Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjijikkan
Yumna menyunggingkan senyum miring, sebuah tawa hambar yang lebih terasa seperti hinaan keluar dari bibirnya. Ia menatap Desta dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang sangat merendahkan, membuat pria di hadapannya itu merasa telanjang di bawah sorot lampu taman.
"Ck, kamu tahu gak, Desta? Aku baru saja sadar..." Yumna menjeda kalimatnya, melangkah maju satu langkah sehingga jarak mereka cukup dekat untuk Desta melihat binar kebencian di mata Yumna. "Ternyata kamu itu menjijikkan. Benar-benar menjijikkan."
Desta tertegun, wajahnya yang tadi penuh percaya diri mendadak pias. "Yum, aku ngomong begini karena aku sayang—"
"Sayang?" potong Yumna dengan nada tinggi yang tajam. "Sayang itu bukan pakai uang perusahaan buat manjain perempuan lain sambil biarin tunanganmu sendiri jungkir balik bayar cicilan motor. Sayang itu bukan balik lagi pas kamu lihat aku sudah jadi Nyonya Moreno dan tiba-tiba mau jadi 'pahlawan kesiangan'!"
Yumna tertawa mengejek, suaranya menggema di keheningan taman. "Tadi kamu bilang apa? Mau ambil harta Moreno terus lari bareng aku? Mas, denger ya. Kamu itu bukan cuma penipu, tapi kamu itu nggak punya harga diri. Kamu mau makan dari tangan perempuan yang kamu khianati, lewat harta keluarga pria yang sekarang jadi suamiku? Gila ya, urat malu kamu kayaknya sudah putus sejak di Kalimantan."
Desta mencoba meraih lengan Yumna. "Yumna, dengerin dulu! Evander itu cuma manfaatin kamu!"
"Terus kalau dia manfaatin aku, kenapa?!" bentak Yumna sambil menepis tangan Desta dengan kasar. "Paling enggak, Mas Evan manfaatin aku dengan cara yang berkelas! Dia kasih aku kehormatan, dia kasih aku perlindungan, dan dia nggak pernah minta aku bayarin cicilan motornya! Sedangkan kamu? Kamu cuma mau manfaatin aku buat jadi pelarian dari Cindy kalau rencana busukmu gagal."
Yumna mendekat ke telinga Desta, berbisik dengan nada yang sangat dingin hingga membuat Desta bergidik.
"Asal kamu tahu ya, Mas Desta. Dokumen apa pun yang kamu punya, atau rencana apa pun yang kamu susun sama Tante Martha... itu nggak akan mempan. Karena aku lebih milih jadi 'kontrak' seumur hidup sama pria sehebat Mas Evan, daripada jadi 'ratu' di dunia halu kamu yang penuh tipu daya."
Desta mematung, lidahnya kelu. Ia tidak menyangka Yumna yang dulu begitu lembut dan mudah ia setir, kini berubah menjadi singa betina yang sangat berwibawa.
"Sekarang, mending kamu balik ke kamar Cindy. Cuci kakinya, pijetin punggungnya, lakuin tugasmu sebagai 'asisten'. Karena buat aku, kamu itu nggak lebih dari sekadar debu yang nempel di sepatu mahalku malam ini."
Yumna berbalik pergi dengan langkah anggun, meninggalkan Desta yang berdiri mematung di tengah taman dengan wajah merah padam karena malu dan marah yang bercampur aduk.
Di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari sana, Evander yang mendengarkan setiap kalimat Yumna melalui alat penyadap, perlahan melepaskan earpiece-nya. Ia menyandarkan punggung, dan sebuah senyum bangga yang tulus muncul di wajahnya.
"Gadis pintar," gumam Evander. "Dia tidak butuh aku untuk memenangkan perang ini."
Desta tidak bergeming. Alih-alih merasa malu atau hancur setelah mendengar kata-kata pedas Yumna, sorot matanya justru semakin menajam. Ada kilatan ambisi yang tidak sehat di sana. Ia menatap punggung Yumna yang mulai menjauh dengan seringai tipis yang mengerikan.
"Hina saja aku sesukamu, Yum," gumam Desta pada kegelapan taman. "Tapi aku tahu kamu. Aku tahu hatimu. Kamu cuma lagi marah, kamu cuma lagi silau sama kemewahan sementara ini."
