bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.
Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03.KEBOHONGAN YANG MELEDAK
Beberapa ratus meter sebelum gerbang raksasa Kota Ovelia terlihat, aku mengangkat tangan, memberi isyarat agar kelompok kami berhenti. Semilir angin padang rumput memainkan rambutku, dan untuk sejenak, aku memejamkan mata, menikmati sisa-sisa energi murni yang masih mengalir deras di nadiku.
"Tunggu sebentar, anak-anak. Aku perlu ganti kostum," kataku santai dengan nada bicara yang masih ceria, namun ada sedikit perubahan pada binar mataku.
Aku tidak ingin masuk ke kota dengan zirah biru-emas yang memancarkan kecurigaan ini. Di dunia seperti ini, penampilan "wah" adalah magnet bagi masalah. Terlebih lagi, aku sudah memutuskan sesuatu sejak melihat betapa rumitnya struktur sosial di era ini. Jika aku terus tampil sebagai sosok yang penuh wibawa dan energi meluap-luap, aku tidak akan pernah bisa tidur siang dengan tenang.
"Kalau aku masuk begini, intelijen istana bakal menyeret aku jadi Panglima Militer. Ujung-ujungnya aku disuruh perang dan rapat setiap pagi, hmm selamat tinggal hidup santai yang aku impikan." Aku tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat ringan, seolah beban dunia tidak pernah menyentuh bahuku.
Kael, Elara, dan Jiro hanya bisa melongo saat aku mengakses Inventory. Dalam satu kedipan mata, zirah legendaris itu menghilang, berganti dengan kemeja kain kasar cokelat dan celana kusam setelan pemula yang aku miliki. Aku kemudian memasang cincin perak di jariku.
[Item: Ring of False Presence Aktif]
Aku memutar cincin untuk menyesuaikan levelku menjadi level 12. "Nah, sekarang aku hanya Arka, petualang Level 12 yang tidak berbahaya. Ayo berangkat!" Aku nyengir lebar. Namun, ada yang berbeda sekarang. Bahuku sedikit merosot, langkah kakiku tidak lagi setegas tadi, melainkan sedikit terseret santai. Aku memasukkan tangan ke saku celana, menampilkan impresi seseorang yang lebih suka bersandar di tembok daripada berdiri tegak di barisan depan.
Saat tiba di gerbang, masalah pertama muncul. Penjaga gerbang dengan tombak menyilangkan jalan kami. "Berhenti! Tunjukkan tanda Guild atau bayar biaya masuk sepuluh koin perak!"
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, memasang wajah sedikit bingung yang dibuat-buat. Aku baru ingat, aku tidak punya uang receh zaman sekarang. Namun, sebelum aku sempat berpikir untuk menjual satu permata kuno yang bisa menghancurkan ekonomi kota, Kael sudah melangkah maju. Dia menyerahkan sekantong kecil koin dengan tangan gemetar.
"Ini... biaya masuk untuk Guru kami," ucap Kael. Aku tahu itu adalah sisa tabungan terakhir mereka. "Maafkan kami, Guru. Seharusnya kami yang menyiapkan ini lebih awal," bisik Elara dengan nada bersalah.
"Ah, santai saja. Nanti aku ganti sepuluh kali lipat," jawabku ringan sambil mengacak rambut mereka. Aku menguap lebar tanpa menutup mulut, sengaja memperlihatkan sisi "tidak rapi" di hadapan para penjaga yang menatapku remeh.
Kami pun masuk dan menuju aula samping Guild Petualang tempat menyerahkan hasil buruan. Suasana di sana sangat bising dengan aroma bir dan keringat, sampai Kael memarkir gerobak berisi bangkai Beruang Taring Besi tepat di depan meja kasir.
BRAK!
Hening sesaat, lalu tawa mengejek pecah. "Oi, bocah! Kalian mencuri bangkai dari mana?" teriak seorang petualang senior bertubuh kekar. "Melihat penampilan kalian, paling-paling kalian hanya bisa menangkap kelinci!"
