Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — Permainan yang Sama
“Indah sekali, bukan, Phantom? Keheningan sebelum semuanya hancur berantakan?”
Suara Rook mengalir di earpiece Leon dengan kejernihan yang menyakitkan telinga, seolah pria itu sedang berdiri tepat di belakangnya, bukan di atas atap bangunan tua yang terpisah jarak puluhan meter. Frekuensi yang seharusnya terenkripsi ganda itu kini terasa telanjang, ditembus tanpa permisi oleh sang pemburu.
Leon tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung di samping motornya, membiarkan tubuhnya menjadi bagian dari bayangan aspal Distrik 6. Matanya tetap terkunci pada sosok yang duduk santai di tepian atap di seberang jalan, siluet yang tampak begitu angkuh di bawah pendar bulan pucat.
“Frekuensi ini tertutup, Leon!” Suara Gray tiba-tiba meledak di lini komunikasi yang sama. Ada nada panik yang jarang terdengar dari sang peretas. “Aku bersumpah, aku tidak pernah membuka aksesnya ke jaringan luar. Dia melakukan bypass langsung lewat satelit!”
Rook tertawa kecil, suara yang serak dan penuh ejekan. “Tenang saja, Gray. Sistemmu sebenarnya cukup bagus. Sangat mengesankan untuk standar seorang pecundang di Distrik 6. Hanya saja… kode-kodemu tidak cukup rumit untuk menghentikanku.”
Leon akhirnya membuka suara, memutus tawa Rook. “Turun.”
Hanya satu kata. Dingin, tajam, dan mengandung otoritas yang bisa membuat pria biasa gemetar. Itu bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah perintah eksekusi yang tertunda.
Rook tidak bergerak. Ia justru mengayunkan satu kakinya yang menggantung bebas di tepian atap, seolah-olah ketinggian sepuluh lantai itu hanyalah bangku taman yang nyaman. Ia memiringkan kepalanya, menatap Leon dari kejauhan dengan mata yang berkilat penuh kemenangan.
“Kenapa begitu terburu-buru, kawan lama?” tanya Rook ringan. “Kau takut aku akan turun ke bawah sana dan menyapa dokter kecilmu yang manis itu? Alice, bukan? Nama yang cantik untuk seseorang yang terjebak di tempat sampah seperti ini.”
Leon tidak membalas secara verbal, namun bahunya sedikit menegang. Genggamannya pada setang motor mengencang hingga sarung tangan kulitnya berderit pelan. Pikirannya langsung melesat pada pintu klinik di belakangnya, membayangkan Alice yang mungkin sedang mencuci tangan atau merapikan berkas, sama sekali tidak sadar bahwa maut sedang duduk santai di atap seberang.
Rook memperhatikan perubahan kecil pada bahasa tubuh Leon. Senyumnya melebar di balik kegelapan.
“Aku sangat suka ini,” gumam Rook pelan, suaranya mengandung kekaguman yang aneh. “Sang Phantom yang biasanya memburu dalam diam, sang malaikat maut yang tidak pernah meninggalkan jejak… sekarang berdiri diam seperti anjing penjaga pintu yang setia. Benar-benar sebuah degradasi karier yang menarik.”
Leon mengencangkan rahangnya, mencoba meredam amarah yang mulai membakar dadanya. “Ini bukan urusanmu, Rook. Pergilah sebelum aku membuatmu menyesal telah menginjakkan kaki di distrik ini.”
Rook mengangkat alisnya tinggi-alih, seolah-olah ia baru saja mendengar lelucon terbaik tahun ini. “Salah besar, Phantom. Segala sesuatu yang memiliki nilai buronan tujuh juta kredit di atas kepalanya… selalu menjadi urusanku. Dan kau tahu betul bagaimana cara kerja dunia kita.”
Sunyi kembali menguasai jalanan. Di kejauhan, lampu jalan berdengung rendah, sesekali mengeluarkan percikan api kecil sebelum meredup lagi. Angin malam yang membawa aroma oli dan aspal lembap menggesek dinding-dinding bangunan tua, menciptakan suara desis yang tidak menyenangkan.
“Kau tidak akan menyentuhnya,” kata Leon datar. Suaranya tidak lagi mengancam, melainkan menyatakan sebuah fakta absolut.
Rook tertawa lagi, kali ini lebih keras. “Kau mengatakannya seperti sebuah perintah suci. Bukan seperti permohonan dari seseorang yang sedang terdesak.” ia sedikit menunduk, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga nyaris jatuh dari atap. “Padahal, posisi kita sekarang sangat berbeda, bukan?”
Leon mengangkat kepalanya sedikit, menatap lurus ke arah visor helm Rook yang gelap. Matanya kini benar-benar tajam, memancarkan kedinginan yang sanggup membekukan udara di sekitarnya. “Coba saja langkah satu inci ke arah klinik itu, dan kau akan tahu bagaimana rasanya mati sebelum sempat berkedip.”
Rook tidak merasa tersinggung oleh ancaman itu. Justru, ia terlihat semakin tertarik, seperti seorang ilmuwan yang sedang mengamati reaksi kimia yang tidak terduga.
