NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Langkah di Atas Salju Pertama

Angin Utara yang membawa serpihan es tajam mulai mencabik kehangatan sisa istana yang masih menempel di pori-pori kulit Elara. Di belakangnya, kemegahan ibu kota kini hanya tampak sebagai garis samar yang tenggelam dalam kabut kelabu, sementara di depannya, bentangan pegunungan es berdiri seperti barisan nisan raksasa yang menanti untuk menelan nyawa. Elara berdiri di pinggir jalur logistik yang licin, membiarkan jubah sutra putihnya—penanda sisa martabatnya sebagai penasihat kaisar—berkibar liar diterjang badai yang kian mengganas. Rasa perih mulai menjalar dari telapak kakinya yang lecet akibat berjalan jauh, namun ia menolak untuk menunjukkan kelemahan sedikit pun di depan ratusan pasang mata yang mengawasinya dengan kebencian terpendam.

"Nyonya, mohon naiklah ke dalam kereta. Suhu di luar sini bisa membekukan darah manusia dalam hitungan menit," suara Rina terdengar gemetar, gigi pelayan itu bergemeletuk saat ia mencoba merapatkan syal wolnya yang tipis.

Elara menatap butiran salju yang jatuh di punggung tangannya, melihat bagaimana kristal es itu tidak mencair dengan segera karena suhu tubuhnya yang mulai menurun drastis. "Kereta itu hanya akan membuatku menjadi sasaran empuk jika mereka memutuskan untuk memutus talinya di tepi jurang, Rina. Aku lebih suka merasakan tanah di bawah kakiku, meskipun tanah itu ingin membunuhku."

"Tapi kaki Anda... saya melihat noda merah di salju setiap kali Anda melangkah," bisik Rina dengan mata berkaca-kaca.

"Darah ini adalah pengingat bahwa aku masih hidup," jawab Elara datar. "Dan salju ini jauh lebih jujur daripada hamparan mawar di taman istana yang baru saja kupulihkan dari racun hitam semalam. Di sini, tidak ada kepura-puraan."

Seorang pria dengan zirah logam yang berat dan wajah yang kaku mendekat, langkah botnya menghancurkan lapisan es dengan suara yang memekakkan telinga. Panglima Vane menatap Elara dengan pandangan meremehkan, seolah-olah wanita di depannya hanyalah hiasan rapuh yang salah tempat di medan perang ini.

"Anda keras kepala, Nyonya Elara. Atau mungkin Anda hanya ingin mencari simpati dari para prajurit dengan berpura-pura menderita bersama mereka?" suara Vane berat, penuh dengan nada provokasi.

Elara memutar tubuhnya perlahan, menatap langsung ke pupil mata Vane yang dingin. "Simpati adalah koin yang tidak laku di tanah ini, Panglima. Saya berjalan karena saya ingin memastikan bahwa setiap kereta logistik yang membawa aset berharga kita tidak tergelincir hanya karena pemimpinnya terlalu sibuk mengeluh tentang cuaca."

"Logika militer menyatakan bahwa seorang penasihat harus tetap aman di dalam perlindungan agar bisa berpikir jernih," balas Vane sambil mencibir.

"Logika militer Anda jugalah yang membiarkan seorang selir menguasai pikiran kaisar dengan sihir hitam selama bertahun-tahun, bukan?" Elara menyela, nadanya setajam silet. "Jangan bicara soal logika kepada saya, Vane. Pastikan saja pasukan Anda tidak mati konyol sebelum kita mencapai benteng pertama."

Vane menggeram, tangannya mencengkeram gagang pedang hingga buku jarinya memutih. "Kita lihat saja berapa lama kaki halus Anda bisa bertahan di atas es ini. Kapten Harka! Percepat langkah! Jangan biarkan wanita ini menghambat pergerakan kita!"

Seorang kapten bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di pipinya berteriak memberikan instruksi. Tak lama kemudian, kereta logistik di depan Elara mendadak berhenti dengan sentakan keras. Suara kayu yang patah dan teriakan prajurit memecah keheningan badai.

"Ada apa di depan?" tanya Elara pada seorang prajurit muda yang tampak panik.

"Roda kereta utama patah, Nyonya! Es di jalur ini terlalu tebal dan licin!" jawab prajurit itu sambil menunduk.

