Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Capter 10 - Hadiah Untuk Kesabaran
Pengakuan Ba’da
Di dalam kelas yang kosong itu, suasana terasa sunyi.
Isya duduk di kursi sambil memeluk Ba’da yang masih terisak.
Nenek duduk di kursi lain dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Hanya suara tangis kecil Ba’da yang terdengar.
Isya mengusap kepala adiknya dengan lembut.
“Sudah… tenang dulu ya, Dek…”
Namun Ba’da justru menangis semakin keras.
Tubuh kecilnya gemetar di pelukan kakaknya.
Dengan suara terputus-putus ia mulai berbicara.
“Kak… Ba’da… Ba’da nggak nakal…”
Isya langsung menatap wajahnya dengan lembut.
“Iya… kakak tahu. Ceritakan saja pelan-pelan.”
Ba’da mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Namun tangisnya masih tersisa di setiap kata.
“Di kelas… mereka… mereka suka bilang Ba’da miskin…”
Suara Ba’da kembali pecah.
“Ba’da… Ba’da sering diejek…”
Ia menunduk, seakan malu mengingatnya.
“Kadang… mereka bilang Ba’da anak orang nggak punya…”
Isya menggigit bibirnya.
Dadanya terasa sesak mendengar itu.
Namun Ba’da melanjutkan dengan suara yang semakin berat.
“Ba’da… cuma diam…”
“Ba’da nggak berani lawan…”
Air mata kembali jatuh di pipinya.
“Tapi… waktu mereka… mereka bilang kakak sama nenek jelek…”
Tangannya mengepal kecil.
Wajahnya memerah karena menahan emosi yang dulu ia rasakan.
“Ba’da nggak tahan, Kak…”
Tangisnya kembali pecah.
“Ba’da ambil sapu… terus Ba’da pukul mereka…”
Isya menutup matanya sebentar.
Hatinya terasa teriris.
Namun Ba’da belum selesai.
Dengan napas yang masih tersengal ia melanjutkan.
“Kemarin juga… ada yang dorong Ba’da…”
“Ba’da jatuh ke meja…”
Ia menelan ludah dengan susah.
“Terus… vas bunga guru… jatuh… pecah…”
Ba’da menangis lagi.
“Tapi… mereka bilang Ba’da yang pecahin…”
“Yang dorong Ba’da malah ketawa…”
Nenek yang mendengar itu tidak kuat lagi.
Air matanya mulai jatuh perlahan.
Ba’da melanjutkan dengan suara semakin
kecil.
“Guru suruh Ba’da ganti…”
“Ba’da takut bilang ke kakak sama nenek…”
Ia mengusap matanya lagi.
“Ba’da ambil uang celengan…”
“Buat bayar…”
Tangisnya semakin berat.
Isya yang mendengar itu menggigit bibirnya kuat-kuat.
Air matanya hampir jatuh.
Namun ia masih berusaha menahan.
Ba’da melanjutkan dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Buku anak itu… Ba’da coret…”
“Karena… di bukunya… dia tulis…”
Ba’da terdiam beberapa detik.
Seakan sangat berat untuk mengatakannya.
“Dia tulis… Ba’da anak yatim piatu…”
“Dia tulis… kata-kata jelek buat Ba’da…”
Isya tidak sanggup lagi menatap wajah adiknya.
Dadanya terasa seperti diremas.
Ba’da menarik napas terputus-putus.
“Dan kaca kelas…”
Ia menggeleng cepat.
“Ba’da nggak pecahin itu…”
“Yang pecahin… Kafah…”
Ba’da menatap kakaknya dengan mata merah.
“Tapi… semua bilang itu Ba’da…”
“Karena… mereka nggak suka Ba’da…”
Tangisnya kembali pecah.
“Ba’da cuma… cuma mukul Kafah…”
Karena Ba’da sudah tidak kuat lagi
menjelaskan.
Ia menangis sejadi-jadinya.
