📖 Judul: Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi
Deskripsi Cerita:
Di sudut jalan tua yang masih menyimpan jejak sejarah, berdiri kokoh sebuah bangunan kayu bergaya klasik Tiongkok. Di sanalah letak Toko Roti Lian Hua, tempat di mana udara selalu beraroma hangat manis—campuran gula, tepung, dan aroma kayu manis yang khas.
Di balik meja kayu yang sudah usang namun bersih, bekerja seorang gadis bernama Mei Lin. Di usianya yang ke-20, ia sudah menjadi pemilik tunggal toko ini, satu-satunya warisan berharga peninggalan orang tuanya yang telah tiada dalam sebuah kecelakaan misterius. Mei Lin gadis yang ceria, berhati lembut, sangat menyayangi anak kecil dan kucing liar. Namun, takdir memberinya satu ujian berat: ia terlahir bisu. Ia tak bisa bersuara, tak bisa berteriak, dan tak bisa membela diri dengan kata-kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jajak Lama Dan Ancaman Baru
Malam itu, kabut tebal masih menyelimuti seluruh kota, membuat jalanan terlihat sepi, gelap, dan mencekam. Di dalam Toko Roti Lian Hua, lampu-lampu sudah dimatikan sebagian, hanya menyisakan cahaya redup di ruang belakang. Udara terasa dingin, tapi di antara keheningan itu, ada api semangat yang makin menyala di dada Jun Jie dan Mei Lin, juga Kakek Lim yang masih duduk bersama mereka.
Di atas meja kayu tua, tersebar semua barang peninggalan orang tua Mei Lin: tumpukan buku catatan, nota pembelian, surat-surat lama, dan sebuah kotak kayu kecil yang sudah kusam warnanya. Kakek Lim duduk di kursi kayu, kacamatanya turun sedikit di hidung, tangannya gemetar menyentuh benda-benda itu seolah menyentuh sejarah yang lama dikubur.
"Dua tahun lalu..." suara Kakek Lim berat dan pelan, memecah keheningan. "Kecelakaan itu tidak pernah terasa benar di hatiku. Ayahmu, Ibumu... mereka orang yang sangat berhati-hati. Tidak mungkin mereka salah bawa kendaraan, apalagi saat hari cerah, jalanan kering dan sepi. Tapi saat itu, semua bukti seolah mengarah pada kelalaian mereka sendiri. Tidak ada yang mau percaya padaku saat aku bilang ada yang aneh."
Mei Lin duduk di sampingnya, matanya berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan tua itu erat, hatinya bergetar hebat. Selama ini ia selalu merasa ada yang salah, tapi tak pernah punya keberanian atau bukti untuk mencarinya lebih jauh.
Jun Jie berdiri di sisi lain, matanya tajam meneliti setiap kertas di meja. "Kakek bilang ada bukti tersembunyi. Di mana?"
Kakek Lim menunjuk ke kotak kayu kecil itu. "Ini benda yang paling mereka jaga. Dulu aku pernah lihat Ayahmu menyembunyikan ini di laci paling dalam, selalu dikunci. Katanya, 'kalau sampai apa-apa terjadi sama kami, benda ini akan bicara sendiri'. Tapi setelah mereka pergi... Paman Chen Hao dan Bibi Mei Feng datang beramai-ramai, mengobrak-abrik rumah ini, mengambil banyak barang berharga. Aku kira mereka juga sudah ambil kotak ini... ternyata kamu sempat sembunyikan, ya Nak?"
Mei Lin mengangguk pelan. Air matanya jatuh satu tetes. Ia ingat betul, saat itu ia sempat menyelipkan kotak itu ke bawah lantai gudang, karena naluri kecilnya bilang benda ini penting dan berbahaya.
Perlahan, dengan tangan bergetar, Mei Lin membuka gembok kecil yang sudah berkarat. Kotak terbuka. Di dalamnya ada sebuah buku catatan kulit tebal, sebuah peta tanah, dan satu kaset rekam suara tua yang masih terbungkus rapi.
Jantung Jun Jie berdegup kencang. Ia langsung mengambil buku itu, membuka halaman pertamanya. Tulisan tangan ayah Mei Lin jelas dan tegas. Ia mulai membaca pelan, suaranya makin lama makin keras dan bergetar marah.
"Ini... ini catatan transaksi tanah dan perselisihan harga..." Jun Jie menatap Kakek Lim. "Dua tahun lalu, Paman Chen Hao dan rekan bisnisnya—keluarga Jun Wei—sudah berniat membeli tanah dan toko ini dengan harga sangat murah. Ayah Mei Lin menolak, karena tanah ini warisan leluhur, tak boleh dijual sembarangan. Mereka marah, mengancam akan mengusir paksa kalau tidak mau menyerahkan."
Kakek Lim mengangguk berat. "Benar. Saat itu mereka bilang tanah ini mau dipakai untuk proyek besar. Tapi ayah ibumu teguh pendirian. Katanya, tanah ini tempat kami mencari nafkah, tempat kami membesarkan anak kami. Tak ada harga yang cukup mahal untuk membelinya."
Lembar demi lembar dibaca. Semakin ke belakang, nada tulisan ayah Mei Lin makin tegang, makin waspada. Ada catatan tanggal persis sehari sebelum kecelakaan itu:
"Mereka makin nekat. Kemarin ada orang tak dikenal mengintai. Mereka bilang kalau minggu ini kami belum juga setuju, akan ada 'kecelakaan' yang bikin kami sadar. Aku takut, tapi kami takkan mundur. Demi Mei Lin, kami harus pertahankan ini."
Suasana ruangan seketika membeku.
