Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Hari Senin tiba dengan begitu cepat. Aku melangkah memasuki gedung kantor dengan perasaan campur aduk. Aku tidak punya alasan lagi untuk menghindar. Apalagi, sebagai staf administrasi, aku punya tugas mingguan yang tidak bisa ditunda, meminta persetujuan dokumen operasional langsung dari CEO.
Aku berdiri di dalam lift menuju lantai teratas, menatap bayangan diriku di dinding kaca. Tanganku memeluk map dokumen penting di dada kanan, sementara tangan kiriku menjinjing sebuah kantong plastik merah berukuran besar.
Iya, kantong plastik. Kantong kresek belanjaan yang biasa kudapat dari warung depan rumah.
Aku didera rasa malu yang luar biasa. Karena ukuran jas Pak Adrian yang sangat besar dan tebal, tote bag kain milikku sama sekali tidak ada yang muat. Karena di rumah tidak punya tas pelindung jas yang mewah, terpaksa setelah kupastikan kering dan wangi, aku melipatnya dengan sangat hati-hati lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik merah ini.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai utama. Aku menarik napas dalam-dalam, menguatkan mental sebelum melangkah keluar menuju meja sekretaris.
Di sana, Ariana sudah duduk rapi dengan riasan wajahnya yang tebal. Begitu melihatku berjalan mendekat, matanya langsung melirik sinis ke arah kantong plastik merah yang kubawa, lalu beralih ke wajahku dengan tatapan merendahkan.
"Ngapain lo ke sini, Aruna? kurang kerjaan ya?" tanya Ariana dengan nada ketus dan melipat tangan di dada.
"Saya mau meminta tanda tangan persetujuan untuk dokumen ini, Mbak," jawabku seprofesional mungkin, mengabaikan tatapan matanya.
Ariana mendengus, bersiap melontarkan kalimat untuk mengusirku. Namun, sebelum mulutnya terbuka, dia tampak teringat sesuatu. Wajah ketusnya mendadak berubah agak takut, seolah teringat ancaman atau perintah mutlak dari bosnya.
Dengan gerakan yang terpaksa, Ariana menekan tombol interkom. "Pak Adrian, ini ada staf administrasi, Aruna, mau meminta tanda tangan."
"Suruh masuk sekarang."
Suara bariton yang terdengar dingin dan tegas dari seberang interkom langsung membuat bulu kudukku berdiri.
"Masuk sana," usir Ariana ketus tanpa mau memandangku lagi.
Aku menelan ludah, memegang erat gagang kantong plastik merah di tangan kiriku yang mendadak terasa sangat berat. Aku melangkah maju, mengetuk pintu kayu itu dua kali, lalu mendorongnya perlahan.
Begitu pintu terbuka, pandanganku langsung bertemu dengan sepasang mata tajam milik Pak Adrian yang sudah duduk tegak di balik meja kebesarannya. Pria itu meletakkan pulpennya, menyandarkan punggungnya ke kursi, dan menatapku intens dari ujung kepala hingga berhenti tepat pada kantong plastik merah mencolok yang sedang kujinjing erat.
Suasana ruangan mendadak terasa sangat sunyi dan mencekam. Pertemuan perdana kami setelah insiden pelukan malam itu akhirnya dimulai juga.
"M-malam... eh, siang, Pak Adrian," sapaku terbata-bata, merutuki mulutku yang mendadak bebal. "Saya mau meminta tanda tangan untuk dokumen klaim nota penggantian uang operasional. Dan... ini..."
Aku melangkah mendekat ke mejanya dengan langkah kaku. Pertama, aku meletakkan map dokumen itu di hadapannya. Setelah itu, dengan gerakan super canggung, aku mengangkat tangan kiriku dan meletakkan kantong plastik merah kresek itu di atas mejanya yang berkilau.
"Ini jas Bapak yang semalam... eh, yang kemarin lusa. Sudah saya cuci bersih dan sudah kering, Pak," cicitku pelan, menunduk dalam-dalam karena tidak sanggup menatap matanya.
Hening sejenak. Aku sudah bersiap menerima amukan atau sindiran dingin karena mengembalikan barang desainer ternama dengan wadah kresek pasar.
Namun yang terdengar justru suara hembusan napas pelan, disusul oleh suara kekehan rendah.