Melihat itu, Isya tidak bisa menahan dirinya lagi.
Ia langsung menarik Ba’da ke dalam pelukannya.
Pelukan yang sangat hangat.
Seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya.
“Ya Allah…”
Air mata Isya akhirnya jatuh juga.
Ia memeluk adiknya erat.
“Oh… gitu ya, Dek…”
“Ssst… sudah ya… jangan menangis lagi…”
Ia mengusap kepala Ba’da dengan lembut.
“Tenang saja… ada kakak di sini.”
“Masalah ini pasti beres kok.”
Isya memeluknya semakin erat.
Tangannya menepuk-nepuk punggung Ba’da pelan.
Kemudian dengan suara lembut ia mulai
membaca ayat Al-Qur’an yang sering ia ingat.
"Fa inna ma'al 'usri yusra…"
"Inna ma'al 'usri yusra…"
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan…
sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Suara Isya lembut, namun penuh ketenangan.
Ba’da masih menangis di pelukannya.
Namun tangis itu perlahan mulai mereda.
Isya menunduk dan berbisik pelan.
“Adek…”
“Adek tahu nggak… pesan Abati dan umi dulu kepada kak Sya…?”
Ba’da yang tadi menangis keras mulai sedikit
meredakan tangisnya.
Ia masih terisak, tetapi kini mencoba mendengarkan kakaknya.
Isya mengusap pelan rambut adiknya.
“Dulu… waktu kak Sya kecil,” ucapnya lembut, “kakak juga sering menangis kalau ingin sesuatu.”
Ba’da menatap kakaknya dengan mata merah.
“Waktu itu kakak bahkan lebih kecil dari Ba’da.”
Isya tersenyum tipis, tetapi di balik senyum itu ada kenangan yang berat.
“Kak Sya dulu pengen seperti teman-teman di sekolah.”
“Mereka bisa jajan… punya boneka… bajunya bagus-bagus.”
Ia berhenti sebentar.
“Sedangkan kakak… tidak punya apa-apa.”
Ba’da diam mendengarkan.
“Sepatu mereka baru dan bagus.”
“Sedangkan sepatu kak Sya… sudah sobek.”
Isya menunduk sebentar.
“Kadang kakak juga diejek… dibilang sepatu jelek.”
Ba’da mengepalkan tangannya kecil.
Isya melanjutkan dengan suara tenang.
“Tapi tidak apa-apa.”
“Waktu itu kak Sya berpikir… kalau ingin sesuatu, kak Sya harus berusaha.”
Isya tersenyum kecil mengenang masa itu.
“Akhirnya kak Sya menabung.”
“Soalnya kak sya tahu, Abati sama umi bukan orang yang mampu.”
Ba’da menatap kakaknya semakin serius.
“Waktu itu kak Sya datang ke warung rumah makan.”
“Kak Sya tanya… boleh tidak kak Sya kerja cuci piring.”
Ba’da sedikit terkejut.
Isya tertawa kecil.
“Awalnya ibu pemilik warung itu malah tertawa.”
“Dia kira kak Sya bercanda.”
“Tapi setelah lihat kak Sya serius… akhirnya kak Sya boleh bantu cuci piring.”
“Pulang sekolah kak Sya cuci piring.”
“Dikasih uang jajan… tapi uangnya kak Sya tabung.”
Isya mengusap kepala Ba’da.
“Kak Sya senang sekali waktu itu.”
“Karena setiap hari tabungannya bertambah.”
Ia melanjutkan ceritanya dengan semangat kecil.
“Di warung itu kak Sya juga dapat ide.”
“Kak Sya liat keadaan di warung itu yang setiap hari ada orang yang titip makanan.”
“Akhirnya kak Sya tanya… boleh tidak kak Sya juga titip jualan, terus untungnya dibagi dua.”
Ba’da mulai sedikit lupa dengan tangisnya karena mendengarkan cerita itu.
“Ibu warung itu tersenyum… lalu mengizinkan.”
