JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI
Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.
Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.
Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.
Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.
"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."
Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bayang bayang masalalu
Lucas telah lama meninggalkan ruangan setelah meletakkan map laporan di atas meja atas perintah Dante. Keheningan yang mencekam kembali merayap di dalam kamar tidur mewah itu.
Nayara masih berdiri kaku, sedingin es. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. Kepalanya pusing, dipenuhi oleh satu pertanyaan besar yang mendadak meremukkan seluruh keberanian yang dia kumpulkan tadi.
"Dari mana kamu tahu namaku?" suara Nayara akhirnya keluar, bergetar hebat, nyaris seperti bisikan putus asa.
Dante tidak langsung menjawab. Dia menarik kembali jemarinya dari rahang Nayara, lalu berjalan lambat menuju meja, meraih map yang tadi dibawa oleh Lucas. Detik itu, sepasang mata elang Dante menatap tajam lembar dokumen yang berisi seluruh riwayat hidup gadis di hadapannya.
𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘊𝘩𝘦𝘳𝘺𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘏𝘢𝘳𝘥𝘪𝘢𝘯
Melihat nama belakang itu, rahang Dante mengeras. Di dalam benaknya, kilasan ingatan masa lalu yang pahit mendadak berputar layaknya kaset rusak. Dante ingat betul bagaimana ibunya menghabiskan malam-malam dengan menangis, mengunci diri di kamar, hingga akhirnya depresi dan memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Semua itu karena ayahnya—Don Lorenzo Moretti—tidak pernah sedikit pun memberikan hatinya pada sang ibu.
Jiwa dan pikiran Lorenzo telah mati dan tertinggal pada satu wanita: Emily, ibu kandung Nayara.
Dante tahu persis cerita menjijikkan itu. Dulu, Lorenzo tergila-gila pada Emily, namun Emily menolaknya mentah-mentah dan lebih memilih Hardian, seorang jenderal militer yang brilian. Lorenzo yang murka membalas dendam dengan kejam. Dia menghancurkan karier militer Hardian lewat fitnah keji, mencabut jabatannya secara tidak hormat, bahkan membuat tangan pria itu cacat permanen hingga keluarga mereka jatuh miskin dan merangkak di jalanan.
Dan ironisnya, Lorenzo melampiaskan rasa frustrasinya dengan merusak ibu Dante, menikahinya tanpa cinta, dan membiarkan wanita malang itu mati dalam kesedihan karena selalu dibanding-bandingkan dengan Emily.
Sekarang, takdir seolah bermain gila di depan mata Dante. Saat dia mengeksekusi seorang pengkhianat di gang gelap malam itu, dia tidak sengaja menangkap seorang gadis yang menjadi saksi mata. Dan saat menyeret gadis itu ke bawah lampu, Dante nyaris menghentikan napasnya sendiri. Wajah Nayara... adalah cetakan sempurna dari Emily, wanita yang telah menghancurkan ibunya secara tidak langsung.
Dante menyeringai tipis, penuh luka dan dendam yang membara. 'Lorenzo... mari kita lihat, apa yang akan kamu lakukan kalau melihat mainan baruku ini kusiksa dan kuhancurkan tepat di depan matamu?' batin Dante bergejolak kejam. Tentu saja, Nayara tidak boleh tahu alasan ini. Biarlah gadis ini mengira dia ada di sini murni karena kesalahannya sendiri.
"Kamu pikir aku membawamu ke mansion ini tanpa persiapan, Nayara?" Dante memecah keheningan, suaranya mengalun santai namun dingin. Dia melempar dokumen di tangannya ke atas tempat tidur.
Nayara melirik sekilas dokumen itu. Halamannya terbuka, menampilkan rincian utang yang sangat besar atas nama ayahnya, Hardian.
"Utang biaya rumah sakit akibat kecelakaanmu beberapa tahun lalu," ucap Dante sinis, berjalan mendekati Nayara dengan langkah intimidatif. "Ayahmu meminjam uang pada salah satu lintah darat di bawah jaringanku. Dan sampai detik ini, dia tidak mampu membayar sepeser pun."
Nayara tersentak, air matanya kembali menggenang. "J-jadi... kamu membawaku ke sini karena utang ayahku? Bukan cuma karena aku melihat kejadian di gang itu?" Nayara mencoba mencari kebenaran, suaranya tercekat. Di dalam benak polosnya, dia benar-benar mengira Dante menawannya hanya karena dia tidak sengaja menjadi saksi mata pembunuhan malam itu. Dia tidak tahu ada konspirasi yang jauh lebih mengerikan di balik ini.
