NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Luka yang Tidak Pernah Sembuh

Pagi pertama sebagai Nyonya Dimitri tidak berjalan seperti yang Luna bayangkan.

Saat membuka mata, sinar matahari pagi sudah masuk melalui jendela besar kamar.

Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar.

Lalu semua kejadian kemarin kembali memenuhi pikirannya.

Pernikahan.

Gereja.

Alex.

Dan rumah besar keluarga Dimitri.

Luna langsung duduk.

Matanya mencari sosok Alex.

Namun sofa tempat pria itu tidur semalam sudah kosong.

Selimutnya terlipat rapi.

Seolah tidak pernah digunakan.

Luna melirik jam.

Pukul enam pagi.

"Rajin sekali."

gumamnya pelan.

Setelah membersihkan diri, Luna turun ke ruang makan.

Rumah itu masih terasa asing.

Bahkan langkah kakinya terdengar canggung.

Begitu sampai di ruang makan, ia menemukan Alex sudah duduk sambil membaca dokumen di tablet.

Pria itu mengenakan kemeja hitam sederhana.

Rambutnya sedikit basah.

Menandakan ia sudah bangun sejak lama.

"Pagi."

Suara Luna membuat Alex mengangkat kepala.

"Pagi."

Pelayan segera menarikkan kursi untuknya.

Suasana kembali hening.

Sampai akhirnya Luna memberanikan diri bertanya.

"Kamu selalu bangun sepagi ini?"

"Biasanya lebih pagi."

Luna mengangguk pelan.

Jawaban khas Alex.

Singkat.

Dingin.

Dan seperlunya.

Namun sebelum suasana kembali hening, seorang pria tua memasuki ruang makan.

Kakek Dimitri.

"Selamat pagi."

Alex langsung berdiri.

Luna ikut berdiri.

Pria tua itu tersenyum tipis kepada Luna.

"Bagaimana malam pertamamu di sini?"

Luna hampir tersedak jus jeruk yang baru diminumnya.

Sedangkan Alex tetap tenang.

"Baik, Kek."

Untung saja kakek Dimitri tidak melanjutkan pertanyaan itu.

Pria tua tersebut lalu duduk di kursi utama.

Tatapannya beralih kepada Alex.

"Ada rapat siang ini."

"Aku tahu."

"Kau akan datang bersama Luna."

Alex mengernyit.

"Kakek."

"Itu bukan permintaan."

Luna yang mendengar percakapan mereka memilih diam.

Ia belum memahami hubungan keduanya.

Namun jelas terlihat bahwa Alex sangat menghormati kakeknya.

Meski terkadang tidak setuju.

---

Setelah sarapan selesai.

Alex pergi ke ruang kerja.

Sedangkan Luna memutuskan berjalan-jalan mengelilingi rumah.

Rumah keluarga Dimitri sangat besar.

Bahkan lebih besar dari yang ia bayangkan.

Saat sedang melihat-lihat taman belakang, seorang pelayan wanita menghampirinya.

"Nyonya muda."

Luna tersenyum.

"Ya?"

"Ada sesuatu yang mungkin ingin Anda lihat."

Pelayan itu menunjuk sebuah bangunan kecil di sudut taman.

Mirip rumah kaca.

Dengan rasa penasaran, Luna berjalan mendekat.

Begitu pintunya dibuka, ia terkejut.

Ruangan itu dipenuhi berbagai tanaman bunga.

Mawar.

Lili.

Anggrek.

Semuanya tertata rapi.

"Indah sekali."

Pelayan itu tersenyum.

"Ini dulu milik Nyonya Clara."

"Nyonya Clara?"

"Ibu Tuan Muda Alex."

Luna terdiam.

Ini pertama kalinya ia mendengar tentang ibu Alex.

"Beliau sangat menyukai bunga."

Luna memperhatikan sekeliling.

Ruangan ini jelas dirawat dengan baik.

Seolah seseorang tidak ingin tempat ini terlupakan.

"Beliau sudah lama meninggal?"

Pelayan itu mengangguk.

"Sekitar tiga belas tahun lalu."

Luna menatap bunga-bunga itu.

Entah kenapa ada perasaan sedih yang muncul di hatinya.

---

Di waktu yang sama.