“Jadi kak Sya belajar bikin kerupuk.”
“Uang yang kak Sya punya kak Sya belikan kerupuk mentah.”
“Tidak sulit ternyata… tinggal digoreng.”
Isya tertawa kecil.
“Akhirnya kak Sya punya jualan sendiri.”
“Kerupuknya dititip di warung.”
“Jadi pulang sekolah kak Sya bisa ambil untungnya.”
Ba’da menatap kakaknya dengan kagum.
“Hari demi hari kak Sya bekerja dengan semangat.”
“Karena kak Sya pikir… kalau sudah punya sepatu baru…”
“Tidak ada yang akan mengejek lagi.”
“Dan Abati sama umi tidak perlu sedih memikirkan sepatu kak Sya.”
Isya menarik napas pelan.
“Butuh waktu lama…”
“Tapi akhirnya uangnya terkumpul.”
Matanya sedikit berbinar mengingat hari itu.
“Hari itu kak Sya lari ke toko sepatu.”
“Saking senangnya.”
“Tapi waktu sampai… ternyata sepatu-sepatu itu mahal.”
“Kak Sya cari yang murah… tapi tetap tidak cukup.”
Isya tersenyum pahit.
“Kak Sya cuma bisa berdiri… melihat sepatu kak Sya yang sudah sobek.”
“Kak Sya sempat berpikir…”
‘Padahal cuma sepatu… tapi mahal sekali.’
“Kak Sya juga berpikir… kalau uang itu dipakai beli makanan…”
“umi sama abati bisa makan kenyang.”
Ba’da menunduk.
Ia bisa merasakan kesedihan kakaknya waktu itu.
“Tapi waktu itu… ternyata ada yang mengikuti kak Sya.”
Isya tersenyum kecil.
“Dia adalah Ayin.”
Ba’da sedikit mengangkat kepalanya.
“Dia bilang dia curiga lihat kak Sya hari itu semangat sekali.”
“Jadi dia diam-diam mengikuti.”
“Dan akhirnya dia tahu kak Sya ingin beli sepatu… tapi uangnya tidak cukup.”
Isya tertawa kecil mengingatnya.
“Dia langsung bilang…”
‘Ayo ke rumahku.’
“Kak Sya panik.”
‘Eh mau apa?’
“Ayin bilang dia mau kasih kak Sya seratus ribu dari tabungannya.”
Ba’da kaget.
Isya tersenyum.
“Tapi kak Sya marah.”
“Tidak mau menerima.”
“Tapi malah Ayin yang lebih marah.”
Isya menirukan nada Ayin.
“Dia bilang…”
‘Masak kamu nggak menghargai persahabatan kita!’
Ba’da sedikit tersenyum.
“Kak Sya jadi bingung.”
“Lalu dia bilang…”
‘Tunggu di sini! Jangan pergi!’
“Dia langsung lari.”
Isya tertawa kecil.
“Kak Sya mau pulang sebenarnya.”
“Tapi takut Ayin marah.”
“Tidak lama kemudian dia kembali.”
“Napasnya terengah-engah… keringatan.”
“Dan membawa uangnya.”
Isya menatap Ba’da.
“Hari itu kak Sya tidak punya alasan lagi untuk menolak.”
“Jadi kak Sya menerima.”
“Alhamdulillah… akhirnya kak Sya punya sepatu baru.”
Ba’da tersenyum kecil di sela tangisnya.
“Kak Sya langsung pakai sepatu itu pulang ke rumah.”
“Mau kasih kejutan ke ayah dan ibu.”
Isya menatap kosong sejenak, mengenang momen itu.
“Waktu sampai rumah…”
“Kak Sya bilang kak Sya beli sepatu pakai uang sendiri.”
“abati dan umi sangat bersyukur.”
“Mereka sampai haru.”
Isya tersenyum lembut.
“Tapi sebelum itu… waktu kak Sya pernah bilang ke umu ingin seperti teman-teman…”
“umi menasihati kak Sya.”