"Menjadi saksi pembunuhan yang kulakukan artinya kamu harus mati malam itu juga, Signorina," bisik Dante tepat di samping telinga Nayara, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Tapi mengingat ayahmu yang cacat dan miskin itu punya utang besar padaku... aku memutuskan untuk berbaik hati. Aku menukar nyawamu dengan ini."
Dante menunjuk gaun pelayan ketat dan seksi yang melekat di tubuh Nayara.
"Mulai malam ini, kamu adalah pelayan pribadiku. Tugasmu adalah menuruti semua perintahku, tanpa bantahan, tanpa air mata sialan itu," perintah Dante kejam. "Satu kali saja kamu mencoba kabur, atau membuatku tidak puas..." Dante menggantung kalimatnya, tersenyum miring yang membuat darah Nayara berdesir ngeri. "...peluru yang kamu minta tadi tidak akan bersarang di kepalamu, tapi di kepala ayahmu yang payah itu."
Nayara menutup mulutnya, menahan isak tangis yang nyaris pecah. Tubuhnya gemetar hebat. Dia merasa dunia benar-benar tidak adil. Mengapa kecelakaan masa lalunya justru menjadi petaka yang menjerumuskannya ke dalam sangkar emas milik iblis seperti Dante Moretti?
Pertahanan diri Nayara runtuh total. Lututnya melemas, tidak lagi mampu menopang berat tubuhnya sendiri.
𝘉ruk.
𝘎𝘢dis itu bersimpuh di atas lantai yang dingin tepat di depan ujung sepatu pantofel Dante. Air matanya meluncur deras, membasahi pipi hingga menetes ke lantai. Rasa angkuh dan amarah yang menggebu-gebu beberapa menit lalu kini lenyap, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa demi keselamatan sang ayah.
"Tolong..." isak Nayara sesenggukan, mendongak menatap Dante dengan pandangan yang kabur oleh air mata. Kedua tangannya yang gemetar bergerak maju, menyentuh ujung celana kain hitam Dante dengan gestur memohon yang amat sangat. "Tolong jangan sentuh ayahku. Aku mohon... jangan sakiti dia."
Dante tidak bergerak sedikit pun. Dia berdiri menjulang tinggi bak algojo, menatap dingin ke arah gadis yang kini bersujud di bawah kakinya.
"Ayahku sudah cacat, dia tidak tahu apa-apa tentang semua ini," ratap Nayara lagi, suaranya parau karena tercekat rasa bersalah yang teramat dalam. "Aku yang bersalah... 𝘈-𝘢𝘬𝘶 yang melihatmu malam itu. Jadi tolong, biarkan ayahku tenang. Aku janji... aku janji akan melakukan apa saja. Aku akan patuh. Aku akan menuruti semua perintahmu, aku bersumpah!"
Mendengar kata-kata pasrah itu keluar dari bibir Nayara, dada Dante berdesir aneh. Kepuasan yang gelap dan pekat merayapi hatinya. Bayangan kehancuran Lorenzo Moretti seolah terpampang nyata di depan mata jika sang Don melihat putri dari wanita pujaannya merangkak seperti ini di kaki putranya sendiri.
Dante menyembunyikan senyuman iblis yang nyaris terukir di wajahnya. Dia mempertahankan ekspresi datarnya yang menakutkan, lalu menunduk lambat, mencengkeram dagu Nayara dengan kekuatan yang cukup untuk membuat gadis itu meringis. Dia memaksa wajah yang basah oleh air mata itu untuk menatap lurus ke dalam netra elangnya.
"Ingat sumpahmu itu, Nayara," bisik Dante, suaranya berat dan penuh penekanan yang mutlak. "Hari ini, aku masih berbaik hati memaafkan kelancanganmu yang berteriak di depanku tadi. Tapi ingat... tidak akan pernah ada kesempatan kedua. Jika aku melihat ada satu saja penolakan di matamu mulai detik ini, peluru itu akan langsung menembus jantung ayahmu."
Nayara memejamkan mata erat-erat, air matanya kembali meluber melewati jemari Dante yang mencengkeram rahangnya. "I-iya... aku mengerti," jawabnya lirih, pasrah pada takdirnya yang kini telah digenggam oleh pria kejam itu.
Dante melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, lalu berdiri tegak kembali seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
"Bagus. Sekarang hapus air mata sialanmu 𝘪𝘵𝘶 dan berdiri," perintah Dante dingin tanpa empati sedikit pun. "Tunjukkan padaku bagaimana cara pelayan pribadiku bekerja."
------------------------------