Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: PULANG UNTUK MEMBURU
Malam di Bandara Changi terasa sangat dingin, bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena atmosfer yang dibawa oleh Nata Prawira. Dengan paspor diplomatik merah marun di saku jasnya, Nata melewati pemeriksaan imigrasi tanpa harus membuka tas laptopnya yang berisi kode-kode penghancur untuk aset keluarga Chen.
Di sampingnya, Elena berjalan dengan langkah cepat, jemarinya tak henti bergerak di atas layar ponsel enkripsi. "Unit keamanan swasta di Jakarta sudah berada di posisi, Bos. Mereka mengepung ruko Jakarta Barat dalam radius lima puluh meter. Kirana dan Arya sudah dipindahkan ke ruang kedap suara di lantai tiga ruko. Yuda sedang memantau sistem kamera termal."
"Berapa banyak orang yang dikirim Arthur?" suara Nata terdengar rendah, seperti geraman badai yang tertahan.
"Ada dua mobil SUV hitam yang terdeteksi berputar-putar di area ruko sejak dua jam lalu. Mereka menggunakan nomor plat palsu. Berdasarkan analisis postur dari tangkapan kamera, mereka bukan penjahat jalanan. Mereka adalah tentara bayaran profesional," Elena melaporkan dengan nada cemas.
Nata masuk ke dalam jet pribadi kecil yang disewa secara anonim melalui jalur diplomatic clearance. Begitu pintu pesawat tertutup, ia melepaskan kacamata hitamnya. Matanya merah karena kurang tidur, namun fokusnya setajam silet.
"Aktifkan 'Operasi Pembersihan' sekarang, Elena. Aku ingin saat pesawat ini mendarat di Halim Perdanakusuma, Arthur Chen sudah kehilangan seluruh akses ke aset luar negerinya," perintah Nata.
"Sudah dijalankan, Bos. Data kebocoran pajak dan pencucian uang keluarga Chen sudah masuk ke server otoritas Singapura dan Interpol. Dalam waktu kurang dari satu jam, rekening-rekening mereka di Swiss dan Cayman akan dibekukan."
Nata menyandarkan kepalanya ke kursi. Pesawat mulai bergerak menuju landasan pacu. "Dia pikir dia bisa menyentuh adikku dan tetap bisa tidur nyenyak? Arthur lupa bahwa aku adalah orang yang membangun tangga kesuksesannya. Jika aku mau, aku bisa merobohkan tangga itu saat dia berada di puncak paling tinggi."
Di Jakarta, suasana di sekitar ruko tua Jakarta Barat—yang kini menjadi jantung teknologi Prawira Global—sangat tegang. Hujan deras mengguyur, menyamarkan langkah-langkah kaki di kegelapan.
Kirana duduk di dalam ruang kerja utama, memeluk Arya yang ketakutan. Di depan mereka, Yuda menatap deretan monitor dengan keringat dingin mengucur di pelipisnya.
"Kak Yuda, apa yang terjadi? Kenapa banyak orang di luar?" tanya Arya dengan suara gemetar.
Yuda mencoba tersenyum, meski tangannya gemetar saat memegang walkie-talkie. "Tidak apa-apa, Arya. Kak Nata hanya sedang melakukan latihan keamanan. Kita harus tetap di sini sampai Kak Nata datang, oke?"
Tiba-tiba, salah satu layar monitor menampilkan kilatan cahaya. Seseorang mencoba memutus kabel listrik utama ruko.
"Mereka mulai bergerak!" seru Yuda. "Unit satu, lakukan pencegatan! Jangan biarkan mereka masuk ke lobi!"
Suara letusan senjata—yang diredam oleh suara hujan dan petir—mulai terdengar di luar. Para tentara bayaran Arthur Chen tidak menyangka bahwa ruko yang tampak usang itu dijaga oleh unit paramiliter swasta dengan persenjataan lengkap.
Satu jam kemudian, jet Nata mendarat di Jakarta. Tanpa menunggu jemputan protokol, Nata dan Elena langsung melompat ke dalam mobil taktis yang sudah menunggu di landasan pacu. Mobil itu melaju kencang membelah kemacetan Jakarta malam hari menuju Jakarta Barat.
Nata membuka laptopnya di dalam mobil. Ia melihat status real-time dari ruko. "Yuda, aku sudah di jalan. Bagaimana situasinya?"
"Bos! Dua orang berhasil menembus pagar belakang! Tim keamanan sedang terlibat baku tembak di area gudang bawah tanah! Kirana dan Arya aman, tapi mereka mencoba meledakkan pintu masuk utama!" suara Yuda terdengar panik di tengah suara dentuman.
"Tahan mereka lima menit lagi, Yuda! Gunakan sistem pertahanan gas air mata otomatis di lorong depan!" perintah Nata.
Nata menoleh ke Elena. "Elena, kirimkan bukti video percobaan penculikan ini langsung ke ponsel pribadi Marcus Chen. Katakan padanya, jika dia tidak memerintahkan orang-orang ayahnya untuk mundur dalam tiga puluh detik, aku akan merilis video perselingkuhan ayahnya dan bukti suap kepada menteri transportasi ke seluruh stasiun televisi nasional sekarang juga!"