Ba’da menatap kakaknya lagi.
“umi bilang…”
“Kalau ingin sesuatu…”
“Jangan hanya mengeluh.”
“Mintalah kepada Allah.”
“Karena Allah lah yang akan memudahkan jalan hamba-Nya.”
Isya mengusap kepala Ba’da.
“Jadi waktu itu kak Sya berdoa kepada Allah.”
“Supaya dimudahkan punya sepatu.”
“Dan ternyata…”
Isya tersenyum.
“Allah kirim Ayin membantu kak Sya.”
Ba’da terdiam mendengarnya.
Namun wajah Isya tiba-tiba berubah sedikit sendu.
“Besoknya…”
“Kak Sya berangkat sekolah dengan sepatu baru.”
“Kak Sya senang sekali.”
Ba’da mulai memperhatikan dengan serius.
“Tapi waktu pelajaran praktik sholat di mushola sekolah…”
“Semua murid melepas sepatu di depan.”
Isya menarik napas perlahan.
“Setelah selesai sholat…”
“Kak Sya keluar.”
Isya berkata pelan.
“Sepatu kak Sya… hilang.”
Ba’da langsung menatap kakaknya.
“Kak Sya cari ke mana-mana.”
“Tidak ada.”
Suara Isya mulai sedikit bergetar.
“Akhirnya kak Sya duduk di tangga mushola…”
“Dan menangis.”
Isya terdiam sejenak, lalu kembali bercerita.
“Hari itu… Menjadi hari yang sangat berat untuk kak Sya.”
“Usaha kakak menabung… hasil jualan kakak… bahkan bantuan dari Ayin… seakan hilang begitu cepat.”
“Kak Sya pulang dengan tangisan sepanjang jalan… tanpa sepatu.”
Ba’da menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
“Waktu sampai di depan rumah…”
“Abati mendengar tangisan kak Sya.”
“Beliau langsung keluar dan berlari menghampiri kak Sya.”
Isya tersenyum tipis mengenang momen itu.
“Abati langsung tahu… kak Sya pulang tanpa sepatu.”
“Tanpa banyak bertanya, abati langsung memeluk kak Sya.”
Isya memeluk Ba’da sedikit lebih erat.
“Persis seperti kak Sya memeluk Ba’da sekarang.”
Abati mengusap kepala kak Sya dengan lembut lalu berkata,
“Tidak apa-apa, Nak…”
“Kalau kita kehilangan sesuatu, ingatlah kepada Allah.”
Abari kemudian berkata pelan,
“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
“Semua yang kita punya sebenarnya milik Allah.”
“Kalau Allah mengambilnya kembali, berarti itu memang milik-Nya.”
Abati menatap kak Sya dengan penuh kasih.
“Tapi ingat…”
“Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya.”
“Kalau Isya bersabar dan tetap berbuat baik, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik.”
Abati tersenyum lembut.
“Percaya sama abati.”
“Tuhan kita Maha Kaya.”
“Apa yang Isya kehilangan hari ini… bisa saja Allah ganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik nanti.”
Isya menghela napas pelan.
“Waktu itu hati kak Sya mulai sedikit tenang… walaupun masih menangis.”
“Nasehat abati membuat kak Sya yakin.”
“Allah bersama kak Sya.”
“Karena Tuhan yang Maha Penyayang tidak mungkin mengabaikan perjuangan hamba-Nya.”
Isya menatap Ba’da dengan lembut.
“Nasehat abati waktu itu menjadi semangat kak Sya.”
“Untuk yakin kepada janji Allah.”
“Di tengah kesedihan itu…”
“Kak Sya percaya… Tuhan yang selalu abati dan umi ceritakan kepada kak Sya… tidak akan pernah meninggalkan kak Sya.”
Isya tersenyum kecil.
“Kak Sya ingat Allah.”
“Dan kak Sya juga ingat nasehat umi.”
Kemudian Isya membaca ayat dengan suara lembut.
"Alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub."
“Ingatlah… hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Isya mengusap rambut Ba’da.
“Waktu itu kak Sya belajar ikhlas.”
“Kalau sesuatu hilang… Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik.”
Ia tersenyum kecil.
“Lagipula… kak Sya masih punya sepatu walaupun sudah sobek.”
Ba’da akhirnya sedikit tersenyum.
Isya menatap adiknya dengan penuh kasih.
“Nah…”
“Adekku sayang.”
“Dulu kak Sya percaya dengan ucapan abati… untuk menggantungkan semua yang terjadi kepada Allah.”
“Sekarang…”
“Sebagaimana abati pernah menasehati kak Sya…”
“Kak Sya ingin memberikan nasehat itu kepada adek.”
Isya mengusap pipi Ba’da.
“Percaya sama kakak.”
“Masalah adek ini… kalau adek bersabar…”
“Maka Allah yang akan menyelesaikan semuanya.”
“Hari yang berat ini… akan diganti dengan hari yang indah.”
Isya tersenyum kecil.
“Kak Sya tidak akan cerita…”
“Hadiah apa yang Allah berikan kepada kak Sya setelah kak Sya bersabar tentang sepatu itu.”
Ba’da menatap kakaknya penasaran.
“Kenapa?”
Isya tertawa kecil.
“Karena kak Sya ingin adek Ba’da merasakan sendiri.”
“Apakah benar yang kak Sya katakan.”
“Hihi…”
Isya mengusap air mata adiknya lagi.
“Gimana?”
“Mau percaya sama kak Sya?”
Ba’da mengangguk pelan.
“Kalau percaya… jangan menangis lagi ya.”
“Masalah ini biar kak Sya yang urus.”
Ba’da mengangguk lagi.
“Huum… Ba’da percaya, Kak.”
“Kakak tidak pernah bohong.”
Ia menatap kakaknya dengan kagum.
“Wah… abati pernah bilang begitu ya, Kak?”
Isya tersenyum lembut.
“Iya.”
“Abati dan umi selalu mengajarkan kak Sya hal-hal yang baik.”
“Kalau Allah sudah bersama kita…”
“Lalu apa lagi yang perlu kita takutkan?”
Isya kemudian berdiri perlahan.
“Sekarang kita kembali ke sana.”
“Biar kak Sya yang urus masalah ini dengan wali murid.”
Saat itu nenek mendekat.
Beliau memeluk Isya dan Ba’da sekaligus.
“Betul kata kak Sya.”
“Ba’da tidak perlu takut.”
“Ada nenek… dan ada kakakmu.”
Mereka bertiga saling berpelukan hangat.
Beberapa saat kemudian, mereka berdiri bersama.
Lalu berjalan kembali menuju ruang kepala sekolah.
Beberapa saat kemudian…
Isya, Ba’da, dan nenek berjalan kembali menuju ruang kepala sekolah.
Langkah Ba’da masih pelan.
Tangannya masih memegang erat tangan kakaknya.
Isya sesekali mengusap kepala adiknya dengan lembut.
Ketika pintu ruang kepala sekolah dibuka, suasana di dalam ruangan masih terasa tegang.
Di sana sudah ada ibu kepala sekolah.
Di kursi sebelah kanan terlihat seorang anak
laki-laki bersama ayahnya.
Wajah ayah anak itu masih terlihat kesal dan jengkel.
Tatapannya langsung tertuju kepada Ba’da.
Ba’da sedikit bersembunyi di belakang Isya.
Isya menunduk sopan.
“Assalamu’alaikum.”
Ibu kepala sekolah menjawab salam itu dengan lembut.
“Wa’alaikumussalam. Silakan duduk.”
Isya duduk perlahan di samping Ba’da.
Nenek duduk di kursi di belakang mereka.
Beberapa detik suasana terasa sunyi.
Ayah anak itu akhirnya berbicara dengan nada masih kesal.
“Itu anak yang memukul anak saya.”
