NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:830
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benturan seragam dan sumpah di lorong rumah sakit

Lorong rumah sakit itu berbau karbol yang tajam, sangat kontras dengan hangatnya persahabatan mereka beberapa jam lalu. Bagas Putra duduk di kursi tunggu besi dengan pandangan kosong. Kaosnya masih sedikit kotor karena aksi penyusupan di rumah Gia, tapi pikirannya sudah berada di tempat lain.

Di ujung lorong, ayah Bagas—Pak Surya, seorang perwira polisi yang biasanya tampak gagah dengan seragam cokelatnya—kini terlihat rapuh. Beliau berdiri menyandar di dinding, menatap ruang operasi tempat istrinya sedang berjuang hidup.

"Yah," panggil Bagas lirih.

Pak Surya menoleh. Matanya merah. "Supir itu... dia menyerahkan diri, Gas. Tapi dia punya pengacara yang datang lebih cepat daripada ambulans yang jemput Ibu kamu. Mereka bilang itu 'murni kecelakaan rem blong'."

Bagas mengepalkan tinjunya sampai buku-bukunya memutih. "Itu supir Pak Gunawan, Yah. Ayahnya Laras. Ini bukan kecelakaan. Ini peringatan buat kita karena kita ikut campur urusan dia."

Pak Surya menghela napas berat, sebuah desahan yang penuh beban jabatan. "Ayah tahu. Tapi secara hukum, posisi kita sulit. Pak Gunawan punya koneksi yang jauh di atas pangkat Ayah. Atasan Ayah sudah menelepon... mereka bilang jangan memperpanjang masalah ini kalau mau posisi Ayah aman."

Dewi Laras yang baru saja sampai bersama Eno, Gia, Rhea, dan Juna, mendengar percakapan itu dari balik pilar. Jantung Laras serasa berhenti berdetak. Ayahnya tidak hanya jahat; ayahnya adalah monster yang berani menyentuh keluarga seorang polisi demi kekuasaan.

Laras memberanikan diri mendekat. "Bagas... Pak Surya..."

Bagas mendongak. Saat matanya bertemu dengan mata Laras, ada kilatan amarah yang belum pernah Laras lihat sebelumnya. Bukan amarah pada Laras, tapi amarah pada darah yang mengalir di tubuh Laras.

"Ras," suara Bagas terdengar dingin, setajam es. "Kenapa bokap lo harus sejahat itu? Nyokap gue cuma mau nganter kue, Ras. Dia nggak tahu apa-apa soal urusan kita."

"Gue... gue minta maaf, Gas. Gue nggak tahu dia bakal senekat itu," isak Laras.

"Minta maaf nggak bakal bikin Ibu gue keluar dari ruang operasi tanpa luka," sahut Bagas pendek. Dia berdiri, melewati Laras tanpa menoleh.

Suasana persahabatan mereka yang biasanya penuh tawa, kini retak di tengah lorong rumah sakit. Gia Kirana, meski baru saja mengalami trauma sendiri, mencoba menengahi. "Gas, jangan emosi sama Laras. Dia juga korban di sini. Lo tahu sendiri Laras benci sama bokapnya."

"Gue tahu!" bentak Bagas, membuat seisi lorong menoleh. "Gue tahu! Tapi setiap kali gue lihat muka Laras, gue diingetin sama orang yang hampir ngebunuh Ibu gue! Kasih gue waktu!"

Bagas berjalan menjauh menuju taman rumah sakit. Laras terduduk di lantai, menangis sejadi-jadinya. Rhea dan Eno langsung memeluknya.

"Ini udah keterlaluan," bisik Eno, wajahnya yang biasanya jenaka kini terlihat sangat gelap. "Pak Gunawan udah main nyawa. Kita nggak bisa cuma main kucing-kucingan lagi."

Juna Pratama membuka laptopnya di kursi tunggu. "Kalau hukum nggak bisa nyentuh dia karena koneksi ayahnya Bagas ditekan, kita pake cara lain. Gue bakal bongkar semua aliran dana perusahaan dia. Gue bakal cari di mana titik kelemahannya. Dia pikir dia bisa bungkam polisi, tapi dia nggak bisa bungkam internet."

Di bawah lampu rumah sakit yang berkedip, geng "Enam Serangkai" kini berada di titik nadir. Mereka tidak lagi hanya berjuang untuk uang kuliah atau rahasia keluarga. Mereka sedang berjuang melawan kekuasaan yang bisa menghancurkan hidup mereka dalam sekejap.

Malam itu, Bagas berdiri di bawah hujan gerimis di taman rumah sakit. Dia melihat ke langit, bersumpah dalam hati. Jika seragam ayahnya tidak bisa memberikan keadilan karena ditekan oleh kekuasaan, maka dia sendiri yang akan menyeret Pak Gunawan jatuh, tidak peduli jika itu berarti dia harus kehilangan Laras dalam prosesnya.

Persahabatan mereka kini menjadi taruhan. Sebuah drama besar sedang bersiap untuk meledak, di mana cinta dan dendam akan bertabrakan di satu titik yang sama.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!