Elena segera mengeksekusi. Ketegangan di dalam mobil itu mencapai puncaknya. Nata tidak lagi peduli dengan strategi jangka panjang. Ia menggunakan segala jenis senjata kotor yang ia miliki.
Tepat saat mobil Nata sampai di depan ruko, sebuah ledakan kecil menghancurkan pintu gerbang depan. Nata keluar dari mobil sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti. Ia tidak membawa senjata api, namun kehadirannya memberikan aura intimidasi yang luar biasa.
Para tentara bayaran yang tersisa di luar tampak ragu saat melihat Nata berjalan tenang di tengah hujan, sementara tim keamanannya terus memberikan tembakan penekan.
Ponsel salah satu pemimpin tentara bayaran berdering. Itu adalah instruksi dari Marcus Chen, yang baru saja menerima ancaman mematikan dari Elena.
"Mundur! Semua unit mundur sekarang! Misi dibatalkan!" teriak pemimpin bayaran itu.
Dalam hitungan detik, orang-orang bersenjata itu menghilang ke dalam kegelapan malam, membawa rekan mereka yang terluka. Suasana mendadak menjadi sunyi, hanya menyisakan suara hujan yang menghantam aspal.
Nata berlari masuk ke dalam ruko, menaiki tangga dengan cepat. Di lantai tiga, ia mendobrak pintu ruang kerja.
"Kirana! Arya!"
Kirana langsung berlari dan memeluk Nata dengan erat, menangis sejadi-jadinya. Arya mengikuti, memegang kaki Nata. Nata mengelus rambut mereka, napasnya memburu, matanya mulai berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke masa lalu, Nata merasa benar-benar takut—takut kehilangan mereka lagi.
"Maafkan Kakak... Kakak terlambat," bisik Nata. "Kakak tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian lagi. Tidak akan pernah."
Setelah memastikan adik-adiknya tenang dan dijaga oleh tim medis, Nata kembali ke lantai bawah. Di sana, Elena dan Yuda sudah menunggu dengan wajah lelah namun lega.
"Arthur Chen sudah selesai, Bos," ucap Elena. "Otoritas Singapura baru saja melakukan penggerebekan di kantor pusat banknya. Marcus menelepon, dia memohon ampunan. Dia bilang ayahnya terkena serangan jantung saat polisi datang."
Nata duduk di sebuah kursi kayu tua di pojok ruangan. Bajunya basah kuyup, rambutnya berantakan. "Serangan jantung? Itu terlalu mudah baginya. Dia seharusnya melihat bagaimana seluruh kerajaannya hancur berkeping-keping terlebih dahulu."
"Lalu apa rencana kita dengan Marcus?" tanya Yuda.
"Biarkan dia memegang sisa-sisa bank yang hancur itu. Dia akan menjadi boneka kita di Singapura. Prawira Global akan membeli aset-aset bank mereka yang dilelang dengan harga murah. Kita tidak lagi butuh aliansi dengan keluarga Chen. Kita akan memiliki mereka," jawab Nata dingin.
Nata menatap tangannya yang sedikit gemetar. Ia telah melintasi garis yang tak bisa ditarik kembali. Ia telah menggunakan kekerasan, ancaman, dan spionase untuk menang. Ia menyadari bahwa ia telah menjadi sosok yang sama berbahayanya dengan orang-orang yang ia benci.
"Bos, Tuan Lim dari ISD mengirim pesan," Elena menunjukkan tabletnya. "Dia tahu Anda kembali ke Jakarta. Dia bilang: 'Kamu memenangkan pertempuran ini dengan cara yang sangat kotor, Nata. Tapi ingat, sekarang kamu ada di daftar teratas pengawasan internasional. Tidak ada lagi tempat persembunyian untukmu'."
Nata tersenyum sinis. "Katakan pada Lim, aku tidak butuh tempat persembunyian. Aku akan membangun dunia di mana orang-orang seperti dia tidak punya pilihan selain bekerja untukku."
Malam itu, di ruko tua yang kini menjadi benteng kekuasaan baru di Jakarta, Nata Prawira duduk diam menatap hujan. Paman Danu sudah mati. Keluarga Chen sudah runtuh. Prawira Global kini menjadi raksasa yang tak terlihat yang menguasai jalur logistik dan finansial regional.
Namun, saat ia menoleh dan melihat Kirana serta Arya yang tertidur di sofa karena kelelahan, Nata tahu bahwa harga dari semua ini sangat mahal. Ia telah kehilangan masa mudanya, ia telah kehilangan kedamaiannya, dan ia telah menjadi hantu di dalam sistem.
"Setiap garis takdir punya harga," gumam Nata. "Dan aku sudah membayarnya lunas."
Ia menutup laptopnya, mematikan lampu ruangan, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Nata Prawira membiarkan dirinya sendiri terlelap, di dekat orang-orang yang menjadi alasan mengapa ia memilih untuk mengubah takdir dunia.
Bersambung.....