NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - Dialog Dua Kutub dan Kegelapan Bawah Tanah

Urat leher Yang Luo berkedut keras. Mulut pria bongsor itu masih menganga lebar, udara berdebu bebas keluar masuk tanpa saringan.

Matanya terpaku menembus ambang batas ruangan steril. Di sana, pusaran hampa pada ujung telapak tangan Wan Chen baru saja menelan habis satu set peralatan bedah pra-kiamat senilai puluhan ribu kredit. Bersih. Tidak ada suara denting logam yang tersisa sedikit pun.

"Kau..." Suara Yang Luo serak, seolah pita suaranya ikut hangus oleh tembakan plasma tadi. "Kau bawa brankas dimensional tingkat tinggi?"

Wan Chen mengibaskan tangan kanannya pelan. Menutup akses ruang hampa itu. Ia sama sekali tidak menoleh untuk memvalidasi keterkejutan rekannya.

'Terlalu berisik,' rutuk Wan Chen dalam hati. Ia berjalan santai memeriksa rak kaca terakhir yang sudah kosong melompong.

Bagi seorang hunter pinggiran yang terbiasa mengais sisa logistik demi bertahan sebulan penuh, pemandangan tadi jelas merusak akal sehat. Yang Luo baru saja menyaksikan seseorang membuang amunisi seharga distrik kecil, lalu meraup harta karun setara satu rumah sakit pusat dalam hitungan detik. Kesenjangan ini terlalu absurd.

"Sepuluh menit," komando Wan Chen monoton.

Ia menyandarkan punggung pada dinding krom yang dingin. Menghela napas perlahan. Mengabaikan sisa asap tipis yang masih mengepul dari bangkai Juggernaut di luar sana.

"Kita istirahat sebelum turun lewat celah itu." Ia menunjuk pintu meleleh di ujung sudut utara dengan dagunya.

Yang Luo akhirnya melangkah masuk. Langkahnya agak berat, sisa dari benturan hidrolik yang memar parah tadi perlahan pulih oleh anomali sel penyembuhannya. Pria itu menjatuhkan diri ke lantai epoksi. Bersila tanpa aba-aba.

Hening merayap menguasai ruangan. Hanya dengung pelan lampu antiseptik yang bertahan menjaga jarak di antara mereka berdua.

"Kau aneh," celetuk Yang Luo tiba-tiba. Suaranya sudah tidak bergetar.

Wan Chen melirik dari sudut mata. Menunggu kelanjutan kalimat itu tanpa repot-repot membalas.

"Maksudku..." Yang Luo menggaruk kepalanya yang berdebu kasar. "Kau punya daya hancur sekelas militer elit. Kekayaanmu jelas tidak masuk akal. Ruang penyimpananmu bisa memuat suplai logistik untuk satu koloni pengungsian penuh."

Tangan pria besar itu menunjuk menembus ambang pintu. Lurus ke luar.

"Kenapa kau tidak memakai semua itu untuk menyapu bersih zona bahaya? Menyelamatkan sisa manusia. Kau bisa jadi pahlawan perintis. Dengan aset gila ini, kau bisa menghentikan ekspansi monster di atas sana secara mandiri."

Pertanyaan klasik dari orang bodoh yang terlalu banyak terpapar propaganda faksi keadilan. Begitulah penilaian instan dari otak kalkulatif Wan Chen.

Tangannya menyentuh kerah mantel taktis. Merapikan sedikit lipatan yang terkena abu debu ruangan.

"Pahlawan biasanya mati muda, Yang Luo," balas Wan Chen sangat lambat. Nadanya kelewat kering. "Atau lebih buruk. Mati miskin dan dilupakan."

Yang Luo mengerutkan dahi kebingungan.

"Aku tidak peduli dengan umat manusia," sambung Wan Chen. "Menyelamatkan dunia itu pekerjaan para pemimpi berumur pendek. Tujuanku masuk ke lubang tikus ini cuma satu. Aku mau hidup nyaman tanpa kurang suatu apa pun."

Pandangannya menabrak langsung ke arah kornea Yang Luo. Tidak ada setitik pun keraguan di sana.

"Aku menimbun agar bajingan dari faksi mana pun tidak bisa menginjak kepalaku seenaknya. Sesederhana itu. Kau keberatan dengan metode kerjaku?"

Jawaban itu mentah dan teramat tidak bermoral. Sesuatu yang lazimnya akan memicu perkelahian berdarah di kalangan hunter idealis penjaga gerbang.

Alih-alih marah beringas, dada bidang Yang Luo justru bergetar hebat. Udara berembus paksa dari hidungnya. Tawa serak memecah keheningan ruang steril itu seketika. Tawanya bergulir makin keras, memantul di dinding krom hingga membuat telinga berdenging.

"Sialan," rutuk Yang Luo di sela tawanya, menepuk pahanya sendiri cukup keras. "Kau benar-benar realistis sejati. Tidak ada omong kosong tentang keadilan palsu. Aku sangat suka kejujuranmu."

Wan Chen mendengus pendek. Menutup kelopak matanya sesaat.

'Idiot ini ternyata otaknya cukup fleksibel,' pikirnya malas. Perbincangan tanpa basa-basi barusan justru menghancurkan sekat kecanggungan mereka berdua. Pertemanan yang amat aneh. Tapi ini jauh lebih efisien daripada memelihara pengkhianat berwajah suci.

Sepuluh menit menguap terlalu cepat. Alarm internal di kepala Wan Chen berdetak konstan pada waktunya.

"Waktu habis," putus Wan Chen tanpa intonasi. Ia berdiri tegak tanpa suara sisa gesekan. "Formasi awal."

