.
Dan malam ini, kenangan pahit itu terkuak kembali dengan teramat jelas.
Beberapa tahun yang lalu...
Hari itu hujan deras mengguyur kota. Alya yang saat itu masih berbadan gempal membawa kotak bekal berisi makanan kesukaan Rendy ke kantor pusat. Dengan senyum polos di wajahnya, Alya melangkah melewati lorong lantai eksekutif yang sudah sepi karena jam kerja telah usai.
Ia ingin memberikan kejutan manis untuk Rendy yang akhir-akhir itu selalu beralasan lembur hingga larut malam.
Saat melangkah mendekati pintu ruang kerja Rendy yang sedikit terbuka, Alya mendengar suara-suara aneh dari dalam. Langkah kakinya mendadak terhenti. Jantungnya berdegup kencang oleh firasat buruk yang mendadak menyergap dadanya.
Dengan tangan gemetar, Alya mendorong pintu kayu itu amat pelan, bersembunyi di balik celah pintu.
Ruangan itu remang-remang. Dan di layar monitor komputer besar di atas meja kerja Rendy, terputar sebuah rekaman video secara otomatis. Video itu merekam kejadian nyata yang sedang terjadi di sudut ruangan tersebut.
Mata Alya membelalak horor. Air matanya seketika menetes deras.
Di atas sofa kulit di pojok ruangan, Rendy sedang bercumbu dan bermesraan secara intim dengan seorang wanita. Adegan demi adegan panas dan pengkhianatan yang begitu keji terhampar nyata di depan mata Alya. Suara napas berburu, desahan gairah, dan bisikan-bisikan manis yang membakar kehormatan pernikahan mereka terdengar begitu jelas merobek-robek hatinya.
Alya meremas kotak bekal di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa mual, jijik, dan penderitaan yang luar biasa menghantam dadanya hingga ia hampir kesulitan bernapas.
Alya berusaha keras melihat siapa sosok wanita yang tega menghancurkan rumah tangganya itu. Ia ingin melihat wajah wanita penjahat yang sedang menikmati pelukan suaminya.
Namun, takdir seolah menahannya saat itu.
Lensa kamera pengawas tersembunyi yang merekam kejadian panas tersebut terhalang oleh tumpukan berkas dan folder laporan tebal yang menggunung di atas rak buku kayu setinggi dua meter. Tumpukan berkas yang menjulang itu menutup sempurna bagian wajah dan dada sang wanita. Alya hanya bisa melihat siluet tubuh, helai rambut panjang yang terurai, dan pergerakan intim mereka yang membara di bawah pendar lampu remang.
Alya tidak tahu siapa wanita itu. Apakah Siska? Atau wanita simpanan Rendy yang lain di masa lalu?
Malam itu, Alya tidak melabrak. Ia berlari keluar dari gedung kantor dengan air mata yang membasahi pipinya di bawah guyuran hujan deras. Ia menyimpan rahasia kelam itu sendirian di dalam dadanya yang sesak, berpura-pura tidak tahu demi menjaga keutuhan rumah tangga yang sejatinya sudah membusuk dari dalam.
Sejak hari itu pula, tekanan batin dan rasa penderitaan yang bertumpuk meretas kesehatan fisiknya, sebelum akhirnya Alya memutuskan untuk bangkit, mengubah total penampilannya, dan menata ulang takdir hidupnya.
Kembali ke masa kini...
Alya menghembuskan napas panjang. Ia mengusip sudut matanya yang terasa hangat. Rasa sakit dari masa lalu itu tidak lagi membuatnya menangis meratapi nasib. Justru sebaliknya, kenangan akan pengkhianatan keji di atas sofa kantor itu kini menjadi bahan bakar api dingin yang memantapkan tekadnya.
Ponsel Alya di atas meja rias bergetar pelan. Sebuah panggilan video masuk dari nomor privat yang sangat ia kenali.
Alya mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau. Layar menampilkan wajah tampan Kai Aditya yang sedang duduk di ruang kerja pribadinya. Kai mengenakan kemeja santai berwarna abu-abu tua, matanya menatap Alya melalui layar dengan binar kehangatan yang amat menenangkan.
"Kamu belum tidur, Alya?" panggil Kai dengan suara rendahnya yang hangat dan berkarisma.
Alya tersenyum tipis, menyandarkan ponselnya di cermin meja rias. "Belum, Kai. Aku baru saja merapikan berkas-berkas laporan untuk rapat komisaris besok."
