"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Pengumuman di Lapangan Upacara
****
Pagi hari di SMA Tunas Bangsa kali ini terasa jauh lebih cerah, seolah-olah seluruh semesta ikut merayakan runtuhnya tirai besi dan belenggu tak kasat mata yang selama dua minggu ini mengurung kebebasanku. Sinar matahari pagi yang hangat mulai menembus sela-sela rimbunnya pohon beringin, mengusir sisa-sisa kabut tipis pasca-hujan yang sempat menggantung rendah di atas lapangan upacara. Ratusan murid dari seluruh tingkatan kelas, mulai dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas, sudah berbaris rapi sesuai dengan jurusan dan kelas mereka masing-masing. Namun, atmosfer di lapangan pagi ini tidak seperti biasanya. Suasana riuh rendah oleh bisik-bisik penasaran yang sejak subuh tadi sudah memenuhi jagat media sosial dan grup obrolan menfess sekolah, menciptakan ketegangan tersendiri yang kian memuncak seiring berjalannya waktu.
Aku berdiri di barisan tengah kelas XII MIPA 2 bersama Risa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama melewati hari-hari penuh tekanan, aku tidak lagi mengenakan jaket rajut tebal yang biasa kugunakan untuk menyembunyikan pergelangan tanganku dari pandangan mata-mata sekolah. Gelang perak sederhana dengan bandul berbentuk bintang kecil pemberian Saka kini melingkar dengan indah dan bebas di pergelangan tangan kananku. Kilau peraknya yang diterpa cahaya matahari pagi tampak begitu mencolok, memantulkan rasa lega yang teramat sangat karena tidak ada lagi ketakutan terhadap pengawasan ketat dari Devan yang posesif. Risa yang berdiri tepat di sebelahku sesekali melirik ke arah gelang itu, lalu menyenggol lenganku pelan sambil melemparkan senyuman tulus yang sarat akan rasa syukur. Sahabatku itu tahu betul seberapa besar siksaan mental yang kuhadapi selama berpura-pura menjadi boneka penurut di samping sang Ketua OSIS.
"Mik, coba lo lihat ke arah podium depan sekarang. Gila, gue masih gak menyangka kalau hari ini bakal bener-bener terjadi di depan mata kita semua," bisik Risa dengan nada suara yang sangat pelan namun dipenuhi binar kepuasan yang tidak bisa disembunyikan.
Aku mendongak, merapatkan barisan seragamku agar tidak memancing perhatian dari guru piket yang sedang berjaga di sepanjang pembatas lapangan. Di atas podium kehormatan yang dilapisi karpet merah, Pak Malik selaku Kepala Sekolah sudah berdiri tegap di depan mikrofon dengan raut wajah yang sangat tegas, dingin, dan berwibawa. Namun, perhatian ratusan pasang mata di lapangan upacara sama sekali tidak tertuju pada beliau. Fokus semua orang tersedot sepenuhnya pada sosok cowok yang berdiri kaku di sebelah kanan Pak Malik dengan posisi tubuh tegak namun kepala yang sedikit tertunduk layu.
Itu Devan Dirgantara.
Penampilannya pagi ini sebenarnya masih terlihat sangat rapi tanpa cela sedikit pun, tipikal dirinya yang selalu perfeksionis dalam segala hal. Kemeja putihnya disetrika sangat kaku, celana abu-abunya terpasang sempurna, dan sepatu hitamnya mengkilat memantulkan cahaya. Namun, ada satu pemandangan yang sangat kontras dan langsung disadari oleh seluruh penghuni sekolah. Ban lengan hitam bertuliskan 'KETUA OSIS' berbahan kuningan yang biasanya selalu terpasang gagah di bahu kirinya kini sudah lenyap tanpa sisa. Wajah tampannya yang biasa dipenuhi senyuman ramah, teduh, nan manipulatif yang mampu memikat siapa saja, kini tampak sangat pucat pasi, kaku, dan menyimpan gurat kehancuran yang teramat dalam. Reputasi emas yang dia bangun dengan penuh kepalsuan selama bertahun-tahun telah runtuh berkeping-keping di dalam ruang kepala sekolah kemarin sore, tepat saat Saka membongkar alat perekam suara digital miliknya.