Ba’da kembali menunduk.
Isya memegang tangan adiknya dengan lembut.
Kemudian Isya berdiri perlahan.
Ia menunduk sopan kepada semua orang di ruangan itu.
“Maafkan saya.”
“Saya kakaknya Ba’da.”
Suaranya lembut, namun jelas.
“Saya ingin terlebih dahulu meminta maaf atas perbuatan adik saya.”
Semua orang di ruangan itu sedikit terkejut.
Isya melanjutkan dengan tenang.
“Memukul teman tentu bukan perbuatan yang benar.”
“Jika Ba’da melakukan itu… maka sebagai kakaknya saya juga ikut bertanggung jawab.”
Ayah anak itu terlihat masih kesal, tetapi kini ia mulai diam mendengarkan.
Isya kembali menundukkan kepalanya.
“Saya juga minta maaf kepada bapak… dan kepada anak bapak.”
Ba’da mulai menangis lagi pelan.
Isya menepuk tangannya dengan lembut.
Kemudian Isya melanjutkan.
“Tapi… izinkan saya menjelaskan sedikit keadaan yang sebenarnya.”
Ruangan itu menjadi hening.
Isya tidak berbicara dengan emosi.
Ia berbicara perlahan, penuh adab.
“Ba’da memang memukul temannya dengan sapu.”
“Itu benar.”
“Tapi sebelum itu… Ba’da sering diejek oleh beberapa temannya.”
Isya menatap Ba’da dengan lembut.
“Mereka sering mengatakan Ba’da anak miskin.”
Beberapa orang mulai saling menatap.
Isya melanjutkan dengan tenang.
“Ba’da tidak pernah melawan.”
“Dia hanya diam.”
“Tapi hari itu… mereka juga mengejek nenek dan saya.”
Suasana ruangan mulai berubah.
Isya menunduk lagi.
“Mungkin bagi anak-anak itu hanya bercanda.”
“Tapi bagi Ba’da… itu sangat menyakitkan.”
Ia menarik napas pelan.
“Ba’da memang salah karena memukul.”
“Tapi saya percaya… dia tidak bermaksud berniat menyakiti siapa pun.”
Isya melanjutkan lagi dengan suara lembut.
“Vas bunga yang pecah juga bukan karena Ba’da sengaja.”
“Ada anak yang mendorongnya hingga ia menabrak meja.”
Ba’da kembali menunduk.
“Namun Ba’da tetap mengganti kerugian itu dengan uang tabungannya sendiri.”
Ayah anak itu terlihat sedikit terkejut.
Isya melanjutkan.
“Buku yang dicoret Ba’da juga karena di dalamnya tertulis ejekan yang sangat
menyakitkan.”
Isya tidak berbicara dengan nada menuduh.
Ia tetap menjaga adabnya.
“Dan tentang kaca kelas…”
Isya menatap kepala sekolah dengan sopan.
“Ba’da mengatakan itu bukan dia yang memecahkannya.”
“Namun ia memang memukul anak bernama Kafah setelah dituduh.”
Ruangan kembali sunyi.
Ayah anak itu kini tidak lagi berbicara.
Isya menunduk lagi dengan penuh hormat.
“Sekali lagi saya tidak membenarkan perbuatan memukul.”
“Ba’da tetap salah.”
“Tapi saya hanya ingin bapak dan ibu mengetahui keadaan yang sebenarnya.”
Ba’da menunduk sambil menangis pelan.
Isya kemudian berbicara kepada kepala sekolah dengan sopan.
“Ibu…”
“Saya dan nenek sudah membicarakan hal ini sebelumnya.”
“Kami sangat berterima kasih kepada sekolah yang sudah mendidik Ba’da.”
“Tapi melihat keadaan yang terjadi…”
Isya menunduk sebentar.
“Kami berpikir mungkin lebih baik Ba’da pindah sekolah.”
Semua orang sedikit terkejut mendengar itu.