Kai yang sangat mengenali raut wajah Alya menyipitkan matanya sedikit. Tatapannya yang tajam dan peka seketika menangkap selapis duka yang tersisa di manik mata Alya.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kai pelan namun penuh perhatian. "Rendy membuat masalah lagi malam ini?"
Alya menggeleng pelan. Ia menatap Kai di layar ponselnya—pria yang selama ini berdiri kokoh melindungi dan menghormatinya tanpa pernah menuntut hal-hal yang merendahkannya.
"Bukan Rendy yang sekarang, Kai," tutur Alya dengan suara yang agak rendah. "Aku cuma... baru saja teringat kejadian beberapa tahun lalu. Sebelum aku mengubah penampilanku, sebelum aku memangkas berat badanku..."
Kai terdiam di ujung telepon, mendengarkan dengan penuh kesabaran.
"Dulu sekali," sambung Alya, matanya menatap kosong ke arah jemarinya sendiri, "aku pernah mendapati bukti pengkhianatan Rendy yang sangat menjijikkan. Aku melihat rekaman video percumbuannya dengan seorang wanita di ruang kerjanya sendiri. Mereka berhubungan sangat jauh... sebuah adegan yang sangat mesra dan liar di tempat kerja."
Alya mendesah pelan, ada nada ketidakberdayaan masa lalu dalam suaranya. "Tapi saat itu aku tidak pernah tahu siapa wanita itu. Wajahnya tertutup oleh tumpukan berkas setinggi dua meter di atas rak kantor. Dan konyolnya... dulu aku memilih diam dan menahan penderitaan itu sendirian karena aku merasa diriku terlalu buruk untuk bersaing."
Mendengar penuturan Alya, raut wajah Kai di layar mendadak berubah menjadi sangat tegang dan dingin. Manik mata Kai berkilat oleh kemarahan yang mendalam terhadap Rendy—pria yang telah menyia-nyiakan dan menyakiti wanita sesempurna Alya.
"Rendy benar-benar tidak berharga, Alya," ujar Kai dengan nada suara yang amat berbobot dan tegas. "Dia tidak pernah pantas mendapatkan pengampunan, kasih sayang, atau bahkan penyesalan dari wanita sepertimu."
Alya menatap wajah Kai melalui layar, lalu tersenyum tulus.
"Aku tahu, Kai," kata Alya. "Dulu aku menangis karena merasa tidak berharga. Tapi malam ini, saat mengingat adegan pengkhianatan itu... aku sama sekali tidak merasa sakit lagi. Aku justru merasa jijik dan kasihan pada Rendy. Pria itu sudah membusuk sejak lama, dan dia tidak akan pernah bisa berubah."
Kai menatap Alya dengan pandangan yang sarat akan rasa cinta dan kekaguman yang mendalam.
"Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini, Alya," tutur Kai dengan nada suara yang teramat lembut dan hangat. "Terima kasih sudah menjadi wanita yang begitu kuat. Besok adalah hari di mana kita akan mengakhiri semua penderitaan masa lalumu."
"Iya, Kai," balas Alya pelan. "Besok, saat rapat komisaris dibuka dan dokumen pemalsuan Siska dibeberkan... aku akan memotong seluruh ikatan ini."
"Saya akan berada di sana, Alya," kata Kai dengan senyuman tipis yang menawan. "Saya akan memandangi panggung kemenanganmu dari kursi utama. Jangan tidur terlalu larut, Alya. Kamu butuh istirahat."
"Selamat tidur, Kai," bisik Alya.
"Selamat tidur, my Sunflower," balas Kai sebelum mengakhiri panggilan video tersebut.
Setelah Panggilan video terputus, suasana kamar kembali hening.
Tiba-tiba, knop pintu kamar Alya bergerak. Pintu yang tidak terkunci rapat itu terdorong pelan. Rendy melangkah masuk ke dalam kamar Alya dengan pakaian santai rumahannya. Wajah Rendy tampak amat kusam, matanya merah dan dipenuhi oleh bayang-bayang rasa bersalah dan ketakutan yang terus membayanginya sepanjang malam.
Alya tidak terkejut. Ia tetap duduk di meja riasnya, mematikan layar ponselnya dan memutar tubuh memandang Rendy dengan tenang.
"Ada apa lagi, Rendy?" tanya Alya dingin. "Ini sudah jam satu malam. Kenapa kamu belum tidur?"
