NovelToon NovelToon
KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."

Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Interogasi di Atas Meja Kerja

BAB 11: Interogasi di Atas Meja Kerja

​Tepat pada menit kedua lewat lima puluh detik, Kiara mendorong pintu ruang kerja Adrian dengan napas yang memburu. Begitu tubuh mungilnya melangkah masuk, sebuah tangan kekar langsung menyambar pergelangan tangannya, menariknya masuk, dan sedetik kemudian suara kunci pintu yang diputar terdengar begitu nyaring di telinganya.

​Klik.

​Pintu terkunci rapat. Tirai jendela besar yang mengarah ke koridor kampus sudah ditutup penuh, menyisakan pencahayaan temaram dari lampu meja kerja.

​"P-Pak Adrian... lepaskan," cicit Kiara mendongak, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Adrian.

​Namun, Adrian tidak memberikan celah sedikit pun. Wajah tampan profesor muda itu tampak begitu menggelap oleh kabut cemburu. Tanpa sepatah kata pun, tangan kiri Adrian bergerak cepat merogoh saku rok span hitam Kiara, mengambil paksa ponsel pintar milik gadis itu.

​"Adrian! Apa-apaan sih?! Kembalikan ponselku!" protes Kiara beralih merebut ponselnya, namun Adrian dengan mudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memanfaatkan perbedaan tinggi badan mereka yang mencolok.

​Dengan jemari panjangnya yang lincah, Adrian membuka kunci layar ponsel Kiara—yang sandinya sudah ia ketahui sejak malam pertama—lalu membuka aplikasi WhatsApp. Mata elangnya berkilat tajam saat menemukan kontak baru bernama 'Kak Rangga BEM'. Tanpa ragu sedikit pun, ibu jari Adrian menekan tombol hapus kontak sekaligus memblokir nomor tersebut di depan mata Kiara.

​"Selesai," ucap Adrian dingin, lalu melempar ponsel Kiara ke atas sofa kulit dengan santai.

​Air mata Kiara nyaris menetes karena rasa kesal dan frustrasi yang membuncah di dadanya. "Kamu benar-benar egois, Adrian! Itu urusan beasiswa! Aku butuh uang beasiswa itu untuk biaya kuliahku sendiri. Aku tidak bisa terus-menerus mengandalkan uang kontrakmu!" teriak Kiara meluapkan emosi batinnya yang tertekan sejak tadi.

​Mendengar bentakan Kiara, rahang tegas Adrian semakin mengeras hingga garis ototnya tercetak kaku. Sifat posesif dan dominannya tersulut penuh.

​"Mengandalkanku? Kamu memang harus mengandalkanku untuk segalanya, Kiara!" bentak Adrian, suara baritonnya yang berat bergema rendah namun sarat akan intimidasi yang pekat.

​Dalam satu gerakan cepat yang tidak bisa diprediksi, Adrian mencengkeram pinggang Kiara, mengangkat tubuh mungil gadis itu dengan mudah, lalu mendudukkannya secara paksa di atas pinggiran meja kerja marmer miliknya yang besar. Beberapa tumpukan diktat kuliah sempat bergeser dan jatuh ke lantai, namun Adrian sama sekali tidak peduli.

​"Ah! Adrian!" Kiara terpekik kaget, kedua tangannya secara refleks bertumpu pada kedua bahu tegap Adrian untuk menjaga keseimbangannya agar tidak terjengkang ke belakang.

​Posisi mereka kini begitu intim dan berbahaya. Kiara yang duduk di pinggir meja membuat tinggi wajah mereka menjadi sejajar. Adrian melangkah maju, merapatkan tubuh tegapnya di antara kedua paha Kiara yang terbalut rok span ketat, mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya. Aroma parfum sandalwood yang panas dan maskulin dari tubuh Adrian langsung mengunci indra penciuman Kiara.

​"Lepaskan aku, Adrian... ini di kampus..." lirih Kiara, suaranya mendadak melemah seiring dengan kedekatan fisik mereka yang membakar gairah.

​"Aku sudah membuat aturan baru semalam, Kiara. Dan kamu berani melanggarnya di hari pertama," bisik Adrian dengan nada tengil namun sangat berbahaya. Matanya menatap lekat-lekat bibir ranum Kiara yang sedikit terbuka karena napas yang memburu.

​"Aku tidak suka barang milikku disentuh oleh pria lain. Dan aku jauh lebih tidak suka melihatmu memberikan senyuman manis itu pada bajingan BEM itu," lanjut Adrian, suaranya mendadak berubah menjadi serak dan sensual.

​Sebelum Kiara sempat membalas, Adrian menundukkan kepalanya dan langsung membungkam bibir Kiara dengan sebuah ciuman yang sangat kasar, menuntut, dan penuh rasa cemburu yang membakar.

​"Mphhh..." Kiara melenguh tertahan, mencoba memalingkan wajahnya untuk menghindar. Namun, tangan besar Adrian dengan cepat menangkup rahangnya, mengunci posisinya agar tidak bisa bergerak sedikit pun, sementara tangan Adrian yang lain merayap naik ke paha Kiara, meremasnya dengan penuh penekanan di balik rok kampusnya.

​Ciuman Adrian begitu dalam dan intens, melumat bibir Kiara seolah ingin menghapus jejak senyuman yang gadis itu berikan pada Rangga tadi pagi. Lidah Adrian menyusup masuk, menjajah rongga mulut Kiara dengan dominasi mutlak, mengirimkan gelombang sengatan listrik panas yang langsung meruntuhkan seluruh pertahanan batin Kiara.

​Rasa kesal dan takut yang Kiara rasakan perlahan meleleh, digantikan oleh gairah liar yang tersulut hebat akibat sentuhan posesif sang profesor. Kedua tangan Kiara yang awalnya mendorong bahu Adrian, kini perlahan merayap naik, melingkar di leher tegap pria itu, sementara jemarinya menyusup di antara rambut rapi Adrian, meremasnya perlahan seiring dengan desahan yang mulai lolos dari sela-sela ciuman mereka.

​"Ahhh... Adrian..." lenguh Kiara begitu Adrian memindahkan cumbuan panasnya ke arah leher jenjang Kiara, memberikan gigitan-gigitan kecil yang sensual tepat di atas tanda merah yang ia buat semalam.

​Tubuh Kiara bergetar hebat di atas meja kerja, seluruh kekuatannya seolah habis tersedot oleh dominasi mutlak suaminya.

​Adrian menjauhkan wajahnya sedikit, menatap wajah Kiara yang kini sudah sayu dengan pipi merona merah merona akibat gairah yang memuncak. Adrian tersenyum tengil, kepuasan batin terpancar jelas dari matanya melihat bagaimana ia bisa menjinakkan mahasiswanya yang pembangkang ini dalam sekejap.

​"Ciuman ini baru peringatan awal, Sayang," bisik Adrian tepat di depan bibir Kiara yang sudah basah dan sedikit membengkak. Pria itu merapikan kembali letak rok Kiara yang sempat tersingkap, lalu menggendong Kiara turun dari meja. "Kemasi tas dan buku-bukumu sekarang. Kita pulang ke apartemen siang ini juga. Aku akan menagih hak kontrakku yang sesungguhnya di atas ranjang karena kamu sudah berani bermain api di belakangku."

1
cynth
KIND OF NOVEL I'VE BEEN LOOKING FOR (ToT)! Ini jatuhnya kayak dark romance kah, Thor? Gragas banget si Adrian 😭
Yolan Manik: yasudah, semangat ya thor💪
total 4 replies
cynth
Serem 😭
gendiz: ayo kita ngumpet kak 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!