Elara melangkah maju, melewati barisan prajurit yang menatapnya dengan curiga. Ia melihat kereta yang membawa cadangan gandum dan kristal mana tingkat rendah miring berbahaya di tepi tebing. Di dekatnya, Kapten Harka sedang memaki-maki beberapa prajurit yang mencoba menahan beban kereta dengan tali tambang yang mulai menipis.

"Potong saja talinya! Kita tidak bisa membuang waktu hanya untuk satu kereta!" teriak Harka kasar.

"Jika Anda memotongnya, pasokan makanan untuk batalion ketiga akan hilang, Kapten," Elara berdiri di dekat roda yang terkunci es.

Harka menoleh, matanya berkilat marah. "Lalu apa saran Anda, Nyonya? Apakah Anda ingin menggunakan sihir bunga Anda untuk mencairkan es setebal ini?"

"Sihir saya bukan untuk mainan, Kapten. Tapi saya tahu cara menangani molekul yang membeku," Elara berjongkok, mengabaikan rasa dingin yang menusuk lututnya saat menyentuh salju. Ia meletakkan tangannya di atas sumbu roda yang membeku.

Sirkuit Void, aktifkan deteksi termal. Fokus pada titik jepit mekanis.

Elara merasakan aliran energi dingin keluar dari telapak tangannya, menyusup ke dalam celah-celah kayu dan besi. Ia tidak memanaskan es itu secara langsung—itu akan menarik terlalu banyak perhatian—melainkan melemahkan struktur atom es tersebut hingga menjadi rapuh dan mudah pecah.

"Coba tarik sekarang," perintah Elara tanpa menoleh.

"Jangan dengarkan dia! Tarik dengan tenaga penuh atau kereta ini jatuh!" perintah Harka lagi.

"Saya bilang, tarik perlahan!" Elara berdiri, auranya mendadak berubah menjadi sangat menekan hingga Harka terdiam sesaat.

Prajurit muda bernama Juna yang memegang tali utama ragu-ragu sejenak, lalu mengikuti instruksi Elara. Dengan satu sentakan lembut, roda yang tadinya terkunci mati tiba-tiba terlepas dari cengkeraman es. Kereta itu kembali stabil di jalurnya.

"Bagaimana bisa..." gumam Harka sambil menatap roda itu dengan bingung.

"Es di Utara memiliki pola retakan yang spesifik, Kapten. Anda hanya perlu tahu di mana harus mengetuk," Elara membersihkan salju dari tangannya, meskipun jemarinya kini mulai mati rasa dan berwarna pucat.

"Anda beruntung kali ini," tukas Harka sebelum berbalik pergi dengan gusar.

Saat Elara hendak kembali berjalan, ia melihat Juna, prajurit muda tadi, jatuh terduduk di salju. Wajahnya membiru dan napasnya tersengal-sengal. "Dia terkena asma dingin, Nyonya," bisik prajurit di sebelahnya dengan nada putus asa. "Kami tidak punya obat sisa di barisan ini."

Elara menatap prajurit itu. Ia teringat akan wajah-wajah pelayannya di masa lalu yang mati membeku karena ia tidak cukup kuat untuk melindungi mereka. Getaran irasional dari jiwa lamanya muncul, mengusik ketenangan Void-nya.

"Bawa dia ke dekatku," kata Elara.

"Apa yang akan Anda lakukan? Jangan bilang Anda ingin memberinya sihir terlarang di depan semua orang?" suara Vane kembali terdengar, ia telah kembali untuk memantau keributan.

"Saya hanya akan memberinya sesuatu yang lebih berharga daripada obat istana, Panglima," Elara merogoh kantong kecil di pinggangnya, mengambil sejumput garam Asteria yang ia bawa dari laboratorium sebelum berangkat. Garam itu adalah residu dari pemurnian energi yang ia lakukan semalam.

Elara mendekati Juna, lalu meletakkan garam itu di bawah lidah sang prajurit. Ia kemudian melepaskan jubah sutra putihnya yang mahal dan menyelimutkannya ke bahu prajurit rendahan itu.

"Nyonya! Apa yang Anda lakukan? Anda akan mati kedinginan tanpa jubah itu!" seru Rina panik.

"Aku punya cukup banyak api di dalam batin untuk tetap hangat, Rina. Anak ini lebih membutuhkannya untuk tetap bernapas," Elara menatap Juna yang mulai mendapatkan kembali warnanya. "Bernapaslah. Ini adalah perintah dari penasihat kaisarmu."

