NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Labirin Pasar Pelita

​Sukabumi, 21.00 WIB.

​Pasar Pelita di malam hari adalah labirin beton yang pengap. Bau bawang busuk, sisa amis ikan, dan aroma selokan yang mampet menyatu di bawah langit-langit pasar yang tinggi dan bocor. Della memarkirkan Scoopy-nya di pinggir jalan raya, tepat di depan gerbang pasar yang sudah setengah tertutup.

​"Ger, loe di mana?" tanya Della lewat sambungan telepon yang terputus-putus.

​"Gue baru nyampe jalan Ahmad Yani, macet parah ada pawai obor! Jangan masuk sendirian, Del!" suara Geri tenggelam oleh suara klakson.

​"Gue nggak bisa nunggu, Ger! Sasha nggak angkat telepon!"

​Della mematikan HP-nya. Ia melirik spion kirinya. Di dalam retakan kaca yang makin tajam itu, bayangan Sasha tampak makin tersudut di sebuah lorong buntu yang penuh tumpukan peti kayu. Di atasnya, bayangan hitam itu mulai menjulurkan sesuatu yang panjang dan berlendir seperti lidah yang haus darah.

​Della mencopot spion itu dari stangnya. Ia tidak bisa membawa motor masuk ke dalam pasar yang sempit. 

Dengan spion tua di tangan kanan dan senter HP di tangan kiri, ia berlari masuk ke kegelapan.

​Di dalam pasar, suasananya sangat sunyi. Hanya ada suara tetesan air dari atap seng yang bocor. 

Tik... tik... tik...

​Della tidak melihat ke depan. Ia melihat ke permukaan spion di tangannya. Di sana, jalanan pasar yang kusam berubah menjadi jalur yang bercahaya biru pucat, seolah menunjukkan rute tercepat menuju Sasha.

​"Sasha! Sha! Loe di mana?!" teriak Della. Suaranya bergema di antara kios-kios emas yang tertutup jeruji besi.

​Tiba-tiba, dari arah lorong daging, terdengar suara KREEEKKK... KREEEKKK... seperti suara tulang yang diremukkan. Della mengarahkan spionnya ke arah suara itu.

​Di dalam kaca, ia melihat sosok makhluk itu. Tingginya hampir menyentuh plafon, tubuhnya kurus kering dengan kulit yang melepuh, dan matanya hanya satu besar dan merah di tengah dahi. Itu bukan hantu penunggu biasa, Itu adalah Genderuwo Kelaparan yang biasanya menghuni gudang-gudang tua di pasar.

​Makhluk itu sedang mengendus-endus udara, dan di bawah kakinya, Sasha pingsan dengan posisi meringkuk di samping tumpukan karung beras.

​"Lepasin temen gue!" teriak Della, suaranya gemetar tapi penuh keberanian.

​Makhluk itu menoleh. Di dunia nyata, Della hanya melihat udara kosong yang bergetar hebat. Tapi di dalam spion, makhluk itu melompat ke arahnya dengan mulut terbuka lebar.

​Della refleks mengangkat spion tua itu sebagai perisai.

​CLANG!

​Bukan suara fisik, tapi suara hantaman energi yang membuat telinga Della berdenging. Cahaya putih terang terpancar dari retakan spion, membakar tangan makhluk itu. Sosok itu melolong kesakitan suaranya terdengar seperti angin ribut yang terjepit di lorong sempit.

​Krak!

​Retakan ketiga muncul di permukaan spion Della. Spion itu terasa semakin panas, seolah-olah ia sedang menyerap energi gelap dari makhluk tersebut.

​Della memanfaatkan momen itu untuk menarik tubuh Sasha. "Sha! Bangun, Sha! Kita harus pergi!"

​Sasha mengerjap, wajahnya pucat pasi. "Del... tadi... tadi ada bau... bau sate kambing yang enak banget... terus gue... gue nggak inget apa-apa..."

​"Itu pancingan, Sha! Ayo lari!"

​Mereka berlari menembus kegelapan pasar, dengan Della yang terus memegang spionnya tinggi-tinggi. Setiap kali bayangan hitam itu mencoba mendekat dari langit-langit, pantulan cahaya dari spion membuatnya mundur.

​Begitu mereka keluar dari gerbang pasar, Geri baru saja sampai dengan motor trail-nya yang meraung-raung.

​"Kalian nggak apa-apa?!" Geri melompat turun, langsung memeriksa kondisi mereka.

​Della terduduk di aspal, memeluk spionnya yang sekarang memiliki tiga retakan besar. Tangannya memerah karena panas dari gagang spion itu.

​"Sasha dipancing pake 'bau makanan palsu', Ger. Makhluk itu... dia beda sama pria jaket hujan kemarin. Dia jauh lebih jahat," bisik Della lemas.

​Sasha hanya bisa menangis sambil memeluk lututnya. Hobi kulinernya malam ini hampir saja merenggut nyawanya sendiri.

​Della menatap spionnya lagi. Kini, di dalam retakan itu, ia melihat bayangan baru yang lebih mengkhawatirkan: Sebuah rumah tua dengan arsitektur Tionghoa kuno yang tertutup tanaman merambat.

​"Ger," panggil Della pelan. "Loe tahu rumah tua keluarga Tan di daerah perkebunan teh yang sudah tutup itu?"

​Geri terdiam, wajahnya mendadak serius. "Rumah kakek buyut loe? Kenapa tiba-tiba nanya itu?"

​"Spion ini... dia barusan kasih liat rumah itu. Kayaknya, semua yang terjadi sekarang, ada hubungannya sama apa yang tersimpan di sana."

Geri membantu Sasha naik ke jok belakang motor trail-nya agar dia bisa ditenangkan di rumah, sementara Della tetap berdiri di depan gerbang Pasar Pelita yang kini terasa seperti mulut raksasa yang lapar. Hujan mulai turun kembali tipis namun tajam, khas Sukabumi yang tidak pernah benar-benar kering.

​"Del, kita bicarakan ini besok. Lo butuh istirahat," kata Geri sambil menghidupkan mesin. "Loe lihat muka loe di spion motor gue barusan? Lo kayak orang yang habis lari marathon sepuluh kilo."

​Della tidak menjawab. Matanya tertuju pada spion tua di tangannya. Di bawah rintik hujan, retakan di kaca itu seolah-olah bernapas. Cairan hitam yang tadi sempat hilang, kini merembes tipis dari retakan ketiga.

​"Gue nggak bisa istirahat, Ger," gumam Della pelan. "Rumah itu... rumah Kakek Tan yang di spion tadi... pintunya terbuka."

​Geri menghela nafas, ia tahu kalau Della sudah dalam mode keras kepala, tidak ada yang bisa menghentikannya. "Oke. Tapi janji sama gue, jangan pernah kesana sendirian. Rumah itu sudah dikosongkan sejak kerusuhan tahun '98, dan warga sekitar nggak ada yang berani lewat sana kalau sudah lewat jam enam sore."

​Sasha, dengan suara yang masih serak karena menangis, menyahut dari belakang Geri, "Del... makasih ya. Gue... gue bener-bener nggak tahu harus gimana kalau loe nggak datang."

​Della hanya mengangguk pelan, mencoba tersenyum meskipun hatinya sangat berat.

​Pukul 23.00 WIB – Kamar Della

​Setelah memastikan Sasha aman dan Geri pulang, Della mengunci diri di kamar. Ia meletakkan spion itu di atas meja belajarnya, di samping tumpukan buku puisi dan kacamata koleksinya. Ia mengambil sehelai kain microfiber, mencoba membersihkan noda tanah dan cairan hitam yang menempel.

​Namun, semakin dia mengelap, retakan itu justru semakin melebar secara visual bukan secara fisik.

​Della memberanikan diri untuk melihat ke dalam pantulan kaca retak itu lagi. Kali ini, bayangan rumah tua itu lebih jelas. Ia melihat ruang tamu besar dengan kursi-kursi kayu jati yang berat. Di tengah ruangan, ada sebuah meja bundar tempat biasanya keluarga besar Tan berkumpul untuk makan bersama.

​Anehnya, di atas meja itu, ada tiga buah piring kosong dan tiga buah kursi yang ditarik keluar, seolah-olah sedang menunggu tamu.

​Della teringat cerita Papanya. Kakek buyutnya, Tan Hok Gie, adalah seorang kolektor barang antik dan pemilik perkebunan teh yang cukup disegani di Sukabumi. Konon, dia punya "keahlian" khusus dalam memilih barang-barang yang punya "nyawa".

​Tiba-tiba, dari dalam spion itu, terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Ting... ting... ting...

​Della tersentak mundur. 

Di dalam pantulan kaca, sekarang ada seseorang yang duduk di salah satu kursi itu. Seorang pria tua dengan baju changshan abu-abu, memegang sebuah spion motor yang identik dengan milik Della.

​Pria itu menoleh ke arah "kamera" ke arah Della dan tersenyum.

​"Daripada sibuk mencari jawaban di jalanan, kenapa tidak pulang ke meja makan, Cucu?"

​Suara itu terdengar sangat nyata di dalam kamar Della yang sunyi. Pria itu kemudian menaruh spionnya di atas meja, dan seketika itu juga, seluruh permukaan kaca spion di tangan Della menjadi gelap gulita.

​Della gemetar.

Ia baru menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan, Spion itu bukan sekadar benda yang ia temukan di sungai. Benda itu "memanggilnya" karena ia memiliki darah Tan.

​Malam itu, Della tidak bisa tidur. Ia terus terbayang-bayang pada piring kosong di rumah tua itu. Ia tahu, langkah selanjutnya bukan lagi soal menghindari hantu di jalanan, tapi soal menghadapi sejarah keluarganya yang sudah lama terkubur di bawah tanah merah Sukabumi.

1
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!