NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Hari telah berganti, namun kedamaian fana di dalam kamar hotel yang hangat itu tidak bertahan lama. Ketika matahari London kembali terbit di balik kabut tebal yang menyelimuti kota, Tim Aether harus langsung berhadapan dengan kenyataan bahwa panggung semifinal sudah menanti di depan mata. Tekanan kompetisi tidak berkurang sedikit pun, justru intensitasnya melonjak berkali-kali lipat hingga membuat atmosfer di dalam tim terasa seperti benang layangan yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja. Seiring dengan meningkatnya tekanan turnamen, perhatian Axel terhadap Jasmine pun berubah menjadi sesuatu yang terasa kian menyesakkan. Pengakuan tidak langsung yang diucapkannya di balik panggung kemarin tampaknya telah meruntuhkan sisa-sisa batasan profesional yang selama ini Axel pertahankan. Kini, Axel tidak lagi sekadar bertindak sebagai seorang kapten tim esports yang tegas, melainkan sebagai seorang pria yang didorong oleh rasa takut luar biasa akan kehilangan kendali atas gadis yang selalu dianggapnya sebagai takdirnya. Setiap menit dalam jadwal hidup Jasmine di London diatur dengan akurasi militer oleh Axel. Jam bangun pagi, suplemen vitamin yang harus ditelan, porsi protein dalam makanan, hingga rute berjalan dari kamar hotel menuju bus tim, semuanya harus berada di bawah pengawasan langsung kedua matanya. Axel seolah-olah sengaja memasang barikade tak kasatmata di sekeliling Jasmine, memastikan tidak ada satu pun celah kecil yang bisa ditembus oleh pengaruh dari luar. Terutama pengaruh yang datang dari seberang samudra, dari sebuah kafe kaca di tepi danau yang damai.

Sore itu, di lounge khusus pemain yang terletak di lantai atas hotel, Tim Aether sedang menikmati jeda istirahat satu jam setelah menyelesaikan sesi latihan taktis yang melelahkan fisik. Ruangan itu sepi, hanya menyisakan gemercik air mancur buatan di sudut ruangan dan aroma kopi hitam pekat yang dipesan oleh Ilias. Jasmine duduk di salah satu sofa beludru panjang, menatap kosong ke arah meja kaca di hadapannya. Di atas meja tersebut, sebuah mangkuk porselen berisi sup ayam ginseng hangat yang dipesan khusus oleh Axel masih mengepulkan uap tipis. Namun, Jasmine sama sekali tidak menyentuh sendoknya. Rasa lelah yang teramat sangat, bercampur dengan stres emosional karena terus-menerus diawasi, membuat nafsu makannya hilang seutuhnya.

"Jasmine, kenapa supnya enggak dimakan?"

Suara berat dan dingin Axel memecah keheningan lounge. Ia berjalan mendekat dari arah meja resepsionis, lalu mengambil posisi duduk tepat di sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Jasmine. Matanya yang tajam, yang dipenuhi oleh gurat-gurat kemerahan karena kurang tidur, menatap mangkuk sup yang masih utuh, lalu beralih mengunci pandangan Jasmine dengan intensitas yang menuntut.

"Aku lagi gak nafsu makan, Kak. Perut aku agak mual," jawab Jasmine lirih, mencoba menjaga nada suaranya agar tetap datar dan sopan. Ia menarik napas pendek, merapatkan mantel rajutnya demi menghalau rasa dingin yang mendadak terasa menusuk kulitnya.

"Mual atau enggak nafsu makan itu hanya sugesti dari pikiran kamu yang enggak fokus, Jasmine," sahut Axel, nadanya meninggi satu oktav, memancarkan rasa frustrasi yang selama ini ia pendam di balik dadanya. Ia condong ke depan, meletakkan kedua siku di atas lututnya, membuat jarak di antara mereka terasa semakin intim sekaligus mengintimidasi. "Kita akan bertanding di babak semifinal besok siang. Fisik kamu butuh nutrisi ini. Kenapa belakangan ini kamu selalu membantah instruksi kakak? Apa pikiran kamu udah gak lagi ada di panggung London ini? Apa kamu masih terus mikirin pria barista asing itu?!"

Pertanyaan kasar yang terlontar dari bibir Axel bagaikan sebuah hantaman telak yang merobek kesabaran Jasmine yang sudah tipis. Untuk pertama kalinya selama lima tahun ini, Jasmine menolak untuk menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia menegakkan punggungnya, memberanikan diri menatap lurus ke dalam sepasang mata elang milik kaptennya dengan binar mata yang dipenuhi kekecewaan yang teramat mendalam.

"Aku gak lagi mikirin siapa pun, Kak Axel!" jawab Jasmine, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang mendadak membuncah di dalam dadanya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pemandangannya sedikit kabur. "Aku hanya lelah! Aku manusia, Kak, bukan karakter game yang bisa Kakak atur pergerakannya lewat tombol kontrol selama dua puluh empat jam! Perhatian Kakak belakangan ini... semua aturan kaku ini... benar-benar buat aku sesak dan gak bisa bernapas!"

Axel tertegun seketika. Rahangnya mengetat sempurna hingga urat-urat di sekitar lehernya menegang. Kata-kata Jasmine terasa seperti sebuah tamparan keras yang langsung menghantam ego terdalamnya sebagai seorang pria yang selalu merasa telah memberikan segalanya untuk melindungi gadis di depannya. Rasa perih yang luar biasa menjalar di dalam dadanya, berpadu dengan amarah yang kian menyala-nyala karena menyadari bahwa dinding protektif yang ia bangun dengan susah payah ternyata justru dianggap sebagai penjara oleh Jasmine.