Rendy berjalan perlahan mendekati Alya. Pria itu menatap penampilan Alya—gaun sutra perak yang membingkai tubuh ramping dan cantik istrinya, rambut hitam yang terurai indah, serta aura dingin yang begitu memikat. Rendy menelan ludah, dadanya berdesir kencang oleh penyesalan yang amat membakar.
Kenapa ia dulu pernah berpaling dari wanita sesempurna ini? Kenapa ia biarkan dirinya terjerat oleh godaan murah Siska yang serakah, sementara di rumahnya sendiri ada perhiasan yang begitu berharga?
"Al..." panggil Rendy dengan suara yang gemetar dan hampir serak. "Aku nggak bisa tidur..."
"Kalau kamu tidak bisa tidur, minumlah susu hangat atau obat tidur di dapur," jawab Alya datar seraya mengoleskan krim malam di jemarinya.
Rendy melangkah makin mendekat. Tanpa diduga, Rendy berlutut di samping kursi rias Alya, mencoba meraih kedua tangan Alya dan menggenggamnya dengan sangat erat.
"Al, tolong jangan begini..." bisik Rendy memohon, matanya menatap Alya dengan keputusasaan yang nyata. "Aku tahu aku banyak salah sama kamu. Aku tahu belakangan ini aku bikin kamu kecewa karena lebih banyak meluangkan waktu sama Siska dan urusan kantor..."
Alya membiarkan tangannya digenggam Rendy, tidak menariknya, tetapi juga tidak membalas genggaman itu sedikit pun. Tangannya terasa dingin dan kaku di dalam genggaman Rendy.
"Aku janji, Al," sambung Rendy dengan nada mendesak, berusaha meyakinkan Alya. "Mulai besok aku akan jarakin Siska. Aku bakal pecat dia kalau perlu! Aku cuma mau kita kayak dulu lagi, Al. Tolong maafin aku... kasih aku kesempatan buat perbaiki rumah tangga kita."
Alya menatap Rendy yang bersimpuh di samping kakinya. Dulu, Alya mungkin akan menangis terharu dan langsung memeluk Rendy jika pria itu memohon seperti ini. Tapi sekarang? Melihat Rendy bersimpuh memohon ampuh di hadapannya justru membuat Alya teringat pada rekaman video adegan syur Rendy beberapa tahun lalu di atas sofa kantor.
Rasa jijik yang amat sangat menjalar di dalam sanubari Alya.
Alya menarik kedua tangannya dari genggaman Rendy secara perlahan namun tegas.
"Rendy..." panggil Alya, suaranya terdengar begitu tenang, jernih, dan kaku. "Pernikahan bukan mainan yang bisa kamu rusak lalu kamu perbaiki sesukamu hanya saat kamu merasa takut kehilangan."
"Tapi aku cinta sama kamu, Al!" potong Rendy memotong dengan suara memprotes.
Alya menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman pembalasan yang teramat dingin dan tajam.
"Kamu tidak mencintaiku, Rendy," kata Alya lurus menembus manik mata Rendy. "Kamu hanya mencintai dirimu sendiri. Kamu hanya takut kehilangan fasilitas, posisi, dan kenyamanan yang aku berikan dalam hidupmu."
Alya berdiri dari kursi riasnya, melangkah menjauh dari Rendy yang masih membatu di lantai.
"Tidurlah, Rendy," kata Alya tanpa menoleh lagi seraya melangkah menuju tempat tidur dan menarik selimutnya. "Besok pagi akan menjadi hari yang sangat panjang untuk kita berdua di kantor. Kamu akan butuh seluruh tenaga yang kamu miliki."
Rendy perlahan berdiri dari berlututnya. Ia menatap punggung Alya yang tertutup selimut dengan perasaan hampa dan ketakutan yang tak tertahankan. Kata-kata Alya terdengar bagaikan vonis hukuman mati yang digantungkan di atas kepalanya.
Rendy melangkah keluar kamar Alya dengan langkah gontai dan hati yang hancur. Ia tidak tahu bahwa besok pagi, seluruh kebohongan, adegan pengkhianatan masa lalu, dan kejahatan finansial yang ia lakukan bersama Siska akan terbongkar secara tragis di depan seluruh jajaran komisaris—menandai akhir dari seluruh kekuasaannya dan awal dari kebebasan sejati bagi Alya.