Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Rahasia di Balik Spasi dan Tanda Baca
Pagi ini rasanya jauh lebih berat dari biasanya. Gue merasa kayak lagi jalan di atas hamparan kulit telur yang siap pecah kapan saja. Kejadian mati lampu kemarin sore masih membekas jelas di otak. Kalimat Genta soal "semen" itu terus terngiang-ngiang, bikin kuping gue panas. Tapi anehnya, begitu listrik nyala, Genta langsung balik jadi robot menyebalkan seolah-olah momen canggung tadi nggak pernah ada.
"Aruna, rapikan meja saya. Saya ada rapat di luar sama penulis senior selama dua jam," perintah Genta sambil menyambar tas kulitnya tanpa menoleh sedikit pun.
Begitu pintu ruangannya tertutup, gue langsung mendengus kencang. "Rapikan meja? Emangnya gue cleaning service?" gerutu gue. Tapi, jujur saja, rasa penasaran gue sekarang jauh lebih gede daripada rasa kesal. Ini kesempatan emas.
Gue mulai menyusun tumpukan naskah di mejanya yang super rapi itu. Tapi, mata gue mendadak terpaku pada sebuah notebook bersampul kulit cokelat yang sedikit terbuka. Di halaman itu, ada tulisan tangan yang sangat rapi.
Gue membacanya pelan, "Hati adalah spasi yang tidak pernah benar-benar kosong, ia menunggu tanda baca yang tepat untuk mengakhirinya atau melanjutkannya."
...Hati adalah spasi yang tidak pernah benar-benar kosong, ia menunggu tanda baca yang tepat untuk mengakhirinya atau melanjutkannya."...
...Kaka's...
Jantung gue mencelos. Gue kenal kalimat ini. Ini kutipan yang dikirimkan Kaka's lewat DM NovelToon tiga hari lalu. Kutipan yang bahkan belum pernah dia publish di bab mana pun!
"Nggak mungkin..." bisik gue. Tangan gue mulai gemetar hebat. "Cuma kebetulan, kan? Banyak orang di dunia ini yang hobi nulis puitis."
Tapi rasa penasaran gue sudah berubah jadi obsesi. Gue melirik ke arah pintu, memastikan Genta nggak tiba-tiba balik karena ketinggalan kunci. Mata gue tertuju pada laptop Genta yang lagi dalam posisi sleep.
Gue tahu ini salah. Ini melanggar privasi banget. Tapi bayangan kalau Kaka's belahan jiwa virtual gue adalah pria kaku yang hobi menyiksa gue tiap pagi, benar-benar nggak masuk akal. Gue harus buktiin sendiri.
Gue tekan sembarang tombol di keyboard. Layarnya menyala, minta kata sandi. Gue coba menebak: GentaAksara, EditorJenius, KopiPahit. Semuanya salah.
Lalu, gue teringat satu hal. Di profil Kaka's, dia pernah nulis kalau angka favoritnya adalah kombinasi tanggal lahir Sapardi Djoko Damono. Gue mencoba dengan jempol gemetaran: 200340.
Klik.
Layar terbuka. Gue merasa kayak pencuri profesional yang baru saja membobol brankas bank. Gue langsung arahkan kursor ke browser. Di sana, ada tab yang masih terbuka.
Sebuah dashboard penulis NovelToon.
Nama akunnya: Kaka’s.
Darah gue rasanya berhenti mengalir. Di sana terpampang draf bab terbaru berjudul "Typo di Hati". Isinya curhatan Kaka's tentang betapa dia mulai kagum sama seorang cewek "berisik" di kantornya yang ternyata adalah penulis favoritnya sendiri.
"Jadi... selama ini..." Gue menutup mulut dengan tangan, nyaris berteriak saking shocknya.
Tiba-tiba, suara gagang pintu berputar. Gue panik setengah mati! Nggak sempat matiin laptop, dengan gerakan kilat gue tutup layarnya dan pura-pura lagi ngelap meja pakai tisu.
Cklek.
Genta masuk. Dia berhenti di ambang pintu, matanya langsung menyipit menatap gue yang mukanya pasti sudah merah padam kayak kepiting rebus.
"Kamu lagi apa?" tanya Genta curiga. Matanya turun ke arah laptopnya yang posisinya sedikit bergeser.
"Ini... itu... mejanya berdebu banget, Pak! Saya cuma mau mastiin Bapak nggak bersin-bersin pas kerja," jawab gue dengan nada suara yang naik dua oktaf karena gugup.
Genta berjalan mendekat. Langkah kakinya kedengaran kayak lonceng kematian buat gue. Dia berdiri tepat di depan gue, cuma terhalang meja. Tangannya diletakkan di atas laptopnya yang pasti masih terasa hangat.
"Lain kali, jangan menyentuh barang yang bukan milik kamu, Aruna," suara Genta rendah, tapi kali ini nggak terdengar marah. Ada nada peringatan yang aneh di sana.
"Maaf, Pak. Saya... saya balik ke meja dulu!" Gue lari keluar ruangan secepat kilat, nggak berani nengok lagi.
Di balik pintu yang tertutup, Genta menghela napas panjang. Dia membuka kembali laptopnya, melihat riwayat tab yang terbuka, lalu tersenyum tipis—senyum pertama yang benar-benar kelihatan tulus.
"Dasar ceroboh. Harusnya kamu hapus history-nya kalau mau jadi detektif," gumam Genta pelan.
Sementara itu di kubikel, gue masih berusaha mengatur napas yang sesak. Dunia gue baru saja jungkir balik. Gue baru saja nemuin fakta kalau musuh terbesar gue adalah orang yang paling gue sayang di dunia maya.
Dan yang paling menakutkan: Genta kayaknya sudah tahu kalau gue sudah tahu.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