Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Cindy
"Kondisi Nona Cindy sudah melewati masa kritis," jelas dokter sambil membuka papan catatannya. "Ada benturan di kepala, tapi syukurlah tidak ada pendarahan dalam. Namun, benturan keras di bagian kaki kanan menyebabkan patah tulang femur yang cukup parah. Kami sudah melakukan tindakan darurat, dan kemungkinan besar Nona Cindy harus menjalani operasi pemasangan pen besok pagi."
Tante Martha langsung menutup mulut, terisak dramatis. "Kakinya? Ya ampun, Cindy itu hobi koleksi sepatu mahal, Dok! Bagaimana kalau dia pincang?"
"Kami akan berusaha sebaik mungkin melalui fisioterapi nanti, Bu," jawab dokter sabar sebelum akhirnya pamit kembali ke dalam ruangan.
Tak lama setelah penjelasan dokter berakhir, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar dari ujung koridor. Kakek William datang dengan wajah yang nampak lebih tua dari biasanya, didampingi oleh asisten setianya.
Melihat kedatangan sang kepala keluarga, ketiga tante itu langsung bungkam. Tante Sofia yang tadinya galak menyerang Yumna, kini menunduk khidmat. Kakek hanya melirik sekilas ke arah anak-anaknya, lalu tatapannya tertuju pada Evander dan Yumna.
"Bagaimana?" tanya Kakek singkat.
"Kaki kanannya patah, Kek. Harus operasi besok," jawab Evander tenang.
Kakek William menghela napas panjang, lalu duduk di kursi tunggu yang dingin. "Kecerobohan yang mahal. Biarkan dia di sini dulu. Jangan ada yang mengganggunya sampai dia benar-benar sadar."
Waktu pun berlalu dengan sangat lambat. Jarum jam di dinding rumah sakit seolah bergerak malas. Suasana yang tadinya penuh teriakan kini berubah menjadi keheningan yang menyesakkan. Kakek William tampak termenung, sementara para tante sibuk dengan ponsel mereka di sudut lain.
Yumna, yang sejak pagi sudah terkuras energinya karena konferensi pers dan drama asisten pribadi, mulai merasa kelopak matanya seberat timbangan. Ia duduk di samping Evander, mencoba tetap tegak agar terlihat sopan di depan Kakek. Namun, gravitasi berkata lain.
Kepala Yumna mulai miring ke kanan, lalu tegak lagi. Miring lagi ke kiri, lalu tersentak bangun. Sampai akhirnya, rasa kantuk itu menang telak. Tanpa sadar, kepalanya rebah dan mendarat dengan sempurna di bahu kokoh Evander.
Evander sempat menegang. Ia melirik istrinya yang sudah memejamkan mata dengan napas yang mulai teratur. Harum stroberi dari rambut Yumna menggelitik indra penciumannya.
Evander menoleh ke arah Kakek, khawatir pria tua itu akan menganggap Yumna tidak sopan. Namun, Kakek William justru sedang memperhatikan mereka dengan seulas senyum tipis yang penuh arti. Kakek memberi isyarat dengan tangannya agar Evander tidak perlu membangunkan Yumna.
Melihat kode dari Kakek, Evander pun perlahan-lahan mengendurkan bahunya. Ia justru sedikit memiringkan kepalanya, membiarkan Yumna bersandar lebih nyaman. Tangan Evander yang bebas diam-diam menggenggam ujung dress Yumna, memastikan istrinya itu tidak merosot jatuh.
Pintu kamar perawatan VIP itu terbuka perlahan. Aroma antiseptik yang tajam menyambut indra penciuman mereka saat melangkah masuk. Cindy terbaring lemah di atas ranjang dengan kaki kanan yang digantung menggunakan penyangga traksi. Wajahnya yang biasa dipoles make-up mahal kini terlihat pucat dan bengkak, sisa-sisa tangis masih membekas di sudut matanya.
Yumna, yang tadi hampir terlelap di bahu Evander, kini sudah terbangun sepenuhnya. Ia berjalan mengekor di belakang Evander dan Kakek William. Ada rasa canggung yang luar biasa, di satu sisi ia merasa kasihan, namun di sisi lain ia tahu bahwa drama keluarga Moreno tidak pernah sesederhana kelihatannya.
