NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Meja Perjamuan

Dentang sendok dan garpu perak yang beradu dengan piring porselen mahal menjadi satu-satunya suara yang mendominasi ruang makan kediaman utama Kusuma pagi itu. Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca besar, menyinari meja makan panjang dari kayu jati yang dipenuhi hidangan kelas atas. Namun, kemewahan itu sama sekali tidak membawa kehangatan. Atmosfer di ruangan itu terasa begitu kaku, steril, dan mencekam—persis seperti gambaran keluarga Kusuma di mata publik: tampak sangat sempurna tanpa cela, namun di dalamnya sedingin es.

Papa Kinan duduk di ujung meja dengan koran bisnis di tangannya, sementara Mama Kinan duduk di sisi lain dengan keanggunan tirani yang mutlak. Di sebelah mereka, Kinan duduk dengan setelan jas kerjanya yang rapi, menatap piringnya dengan pandangan kosong. Sisa keletihan mental dan badai gairah dari malam sebelumnya masih membekas di rahangnya yang mengeras.

Sherly duduk di samping Kinan, berpura-pura menikmati sarapannya sembari menahan rasa sesak di dadanya. Di meja ini, tidak ada obrolan hangat layaknya keluarga normal. Yang ada hanyalah interogasi terselubung dan tuntutan bisnis.

"Kinan, Papa dengar proyek re-desain dengan perusahaan cabang Aris sudah selesai," suara Papa Kinan memecah keheningan, terdengar berat dan sarat akan otoritas. "Pastikan tidak ada celah kecil pun yang bisa merugikan kusuma Corp. Papa tidak mau mendengar ada masalah sekecil apa pun dari kantor cabang itu."

"Semua sudah diatur sesuai rencana, Pa," jawab Kinan pendek, suaranya datar tanpa riak emosi.

Mama Kinan meletakkan cangkir teh porselennya dengan ketukan pelan namun tegas, lalu mengalihkan pandangan matanya yang tajam langsung ke arah Sherly. Senyum elegan terukir di bibirnya, sebuah senyuman formalitas yang biasa ia pamerkan di depan kamera media, namun menyimpan tuntutan yang kejam di baliknya.

"Sherly, bagaimana dengan suplemen kesuburan yang Mama kirimkan kemarin? Sudah kamu minum?" tanya Mama Kinan dengan nada suara yang halus namun mengintimidasi. "Keluarga Mahendra tentu tidak ingin mendengar bahwa putri mereka menunda-nunda untuk memberikan penerus bagi Wijaya Corp, bukan? Kesempurnaan keluarga ini harus tetap terjaga, dan itu dimulai dari rahimmu."

Pertanyaan blak-blakan yang dilontarkan di depan meja makan itu membuat jemari Sherly yang memegang garpu seketika gemetar. Ia melirik Kinan, berharap suaminya akan membelanya atau setidaknya memberikan sedikit pembelaan. Namun, Kinan hanya diam, terus memotong daging di piringnya seolah-olah ia tidak mendengar kalimat ibunya sendiri. Sikap acuh tak acuh Kinan dan tuntutan tanpa empati dari mertuanya membuat Sherly menyadari satu hal: di rumah ini, dirinya tak lebih dari sekadar alat pelengkap status "sempurna" mereka.

"Sudah saya minum, Ma," jawab Sherly dengan suara yang dipaksakan tetap tenang, meski hatinya terasa seperti diiris pisau.

Tepat setelah Sherly menyelesaikan kalimatnya, ponsel milik Kinan yang diletakkan di samping piring suaminya mendadak bergetar sekejap. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan balasan masuk.

Detik itu juga, Sherly menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat jantungnya mencelos. Kinan, pria yang sejak tadi pagi berwajah datar, sedingin es, dan mengabaikan seluruh obrolan di meja makan, tiba-tiba menghentikan gerakan makannya. Pria itu meraih ponselnya, membaca pesan yang tertera di layar, dan perlahan... sebuah senyuman tipis namun sangat tulus terukir di sudut bibirnya.

Itu bukan senyuman bisnis. Itu adalah senyuman penuh kelegaan dan kerinduan yang teramat dalam—sebuah ekspresi yang belum pernah sekalipun Kinan tunjukkan pada Sherly, bahkan di saat-saat paling intim mereka di atas ranjang.

