NovelToon NovelToon
PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Bayangan dari Luar Tembok

Di luar batas Kerajaan Chu, jauh melampaui pegunungan yang mengelilingi wilayah kecil itu, sebuah kelompok berjubah hitam polos tanpa lambang apa pun berdiri di puncak bukit, mengamati cahaya lentera Kerajaan Chu yang berkelip samar di kejauhan malam.

Pemimpin kelompok itu, seorang pria bertopeng perak sederhana, berdiri diam dengan tangan terlipat di belakang punggungnya, matanya—satu-satunya bagian wajahnya yang terlihat dari balik topeng—menyipit tajam ke arah kerajaan kecil itu.

"Kau yakin merasakannya di sini?" tanya salah satu bawahannya, suaranya berhati-hati, seolah takut menyinggung sesuatu.

"Aku tidak pernah salah soal ini," jawab pria bertopeng itu, suaranya datar namun penuh keyakinan. "Resonansi pecahan tubuh Dewa. Lemah, baru bangkit, tapi jelas nyata. Berasal dari dalam kerajaan kecil itu."

"Bagaimana mungkin? Kerajaan seremeh itu, tidak pernah tercatat dalam sejarah manapun yang berkaitan dengan Dewa Kekacauan Purba."

"Itulah yang membuatnya menarik," pria bertopeng itu akhirnya bergerak, melangkah beberapa langkah lebih dekat ke tepi bukit. "Selama puluhan tahun, kita mencari di tempat-tempat besar, sekte-sekte terkenal, klan-klan kuno. Tidak pernah terpikir bahwa salah satu pecahan justru bersembunyi di sudut dunia yang paling terlupakan."

Bawahannya terdiam sejenak sebelum bertanya lagi, "Apakah kita akan bergerak sekarang, Tuan?"

Pria bertopeng itu menggeleng pelan. "Belum. Resonansinya masih terlalu lemah untuk memastikan siapa pembawanya. Kita amati dulu. Kalau benar seseorang di dalam kerajaan itu membawa pecahan tubuh Dewa, cepat atau lambat mereka akan menunjukkan diri sendiri."

Matanya kembali menatap ke arah kerajaan kecil di kejauhan, sesuatu yang menyerupai senyum tipis—meski tersembunyi di balik topeng—terlihat dari sudut matanya yang menyipit.

"Lagipula," lanjutnya, "kita punya waktu. Organisasi kita sudah menunggu ratusan tahun untuk mengumpulkan kembali apa yang tersisa dari Dewa Kekacauan Purba. Beberapa minggu atau bulan lagi tidak akan menjadi masalah."

Ia berbalik, jubah hitamnya berkibar pelan ditiup angin malam, dan seluruh kelompok itu menghilang ke dalam kegelapan hutan tanpa suara, seolah tidak pernah ada di sana sama sekali.

Kembali di dalam Kerajaan Chu, tiga hari setelah pertandingannya melawan Chu Yan, Chu Feng sudah cukup pulih untuk kembali beraktivitas normal, meski qi-nya masih belum sepenuhnya kembali ke level sebelum pertarungan.

Tahap ketiga Festival Penentuan—Ujian Kebijaksanaan—dijadwalkan berlangsung seminggu lagi, memberikan waktu bagi seluruh peserta untuk memulihkan diri sekaligus mempersiapkan strategi untuk ujian yang menekankan kemampuan memimpin dan berpikir taktis, bukan sekadar kekuatan mentah.

Reputasi Chu Feng di dalam istana telah berubah drastis sejak pertandingan itu. Para pelayan yang dulu berbisik mengejeknya kini memandangnya dengan campuran rasa hormat dan kewaspadaan. Beberapa pejabat istana yang sebelumnya mengabaikannya kini mulai mendekatinya dengan berbagai alasan diplomatik—sesuatu yang membuat Chu Feng semakin waspada, mengingat ia tahu betul betapa cepatnya sikap orang bisa berubah demi kepentingan politik semata.

Pada suatu sore, ketika ia sedang beristirahat di beranda paviliunnya, seorang utusan dari Kaisar Chu tiba dengan pesan yang tidak terduga.

"Yang Mulia diminta menghadap Kaisar di ruang pribadi beliau," kata utusan itu, membungkuk formal.

Chu Feng mengangkat alis, sedikit terkejut. Ia jarang sekali dipanggil untuk pertemuan pribadi dengan ayahnya—biasanya interaksi mereka hanya terbatas pada acara-acara formal istana.

Ruang pribadi Kaisar Chu jauh lebih sederhana dari yang mungkin dibayangkan siapa pun yang belum pernah memasukinya—tidak ada kemewahan berlebihan, hanya sebuah meja kayu tua, beberapa rak buku, dan sebuah lukisan potret seorang wanita muda yang tergantung di dinding, yang segera dikenali Chu Feng begitu ia memasuki ruangan.

Ibu.

Kaisar Chu duduk di belakang mejanya, tampak lebih lelah dari biasanya, jubah kebesarannya sudah digantikan dengan pakaian sederhana yang jarang sekali ditunjukkan di depan umum.

"Duduklah," katanya, menunjuk kursi di seberang mejanya.

Chu Feng duduk dengan hati-hati, matanya masih sesekali melirik ke arah lukisan ibunya di dinding.

"Kau memperhatikan lukisan itu," Kaisar Chu berkata, mengikuti arah pandangan putranya. "Sudah lama sekali sejak terakhir kali seseorang selain aku yang benar-benar menatapnya."

"Aku hampir tidak mengingat wajahnya," aku Chu Feng jujur. "Aku terlalu kecil ketika beliau meninggal."