Yang Luo langsung melompat bangun lincah. Sisa memar ungu di lehernya sudah raib total tanpa jejak. Ia menepuk-nepuk dada telanjangnya yang kembali padat laksana lempeng baja tebal.

"Sesuai kesepakatan. Perisaimu siap menyerap hantaman di depan," sahut Yang Luo antusias. Energi bebalnya kembali meronta penuh.

Lin Yu Yan, yang sejak tadi sekadar mematung di ambang pintu menjaga jarak pasif, akhirnya melangkah masuk menyusul. Wajah gadis itu pucat parah, namun matanya menajam. Ia menggenggam erat gagang tas logistiknya.

"Yu Yan. Lacak jalur intinya," perintah Wan Chen.

Gadis itu mengangguk cepat. Kelopak matanya terpejam. Gift sensorik miliknya memancar seketika, mencari rambatan tak kasat mata melalui udara beku fasilitas tersebut.

Tiga detik berlalu lamban. Keringat dingin mulai merembes dari pelipisnya.

"Di bawah sana," bisiknya tegang sembari membuka mata lebar. Jari telunjuknya mengarah lurus menembus celah pintu krom yang meleleh di sudut tembok. "Jalur utama elevator di baliknya hancur. Kita harus merangkak turun lewat lorong ventilasi udara raksasa. Sinyal medis dari bawah sana... kelewat pekat."

Wan Chen sekadar menjentikkan jarinya memberi isyarat maju.

Lorong ventilasi itu menjulang curam ke bawah. Dinding logam di kiri kanannya berkarat parah termakan iklim isolasi. Kegelapan di dasar lorong seolah memiliki tekstur solid yang menelan pendar senter taktis mereka utuh-utuh.

Yang Luo memimpin turun duluan. Tangannya mencengkeram anak tangga besi berkarat dengan cengkeraman mantap. Suara derit ngilu terus menemani ritme pijakan turun mereka perlahan. Lin Yu Yan mengikuti rapat di tengah, napasnya memburu kacau. Wan Chen turun paling belakang menjaga batas mundur secara sepi tanpa jejak suara.

Semakin terjerumus ke dasar instalasi, anomali suhu menampar ekstrem.

Udara dari mulut Wan Chen mulai memproduksi uap putih tipis setiap kali bernapas. Dinding logam di sekeliling mereka tidak lagi sekadar menahan karat. Permukaannya kini dibekap oleh lapisan embun es tebal. Hawa dingin anomali ini menyayat tajam ke jaringan saraf kulit.

Dua puluh meter terlewati tanpa insiden.

Sol sepatu Yang Luo akhirnya membentur permukaan lantai ubin datar.

"Ujung jalur," lapor pria perisai itu berbisik.

Wan Chen melompat turun ringan menyusul, mendarat lurus menyerap gaya kejut tubuhnya. Matanya lekas memindai tata ruang asing di depannya.

Lantai paling dasar ini merentang luar biasa luas. Volume ruangannya mungkin memakan ruang seukuran separuh landasan pacu. Bayangan hitam mendominasi mutlak, sekadar diganggu oleh sisa kedipan merah darurat yang nyaris mati di ujung-ujung pilar beton penopang.

Tepat di episentrum ruangan, deretan tabung kaca silinder menjulang tinggi mencapai langit-langit.

Tabung subjek eksperimen murni. Kaca tebal dari sebagian besar tabung itu telah retak menjalar dan hancur berantakan. Cairan amniotik hijau kental menggenang tumpah menutupi corak lantai ubin, memuarkan bau asam kimiawi yang langsung meremas usus secara paksa.

Bahu Lin Yu Yan mendadak menegang keras. Perangkat pelacak di sabuknya dibiarkan jatuh berderak lantaran tangannya bergetar tanpa kendali.

"Jangan maju," desis Lin Yu Yan. Suaranya tercekat parah. "Insting merah. Ada sesuatu yang sangat salah mengawasi kita. Sinyalnya bukan barang medis lagi... makhluk itu bernapas."

Wan Chen menyipitkan mata sedikit. Tatapannya sama sekali tidak mengacuhkan lautan cairan hijau atau kepanikan rekannya di belakang. Ia melihat lurus mengincar barisan paling ujung ruangan pekat ini.

Tepat di sana. Sebuah lemari brankas penyimpanan berbalut baja tungsten berdiri mandiri, masih menyala menyebarkan suhu stabil yang menggiurkan. Tabung Serum Peningkatan Sel terpendam utuh di sana. Target absolut eksploitasinya berjarak kurang dari tiga puluh meter halang rintang.

Detik itu juga, suhu membekukan ruangan terasa anjlok lagi secara paksa. Menjadi kelewat beku.

Dari balik bayangan pekat pilar beton di titik buta kiri, sebuah siluet menyibak maju. Akselerasi gerakannya mematahkan standar kecepatan motorik manusia. Cukup wujud kilatan blur abu-abu yang merobek udara. Tanpa suara derap kaki kasar. Sekadar gesekan gesit mengalahkan napas tertiup.

Bukan palang pintu sejenis mutan siput berlapis baja berat. Sasaran ini adalah pemangsa organik.

'Halangan lagi muncul,' kalkulasi Wan Chen bergerak dingin dalam kepalanya.

Lengan ganda Wan Chen merespons otomatis, menyilang kilat menutupi rusuknya. Partikel neon biru terang berkumpul memadat mengusir udara tipis dari kedua kepalan tangannya. Struktur bilah terbentuk tanpa jeda mekanik.

Pisau Taktis Karbon ganda sudah bermanifestasi utuh di telapaknya. Hitam, ringan, dan merindukan tebasan.

Sesuatu di sudut tumpukan tabung pecah sana mendesis pelan. Bergetar di ambang batas eksekusi.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!