Pak Malik mengetuk mikrofon dua kali, menciptakan suara dengungan pendek yang menggema keras ke seluruh penjuru lapangan upacara, seketika membungkam riuhnya bisik-bisik para murid. Beliau mendehem berat, memperbaiki letak kacamata bacanya sebelum akhirnya membuka suara dengan intonasi yang sangat dalam.
"Selamat pagi seluruh siswa-siswi SMA Tunas Bangsa yang Bapak banggakan. Pada kesempatan upacara pagi hari ini, ada sebuah pengumuman luar biasa dan sangat penting terkait reorganisasi struktur kepengurusan inti OSIS yang harus disampaikan secara langsung oleh yang bersangkutan di depan kita semua. Kepada Devan Dirgantara, Bapak persilakan untuk maju ke depan mikrofon."
Devan menarik napas panjang secara perlahan, sebuah gerakan tubuh yang tampak begitu berat seolah beban seluruh dunia sedang bertumpu di atas pundaknya. Dia melangkah maju satu langkah mendekati tiang mikrofon. Ketika tangan kanannya meraih batang besi mikrofon tersebut, aku bisa melihat dengan jelas bahwa jemarinya bergetar halus—sebuah pemandangan yang sangat langka dan tidak pernah terjadi dari seorang diktator sekolah yang biasanya selalu mengontrol segala situasi dengan ketenangan mutlak yang menakutkan. Dia menatap lurus ke arah lautan murid di hadapannya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur menjadi kepingan tak berarti di bawah kaki hukum sekolah.
"Selamat pagi teman-teman, adik-adik kelas, dan seluruh jajaran guru yang saya hormati," suara Devan menggema melalui pengeras suara lapangan, terdengar sangat serak, bergetar di beberapa bagian, dan kehilangan wibawa alaminya secara total. "Saya, Devan Dirgantara, berdiri di sini di hadapan kalian semua untuk mengumumkan pengunduran diri saya dari jabatan Ketua OSIS SMA Tunas Bangsa masa bakti periode ini secara resmi, terhitung mulai detik ini juga."
Seketika itu juga, lautan murid di lapangan upacara langsung pecah oleh suara riuh kejutan yang luar biasa riuh. Kasak-kusuk, bisikan heboh, dan suara gumaman tidak percaya langsung menjalar bagai virus dari barisan paling depan kelas sepuluh hingga barisan paling belakang kelas dua belas. Semua orang saling berpandangan dengan mata membelalak, sama sekali tidak menduga bahwa sang malaikat sekolah yang berprestasi, cerdas, dan selalu menjadi anak emas para guru bisa turun tahta secara mendadak tanpa ada desas-desus atau agenda serah terima jabatan resmi sebelumnya.
"Pengunduran diri ini saya ambil secara sadar karena... karena ketidakmampuan saya dalam menjaga integritas organisasi serta adanya pelanggaran kode etika berat yang telah saya lakukan di luar sepengetahuan pihak sekolah selama ini," lanjut Devan, setiap kalimat yang keluar dari bibirnya terdengar sangat kaku, lambat, dan menyiksa karena dia terpaksa membaca teks sanksi tertulis yang dijatuhkan oleh Pak Malik kemarin sore. "Saya mengakui kesalahan saya dan meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak, khususnya para siswa, yang telah saya rugikan atas tindakan penyalahgunaan wewenang jabatan ini."
Setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya, Devan memundurkan tubuhnya kembali dengan kaku. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Pak Malik sebagai bentuk penghormatan terakhir yang formalitas, sebelum aKhirnya berjalan turun dari podium upacara dengan langkah kaki yang terasa sangat lemas dan merosot. Berdasarkan keputusan sidang disiplin kemarin, Devan tidak lagi diizinkan untuk kembali ke barisan kelas XII MIPA 2. Dua orang guru piket bertubuh tegap sudah berdiri sigap menantinya di ujung undakan podium, langsung mengapit dan mengawal langkah kakinya berjalan perlahan menuju pintu gerbang utama sekolah untuk menjalani masa hukuman skorsing dua minggu penuhnya mulai hari ini.
Saat langkah kaki Devan berjalan melewati barisan kelas kami, mata elangnya yang kini tampak sangat redup, sayu, dan kehilangan binar kehidupannya sempat melirik ke arah tempatku berdiri untuk terakhir kalinya. Tatapan mata Devan tidak lagi dipenuhi oleh obsesi posesif yang mendominasi atau tatapan mengancam yang biasa dia layangkan di balik meja barisan paling depan. Yang tersisa di dalam manik matanya hanyalah sebuah rasa frustrasi yang mendalam, kebencian yang teramat pekat, dan rasa malu yang luar biasa karena kedok manipulasinya telah dibongkar habis.
Namun, aku sama sekali tidak membalas tatapan matanya. Aku sengaja memalingkan wajahku, membuang muka sepenuhnya ke arah barisan gedung seberang—gedung belakang yang menjadi wilayah kekuasaan anak-anak jurusan IPS yang sejak tadi mengamati jalannya penurunan tahta ini dengan keheningan yang sarat akan kemenangan.
Di barisan paling belakang kelas XII IPS 3, tepat di bawah bayangan pohon mangga yang rindang, sosok cowok dengan potongan rambut pendek barunya yang sangat rapi sedang berdiri dengan begitu tegap. Kedua tangannya dilipat dengan santai di depan dada bidangnya yang kokoh.
Saka Aditya.
Meskipun pakaian seragam putih abu-abunya kini terpasang dengan sangat rapi, baju dimasukkan dengan sempurna, dan atribut dasi terpasang lengkap mematuhi aturan hukum sekolah, sebuah seringai sinis nan ugal-ugalan yang sangat khas tetap terukir jelas di sudut bibirnya yang tampan. Sifat berandalnya tidak hilang, melainkan berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih matang dan berbahaya di bawah sistem. Mata elangnya menatap lurus membelah lapangan upacara, mengunci keberadaanku dengan binar mata perlindungan yang sangat pekat, posesif, namun sekaligus menghangatkan seluruh sudut hatiku.
Saat mata kami akhirnya saling bertemu di tengah riuhnya lautan murid pagi itu, Saka mengangkat tangan kanannya singkat ke udara. Dia menunjukkan pergelangan tangan kanannya sendiri ke arahku, seolah ingin memberi kode rahasia bahwa pelindungku telah kembali seutuhnya dan sandiwara beracun ini telah resmi berakhir dengan kemenangan mutlak di tangan kami.
Gue tersenyum sangat lebar di bawah teriknya sengatan matahari pagi yang kian meninggi, merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang membawa rasa kebebasan yang sejati ke dalam lubuk hatiku yang terdalam. Takhta tirani yang dibangun Devan dengan penuh manipulasi telah resmi runtuh berkeping-keping di depan seluruh warga sekolah hari ini, dan si berandal patuh aturan di ujung lapangan sana telah membuktikan bahwa dia mampu memenangkan permainan ini dengan cara yang jauh lebih cerdas tanpa perlu menggunakan pukulan ototnya lagi. Perang dingin babak kedua ini berakhir dengan kepuasan hakiki di pihak kami, dan aku tahu pasti, di bawah lingkaran perlindungan keagresifan tulus milik Saka, tidak akan ada lagi ular manipulatif atau sangkar emas mana pun yang berani menyentuh, mengancam, atau mengurung kebebasan hidupku di sekolah ini. Kami semua berjalan kembali menuju ruang kelas setelah bel pembubaran barisan berbunyi dengan kepala tegak, siap menyambut lembaran baru yang jauh lebih bersih dan tenang.