Dalam logika Desta yang sudah bengkok, ia merasa Yumna hanya sedang berakting. Ia sangat yakin bahwa cinta Yumna padanya selama bertahun-tahun tidak mungkin hilang hanya dalam hitungan bulan. Baginya, Yumna yang sekarang hanyalah "Yumna yang sedang membalas dendam" karena cemburu.
"Kamu pikir Evander itu pelabuhan terakhirmu? Kita lihat saja nanti," bisik Desta sambil mengepalkan tangan. "Aku akan naik lebih tinggi. Aku akan ambil alih posisi yang seharusnya jadi milikku di perusahaan ini melalui Cindy. Dan saat aku sudah berada di atas Evander, kamu pasti akan datang merangkak kembali padaku, karena cuma aku yang benar-benar tahu siapa kamu."
Rasa percaya diri yang delusional itu justru membuat Desta semakin bersemangat. Hinaan Yumna bukan menjadi titik balik untuknya bertobat, melainkan menjadi bahan bakar untuk rencana yang lebih licik. Ia tidak akan lagi menjadi sekadar "asisten" yang penurut. Ia akan menjadi parasit yang perlahan menggerogoti Moreno Group dari dalam.
Sementara itu, Yumna sampai di parkiran mobil dengan napas yang sedikit memburu. Begitu pintu mobil dibuka oleh Mahesa, ia langsung masuk dan duduk di samping Evander yang sedari tadi menunggunya dalam diam.
Yumna langsung melepas cardigan-nya dan mengipasi wajahnya dengan tangan. "Huh! Capek juga ya akting jadi antagonis. Mas Evan, denger nggak tadi? Aku keren banget kan?"
Evander menoleh, matanya menatap Yumna dengan intensitas yang berbeda. Ia tidak langsung menjawab. Pria itu justru meraih tangan Yumna, menggenggamnya erat seolah ingin memastikan bahwa wanita ini benar-benar ada di sisinya.
"Kamu terlalu berisiko, Yumna," ucap Evander rendah. "Tapi ya... kamu luar biasa. Kata-katamu tadi cukup untuk menghancurkan harga diri pria manapun."
Yumna nyengir, meski hatinya sedikit bergetar karena genggaman tangan Evander. "Harga diri dia mah sudah digadai, Mas. Tapi Mas, aku agak khawatir. Pas aku pergi tadi, aku sempat lirik dikit ke belakang. Mukanya itu... bukan muka orang kalah. Tapi muka orang yang lagi ngerencanain sesuatu yang lebih gila."
Evander melepaskan tangan Yumna, lalu menyalakan mesin mobil. "Biarkan saja. Singa tidak akan takut pada tikus yang sedang bermimpi jadi naga. Sekarang, tugasmu sudah selesai. Kita pulang."
"Eh, tunggu dulu!" Yumna menahan lengan Evander. "Mas lupa? Tadi kan janjinya kalau aku berhasil ngerjain dia, aku dapat hadiah. Aku sudah kerja keras loh, sampai tenggorokan kering maki-maki dia."
Evander melirik Yumna dari balik kacamata hitamnya yang ia kenakan kembali. "Kamu mau apa? Tas baru? Perhiasan lagi?"
Yumna menggeleng kuat. "Nggak mau itu semua. Aku mau Mas berhenti panggil aku pakai embel-embel 'Asisten' kalau kita lagi berdua. Dan satu lagi..."
"Apa?"
"Besok pagi, aku mau Mas yang buatkan aku kopi. Tanpa disuruh, tanpa alasan protokol perusahaan. Gimana? Deal?"
Evander terdiam sejenak, lalu sebuah tawa kecil, yang sangat jarang terdengar, keluar dari bibirnya. "Hanya itu? Kamu meminta CEO Moreno Group jadi barista pribadimu?"
"Itu namanya self-reward tingkat tinggi, Mas!"
"Baik. Deal," sahut Evander sambil melajukan mobilnya membelah malam Jakarta.
Tanpa mereka sadari, di lantai atas rumah sakit, Cindy berdiri di balik jendela kamarnya, memperhatikan mobil Evander yang pergi. Di sampingnya, Desta baru saja masuk dengan wajah yang kembali "manis".
"Desta, kamu dari mana saja?" tanya Cindy manja.
"Aku cuma cari udara segar, Cindy. Sambil memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa segera menyingkirkan 'hambatan' kita di keluarga ini," jawab Desta sambil mengelus tangan Cindy, namun matanya menatap tajam ke arah jalanan.