Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sweet As Poison, Strong As Addiction
Gemerlap lampu diskotek berpendaran dengan begitu liar, seolah-olah cahaya itu sedang berpesta pora di tengah kegelapan yang pekat. Lagu yang diracik sang DJ menyentakkan lantai dansa dengan dentuman bass yang mampu menggetarkan setiap inci fondasi gedung, menciptakan gelombang energi yang nyaris magis.
Ruangan itu tampak begitu hidup, kombinasi antara denyut musik yang sanggup merontokkan dinding, kerumunan manusia yang berdansa dalam euforia tanpa batas, serta dentingan botol-botol minuman mahal yang diacungkan tinggi-tinggi ke udara—seolah-olah setiap orang di sana baru saja berhasil menggenggam dunia dalam telapak tangan mereka.
Di tengah hiruk-pikuk yang memekakkan telinga itu, Damian Harding menengadah. Kepalanya tersandar lesu pada sandaran sofa kulit, membiarkan matanya bermandikan cahaya lampu yang berkerlap-kerlip dan berputar gila di langit-langit. Ia tertegun, seolah sedang menghitung bintang di tengah buaian alkohol yang entah sudah botol keberapa yang berhasil ia tandaskan.
Di sekelilingnya, para gadis yang tidak ia kenal berdansa dengan gerakan menggoda yang eksplisit, berusaha keras mencuri perhatian sang pangeran favorit mereka. Sudah terlalu lama Damian tidak menampakkan batang hidungnya di klub privat kawasan elit Portman Square ini, dan malam ini, kembalinya Damian adalah sebuah perayaan bagi mereka.
Seorang gadis berambut merah keriting panjang, mengenakan gaun pendek berkilauan yang nyaris tak mampu menutupi lekuk pahanya, menghempaskan diri dengan berani di sebelah Damian. Namun, Damian tidak sedikit pun berkutik. Ia bergeming, bahkan saat musik mencapai klimaks yang memicu sorak-sorai pengunjung lain.
"Fancy another drink, Darling?" bisik gadis itu. Suaranya berusaha menembus bising musik, seraya menggoyang-goyangkan sebotol bir di sisi wajah Damian. Ia benar-benar mengemis perhatian dari pemuda dengan pahatan wajah sesempurna dewa Olympus itu, berharap satu lirikan saja bisa jatuh padanya.
Tapi Damian tetap membatu. Ia tidak tahu apakah saat ini dirinya sudah berada di ambang mabuk berat yang menenggelamkan, atau ia justru masih memiliki kendali penuh atas kesadarannya. Namun yang pasti, fungsi otaknya masih bekerja dengan sangat tajam untuk memutar kembali setiap memori yang beberapa hari ini menghantuinya bak kutukan yang indah.
Ia ingat bagaimana gurat wajah Fraya saat sedang murka kepadanya—begitu keras kepala namun menggetarkan.
Ia ingat bagaimana mata cokelat itu berkaca-kaca, sebelum akhirnya gadis itu menyerahkan dua tetes air matanya tepat ke telapak tangan Damian.
Ia ingat tawa bahagia Fraya yang meledak saat pamer nilai ujian yang menyentuh angka 90.
Ia ingat bagaimana kelopak mata itu menutup rapat saat Fraya ketiduran di taman karena terlalu lama menunggunya selesai latihan Lacrosse.
Dan yang paling menyiksa... ia ingat, sangat ingat, bagaimana aroma tubuh gadis itu selalu menguar setiap kali mereka berdekatan. Sebuah simfoni wangi bunga segar yang dipadukan dengan vanila ringan—aroma yang sangat khas, aroma yang hanya milik seorang Fraya Alexandrea. Wangi itu seolah telah meresap ke dalam paru-parunya, membuatnya menyadari sebuah kenyataan pahit: ia selalu ingin berada di dekat gadis itu, menghirup aroma pada setiap inci tubuh Fraya yang lebih memabukkannya dari alkohol mana pun di dunia ini.