Kaisar Chu terdiam sejenak, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja pelan, seolah mempertimbangkan sesuatu yang berat.

"Pertandinganmu melawan Chu Yan," katanya akhirnya, mengubah topik dengan tiba-tiba, "sangat mengejutkan bagi banyak orang di istana ini."

"Aku hanya melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan, Ayahanda."

"Jangan berpura-pura di hadapanku, Nak," Kaisar Chu menatapnya tajam, namun tanpa amarah—hanya keseriusan yang jarang sekali ia tunjukkan. "Aku sudah menjadi kaisar cukup lama untuk mengenali ketika seseorang menyembunyikan sesuatu. Dan kau, selama tujuh belas tahun, adalah salah satu penyembunyi terbaik yang pernah kutemui."

Chu Feng terdiam, tidak yakin bagaimana harus merespons pengakuan setajam itu dari ayahnya sendiri—seseorang yang selama ini terasa jauh, lebih seperti simbol otoritas dibandingkan sosok ayah yang sebenarnya.

"Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan segalanya," lanjut Kaisar Chu, suaranya melunak sedikit. "Tapi aku ingin bertanya satu hal, dan aku ingin jawaban jujur."

"Silakan, Ayahanda."

Kaisar Chu menatapnya lama, sebelum akhirnya bertanya dengan suara yang hampir berbisik, seolah takut didengar oleh siapa pun di luar ruangan itu.

"Apakah kekuatan barumu ini... ada hubungannya dengan ibumu?"

Chu Feng tersentak mendengar pertanyaan itu, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menduga ayahnya akan menghubungkan dua hal itu secepat ini—atau bahkan menyadari bahwa ada hubungan di antara keduanya sama sekali.

"Kenapa Ayahanda bertanya seperti itu?" tanyanya hati-hati, mencoba mengulur waktu untuk memikirkan jawaban yang tepat.

Kaisar Chu menghela napas panjang, membuka salah satu laci mejanya dan mengeluarkan kotak kayu kecil yang sama dengan yang selalu ia bawa di balik jubahnya—kali ini ia membukanya, mengeluarkan sebuah kalung sederhana dengan liontin batu kecil yang tidak asing bagi Chu Feng.

Simbol yang sama dengan yang ia lihat di pedang latihan ibunya. Simbol yang sama dengan di dinding reruntuhan Lembah Kabut.

"Ibumu memberikan ini padaku sebelum ia meninggal," kata Kaisar Chu pelan, meletakkan kalung itu di atas meja di antara mereka. "Bersama dengan permintaan terakhirnya—untuk menjagamu, dan untuk tidak pernah membiarkanmu pergi ke wilayah barat kerajaan, ke arah Lembah Kabut, sampai kau cukup dewasa untuk memahami alasannya sendiri."

Chu Feng menatap kalung itu, kemudian menatap ayahnya, seribu pertanyaan berkecamuk di kepalanya. "Ayahanda tahu tentang Lembah Kabut? Tentang ibuku yang berasal dari sana?"

"Aku tahu lebih banyak dari yang kau kira, Nak," Kaisar Chu menatapnya dengan ekspresi yang campur aduk antara kesedihan lama dan sesuatu yang menyerupai kelegaan. "Dan sudah waktunya kau juga mengetahuinya."

Di luar ruangan, malam semakin larut, dan di dalam ruang pribadi yang jarang dikunjungi siapa pun, sebuah kebenaran yang telah terkubur selama tujuh belas tahun akhirnya mulai terungkap—kebenaran yang akan mengubah jalan hidup Chu Feng jauh lebih dalam dari sekadar warisan pecahan tubuh Dewa yang bersemayam di tulang belakangnya.

1
Nanik S
Menjadi Murid sekte
Nanik S
Chu Feng ada teman dalam perjalanan
Nanik S
Akhirnya Chu Feng pergi menuju Sekte Langit
Irhab Hauzan: lanjut kak🙏
total 1 replies
Nanik S
Siapa nanti yang akan berkhianat pada Chu Feng apakah itu Su Yue
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya 🙏👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng harus berlindung disekte dan terus berlatih agar menjadi Kuat
Irhab Hauzan: terimakasi🙏😄
total 1 replies
Nanik S
Keturunan siapakah sebenarnya Ibu Chu Feng
Nanik S
Lanjutkan💪💪💪
Irhab Hauzan: terimakasih 🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Yan... kenapa tidak malu melawan adiknya yang paling Lemah
Irhab Hauzan: suka mbuly soalnya😄👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng.... mulai menunjukan kemampuannya dan pasti akan berbahaya bagi Kakak²nya😇😇😇
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng memang harus berhati hati karena kelicikan wanita
Irhab Hauzan: 😄😄😄 wanita memang tipudaya
total 1 replies
Nanik S
Semoga pangeran Ketuju tidak terlalu tertarik dengan asmara agar cerita ini tidak membosankan
Irhab Hauzan: terimakasih atas masukanya🙏
total 1 replies
Nanik S
Ada yang mengawasi ... dan kenapa sang Dewa tidak menyadarunya
Irhab Hauzan
terimakasih masukanya🙏
Nanik S
Lanjutkan Tor... jangan sampai ada perjodohan atau pernikahan muda pasti Ceritanya sudah TDK akan menarik
Nanik S
Lanjutkan Tor💪💪💪
Nanik S
Dewa... yang dianggap Intensitas tertinggi
Nanik S
Semoga cerita ini sampai selesai
Irhab Hauzan: terimakasih supportnya🙏
total 1 replies
Nanik S
Hadir.... cukup menarik di awal
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai k salam kenal . masuk grup aku mau gak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!