Takdir hanya membawaku jauh dari tanah kelahiranku, bukan jauh dari hidupmu, sudah sejauh ini kenapa aku masih bertemu dengan mu lagi pria Brengkes! Alea Januartha
aku mencari mu 10 tahun lamanya, kamu datang padaku dengan cara seperti ini, kenapa kamu tidak mengakui, kalau itu kamu wanita kribo, kenapa harus ada kepergian untuk kedua kalinya, Jonathan Will
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia pakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 21
Pagi yang cerah, Alea menatap cermin kamarnya dengan penuh senyuman, berharap hari ini penuh kebahagiaan, pikirannya selalu positif, agar hatinya selalu baik-baik saja, dia berjalan keluar dari kamarnya setelah melakukan kewajiban pada sang pencipta, tidak lupa Alea memakai cadarnya dan berjalan keluar, tujuannya kali ini adalah dapur, Alea sangat suka memasak dari dulu, kebiasaan itu tidak pernah iya tinggalkan meski sempat beberapa tahun jarang melakukan.
Alea menuruni tangga secara perlahan sambil menatap sekeliling rumah, sudah ada beberapa pekerja yang mulai sibuk, dan itu hal wajar di lakukan para ART, dari jauh dia melihat pak Mun, "Pagi pak," sapa Alea dengan senyuman nya.
"Pagi Nyonya muda" sapa balik pak Mun, Alea berlalu begitu saja setelah menyapa pak Mun, tidak lama Alea smpai di dapur, di sana sudah ada beberapa asisten masak yang siap melakukan tugasnya.
"Biarkan saya yang memasak, kalian cukup membantu saja," ujar Alea setelah bergabung dengan mereka semua, tidak ada yang berani membantah, semua para asisten didapur memberi ruang pada Alea, termasuk Eren, karena dia sudah dapat mandat langsung dari Nyonya besar Jasmin, meski dia kesayangan Jesika, namun Eren tidak akan berani membantah ratu utama di keluarga Robert Will.
hanya perlu waktu 45 menit segala menu sudah usai Alea masak, sekarang dapur itu di miliki Alea sepenuhnya, setelah pak Mun melapor pada Nyonya Jasmin jika Jonathan mulai makan masakan buatan Alea.
Alea meminta beberapa orang untuk menata nya di meja makan, tidak lupa pula dia menyuruh untuk di bungkus beberapa agar bisa dia bagikan di setiap jalanan nanti yang iya lintasi, supaya berkah.
Jam 07:00 terlihat Jonathan menuruni tanggal, pria itu pasti akan keluar di jam 7, karena seperti biasa dia tidak pernah toleransi dengan waktu, dan Alvin pun sudah berada di rumah itu untuk menjemput sang tuan muda, Jonathan tanpa di komando dia langsung duduk di ruang makan, "Mana dia?" tanya Jonathan tanpa menoleh, namun pak Mun paham kalau itu pertanyaan untuk dirinya.
"Akan saya panggilkan tuan muda," pak Mun sudah memberi tahu Alea kalau jam 7 pagi tuan mudanya akan keluar dari kamar jika bermalam di rumah nya, namun sepertinya Alea lupa dengan ucapan pak Mun.
"Nyonya muda, permisi" pak Mun terus mengetuk pintu kamar Alea, hingga tidak lama wanita itu membuka nya dan sudah sangat rapi.
"Iya pak Mun?" tanya Alea.
"Tuan sudah menunggu anda di bawah untuk sarapan Nyonya, ini sudah jam 7 lebih 5 menit" ujar pak Mun.
Alea yang mendengar ucapan pak Mun segera melewati pak Mun begitu saja, tanpa permisi, og good Alea, "Kenapa aku bisa lupa jam dia sarapan, habislah aku, tadi pagi aku sudah berdoa untuk mendapatkan hari yang baik, belum keluar rumah aja sudah buat kesalahan, huwaaaa habislah dirimu Alea" gumam Alea dengan segala expresi nya, tanpa sadar wanita itu perlahan kembali dengan sifat shofia yang bar bar.