Sherly menahan napasnya, matanya bergerak cepat melirik layar ponsel Kinan yang sedikit miring ke arahnya. Karena jarak mereka yang dekat, Sherly berhasil menangkap rentetan kalimat balasan yang baru saja dikirimkan oleh Kinan di kolom obrolan atas, membalas sebuah email laporan kreatif yang ternyata sempat tertunda lama:

“Maaf baru membalas pesanmu sekarang. Sistem email kantor sempat rusak dan error sejak kemarin siang, sehingga laporannya baru masuk ke gawaiku pagi ini. Saya terima laporannya, Asisten Kreatif Neya. Sampai bertemu di lokasi proyek besok siang.”

Membaca nama Neya yang diketik langsung oleh jemari suaminya dengan penuh perhatian, dada Sherly seketika bergemuruh hebat. Rasa penasaran dan intuisi wanitanya yang sudah terusik sejak semalam kini meledak menjadi kecurigaan yang membakar akal sehatnya. Senyuman tulus Kinan untuk wanita bernama Neya itu adalah bukti nyata bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan di balik dinding kokoh keluarga Kusuma.

Begitu sarapan selesai dan Kinan telah berangkat ke kantor pusat di bawah pengawalan ketat keluarga Kusuma, Sherly memutuskan untuk bergerak. Ia tidak bisa meminta bantuan orang-orang di kediaman ini karena mereka semua adalah mata-mata mertuanya.

Menggunakan koneksi rahasia dari lingkaran eksekutif keluarga Mahendra, Sherly berhasil melacak lokasi persis kantor cabang tempat proyek re-desain yang dipimpin oleh Neya tersebut dilakukan. Rasa cemburu dan sakit hati yang terpendam membuatnya nekat menyetir mobilnya sendiri membelah jalanan kota siang itu.

Pukul satu siang, mobil sedan mewah milik Sherly perlahan melambat dan berhenti tepat di seberang lobi utama gedung kantor cabang milik perusahaan Aris. Dari balik kaca mobilnya yang gelap, ia menatap ke arah pintu kaca lobi gedung dengan jantung yang berdegup kencang.

Tepat saat ia sedang bertarung dengan keraguan di dalam hatinya, pintu kaca lobi gedung itu berdenting terbuka.

Sesosok wanita muda melangkah keluar dengan anggun. Wanita itu mengenakan kemeja kerja putih yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan rok span hitam yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai lembut, membingkai wajah cantiknya yang tampak begitu polos, namun memiliki sorot mata bulat yang teramat jernih dan dingin.

Di seberang jalan, napas Sherly seketika tertahan di tenggorokan. Sepasang matanya melebar sempurna, menatap lurus ke arah wanita muda tersebut.

Sherly mencengkeram dadanya yang mendadak terasa sangat sesak. Wajah itu... wajah wanita yang sedang berjalan di trotoar sana adalah wajah yang sangat ia kenali. Ingatannya langsung melesat mundur ke beberapa bulan lalu, saat ia tidak sengaja menemukan selembar foto lama yang tersembunyi di dalam laci ruang kerja pribadi Kinan—sebuah foto yang memperlihatkan Kinan sedang tertawa lepas sembari memeluk erat seorang gadis dengan sangat tulus. Dan gadis di dalam foto itu... memiliki wajah yang persis sama dengan wanita di seberang jalan sana.

Dia... dia wanita di foto itu," bisik Sherly dengan suara yang bergetar hebat, air matanya mendadak merebak akibat rasa syok yang luar biasa.

Wanita masa lalu Kinan yang selama ini membuat suaminya bertingkah seperti robot tanpa jiwa di atas ranjang, ternyata masih hidup, berada sangat dekat, dan baru saja membuat suaminya tersenyum bahagia di meja makan tadi pagi.

Di seberang jalan, Neya menghentikan langkahnya sejenak di tepi trotoar, seolah menyadari ada pandangan intens yang sedang mengarah padanya. Neya menolehkan kepalanya perlahan, menatap lurus ke arah mobil sedan mewah berkaca gelap tempat Sherly berada dengan sepasang mata bulatnya yang dingin dan tajam, menciptakan sebuah keheningan yang mencekam di antara kedua wanita yang kini takdirnya saling terikat oleh satu nama pria yang sama: Kinan Kusuma.

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!