Aku hanya berdiri di belakang murid-muridku, menyandarkan punggung ke tiang kayu sambil memperhatikan kuku jariku dengan ekspresi bosan. Konflik hampir pecah saat Jiro mulai mengepalkan tinju, namun pintu lantai dua terbuka. Seorang pria dengan aura otoritas yang berat 'Baros', sang Ketua Guild turun dengan langkah mantap. Matanya tidak menatap kami, tapi menatap luka di dahi beruang itu. Sebuah lubang kecil yang menghancurkan seluruh saraf pusat secara presisi.
"Kalian berempat, ikut ke ruang latihanku. Sekarang," perintah Baros dingin.
Ruang latihan itu kedap suara dan dilapisi dinding peredam getaran. Begitu pintu terkunci, Baros menatap kami tajam. "Jelaskan. Bagaimana tiga amatir dan satu... 'pemula' bisa merobohkan Beruang Taring Besi dengan satu serangan kecil di dahi?"
Kael dan Elara menceritakan semuanya dengan detail—tentang aku yang muncul dari langit dan menghancurkan monster itu seolah-olah ia hanya lalat. Aku hanya bisa tersenyum masam, lalu menggaruk leher dengan malas. "Yah, tidak semua benar. Mereka hanya anak-anak yang terlalu bersemangat. Aku hanya ingin jadi bagian dari Guild supaya bisa bebas keluar masuk kota tanpa dipalak petugas gerbang lagi. Serius, birokrasinya melelahkan."
Baros tidak terkesan. "Aku akan mendaftarkanmu langsung jika kau bisa membuktikan ucapan mereka melalui uji fisik dan tes level. Serang perisai baja Mythril ini. Aku ingin melihat potensi aslimu."
Aku maju dengan langkah berjalan, Dengan status Level 12 yang ditekan cincin, aku memukul perisai itu dengan kepalan tangan yang lemas.
Puk.
Suaranya sangat konyol. Perisai itu bahkan tidak bergoyang sedikit pun. Baros menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam. "Cek bola kristal itu."
Aku meletakkan tanganku dengan gerakan lamban. Angka yang muncul adalah: 12.
"Kau membuang waktuku," geram Baros. "Level 12 tidak akan bisa menggores perisai itu meski berlatih seribu tahun. Beruang ini mati karena satu serangan fatal, dan kau..." Baros menunjuk Kael dan Elara yang menunduk takut. "Kau hanyalah pembohong. Keluar dari guild sebelum aku berubah pikiran menempuh jalur hukum terhadap pencurian hasil buruan!"
Aku menoleh ke arah murid-muridku. Wajah mereka terlihat sangat terluka karena dianggap penipu. Keasyikanku berpura-pura menjadi orang malas terusik oleh rasa iba melihat mental mereka yang hancur. Aku menghela napas panjang, merentangkan otot leherku hingga berbunyi krek. Persona malas itu masih ada, namun kini ada kilat ketegasan yang menyelinap di sela-selanya.
"Baiklah, Pak Tua. Aku akan menunjukkan kekuatan sejati, tapi ini rahasia. Aku datang ke sini untuk hidup tenang, bukan untuk jadi pahlawan. Dan kalian bertiga..." aku menatap muridku dengan tatapan yang sedikit lebih tajam namun tetap tenang, "...jangan sembarangan menceritakan kekuatanku lagi, oke? Menjelaskannya itu merepotkan."
Aku melepas cincin perak di jariku dengan satu gerakan.
DEG!
Atmosfer ruangan mendadak menjadi sangat pekat. Baros mundur dua langkah, instingnya berteriak kencang bahwa ia sedang berada di depan sebuah bencana alam. Tekanan udara di ruangan itu meningkat drastis. Aku tidak lagi terlihat seperti gembel yang mengantuk; meskipun postur tubuhku masih tampak santai, aura yang memancar dariku seolah mampu meratakan bangunan ini dalam sekejap.
Aku meletakkan tangan kiri di bola kristal, sementara tangan kananku melakukan satu sentilan ringan, benar-benar hanya sentilan jari ke arah udara menuju perisai tadi.
BOOM!
Perisai baja itu hancur berkeping-keping, menghantam tembok belakang hingga retak besar. Di saat yang sama, bola kristal di tangan kiriku bercahaya sangat terang hingga menyilaukan mata. Angka-angka di dalamnya berputar gila—100... 500... 800...—hingga akhirnya berhenti di angka emas 999 sebelum kristal itu meledak menjadi debu.
PRANG!
Baros jatuh terduduk di lantai, kakinya lemas. Ia menatap sisa-sisa debu kristal dengan wajah pucat pasi. "Sembilan... ratus... sembilan puluh sembilan?" suaranya bergetar hebat. "Mustahil! Level tertinggi manusia saat ini hanyalah dua ratus lima puluh, dan itu pun sudah dianggap pahlawan legendaris kerajaan!"
Dia menatapku dengan tatapan yang penuh kengerian sekaligus pemujaan. "Angka itu... kekuatan itu... Apakah kau sang legendaris? Seorang Player dari seratus tahun lalu yang diceritakan dalam catatan kuno?"
Aku hanya nyengir, lalu dengan gerakan cepat memasang kembali cincinku. Seketika, aura yang menghimpit tadi lenyap tanpa sisa, mengembalikan penampilanku menjadi petualang gembel Level 12 yang terlihat seolah ingin segera menemukan kasur empuk.
"Legendaris atau bukan, aku tetap butuh kartu Guild," kataku sambil menguap kecil, menutupi mulut dengan punggung tangan kali ini sedikit sopan santun sisa dari era lamaku.
Baros mengusap keringat dingin di dahinya, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. "Peringkat S dan SS selalu dipantau oleh kerajaan. Jika aku memberimu peringkat itu, kau akan dipaksa memimpin pasukan istana. Jadi..." Dia mengambil lencana perak dari lacinya dengan tangan yang masih gemetar. "Ini lencana Peringkat A. Kau akan dihormati sebagai elit, tapi tetap aman dari radar pengawasan istana."
Baros tiba-tiba tertawa keras, tawa yang bercampur dengan rasa haru dan lega. "Kau adalah berkah bagi Guild ini. Aku tidak akan membocorkan rahasiamu." Dia kemudian menoleh ke arah Kael, Elara, dan Jiro yang masih terpaku. "Kalian bertiga... kalian akan menjadi orang hebat karena gurumu adalah sang legendaris!"
Aku menepuk bahu Baros dengan akrab, sebuah senyum tipis terukir di wajahku. "Terima kasih, Pak Tua. Tapi ingat, di depan umum, aku hanyalah orang malas yang kebetulan beruntung memiliki murid berbakat seperti mereka."
Aku melangkah menuju pintu, mengisyaratkan murid-muridku untuk mengikutiku. "Sekarang, bisakah kau arahkan kami ke kedai makanan terbaik? Perutku sudah demo sejak tadi," kataku dengan nada ceria yang kembali muncul, namun kali ini terasa lebih santai dan tak terbebani.
Sebelum benar-benar keluar, aku berhenti sejenak, menoleh ke arah Baros dan berbisik sambil tersenyum penuh arti, "Dan oh, jangan lupa hadiah buruan kami. Aku butuh uang itu untuk membayar makan siang dan mengembalikan tabungan mereka."
Baros hanya bisa mengangguk cepat, masih terpaku melihat sosok "pemalas" itu berjalan keluar dengan santai, membawa rahasia yang bisa mengguncang seluruh benua di balik kemeja kain kasarnya yang kusam.