Juna menatap Elara dengan mata terbelalak, seolah melihat malaikat di tengah neraka es. Prajurit-prajurit lain yang tadinya menatap Elara dengan benci kini terdiam, kebingungan melihat seorang wanita yang mereka anggap sombong justru memberikan perlindungannya kepada seorang prajurit paling bawah.

"Anda gila, Elara. Anda mencoba membeli loyalitas dengan jubah murahan?" Vane mendengus, namun matanya menunjukkan kegelisahan.

"Jubah ini harganya lebih mahal daripada seluruh gaji tahunan Anda, Panglima. Tapi bagi saya, nyawa seorang prajurit yang tahu cara menarik tali lebih berharga daripada seorang jenderal yang hanya tahu cara berteriak," Elara berdiri tegak, hanya mengenakan pakaian dalam tipis di tengah badai. Kulitnya yang putih tampak pucat hampir transparan, namun matanya menyala dengan api yang mengerikan.

"Kita lanjutkan perjalanan. Sekarang," tegas Elara.

Langkah kaki mereka kembali bergema di jalur sunyi itu. Setiap inci langkah terasa seperti belati yang menyayat kaki Elara. Ia memejamkan mata sejenak, melakukan meditasi Void untuk mengalihkan rasa sakit fisiknya ke dalam ruang hampa di batinnya. Ia bisa merasakan Kaelen memperhatikannya dari kejauhan, tersembunyi di balik barisan logistik sebagai penjaga bayangan.

"Anda tidak perlu melakukannya sampai sejauh ini, Aurelia," sebuah bisikan mana halus masuk ke telinga Elara. Itu adalah suara Kaelen.

Aku harus melakukannya, Kaelen. Jika aku ingin memimpin mereka, aku harus menjadi dewi sekaligus iblis bagi mereka, jawab Elara dalam pikirannya.

"Tapi tubuhmu... kau sedang membakar umurmu sendiri dengan menahan suhu ini tanpa perlindungan," suara Kaelen terdengar sangat cemas.

Umurku sudah habis saat api itu menyentuh kulitku di masa lalu. Sekarang, aku hanya sedang menagih hutang.

Perjalanan berlanjut hingga matahari mulai tenggelam di balik cakrawala es, menyisakan warna ungu tua yang mencekam di langit. Mereka berhenti untuk mendirikan perkemahan sementara di kaki gunung. Suasana sangat tegang. Para prajurit faksi militer lama berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, membisikkan nama Elara dengan nada yang tidak lagi sepenuhnya penuh benci, melainkan mulai bercampur dengan rasa takut dan kagum.

Vane berdiri di dalam tenda utamanya, menatap sebuah gulungan kertas yang baru saja dikirimkan oleh pengintai rahasia. Wajahnya mengeras.

"Apa isinya, Panglima?" tanya Harka yang baru saja masuk.

"Sebuah bukti bahwa wanita itu bukan hanya sekadar penasihat. Dia menyimpan rahasia tentang Elena yang bisa menghancurkan kita semua jika kita tidak segera bertindak," bisik Vane sambil meremas kertas itu.

Di luar tenda, Elara duduk di atas batu besar, menatap api unggun kecil yang menari-nari ditiup angin. Ia bisa merasakan panas api itu mencoba memicu traumanya, membuat napasnya sesak sejenak. Namun, ia mencengkeram lututnya kuat-kuat, memaksa batinnya untuk tetap stabil.

"Nyonya, makanlah sedikit bubur ini. Ini sangat kasar, tapi setidaknya hangat," Rina menyodorkan mangkuk kayu.

Elara mengambil mangkuk itu. Bubur gandum yang dicampur dengan lemak hewan itu terasa hambar di lidahnya—indra perasanya benar-benar mulai menghilang akibat penggunaan Void yang dipaksakan selama perjalanan. Namun ia tetap menelannya, menyadari bahwa ia butuh kalori untuk memproses energi besok.

"Rina, apakah kau takut padaku?" tanya Elara tiba-tiba.

Rina tertegun, lalu menunduk. "Saya takut akan apa yang mungkin terjadi pada Anda, Nyonya. Anda terlihat seperti sedang mencoba menghilang ke dalam salju ini."

"Aku tidak akan menghilang, Rina. Aku hanya sedang menyesuaikan warnaku dengan dunia ini," Elara meletakkan mangkuknya. "Beristirahatlah. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang."

Saat keheningan malam mulai menyelimuti perkemahan, Elara merasakan sebuah getaran aneh dari arah tebing. Bukan getaran angin, melainkan resonansi mana yang sangat akrab dengan kegelapan yang ia kenali. Ia berdiri, matanya menajam menembus kegelapan malam.

