Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Nasi Goreng yang Menggemparkan Sekte
Bab 8: Nasi Goreng yang Menggemparkan Sekte
Setelah semua keributan tentang tulang legendarisnya selesai, Mu Chen akhirnya mendapatkan kamar tidur sendiri di asrama murid tamu. Kamarnya sederhana: ada tempat tidur dari anyaman bambu, meja kayu, dan jendela yang menghadap ke halaman luas sekte.
Namun, baru sehari tinggal di sana, satu masalah besar mulai muncul — perutnya terus berbunyi keroncongan.
Kenapa? Sebab tubuhnya terus-menerus menyerap energi dari udara, tanah, pepohonan, bahkan sinar matahari. Tapi seperti yang sudah diketahui, energi itu hanya memperkuat tubuhnya, tidak bisa mengenyangkan perut sedikit pun.
Murid-murid biasa bisa berpuasa tiga sampai tujuh hari hanya dengan menyerap Qi. Tapi Mu Chen? Setiap empat jam sekali dia harus makan! Kalau tidak, perutnya akan berbunyi sekeras guntur, membuat orang lain menoleh dengan wajah bingung.
Suatu sore...
"Kruuuukkk... kruuukkk..."
Suara itu bergema di sepanjang lorong asrama. Mu Chen memegangi perutnya sambil berjalan mondar-mandir di depan dapur umum.
Di dapur, para pelayan sedang sibuk menyiapkan makanan — semuanya berupa bubur gandum encer, sayuran rebus tanpa bumbu, dan sedikit daging kering yang rasanya hambar sekali.
Mu Chen melihat makanan itu, lalu mencium baunya, dan wajahnya langsung berubah masam.
"Wah... ini namanya makanan? Rasanya pasti seperti makan rumput kering yang diberi air panas. Kalau terus begini, perutku kenyang sebentar tapi lidahku akan menangis sedih selamanya," gumamnya pelan.
Di sampingnya, Lin Xiaoyao yang lewat melihatnya dan tertawa kecil.
"Kenapa melamun di depan dapur? Mau makan? Buburnya sudah siap."
"Bubur? Lihat saja, isinya airnya lebih banyak dari butiran gandum. Kalau diminum, lebih baik minum air sungai saja. Sayangnya aku sudah terbiasa makan yang berasa dan gurih di rumahku," keluh Mu Chen sambil menggaruk kepalanya.
Xiaoyao mengangkat bahu. "Di sini semua makanan dibuat sederhana. Kita lebih mementingkan energi daripada rasa. Lagipula, bumbu yang berasa kuat dianggap bisa mengganggu peredaran Qi."
Mendengar itu, mata Mu Chen tiba-tiba berbinar seolah mendapat ide cemerlang.
"Mengganggu Qi? Hahaha! Kalau begitu, itu tidak masalah bagiku! Tubuhku ini kan penyerap energi, malah tidak bisa mengeluarkannya. Aku bebas makan apa saja!"
Ia langsung masuk ke dalam dapur, membuat para pelayan menatapnya dengan bingung.
Mu Chen mulai memeriksa isi dapur. Ada beras, telur ayam hutan, bawang, jahe, sedikit garam, dan minyak wijen. Tidak ada kecap atau cabai seperti di dunianya, tapi ia merasa sudah cukup.
"Baiklah! Mari kita ciptakan keajaiban kuliner yang belum pernah ada di Benua Xuanhuang — Nasi Goreng Gaya Sederhana!"
Ia langsung memakai celemek kain yang agak kekecilan, lalu mulai bekerja dengan penuh semangat.
Pertama, ia menanak nasi — tapi karena tidak tahu cara tungku di sini, hampir saja nasi itu gosong total! Untungnya ia cepat sadar dan memindahkan panci, sambil berteriak sendiri:
"Wah! Panasnya terlalu cepat! Di rumahku ada kompor yang bisa diatur apinya. Ini seperti main api yang tidak mau diajak kerja sama!"
Setelah nasi matang dan agak dingin — kondisi terbaik untuk digoreng — ia memanaskan minyak di wajan besar. Begitu minyak panas, ia memasukkan irisan bawang.
"Pruuussshhh...!"
Suara desisan minyak membuat semua orang di sekitarnya melompat kaget. Para pelayan mundur selangkah, mengira ia sedang melakukan teknik kultivasi aneh!
"Itu... itu suara apa? Apakah dia mengeluarkan serangan energi?!" bisik salah satu pelayan dengan mata terbelalak.
Xiaoyao yang juga menonton dari samping pun memegang dadanya yang berdebar kencang.
Namun Mu Chen tidak peduli. Ia terus mengaduk bawang sampai harum, lalu memecahkan telur — tapi karena terlalu antusias, kulit telurnya ikut jatuh ke dalam wajan!
"Aduh! Sial! Eh... tidak apa-apa, diambil saja. Untungnya tidak pecah menjadi kecil-kecil," gumamnya cepat sambil memungut kulit telur dengan sumpit kayu, membuat Xiaoyao hampir tertawa terbahak melihat tingkahnya.
Setelah telur matang, ia memasukkan nasi, lalu mengaduknya dengan cepat dan keras. Suara nasi yang beradu dengan wajan bergema di seluruh dapur. Ia bahkan sempat berteriak seolah sedang berlatih seni bela diri:
"Aduk kiri! Aduk kanan! Panaskan merata! Jadilah lezat dan menggugah selera! Ini bukan sihir — ini ilmu pengolahan bahan makanan!"