“Lihat itu,” gumam Rook pelan pada dirinya sendiri, namun suaranya tetap terdengar di earpiece. “Nada suaramu berubah drastis. Ada getaran di sana yang belum pernah kudengar selama sepuluh tahun kita saling mengenal.”
Leon tetap membisu, membiarkan Rook terus bicara.
“Biasanya kau tidak bicara sebanyak ini, Phantom. Kau tidak pernah membuang napas untuk ancaman verbal… kecuali jika kau benar-benar peduli pada apa yang kau lindungi,” lanjut Rook dengan nada yang kini lebih serius.
Keheningan yang berat menyelimuti mereka selama beberapa detik yang terasa abadi. Lalu, Rook berdiri dari posisinya. Ia melakukannya dengan sangat perlahan, dengan ketenangan seorang pria yang tahu bahwa ia memegang semua kartu as di tangannya. Ia berdiri tegak di tepi atap, menantang angin malam yang kencang.
“Aku penasaran,” kata Rook, suaranya kini terdengar jauh lebih dalam.
Leon menunggu, setiap otot di tubuhnya siap untuk meledak dalam aksi jika Rook membuat gerakan mencurigakan.
“Apa yang sebenarnya membuatmu berhenti menjadi Phantom? Apa yang membuat mesin pembunuh paling efisien di Valmere mendadak memiliki hati?” tanya Rook.
Leon menjawab singkat, suaranya sedingin es di kutub utara. “Aku tidak pernah berhenti.”
Rook tersenyum tipis. “Oh, kau memang masih membunuh. Aku melihat bagaimana kau menghabisi lima orang tadi dengan sangat efisien. Gerakanmu masih bersih, cepat, dan tanpa ragu sedikit pun.”
Leon sedikit menyipitkan matanya, menyadari bahwa Rook telah mengawasinya sepanjang malam.
“Tapi ada yang berbeda sekarang,” lanjut Rook sambil berjalan mondar-mandir di atas atap. “Dulu kau seperti pisau yang dilempar ke kegelapan. Kau tidak peduli apa yang kau tusuk, selama kontraknya terpenuhi. Kau adalah kehampaan yang berjalan.”
Ia berhenti melangkah dan menatap langsung ke arah Leon yang berada jauh di bawah. “Sekarang… kau mulai memilih siapa yang tidak boleh terluka. Kau mulai menetapkan batas. Dan di dunia kita, sebuah batas adalah sebuah kelemahan.”
“Turun sebelum aku yang naik dan menyeretmu ke aspal,” ancam Leon lagi, suaranya kini lebih berat oleh tekanan emosi yang tertahan.
Rook menoleh, senyumnya tidak memudar sedikit pun. “Ancaman lagi? Kau benar-benar sudah berubah, kawan lama. Kau jauh lebih emosional sekarang.”
Leon tidak menjawab, namun ia melangkah maju satu langkah ke tengah jalan. Satu gerakan kecil yang menandakan kesabarannya telah mencapai titik batas. Rook melihat gerakan itu dan menghela napas panjang, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan anak kecil yang sedang merajuk.
“Baiklah, baiklah,” kata Rook sambil mengangkat kedua tangannya sedikit, menunjukkan bahwa ia tidak memegang senjata. “Aku akan pergi. Tapi sebelum itu… aku ingin memberimu satu informasi kecil sebagai hadiah reuni kita.”
Leon tidak memberikan reaksi fisik, namun seluruh fokusnya kini terpusat pada kata-kata yang akan keluar dari mulut Rook.
Rook berkata dengan nada yang sangat ringan, seolah-olah ia sedang membicarakan cuaca. “Aku sudah masuk ke dalam klinik itu tadi pagi.”
Dunia seolah berhenti berputar bagi Leon. Keheningan yang menyusul kata-kata itu terasa begitu pekak, hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman drum di telinganya. Leon tidak bergerak, tidak berbicara, namun sorot matanya berubah drastis—lebih gelap, lebih tajam, dan penuh dengan aura pembunuhan yang murni.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Leon. Suaranya tetap datar, namun ada nada berbahaya yang sangat kental di dalamnya.
Rook tersenyum puas, menikmati kehancuran ketenangan Leon. “Tidak banyak. Aku hanya duduk di sana, bicara sedikit, dan berpura-pura sakit seperti warga Distrik 6 lainnya. Kursi di ruang tunggunya agak tidak nyaman, kau harus menyuruhnya mengganti itu.”
Leon menahan napasnya, mencoba menekan dorongan untuk langsung menyerbu ke dalam klinik dan memeriksa keadaan Alice. “Dia tidak tahu siapa kau.”
Rook menggelengkan kepalanya pelan. “Tentu saja tidak. Dia dokter yang sangat berdedikasi. Dia bahkan memeriksaku dengan sangat teliti, memberiku beberapa obat pereda nyeri, dan tersenyum padaku seolah aku adalah manusia biasa.” Rook tertawa kecil, suara yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Leon. “Dia sangat naif, Phantom. Sangat mudah untuk dihancurkan.”
