Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Deklarasi perang!
Aroma obat-obatan herbal yang tajam menusuk hidung memenuhi seluruh koridor sayap barat kediaman Keluarga Jian.
Di dalam sebuah ruangan besar yang dijaga oleh puluhan pengawal bersenjata lengkap, tiga ranjang diletakkan bersisian.
Jian Yi, Lu Feng, dan A-Lang terbaring tak berdaya dengan tubuh yang hampir seluruhnya terbungkus kain kasa putih.
Di sudut lain, ibu A-Lang sedang dalam perawatan intensif, jiwanya terguncang hebat.
Di luar ruangan tersebut, atmosfer jauh lebih mencekam daripada medan perang mana pun.
Keheningan yang ada bukan karena kedamaian, melainkan karena kemarahan yang sudah melampaui batas kewarasan.
Aula Utama Keluarga Jian malam itu diterangi oleh ratusan lilin, namun cahayanya terasa dingin.
Tiga pemimpin besar duduk mengelilingi meja bundar dari kayu hitam.
Jian Hong duduk di tengah. Wajahnya yang biasanya tenang dan ramah kini sekeras batu granit.
Matanya merah, bukan karena kantuk, tapi karena api amarah yang menyala di balik kelopaknya.
Di sampingnya, Lu Zhao terus-menerus meremas cangkir tehnya hingga retak, memancarkan aura membunuh yang membuat para pelayan tidak berani mendekat dalam radius lima meter.
Di hadapan mereka, Tan Xing, pemimpin Keluarga Tan, berdiri dengan wajah masam.
Ia baru saja melihat calon menantunya, A-Lang, hancur lebam, dan putri kesayangannya, Tan Yin'er, terus menangis di kamar sebelah.
"Wei Bo sudah melewati batas yang tidak bisa dimaafkan," suara Lu Zhao menggelegar, rendah dan bergetar. "Dia mencoba membunuh putraku. Dia mencoba membunuh penerus Keluarga Lu!"
"Bukan hanya putramu, Lu Zhao," sahut Jian Hong, suaranya halus namun tajam seperti sembilu. "Dia menyiksa seorang ibu, menjebak anak angkatku, dan mencoba menghabisi Jian Yi. Dia mengira Lembah Terlarang akan menyembunyikan dosanya, tapi dia lupa bahwa darah lebih kental daripada kabut hutan."
Tan Xing menggebrak meja. "Keluarga Tan tidak akan tinggal diam. Meskipun kami berada di kota yang berbeda, menyerang calon menantuku berarti mengumumkan perang terhadap panji Awan Biru. Aku telah memerintahkan dua ribu prajurit elit kami untuk mulai bergerak ke perbatasan Distrik Zamrud!"
Meskipun kemarahan mereka meledak, Jian Hong adalah seorang pria yang pragmatis. Ia tahu bahwa menghancurkan Keluarga Wei tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Kita harus waspada," Jian Hong memperingatkan, matanya menatap peta wilayah di atas meja. "Keluarga Wei memang setingkat dengan kita, namun Wei Bo dikenal memiliki koneksi gelap dengan Sekte Bayangan Hitam di wilayah utara. Selain itu, mereka memiliki dua Tetua di ranah Pendekar Master yang sudah lama mengasingkan diri. Jika kita menyerang secara gegabah, Kota Zamrud akan berubah menjadi lautan darah yang merugikan semua pihak."
"Aku tidak peduli!" raung Lu Zhao. "Biarkan kota ini terbakar! Aku akan memenggal kepala Wei Bo dengan tanganku sendiri!"
"Sabar, Lu Zhao," Tan Xing menengahi dengan nada dingin. "Perang ini bukan hanya soal otot. Kita akan menghancurkan mereka dari segala sisi. Aku akan memutus jalur suplai kristal energi mereka. Jian Hong, kau pegang kendali pasar logistik. Kita buat mereka kelaparan, kita buat mereka terisolasi, baru setelah itu kita serbu kediaman mereka dan pastikan tidak ada satu pun tikus bermarga Wei yang tersisa hidup!"
Rapat besar itu berlangsung hingga fajar menyingsing. Keputusannya mutlak: Aliansi Tiga Keluarga dibentuk.
Ini adalah koalisi militer dan ekonomi terbesar yang pernah disaksikan oleh Distrik Zamrud dalam seratus tahun terakhir.
Di luar aula, berita mulai menyebar. Para pedagang yang berafiliasi dengan Keluarga Wei tiba-tiba mendapati toko mereka disegel.
Pasukan berseragam perak milik Keluarga Tan mulai terlihat berpatroli di gerbang kota.
Atmosfer kota berubah menjadi sangat tegang; warga sipil memilih untuk mengunci pintu rumah mereka, menyadari bahwa badai besar akan segera datang.
Sementara itu, di dalam kamar perawatan, Tan Yin'er duduk di samping ranjang A-Lang. Ia menggenggam tangan bocah itu yang dingin. "Bangunlah ... Ayahmu, Paman Jian, dan Paman Lu sedang menyiapkan pembalasan untukmu. Jangan biarkan mereka bertarung sendirian."
Jian Yi, yang berada di ranjang sebelah, tiba-tiba menggerakkan jarinya sedikit. Meskipun matanya masih tertutup, aura ungu tipis mulai menyelimuti tubuhnya.
Di dalam ketidaksadarannya, jiwanya sedang memperbaiki setiap inci sel yang rusak dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