Mei Lin menutup mulutnya dengan tangan, isak tangisnya tertahan. Jadi... kecelakaan itu memang bukan kebetulan. Orang tuanya dibunuh. Dibunuh oleh kerabat sendiri, dibunuh oleh orang-orang yang tamak dan kejam, demi sebidang tanah dan uang!
Amarah meluap di dada Jun Jie sampai hampir meledak. Ia menekan buku itu kuat-kuat sampai buku jarinya memutih. Matanya merah padam. Ia tak pernah menyangka, kejahatan keluarga ayahnya dan kerabat Mei Lin sudah sedemikian dalam dan kejamnya. Mereka bukan cuma memfitnah, mereka sudah berdarah-darah dua tahun lalu!
"Keparat..." desis Jun Jie rendah, penuh kebencian. "Jadi semua fitnah, semua kebencian, semua ini asalnya dari sini. Mereka mau tanah ini. Dulu dibunuh orang tuamu, sekarang mau hancurkan kamu, supaya tak ada lagi yang berhak atas tanah ini. Kalau kamu hancur, kamu miskin, kamu diusir... otomatis tanah ini jadi milik mereka."
Kakek Lim mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Dan sekarang, rencana mereka makin jelas. Mereka menyebar kabar rotimu beracun, supaya warga membenci, supaya toko ditutup paksa, supaya kamu terpaksa menjual tanah ini dengan harga murah sekali. Setelah itu, mereka akan bangun gedung mewah di sini, dan kamu... kamu akan hilang tak berbekas."
Jun Jie menatap Mei Lin lekat-lekat. Ia meraih tangan gadis itu, mengusap punggung tangannya yang dingin dan gemetar.
"Tenang, Lin. Dulu mereka menang karena ayah ibumu tak punya kekuasaan dan pelindung. Tapi sekarang... kamu punya aku. Dan aku takkan biarkan sejarah itu terulang. Bukti ini... buku ini, rekaman ini, peta ini... ini senjata paling tajam yang mereka takutkan. Ini cukup buat mengirim mereka semua ke penjara seumur hidup."
Namun, belum sempat mereka bernapas lega... tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca keras dari bagian depan toko! Diikuti suara teriakan orang dan benda-benda yang dihantam dan dibanting.
Mereka serentak menoleh. Cahaya lampu depan padam seketika. Suara langkah kaki berat, kasar, dan banyak jumlahnya terdengar mendekat. Ada suara teriakan lantang dan penuh amarah yang menggelegar:
"KELUAR! PENIPU! PEMBUNUH! KAMI TAHU KALIAN MASIH DI SANA!"
"KELUAR DAN SERAHKAN TANAH ITU! KAMI SUDAH CUKUP SAKITI KARENA ROTIMU BERACUN!"
"BAKAR SAJA TOKO INI SAMA DENGAN DOSA-DOSANYA!"
Jantung Mei Lin berdegup kencang sampai mau copot. Ia merapat ke dada Jun Jie, ketakutan luar biasa. Dari celah pintu, terlihat bayangan orang-orang berkerumun, membawa obor, kayu, dan batu. Warga yang sudah terhasut habis-habisan oleh berita bohong, didorong oleh Paman Chen Hao dan Bibi Mei Feng yang bersembunyi di belakang kerumunan, mengompori emosi mereka.
Jun Jie langsung berdiri tegak, menempatkan dirinya di depan Mei Lin dan Kakek Lim, melindungi mereka sekuat tenaga. Wajahnya serius, dingin, tapi matanya berapi-api. Ia menyuruh Kakek Lim menyembunyikan kotak bukti itu di tempat paling aman, lalu berbisik pelan ke telinga Mei Lin:
"Dengar aku baik-baik. Apa pun yang terjadi, jangan keluar. Tetap di sini sama Kakek. Aku akan hadang mereka. Ingat, bukti itu lebih berharga daripada nyawaku sekarang. Jangan sampai jatuh ke tangan mereka."
Mei Lin menggeleng kuat-kuat, matanya memohon agar Jun Jie jangan pergi, jangan ambil risiko. Tapi Jun Jie tersenyum tipis, mengusap pipinya sekali lagi, lalu berbalik menuju pintu yang sudah mulai didobrak.
Pintu kayu tua itu berderik keras, mau roboh kapan saja. Di luar sana, suara makin riuh, makin ganas. Dan di kejauhan, tersembunyi di balik bayang-bayang, Paman Jun Wei, Lin Na, dan kerabat jahat lainnya berdiri diam, tersenyum puas menonton pertunjukan yang mereka ciptakan sendiri.
"Pertahankan apa yang kau punya kalau kau sanggup, Jun Jie..." gumam Paman Jun Wei dingin. "Malam ini akan jadi malam terakhir kau dan gadis cacat itu ada di sini. Besok pagi, tanah ini milik kami, dan nama kalian hilang selamanya."
Pintu depan akhirnya jebol. Kayu-kayu berjatuhan. Asap debu mengepul masuk. Dan di ambang pintu itu, di bawah cahaya remang bulan dan api obor, berdiri Jun Jie sendirian, tubuhnya tegak, matanya tajam menatap ratusan orang yang marah dan siap menyerang.
Di belakangnya, di ruang belakang yang gelap, Mei Lin memeluk kotak kayu itu erat sekali, air matanya mengalir deras, berdoa dalam hati sekuat tenaga... semoga cinta dan kebenaran mereka cukup kuat menahan badai terbesar malam ini.
Perang terbuka sudah dimulai. Dan malam ini, nyawa, kehormatan, dan masa depan mereka bertarung di ujung tanduk.