Rahang Leon mengeras hingga sendi-sendinya terasa sakit. “Kalau kau menyentuhnya seujung kuku pun—”
“Aku tidak menyentuhnya,” potong Rook dengan cepat. Nada suaranya berubah menjadi lebih serius dan dingin. “Karena membunuhnya sekarang akan terlalu membosankan. Aku ingin melihat seberapa jauh kau akan melangkah demi wanita itu. Aku ingin melihat bagaimana sang Phantom merangkak di tanah hanya untuk satu nyawa yang tidak berarti.”
Leon terdiam, membiarkan kata-kata Rook meresap ke dalam sanubarinya.
“Ini bukan tentang kontrak tujuh juta kredit itu lagi, Phantom,” kata Rook sambil menunjuk ke arah dada Leon. “Ini tentangmu. Ini tentang membuktikan bahwa tidak ada tempat bagi orang sepertimu untuk memiliki sesuatu yang berharga.”
Angin malam terasa semakin menusuk tulang. Gray berbicara pelan di earpiece, suaranya hampir tidak terdengar. “Leon… jangan dengarkan dia. Dia sedang memancingmu agar kau melakukan kesalahan.”
Leon tidak memberikan tanggapan pada Gray. Matanya tetap terkunci pada Rook.
“Aku ingin melihat kapan kau retak,” lanjut Rook sambil melangkah mundur perlahan menuju sisi lain atap, tempat motornya terparkir di area bayangan. “Aku ingin melihat saat di mana kau harus memilih antara misimu atau nyawa dokter itu. Saat itulah, kau akan berhenti menjadi mesin… dan mulai menjadi manusia yang hancur.”
Leon berkata dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan maut. “Aku tidak berubah, Rook. Dan kau baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu dengan masuk ke klinik itu.”
Rook tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum mengenakan helmnya. “Kau berdiri di sana sejak tadi tanpa bergerak, hanya untuk memastikanku tidak turun ke bawah. Itu sudah cukup menjawab apakah kau berubah atau tidak.”
Beberapa detik berlalu dalam ketegangan yang memuncak. Rook kemudian mengambil helmnya dan memakainya dengan gerakan yang elegan. “Tenang saja, Phantom. Aku tidak akan membunuhnya malam ini. Terlalu banyak saksi, dan aku sedang tidak ingin mandi darah.”
Leon tidak terlihat lega sedikit pun. Ia tahu bahwa janji seorang pembunuh seperti Rook tidak lebih berharga dari debu di jalanan.
“Itu yang membuat permainan ini menyenangkan,” kata Rook melalui radio, suaranya teredam oleh helm namun tetap terdengar mematikan. “Menunggu saat yang paling tepat untuk memetik bunganya.”
Rook naik ke atas motor sport-nya. Mesin meraung dengan suara berat yang menggetarkan kaca-kaca bangunan di sekitarnya. Ia menoleh terakhir kali ke arah Leon melalui visor gelapnya.
“Mari kita lihat, Phantom…” Rook memutar gasnya, menciptakan raungan yang membelah malam.
“…berapa lama lagi kau bisa menjaga targetmu tetap hidup sebelum aku datang untuk menagihnya?”
Motor itu meluncur turun lewat jalur akses darurat di sisi bangunan, menghilang ke dalam labirin kegelapan Distrik 6 secepat kilat. Sunyi kembali menyelimuti area Klinik Arden, namun kali ini kesunyian itu terasa jauh lebih mengancam dari sebelumnya.
Leon tetap berdiri di tempatnya selama beberapa menit. Ia tidak bergerak sedikit pun, matanya masih tertuju pada atap kosong di mana Rook tadi berdiri. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai skenario buruk, masing-masing lebih berdarah dari yang lain.
Gray berbicara pelan, suaranya terdengar sangat khawatir. “Leon… dia sudah masuk terlalu dalam ke dalam pikiranmu. Dia tahu titik lemahmu sekarang.”
Leon menarik napas panjang, mencoba mengembalikan kontrol penuh atas emosinya. “Ya. Dia tahu.”
“Apa langkahmu sekarang?” tanya Gray setelah jeda yang cukup lama. “Kita tidak bisa hanya diam dan menunggu dia menyerang lagi. Dia akan datang dengan kekuatan penuh lain kali.”
Leon menoleh ke arah pintu klinik. Di dalam sana, lampu masih menyala terang. Alice masih ada di sana, terjebak dalam dunianya yang penuh dengan pengabdian dan kebaikan, tanpa tahu bahwa dia baru saja menjadi pusat dari sebuah badai yang sangat mematikan.
Leon berkata pelan, suaranya kini mengandung ketajaman yang belum pernah didengar Gray sebelumnya. “Kita percepat semuanya.”
Gray terdiam sejenak di seberang sana, terdengar suara ketukan jari yang ragu-ragu di atas meja. “Percepat apa, Leon? Kita bahkan belum tahu siapa pemberi kontrak yang sebenarnya di balik Helix.”
Leon menoleh ke arah jalanan yang gelap, matanya berkilat dengan intensitas yang mengerikan. Seluruh keraguan yang sempat muncul tadi kini telah sirna, digantikan oleh tekad yang sedingin baja.
“Permainannya.”