"Aku melakukan semua ini karena aku peduli sama kamu, Jasmine!" ucap Axel dengan volume suara yang tertahan namun dipenuhi oleh penekanan emosional yang sangat tajam. Kepalan tangannya di atas lutut tampak bergetar hebat. "Aku gak mau melihat fokus kamu yang berharga hancur berantakan cuma karena gangguan-gangguan gak penting dari luar! Aku yang membimbing kamu sejak kamu berusia delapan belas tahun, aku yang memastikan kamu memiliki masa depan di dunia ini! Kenapa sekarang kamu seolah-olah menganggap semua kebaikan aku sebagai beban?!"

" Kak Axel! Cukup!"

Sebuah suara teguran yang sangat keras dan penuh wibawa tiba-tiba menggelegar dari arah pintu masuk lounge. Ilias melangkah besar mendekati meja mereka, diikuti oleh Kenzie yang menatap situasi tersebut dengan wajah yang sangat serius. Wajah sabar Ilias kini telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh kemarahan yang tidak bisa lagi mentoleransi tindakan melampaui batas dari sang kapten.

"Kembali ke kamar lo sekarang juga, Kak!" perintah Ilias dengan nada suara yang sangat dingin dan tidak menerima bantahan apa pun. Ia berdiri tegak di antara Axel dan Jasmine, memposisikan tubuhnya sebagai pembatas fisik untuk melindungi adik bungsunya yang kini sudah mulai terisak pelan di balik kedua telapak tangannya.

"Ilias, ini urusan taktis tim. Gue lagi memastikan kesiapan mental Jasmine untuk besok!" bantah Axel, mencoba mempertahankan argumennya meskipun matanya memancarkan kerapuhan yang nyata.

"Ini bukan lagi soal taktis tim, Kak! Ini soal ego lo yang udah mengontrol hidup orang lain secara gak sehat!" timpal Kenzie dengan suara yang tenang namun terasa setajam pisau, langsung menusuk tepat ke pusat pertahanan Axel. Kenzie menatap kaptennya itu dengan pandangan menegur yang sangat dalam. "Jasmine melakukan kesalahan atau merasa lelah karena dia adalah seorang manusia biasa yang punya batas kelelahan, bukan karena pikirannya terganggu oleh orang lain. Elo yang buat atmosfer Tim Aether di London ini jadi beracun karena rasa cemburu lo yang gak masuk akal. Sadar, Kak Axel."

Axel membisu di tempatnya. Kalimat demi kalimat dari kedua sahabat lamanya itu terasa seperti runtuhnya seluruh fondasi kebenaran yang selama ini ia pegang teguh. Ia menatap Jasmine yang masih menangis pelan di belakang punggung Ilias, lalu menatap telapak tangannya sendiri yang bergetar. Dengan dengusan kasar yang menyembunyikan rasa perih luar biasa di dalam dadanya, Axel membalikkan tubuhnya dengan cepat dan berjalan pergi meninggalkan lounge dengan langkah kaki yang terburu-buru, menyisakan kesunyian yang mencekam di ruangan tersebut. Setelah punggung Axel benar-benar menghilang di balik lift hotel, Ilias berbalik perlahan, lalu berlutut di depan Jasmine dengan tatapan mata yang sangat hangat dan menenangkan. Ia mengulurkan tangannya, menepuk pelan pundak Jasmine yang masih berguncang karena sisa tangisnya.

"Udah, jangan nangis lagi, Dek. Kak Ilias di sini," ucap Ilias dengan nada suara yang sangat lembut, persis seperti seorang kakak kandung yang sedang menenangkan adiknya. "Malam ini, kamu gak perlu ikut sesi peninjauan taktis dengan Axel. Kakak yang akan mengambil alih tugas itu dan memastikan kamu bisa beristirahat total di kamar tanpa ada gangguan dari siapa pun."

Jasmine perlahan menurunkan kedua tangannya, menatap wajah bijaksana Ilias dengan mata yang sembap dan merah. "Maaf ya kak... aku gak bermaksud merusak kekompakan tim di saat-saat penting kayak gini," bisik Jasmine dengan nada suara yang dipenuhi rasa bersalah yang amat sangat.

"Kamu gak salah apa-apa, Jasmine," potong Kenzie yang kini ikut duduk di sampingnya, menyerahkan selembar tisu bersih dengan gerakan yang sangat sopan. "London ini memang panggung pembuktian terbesar untuk karir kita sebagai atlet esports. Tapi, setelah semua lampu panggung ini padam dan turnamen ini selesai, kamu harus ingat satu hal, kamu punya hak penuh dan mutlak atas hidup kamu sendiri. Kamu berhak menentukan ke mana hati kamu akan berlabuh, tanpa harus terus-menerus dikunci oleh rasa hutang budi atau ketakutan akan mengecewakan orang lain. Jangan biarkan rantai masa lalu mengunci pilihan masa depan kamu Jasmine."

Mendengar rangkaian kalimat penuh kebijaksanaan dari Kenzie dan Ilias, Jasmine merasakan sebuah kehangatan yang luar biasa perlahan-lahan mengalir masuk ke dalam hatinya yang sempat membeku. Ia mengusap sisa air mata di pipinya dengan tisu, lalu mengangguk pelan. Di dalam benaknya, retakan tak kasatmata yang memisahkan dirinya dari dunia luar kini telah terbuka semakin lebar, membiarkan seberkas cahaya kebebasan mulai menyelinap masuk, menuntun langkahnya menuju sebuah keputusan besar yang harus ia ambil setelah badai di London ini mereda sepenuhnya.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!