Alex sedang berdiri di ruang kerjanya.

Tatapannya tertuju pada sebuah foto yang tersimpan di dalam laci meja.

Foto seorang wanita cantik dengan senyum lembut.

Clara Dimitri.

Ibunya.

Sudah bertahun-tahun berlalu.

Namun rasa kehilangan itu tidak pernah benar-benar hilang.

Alex masih mengingat hari itu dengan jelas.

Hari yang mengubah seluruh hidupnya.

---

Tiga belas tahun lalu.

Alex yang saat itu masih duduk di kelas empat SMP sedang menunggu di ruang tamu.

Ia baru pulang sekolah.

Dan seperti biasa, ibunya menyambutnya dengan senyum hangat.

"Alex pulang."

"Aku lapar, Ma."

Clara tertawa kecil.

"Mama sudah menyiapkan makanan."

Saat itu hidup mereka terasa sempurna.

Meski ayah Alex sudah lama meninggal karena kecelakaan, Clara selalu berusaha menjadi ibu sekaligus ayah untuk putranya.

Bahkan ketika sedang mengandung empat bulan.

Alex sangat bahagia saat mengetahui ia akan memiliki adik.

Ia bahkan sudah menyiapkan banyak nama.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Suatu malam.

Ibunya tiba-tiba pingsan.

Awalnya Alex mengira hanya kelelahan biasa.

Sampai ambulans datang.

Dan semuanya berubah.

Rumah sakit.

Tangisan.

Dokter.

Suara langkah kaki yang terburu-buru.

Semuanya masih tersimpan jelas dalam ingatannya.

Alex yang saat itu masih berusia empat belas tahun hanya bisa duduk sendirian di lorong rumah sakit.

Menunggu.

Berharap.

Berdoa.

Sampai akhirnya seorang dokter keluar.

Wajah pria itu terlihat berat.

"Kami minta maaf."

Kalimat itu menghancurkan dunianya.

Ibunya meninggal malam itu.

Begitu juga calon adiknya.

Karena komplikasi yang terjadi secara mendadak.

Sejak hari itu.

Hidup Alex berubah sepenuhnya.

Tak ada lagi suara lembut yang membangunkannya pagi hari.

Tak ada lagi seseorang yang menunggu kepulangannya.

Tak ada lagi pelukan hangat saat ia merasa lelah.

Yang tersisa hanyalah dirinya dan sang kakek.

Kakek Dimitri memang merawatnya dengan baik.

Memberikan pendidikan terbaik.

Memberikan kehidupan terbaik.

Namun pria tua itu tidak pernah bisa menggantikan posisi seorang ibu.

Dan Alex tumbuh menjadi seseorang yang menutup dirinya dari dunia.

---

Lamunan Alex terputus ketika pintu ruang kerja diketuk.

"Masuk."

Luna muncul di balik pintu.

Alex segera menutup laci mejanya.

"Ada apa?"

Luna terlihat ragu.

"Aku tadi ke taman belakang."

Alex langsung tahu tempat yang dimaksud.

Rumah kaca milik ibunya.

"Pelayan bilang itu milik ibumu."

Alex terdiam.

Untuk beberapa saat.

Lalu mengangguk.

"Ya."

Luna memperhatikan wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia melihat sesuatu yang berbeda.

Kesedihan.

Tipis.

Namun nyata.

"Aku minta maaf."

Alex menatapnya.

"Untuk apa?"

"Karena mengingatkanmu."

Ruangan menjadi sunyi.

Kemudian tanpa diduga Alex berkata pelan.

"Ibuku meninggal saat aku SMP."

Luna terkejut.

"Itu sebabnya aku hidup bersama kakek."

Untuk pertama kalinya.

Alex menceritakan sedikit tentang dirinya.

Dan untuk pertama kalinya.

Luna menyadari bahwa di balik sikap dingin pria itu, tersimpan luka yang belum pernah benar-benar sembuh.

Luka yang selama bertahun-tahun ia simpan sendirian.

Dan entah kenapa, Luna mulai merasa ingin mengenal pria itu lebih jauh.

Bukan sebagai suaminya.

Tetapi sebagai seseorang yang sedang berusaha bertahan dengan masa lalunya.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!