Damian memejamkan mata erat-erat, mengeluarkan desah parau yang sarat akan rasa frustrasi. Dalam hati ia mengutuk langit dan bumi yang seolah bersekongkol menghalangi langkahnya untuk lebih dekat dengan gadis itu.
Ia tidak tahu apa yang sedang ia rasakan. Ia takut menyimpulkannya, karena rasa ini adalah sesuatu yang asing, sesuatu yang tidak pernah hadir sebelum Fraya muncul dan mengacaukan segalanya. Terkutuklah Axel Rosewood dan semua rencana balas dendam konyol itu yang kini justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
"You alright, love?" tanya gadis berambut ginger di sebelahnya lagi, suaranya kini terdengar seperti rengekan yang menyedihkan di tengah dentuman musik.
Damian mengembuskan napas panjang, dan akhirnya ia menoleh. Namun, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok di hadapannya. Wajah yang selama beberapa hari ini menjajah pikiran dan mimpinya kini ada di sana. Gadis itu... tampak seperti Fraya. Tidak, dia memang Fraya.
Secara perlahan dan tanpa sadar, Damian duduk tegak. Matanya menatap tak percaya pada sosok yang kini berada tepat di sisinya. Fraya, mengenakan gaun kemilauan dengan potongan sangat pendek yang mengekspos paha mulus serta kaki jenjangnya yang legendaris itu.
Fraya bersandar di bahu kursi, melemparkan senyum menggoda yang sanggup membuat Damian menatapnya dengan binar keinginan yang primitif.
Gadis itu cantik, sialan sekali cantiknya. Tapi Fraya yang ia lihat malam ini... membuat Damian ingin mengumpat pada Tuhan karena telah menciptakan makhluk seindah Fraya Alexandrea namun meletakkannya di tempat yang begitu sulit ia jangkau.
"Kamu kenapa, Darling?" tanya Fraya dengan nada suara yang begitu lembut, seraya membelai pipi Damian. Sentuhan jemari itu dengan gilanya menggetarkan seluruh indra Damian, mengirimkan arus listrik yang mematikan ke seluruh sel tubuhnya.
Damian menyambar punggung tangan Fraya, membawa jemari lentur itu ke bibirnya dan mengecupnya dengan ciuman yang begitu dalam, seolah sedang memuja sesuatu yang sakral. Ia menghirup aroma dari tangan itu sedalam ia menciumi jemarinya, seolah ingin menghisap seluruh aroma yang ada dalam tubuh gadis itu agar menyatu dengan darahnya.
Fraya kemudian mendekat, menyandarkan sisi tubuhnya pada dada bidang Damian. Damian merasa seperti tersengat listrik bertegangan tinggi. Dalam satu gerakan impulsif yang penuh kuasa, tangannya merengkuh tubuh gadis itu dan membawanya ke atas pangkuannya. Tangan besar Damian mulai membelai punggung gadis itu dengan cara yang lembut namun menuntut, sementara bibirnya bergerak dengan rakus, melumat setiap inci bibir Fraya yang menyambutnya dengan balasan yang tak kalah panas.
Adrenalin Damian terpacu maksimal. Ia tidak memberikan celah sedikit pun bagi gadis dalam pelukannya untuk menghirup oksigen. Ia begitu takut jika ia melepaskannya barang sedetik saja, sosok itu akan lenyap seperti asap. Damian mencium Fraya dengan penuh kerakusan, lalu merebahkan tubuh gadis itu ke atas sofa empuk di sampingnya.
Tanpa memutuskan ciuman mereka yang kian liar, Damian menekan kuat tubuhnya di atas tubuh di bawahnya. Tubuh Fraya.
Gadis itu melenguh panjang, membisikkan nama Damian dengan nada yang begitu menggoda, membuat Damian dengan kesetanan menyentak kemeja hitam yang melekat di tubuhnya hingga terlepas.
Di sekitar mereka, beberapa gadis lain yang menyaksikan adegan panas itu langsung melarikan diri sesenyap mungkin, meninggalkan ruangan dengan pekikan iri yang tak mampu lagi mereka tutupi.
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit