Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Gadis Kecil yang Cemburu
"Aduh ya Allah, anakku udah ilang kemana lagi ini?" Kata Sashi sambil geleng - geleng kepala.
Di rumah keluarganya, Ara cukup jarang bersamanya. Bayi mungil itu bersamanya saat sedang menyusu dan saat malam hari saja.
Sashi sebenarnya merasa bersyukur karena banyak orang yang membantu merawat putrinya hingga ia tak kesulitan dan sama sekali tak merasakan syndrom baby blues.
"Ibu... Ara di mana?" Tanya Sashi yang tadi meninggalkan Ara untuk mandi.
"Ara di bawa Mas Juna, Mbak." Jawab Shima yang melihat Arjuna membawa Ara ke rumahnya.
"Emang bener - bener ya, anak satu itu." Kata Sashi sambil berkacak pinggang dan geleng - geleng kepala.
Setiap pulang kerja, Arjuna pasti akan membawa Ara yang sudah mandi ke rumahnya. Menjelang magrib nanti, barulah ia akan mengembalikan Ara pada Sashi.
"Aku jadi gabut banget kalo di sini." Kata Sashi yang kemudian duduk di sebelah Shima dan menemani Adiknya itu bermain.
"Kok kamu gak tempat Mas Juna, Cim? Biasanya udah disana sama Mbak Meshwa." Tanya Sashi.
"Enggak ah, aku mainan di rumah aja. Tadi siang udah di sana." Jawab Shima.
Hingga beberapa hari berlalu, Shima lebih banyak berdiam diri di rumah. Ia pun tak sesemangat dulu saat menyambut kepulangan Arjuna, Aksa dan Saira.
Tapi malam itu, seusai sholat magrib, Shima datang ke rumah Arjuna. Tentu bersama Arjuna yang baru pulang dari Masjid. Begitu sampai, ia langsung mencari keberadaan Meshwa.
"Mas, Cima mau bobok sama Mbak Meshwa, boleh gak?" Tanya Shima.
"Boleh. Ada apa loh, Nduk?" Tanya Arjuna yang menangkap keresahan di wajah Shima. Meshwa juga bercerita jika Shima tampak murung beberapa hari ini.
"Kenapa loh, Sayang? Kok kayaknya murung beberapa hari ini?" Meshwa ikut bertanya sambil menghampiri Arjuna dan Shima yang sedang tidur - tiduran di ranjang.
Shima masih diam, namun wajahnya berubah menjadi sendu. Netranya pun mulai berkaca - kaca.
"Semuanya lupa sama Cima, ya? Apa udah gak sayang lagi sama Cima?" Lirihnya dengan air mata yang perlahan menetes.
Mendengar pertanyaan Shima, tentu membuat hati Arjuna dan Meshwa mencelos. Terlebih gadis kecil itu bertanya sambil menangis.
Meshwa dan Arjuna saling menatap, mereka tentu mengerti arah pembicaraan Shima kali ini.
"Siapa yang lupa? Gak ada yang lupa lah, Sayang. Semua tetep Sayang sama Cima." Jawab Meshwa sambil mengusap air mata adik bungsunya.
"Sekarang pada nyariin Dek Ara, Cima udah gak di cariin lagi. Pada suka nungguin Dek Ara juga." Lirih Shima.
"Astaghfirullah. Ya Allah, Sayangku." Kata Arjuna. Ia tentu harus meluruskan pemikiran Adiknya agar tak salah paham.
"Gak ada yang lupa sama Cima kok, Sayang. Tiap Mas Juna pulang, yang Mas peluk duluan pasti Cima, bukan Dek Ara. Bopo sama Buna juga gitu, kan? Selalu peluk cium Cima dulu baru nyariin Dek Ara. Ayah sama Ibu juga, selalu Cima duluan yang di urus, baru Dek Ara. Mbak Aci juga, kalo Dek Ara gak di rumah, selalu temenin Cima main kan." Kata Arjuna sambil mengusap - usap kepala Adiknya.
Ia sedang memberi pengertian pada Shima yang nampaknya sedang cemburu dengan keberadaan Ara.
"Dek Ara kan masih bayi, belum bisa bicara, cuma bisa nangis. Dek Ara butuh perhatian khusus dari dari yang lebih tua, termasuk Cima juga. Dek Ara butuh kasih sayang yang banyak, biar merasa nyaman dan tumbuh jadi anak penyayang kayak Bulik Cima." Meshwa turut memberi pengertian.
"Kalo Dek Ara banyak di sayang, nanti Dek Ara juga jadi penyayang. Kalau Bulik Cima sayang sama Dek Ara, nanti Dek Ara juga pasti lebih sayang sama Bulik Cima." Imbuh Meshwa kemudian.
Shima pun terdiam, berusaha mencerna nasihat dari Arjuna dan Meshwa. Gadis kecil itu tampak sedang berpikir keras, hingga dahinya berkerut.
"Gek mikir opo to, Cim. Koyok e kok leh uabot bebanmu. (Mikir apa to, Cim. Kayaknya kok berat banget bebanmu)." Kekeh Arjuna sambil meluruskan dahi Shima yang berkerut.
"Jadi, semuanya masih sayang sama Cima, ya?" Tanya Shima.
"Iya lah. Semua masih sayang sama Cima. Coba deh Cima inget - inget, Mas Juna kalo punya jajan, siapa yang di kasih? Cima, kan? Kak Gama kalo dateng juga, siapa yang di bawain oleh - oleh? Cima juga kan?." Kata Arjuna yang di jawab anggukan oleh Shima.
"Semuanya sayang banget sama Cima, gak ada yang berubah. Sekarang, waktunya Cima juga berbagi kasih sayang sama Dek Ara, biar Dek Ara juga bahagia kayak Cima karena di sayang semua orang." Timpal Meshwa yang di jawab anggukan oleh Shima.
"Cima sayang kok, sama Dek Ara. Cima seneng kalo di suruh nemenin Dek Ara." Kata Shima.
"Harus gitu, dong. Nanti pasti Dek Ara sayangnya banyak banget sama Bulik Cima, karena Bulik Cima yang sering nungguin Dek Ara." Ujar Meshwa sambil tersenyum.
"Gak boleh sedih lagi, ya. Semua selalu sayang sama Cima kok." Imbuh Arjuna sambil mencubit gemas pipi adiknya.
"Ih! Mas Juna katanya sayang, tapi kok cubit - cubit, kan sakit!" Kesal Shima.
"Mas Juna ih! Kebiasaan deh." Omel Meshwa sambil mencubit pipi Arjuna yang justru tertawa.
"Maaf... Maaf..." Kekeh Arjuna.
"Bulik Cima harus sayang sama Dek Ara, ya. Gak boleh iri sama Dek Ara. Bulik Cima dulu waktu bayi juga kayak Dek Ara. Semuanya berebut mau gendong Bulik Cima." Cerita Arjuna.
"Emangnya iya, Mas?" Tanya Shima.
"Iyalah. Dulu setiap pagi semua berebut mau gendong. Berebut mau mandiin juga. Kalo sore, pasti berebut lagi. Malah waktu itu sampe di bikinin jadwal sama Ayah, pagi ini sama Buna, nanti sore main sama Dipta, gitu." Kata Arjuna.
"Lebih rame ya, Mas?" Tanya Shima yang kini sudah tampak lebih ceria.
"Iya dong. Dipta sama Nala kan masih di sini. Om Raka sama Mbah Kung juga belum pindah. Jadi lebih seru lagi berebut Cima bayi." Kekeh Arjuna yang mengingat - ingat masa itu.
"Dek Ara sama kayak Cima, ya. Di rebutin orang - orang." Kekeh Shima.
"Iya. Makanya Cima gak boleh sedih, ya. Kan Cima dulu udah pernah jadi rebutan orang - orang." Kata Meshwa yang di jawab anggukan oleh Shima.
"Lagi pula, Dek Ara kan gak lama di sini. Nanti kalo udah selapan, Dek Ara pulang ke rumahnya. Jadi kangen deh kita, karena jauh sama Dek Ara." Kata Arjuna.
Arjuna dan Meshwa akhirnya bisa bernafas lega. Untung saja mereka cepat menyadari perubahan sikap Shima dan bisa segera memberi pengertian hingga kecemburuan Shima tak berlarut - larut.
"Mas, anterin Cima pulang." Pinta Shima.
"Lho, tadi katanya mau bobok sama Mbak Meshwa?" Tanya Meshwa.
"Cima mau bobok sama Dek Ara aja. Nanti kalo Dek Ara pulang, Cima gak bisa lihat Dek Ara tiap hari." Jawab Shima.
"Gak boleh, tidur aja di sini sama Mas Juna, sama Mbak Meshwa." Kata Arjuna sambil mendekap erat Shima hingga anak kecil itu berteriak - teriak.