NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Topeng yang Retak di Depan Kamera

Amarah yang baru saja memekakkan telinga di lorong staf yang sepi itu mendadak luruh, berganti keheningan yang mencekam. Narendra, yang tadinya bersiap melontarkan makian lebih pedas, terpaku saat merasakan tubuh Alika merosot lemas dalam dekapannya. Wajah wanita itu kini kehilangan rona merah kosmetiknya; ia tampak sangat pucat, nyaris transparan di bawah siraman lampu neon lorong yang dingin.

"Alika?" Narendra mengguncang pelan bahu istrinya. Namun, tidak ada jawaban. Kelopak mata Alika terpejam rapat, sementara tangan yang tadinya berontak menepisnya kini terkulai tak berdaya.

Rasa panik mulai menyergap dada Narendra. Ia memanggil nama istrinya sekali lagi. Suaranya tidak lagi terdengar berwibawa, melainkan terselip nada gentar yang sulit ia sembunyikan. Sebelum ia sempat menentukan langkah, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah pintu ballroom.

"Ada apa ini? Seseorang pingsan?"

Narendra menoleh dan mendapati dr. Raditya di sana. Tampaknya insting sang dokter cukup tajam untuk menyadari kepergian paksa pasangan itu dari atas panggung. Saat mata dokter itu menangkap sosok Alika yang terkulai di lengan Narendra, napasnya sejenak tertahan.

"Minggir!" Raditya menerjang mendekat, sama sekali tidak memedulikan status Narendra sebagai pimpinan Artha Group. Ia langsung berlutut di lantai, memeriksa denyut nadi Alika yang terasa lemah dan tidak beraturan.

"Apa yang kau lakukan padanya?!" bentak Raditya dengan nada tajam, penuh otoritas seorang dokter yang menyadari adanya bahaya. "Kondisinya kritis, dan kau masih sempat-sempatnya melakukan intimidasi di lorong hotel?"

Narendra tertegun. Bentakan itu, ditambah pemandangan Raditya yang dengan sigap merobek sedikit bagian bawah gaun Alika untuk memeriksa pembengkakan di kaki wanita itu, membuat dunia Narendra seolah jungkir balik. "Dia... dia hanya kelelahan. Dia pingsan karena terlalu lama berdiri."

"Kelelahan? Kau buta atau memang sengaja menutup mata?" Raditya menatap Narendra dengan sorot mata tajam yang menyiratkan kebencian. "Lihat pergelangan kakinya! Bengkaknya sudah luar biasa, dan ruam di lehernya muncul karena tubuhnya mengalami shock. Ini bukan sekadar lelah, ini adalah sistem imun yang sedang menyerang dirinya sendiri!"

Tepat saat itu, sayup-sayup terdengar langkah kaki para tamu dan staf hotel mulai mendekat. Sebagai pria yang selalu menjaga martabat, Narendra tahu reputasinya sedang di ambang kehancuran. Jika ada yang melihat Alika digotong dalam kondisi seperti ini, gosip miring pasti akan meledak esok pagi.

"Jangan biarkan siapa pun melihat kejadian ini," desis Narendra, insting kepemimpinannya kembali muncul. Ia segera meraih tubuh Alika, menggendongnya secara bridal style dengan sangat hati-hati, lalu menatap Raditya dengan tatapan dingin yang mendesak. "Bawa dia ke klinik privat hotel. Sekarang. Saya tidak mau berita ini sampai bocor ke media."

Di ruang privat yang jauh dari kebisingan, Alika dibaringkan di atas ranjang medis. Raditya bergerak cepat memberikan bantuan oksigen portabel dan menyiapkan injeksi darurat untuk menstabilkan detak jantung Alika.

Narendra berdiri di sudut ruangan dengan tangan terkepal di dalam saku celana. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Raditya yang tampak tenang namun tegas saat menangani istrinya. Ada rasa asing yang menyakitkan di dadanya—rasa cemburu yang perlahan memudar, berganti menjadi ketakutan nyata akan kehilangan.

Jika dia benar-benar sakit... jika ini bukan sekadar sandiwara... apakah selama ini aku telah membiarkannya menderita sendirian?

"Dia akan sadar dalam sepuluh menit," ucap Raditya tanpa menoleh, tangannya masih sibuk merapikan selang infus. "Namun saya peringatkan Anda, Tuan Narendra: jika Anda masih memaksanya menjalani rutinitas yang membunuh jiwanya dan memberinya tekanan batin sehebat ini, saya tidak bisa menjamin organ tubuhnya akan bertahan sampai akhir tahun."

Narendra terdiam. Ia menatap wajah Alika yang tampak damai karena pengaruh obat, namun terlihat sangat rapuh. "Sakit apa dia sebenarnya?" tanya Narendra dengan suara yang jauh lebih rendah dari biasanya.

Raditya menghentikan gerakannya. Ia menoleh dan menatap Narendra dengan pandangan menghakimi. "Saya sudah curiga sejak awal, tapi saya masih menunggu hasil tes terakhir untuk memastikan. Namun, jika Anda memang peduli, Anda tidak butuh nama penyakitnya sekarang. Anda hanya perlu tahu bahwa setiap bentakan dan pengabaian Anda adalah racun bagi nyawanya."

Raditya berjalan menuju pintu. "Saya akan keluar untuk memberikan penjelasan kepada para tamu bahwa Nyonya Alika mengalami dehidrasi ringan akibat suhu ruangan. Itu alasan yang paling masuk akal untuk menjaga nama baik perusahaan Anda."

Setelah Raditya pergi, Narendra melangkah mendekati tempat tidur. Ia ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh punggung tangan Alika. Kulit istrinya terasa sangat dingin.

Ingatannya kembali pada masa-masa awal pernikahan mereka, sebelum skema open marriage menjadi racun yang merusak segalanya. Dulu, ia benar-benar mencintai wanita ini. Namun, egonya telah mengubah cinta itu menjadi obsesi yang menyesakkan.

Alika bergerak sedikit. Kelopak matanya perlahan terbuka. Meski tatapannya masih kabur, ia mengenali sosok pria yang berdiri di sampingnya.

"Mas..." bisiknya lemah.

Narendra terdiam, menahan diri agar tidak melontarkan kata-kata kasar. "Jangan bicara dulu."

"Tolong... jangan biarkan mereka tahu," lanjut Alika dengan air mata yang merembes di sudut matanya. "Tolong jangan hancurkan reputasimu gara-gara aku."

Hati Narendra terasa seperti diremas. Bahkan dalam kondisi sekarat, hal pertama yang dipikirkan wanita itu adalah melindungi martabat pria yang telah menyakitinya selama ini. Narendra perlahan menggenggam tangan Alika, meski tangannya sendiri terasa kaku—sebuah cerminan betapa sulitnya pria itu meruntuhkan keangkuhannya, bahkan saat dihadapkan pada kenyataan yang mulai menghancurkan dunianya.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!