"Ma-"
"Cepat siapkan! Saya tidak akan Kenyang hanya dengan penjelasan mu itu!" bentak Jonathan, hingga membuat Alea terkejut, ingin rasanya Alea melempar beberapa menu ke wajah Jonathan, namun wanita itu tidak punya keberanian lebih, apa lagi sadar siapa dirinya setalah tau seberapa kuasa Jonathan.
Alea dengan cepat menyiapkan sarapan buat Jonathan, "Apa gunanya banyak asisten, kalau hanya begini saja harus aku yang menyiapkan, terus gunanya istri pertama apa coba, bahkan aku gak melihat nya sama sekali, ah iya aku lupa, kan dia ratunya mana mungkin mau melakukan hal seperti ini, lagian aku hanya istri sementara, ah sudahlah, sebaiknya aku tetap pada tempat ku dari pada harus terlalu jauh berurusan dengan mereka, lagian aku tidak mau juga masuk dalam hidup mereka, jadi istri Sholehah aja sementara kan gpp," Alea terus bergumam dalam batinnya sambil menyiapkan sarapan buat Jonathan, tanpa terasa Meraka melakukan sarapan bersama dan itu nilai baik buat pak Mun yang siap melapor pada Nyonya besar nya.
Dari kejauhan ada Jesika yang menatap Meraka tidak suka, "Sejak kapan Jonathan mau sarapan dirumah, apa aku gak salah liat, bukannya selama hampir 10 tahun dia gak pernah sarapan dirumah, jangankan sarapan, bahkan di rumah ini bisa 1 bulan sekali, apa ini sebuah rencana dia atau di ancam mamahnya agar sering di rumah" Jesika menuruni tangga, wanita itu berjalan angkuh menuju meja makan, dia duduk disana dan menatap Alea yang juga tengah menatap nya.
"Ambilkan aku sarapan!" perintah Jesika dengan nada angkuh nya pada Alea.
"Apa perlu saya patahkan tangan mu agar bisa di layani!" bentakan Jonathan membuat Alea berhenti beranjak, awalnya wanita itu mau menyiapkan makanan untuk Jesika, namun berhenti karena perkataan Jonathan, "Dan kamu, tugasmu melayani saya! Bukan dia! Ingat itu! Karena aku suamimu," ujar Jonathan sambil membersihkan mulutnya dengan tissu.
Jesika melongo mendengar perkataan Jo, apa dia tidak salah dengar, suami? Yang benar saja, sejak kapan Jonathan punya perkataan seperti itu selama ini untuk nya aja gak pernah, ini malah buat Alea, wanita itu mengepal kuat tangan nya di bawah meja, wanita itu tidak terima Jo mengakui Alea istri.
Sedangkan Alea tersedak makanan nya sendiri, antara percaya dan tidak, namun Alea kembali sadar, kalau nanti Jonathan tau siapa dirinya sudah pasti dia akan di depak dari rumah Jonathan.
Tidak lama Jonathan berdiri dan berlalu dari sana tanpa sepatah katapun, dia akan segera ke kantor, sedangkan Jesika menarik tangan Alea yang hendak berlalu juga dari sana, "Jangan harap kamu bisa menggantikan posisiku disini, meskipun Jo mau makan masakan mu! Camkan itu! karena Jo hanya menganggap mu tidak lebih dari pembantunya saja, mana mungkin Jo membiarkan orang yang dia cintai melakukan pekerjaan rumah." Ejek Jesika agar Alea sadar akan posisinya,
Alea hanya tersenyum dan berlalu dari sana setelah Jesika selesai bicara, sebelum Jesika mengatakan semua itu Alea pun sudah sadar, dan itu tidak di anggap penting oleh Alea, karena baginya masih banyak yang lebih penting lagi buat di pikirkan, Jesika yang di abaikan pun Merasa tidak terima, wanita itu berdiri dan melepar gelas yang ada di hadapannya, dia merasa hidupnya di olok-olok oleh Alea, karena Alea sama sekali tidak kepancing emosi, malah dia sendiri yang merasa emosi, "Sepertinya wanita itu terlalu menggap diriku remeh, awas aja dia, dia pikir siapa dirinya, bahkan dia tidak akan bisa bersaing dengan ku dalam segi apapun!" umpat Jesika, wanita itu pun ikut berlalu dari sana dengan amarah yang membara, masih pagi tapi mood nya sudah berantakan.