Isya melanjutkan dengan tenang.
“Kami tidak ingin masalah ini terus berlanjut.”
“Kami juga tidak ingin Ba’da menjadi sumber masalah bagi siapa pun.”
Nenek yang duduk di belakang mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca.
Isya kembali menunduk.
“Jika memang ada kerugian yang harus kami ganti…”
“Kami akan berusaha menggantinya semampu kami.”
Ayah anak itu kini terlihat terdiam.
Tidak ada lagi kemarahan seperti sebelumnya.
Suasana ruangan menjadi jauh lebih tenang.
Isya kemudian membungkuk sedikit.
“Sekali lagi kami mohon maaf atas semua yang terjadi.”
“Kami tidak ingin memperpanjang masalah ini.”
Isya menatap Ba’da dengan lembut.
“Ayo Dek.”
Ia kemudian menoleh kepada kepala sekolah.
“Terima kasih banyak atas perhatian dan bimbingan ibu selama ini kepada adik saya.”
Kemudian Isya menunduk sopan kepada wali murid tersebut.
“Dan saya juga meminta maaf kepada bapak.”
Nenek berdiri perlahan.
Beliau menatap semua orang dengan lembut.
“Mohon maaf jika cucu saya membuat masalah.”
Isya menggenggam tangan Ba’da.
Mereka bertiga kemudian berjalan perlahan keluar dari ruangan itu.
Dengan langkah yang tenang.
Namun penuh martabat.
Setelah keluar dari ruang kepala sekolah, mereka berjalan perlahan di halaman sekolah.
Ba’da masih menggenggam tangan kakaknya.
Beberapa langkah kemudian, Ba’da menatap
Isya dengan wajah polos.
“Kak Sya… kak Sya…”
Isya menoleh sambil tersenyum lembut.
“Iya, Dek?”
Ba’da bertanya pelan.
“Kenapa Ba’da harus pindah sekolah…?”
Isya berhenti sebentar.
Ia menunduk sedikit lalu mengusap kepala adiknya dengan lembut.
“Ah… tidak apa-apa.”
Isya tersenyum hangat.
“Ba’da kan percaya sama kakak… dan percaya sama Allah?”
Ba’da mengangguk kecil.
Isya tersenyum lagi.
“Nanti kita lihat… hadiah apa yang Allah siapkan untuk Ba’da.”
“Hihi…”
Ba’da yang polos hanya mengangguk.
Ia percaya penuh kepada kakaknya.
Mereka kembali berjalan.
Tiba-tiba Isya seperti teringat sesuatu.
“Oh iya!”
Ia menoleh kepada nenek dan Ba’da dengan wajah ceria.
“Nenek… Ba’da…”
“Kemarin Isya dapat bonus kerja.”
Isya tersenyum lebar.
“Ayo ikut Isya dulu.”
“Kita makan bakso!”
“Isya yang traktir, hihi.”
Ba’da langsung membelalakkan matanya.
“Serius, Kak?!”
Isya tertawa kecil.
“Serius.”
“Di dekat sini ada bakso yang enak sekali loh.”
Nenek tersenyum lembut lalu mengangguk.
Ba’da langsung melonjak kecil kegirangan.
“Wahhh!”
“Kakak sudah kaya ya sekarang, bisa traktir makan bakso!”
Isya tertawa kecil mendengar itu.
“Hihi… gak gituu.”
Ia mengusap kepala Ba’da dengan lembut.
“Kakak akan merasa kaya… kalau Ba’da dan nenek bahagia.”
Nenek tersenyum haru mendengar ucapan itu.
Ba’da pun ikut tersenyum lebar.
“Asyik!”
Isya menggenggam tangan adiknya.
“Ayo… nanti makan yang banyak ya.”
Mereka bertiga berjalan meninggalkan
sekolah itu.
Dengan langkah sederhana.
Namun dengan hati yang lebih tenang.
Dan tanpa mereka sadari…
Hari yang berat itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih indah.
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