Kakek William berdiri di sisi ranjang. Ia tidak langsung memeluk atau mengelus dahi cucunya. Pria tua itu berdiri tegak, menatap Cindy dengan pandangan yang sulit diartikan, antara iba dan kecewa yang mendalam.
"Kenapa kamu nekat membawa mobil sendiri, Cindy?" suara Kakek William memecah keheningan, berat dan berwibawa. "Rumah ini penuh dengan sopir yang digaji untuk memastikan keselamatanmu. Kenapa harus menyetir sendiri seperti orang yang tidak punya arah?"
Mendengar suara Kakek, tangis Cindy pecah seketika. Ia mencoba duduk namun meringis kesakitan karena kakinya yang patah. Tante Martha langsung sigap membantu menyandarkan punggung anaknya di bantal.
"Kek..." suara Cindy serak, ia mulai terisak dengan nada yang sangat dramatis. "Aku... Aku cuma merasa sendirian. Biasanya ada Desta yang selalu siap sedia. Kemanapun aku pergi, Desta selalu ada di kursi depan. Dia yang paling tahu jalan, dia yang paling tahu kapan aku lelah."
Cindy melirik sekilas ke arah Yumna dengan tatapan benci yang tertutup air mata, lalu kembali menatap Kakek dengan wajah memelas.
"Sejak Desta Kakek pindahkan jauh ke Kalimantan... aku merasa kehilangan tangan kanan. Aku harus mengurus semuanya sendiri, menyetir sendiri di tengah kemacetan, padahal pikiranku sedang kacau karena masalah di kantor. Tadi di jalan... aku merasa pusing, tanganku gemetar karena kangen Desta. Aku nggak konsentrasi, Kek. Semuanya gelap!"
Yumna yang mendengar itu hampir saja memutar bola matanya. Kangen Desta, makanya gak konsentrasi, makanya terlibat kecelakaan beruntun? Kreatif banget alasannya, batin Yumna. Namun, ia memilih diam dan tetap memasang wajah prihatin.
Cindy meraih tangan Kakek William dengan jemarinya yang gemetar. "Kek, aku mohon... aku nggak minta jabatan Manajer itu balik sekarang. Tapi tolong, tarik Desta kembali ke Jakarta. Aku butuh dia untuk menjagaku selama masa pemulihan ini. Kakiku patah, Kek! Aku nggak bisa jalan! Siapa yang mau bantuin aku kalau bukan Desta?"
Tante Martha ikut menimpali sambil mengusap air mata, "Benar, Pa. Kasihan Cindy. Kalau ada Desta, setidaknya ada orang kepercayaan yang bisa menjaga dia 24 jam. Kita semua kan sibuk, tapi Desta... dia sudah seperti bagian Cindy."
Suasana ruangan menjadi sangat tegang. Kakek William terdiam, matanya menatap tajam ke arah jendela, seolah sedang menimbang-nimbang permintaan cucunya.
Evander, yang sejak tadi hanya diam, tiba-tiba berdehem.
"Kek, memulangkan Desta hanya karena Cindy tidak bisa menyetir sendiri itu tidak masuk akal," ucap Evander dingin. "Kita bisa menyewa perawat profesional atau sopir baru. Desta di Kalimantan sedang menjalani konsekuensi atas tindakannya."
Cindy menjerit kecil, "Kak Evander jahat! Kakak sudah punya Yumna yang manjain Kakak setiap hari, sedangkan aku? Aku sendirian, sakit, dan Kakak masih mau menghukum aku lewat Desta?"
Yumna yang merasa namanya dibawa-bawa, merasa perlu meluruskan sesuatu sebelum drama ini semakin menjadi-jadi. Ia maju selangkah, mencoba bicara dengan nada yang paling lembut namun tetap "menyentil".
"Maaf, Cindy... tapi setahu aku, Desta dipindahkan ke Kalimantan itu kan perintah Kakek agar dia belajar tanggung jawab. Kalau baru sebentar sudah ditarik lagi, nanti Mas Desta nggak jadi pintar dong? Lagipula, kalau soal jaga-jaga... kan ada Tante Martha dan para perawat. Kalau Mas Desta yang jaga, emangnya dia bisa bantuin fisioterapi kaki?"
Cindy mendelik tajam ke arah Yumna. "Kamu tahu apa soal kebutuhanku, Yumna?! Kamu itu cuma orang asing yang kebetulan beruntung!"
"Cukup!" Kakek William mengangkat tangannya, membungkam perdebatan itu.
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...