Aku mendongak sedikit dan tertegun. Pak Adrian sedang menatap kantong kresek merah itu, lalu beralih menatapku. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis sebuah tawa kecil yang belum pernah kulihat sebelumnya selama bekerja di sini.
"Kantong kresek, Aruna?" tanya Pak Adrian, suaranya terdengar jauh lebih santai, menghilangkan kesan bos dingin yang menakutkan. Dia menarik kantong plastik itu mendekat. "Kamu membungkus jas seharga motor matic ini pakai kantong belanjaan pasar?"
Mukaku langsung memerah padam sampai ke leher. "M-maaf, Pak! Kantong kain saya gak ada yang muat. Daripada kotor dijalan, jadi saya masukin ke situ. Tapi dalamnya bersih kok, Pak, beneran!" belaku panik sambil mengibaskan kedua tangan.
Melihat kepanikanku, tawa tipis di wajah Pak Adrian justru bertahan sedikit lebih lama, membuat debaran aneh yang semalam sempat hilang, mendadak muncul lagi di dadaku.
Pak Adrian tidak langsung memeriksa berkas di depannya. Matanya justru masih tertuju pada kantong kresek merah itu. Dengan gerakan tangan yang tenang, dia membuka ikatan plastik tersebut, lalu mengeluarkan jas hitam miliknya dari dalam sana.
Begitu jas itu terangkat, aroma harum detergen cair bercampur pewangi pakaian yang lembut langsung menguar, memenuhi ruang kerjanya yang biasanya hanya berbau parfum maskulin mahal.
Pak Adrian membawa jas itu sedikit lebih dekat ke arahnya, mengamati kainnya sekilas sebelum kembali menatapku. "Kamu mencucinya?" tanyanya, nada suaranya terdengar sedikit terkejut.
"I-iya, Pak," jawabku cepat sambil meremas jemariku sendiri di depan rok kerja. "Kemarin malam kan... jas Bapak kena air mata saya sampai basah begitu. Saya merasa tidak enak kalau meminjam barang orang, apalagi barang punya atasan, tapi dikembalikannya dalam keadaan kotor tanpa dicuci dulu."
Pak Adrian terdiam sesaat, jemarinya bergerak mengusap permukaan kain jas yang sekarang sudah bersih dan wangi. Melihat dia hanya diam, kepanikanku kembali muncul. Aku buru-buru menambahkan penjelasan sebelum dia salah paham mengira aku menggeledah barang pribadinya.
"Oh, sama satu lagi, Pak! Sebelum saya cuci kemarin, saya sudah memeriksa semua kantong jasnya. Takutnya ada barang penting milik Bapak yang tertinggal," ucapku dengan nada jujur dan polos. "Di dalam kantong bagian dalam cuma ada beberapa lembar kartu nama Bapak. Sumpah, tidak ada barang penting lain yang saya ambil atau saya sembunyikan. Dan kartu namanya sudah saya masukkan kembali ke saku semula, Pak, persis di tempatnya semula."
Mendengar penjelasanku yang menggebu-gebu karena ketakutan, Pak Adrian langsung memasukkan tangannya ke dalam kantong jas bagian dalam. Begitu jemarinya menemukan tumpukan kartu nama emas itu masih utuh di sana, dia kembali menarik tangannya keluar.
Dia bersandar ke kursi, menatapku dengan tatapan intens yang sulit kuartikan, tapi senyuman tipis yang tadi sempat muncul di sudut bibirnya masih tersisa sedikit.
"Jadi, kamu memeriksa kantong jas saya?" tanyanya menggoda, sengaja membuatku semakin salah tingkah di depan mejanya.
"M-maaf, Pak... Saya benar-benar tidak bermaksud lancang menggeledah. Saya cuma memastikan tidak ada barang yang rusak pas dicuci," cicitku sambil menunduk kaku, meraba ujung kemeja kerjaku karena gugup.
Tapi sedetik kemudian, begitu aku mendongak dan melihat binar jenaka di sepasang mata tajamnya, rasa bersalahku langsung menguap, berganti jadi rasa kesal.
Pria ini sengaja! Dia sengaja mengulur waktu dan terus-menerus membahas kantong kresek dan masalah jas ini cuma buat membuatku salah tingkah dan kesal di depan mejanya. Dia menikmati melihat wajah panikku!