Semakin lama, aroma harum yang sangat berbeda mulai tercium. Awalnya samar, lalu menyebar cepat keluar dari dapur, menembus lorong-lorong asrama, bahkan sampai ke halaman utama sekte.
Para murid yang sedang berlatih menghentikan gerakan mereka, mengendus-endus udara dengan wajah bingung.
"Aroma apa ini? Sangat harum, tidak seperti bumbu obat atau bunga biasa!"
"Seperti... seperti makanan, tapi baunya membuat air liur mengalir deras!"
"Perutku yang tadi tidak terasa lapar, sekarang tiba-tiba berbunyi keras!"
Bahkan Tetua Qingyun dan Tetua Agung Mo Feng yang sedang berdiskusi di aula pun menghentikan pembicaraan mereka.
"Aroma apa itu? Apakah ada orang yang sedang membakar obat langka?" tanya Tetua Agung sambil berdiri dan menuju sumber bau.
Semua orang berjalan beriringan menuju dapur — dan terkejut melihat pemandangan di sana.
Di depan wajan besar, berdiri Mu Chen dengan wajah berkeringat, rambutnya sedikit berantakan, tapi matanya berbinar penuh kepuasan. Di dalam wajan terlihat nasi yang berwarna agak kekuningan, terlihat lembab dan menggugah selera, mengeluarkan asap tipis dengan aroma yang luar biasa.
"Selesai! Nasi Goreng Versi Benua Xuanhuang! Tanpa kecap, tanpa cabai, tapi tetap gurih dan lezat!" serunya bangga sambil mengangkat sendok kayu besar.
Semua orang diam sejenak. Kemudian, Mu Chen mengambil mangkuk kayu, menyendok sedikit, lalu meniupnya pelan sebelum memakannya.
Begitu rasanya menyentuh lidahnya, matanya langsung terpejam nikmat.
"Wah! Lumayan! Minyak wijennya membuatnya harum, bawangnya memberi rasa sedap. Meski tidak selengkap di rumahku, ini jauh lebih enak daripada bubur air tadi!"
Ia baru mau memakan suapan kedua, tapi tiba-tiba menyadari semua mata di ruangan itu menatapnya dengan tatapan penuh keinginan.
Murid-murid, pelayan, bahkan para tetua sekalipun — mulut mereka sedikit terbuka, air liur menumpuk di mulut, dan perut mereka serentak berbunyi "KRUK KRUK KRUK!" bersamaan, membuat suasana menjadi sangat kocak.
Mu Chen tersenyum kikuk, lalu menawarkan:
"Kalau mau mencoba, silakan saja. Ini tidak mengandung Qi, tidak mengandung racun, cuma makanan biasa. Tapi rasanya... lumayanlah!"
Tetua Qingyun yang paling penasaran maju lebih dulu. Ia mengambil sedikit dengan sumpit, memasukkannya ke mulutnya — dan detik berikutnya matanya membulat besar.
Rasanya gurih, harum, ada sedikit rasa manis alami dari nasi, berpadu sempurna dengan bawang dan telur. Teksturnya lembut tapi tidak lembek, berbeda jauh dari semua makanan yang pernah ia makan selama lebih dari seribu tahun hidupnya!
"Ini... ini luar biasa! Tidak ada energi khusus, tidak meningkatkan kekuatan, tapi rasanya membuat orang merasa hidup kembali! Kenapa tidak ada orang yang membuat makanan seperti ini selama ini?!" serunya dengan suara kaget.
Mendengar tanggapan positif, yang lain pun tidak ragu lagi. Semua berebut mengambil mangkuk dan sendok. Bahkan Tetua Agung Mo Feng yang biasanya sangat sopan dan menjaga wibawa, sampai menyendok agak cepat agar tidak kehabisan!
"Hei, Tetua Agung, tolong sisakan sedikit untukku!" seru salah satu tetua lain sambil tertawa.
"Yang lebih dulu dapat, yang makan! Di usiaku ini, saya jarang menemukan makanan yang sedap seperti ini!" jawab Tetua Agung sambil terus mengunyah.
Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh panci besar nasi goreng habis tak bersisa. Bahkan sisa-sisa yang menempel di dinding wajan pun diambil oleh para murid yang terlambat datang, membuat Mu Chen hanya bisa menggaruk kepalanya sambil tertawa.
Setelah perut kenyang, semua orang merasa sangat puas. Para murid yang tadinya mengira Mu Chen hanyalah orang aneh tanpa bakat, kini memandangnya dengan pandangan yang berbeda — bukan sebagai orang kuat, tapi sebagai ahli makanan ajaib!
Lin Xiaoyao tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya:
"Mu Chen, kamu benar-benar luar biasa! Membuat makanan saja bisa membuat seluruh sekte lupa berlatih! Mulai sekarang, kalau ada acara besar, kamu harus menjadi juru masak utamanya!"
Mu Chen tertawa sambil mengelap keringat di dahinya:
"Kalau begitu, syaratnya mudah saja — berikan aku beras, telur, bawang, garam, dan minyak yang cukup. Kalau tidak, aku tidak bisa membuatnya! Lagipula, ini cara bagiku untuk bertahan hidup di sini. Kalau makan terus bubur hambar, takutnya tulang Bintang Galaksiku ini juga akan sedih dan tidak mau menyerap energi lagi!"
Ucapannya membuat semua orang tertawa lepas.
Dan sejak hari itu, kehidupan di Sekte Angin Hijau menjadi sedikit lebih berwarna. Setiap kali aroma harum mulai tercium dari arah dapur, semua orang tahu — Mu Chen sedang membuat kreasi makanan barunya lagi, dan siapapun yang datang terlambat pasti akan kehabisan bagiannya!