Ada mata yang mengawasi kita dari atas sana. Dan itu bukan mata manusia.

Ia teringat akan kristal biru yang ia lihat tadi siang. Sesuatu di Utara ini sedang terbangun, dan ia tahu bahwa pertempurannya melawan faksi militer Vane hanyalah permulaan dari kiamat yang lebih besar. Namun, sebelum ia bisa menyelidiki lebih jauh, sebuah teriakan pecah dari arah gudang logistik.

"Sabotase! Kereta gandum dibakar!"

Elara tidak lari. Ia justru tersenyum tipis. Ini adalah serangan yang ia tunggu-tunggu untuk membersihkan benalu di dalam barisan ini. Ia melangkah tenang menuju arah api, mengabaikan rasa perih di kakinya yang kini mulai membeku.

"Panglima Vane, mari kita lihat bagaimana Anda menjelaskan api ini di depan kaisar besok pagi," bisik Elara pada angin malam.

Kobaran api melahap tenda logistik dengan rakus, mengirimkan lidah-lidah jingga yang menjilat langit malam yang beku. Suara derak kayu yang terbakar dan ledakan kecil dari karung gandum yang meletus menciptakan simfoni kekacauan di tengah perkemahan yang tadinya sunyi. Prajurit berlarian dengan ember-ember berisi salju, namun angin Utara justru meniupkan bara api ke tenda-tenda di sekitarnya, memperluas area bencana dalam hitungan detik.

Elara berdiri di batas lingkaran api, bayangannya memanjang dan menari-nari di atas salju seperti iblis yang sedang berpesta. Aroma gandum yang hangus bercampur dengan bau minyak tanah—bukti otentik bahwa ini bukanlah kecelakaan alam, melainkan sabotase yang direncanakan dengan kasar. Di dalam batinnya, trauma lama akan api Asteria mencoba mencengkeram paru-parunya, membuat dadanya sesak dan penglihatannya sempat mengabur oleh bayangan Aurelia yang menjerit di balik pilar-pilar istana yang runtuh. Namun, Elara mencengkeram telapak tangannya sendiri hingga kuku-kukunya menembus kulit, menggunakan rasa sakit fisik untuk mengusir halusinasi masa lalu.

"Jangan hanya berdiri di sana! Ambil lebih banyak salju! Jika cadangan ini habis, kita semua akan mati kelaparan sebelum mencapai Iron Gate!" Panglima Vane berteriak histeris, wajahnya yang biasanya angkuh kini kotor oleh jelaga.

Elara melangkah mendekat, suaranya tenang namun memotong kebisingan api. "Memadamkan api dengan salju di tengah angin sekencang ini hanya akan membuang tenaga prajurit Anda, Panglima. Anda sedang melawan oksigen, bukan hanya panas."

Vane menoleh dengan mata merah penuh amarah. "Lalu apa yang ingin Anda lakukan, Nyonya? Menonton kami terbakar sambil memberikan ceramah tentang oksigen? Jika Anda punya sihir, gunakan sekarang!"

"Saya tidak akan membuang energi untuk memadamkan apa yang sudah menjadi abu. Tapi saya bisa mengisolasi sisanya," Elara mengangkat tangan kanannya.

Sirkuit Void, Mode Penyerapan Oksigen Area Lokalan.

Ia memfokuskan pikirannya pada ruang hampa di sekitar tenda logistik yang belum terbakar. Melalui analisis molekuler Void, ia mulai menarik partikel udara di sekitar pusat api, menciptakan vakum sementara yang mencekik napas si jago merah. Perlahan, kobaran yang tadinya liar mulai mengecil, kehilangan kekuatannya karena ketiadaan bahan bakar udara. Para prajurit tertegun, melihat bagaimana api itu seolah-olah ditarik masuk ke dalam sebuah lubang tak terlihat di tangan Elara.

"Kapten Harka, sekarang! Tutupi sisa arangnya dengan salju basah!" Elara memerintah dengan nada absolut yang tidak membiarkan adanya bantahan.

Harka, yang biasanya membangkang, bergerak secara insting menuruti perintah itu. Dalam beberapa menit, sisa api berhasil dipadamkan sepenuhnya. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti perkemahan, hanya menyisakan uap putih yang membumbung tinggi.

"Bagaimana Anda melakukannya?" tanya Vane, suaranya kini mengandung getaran ketakutan yang nyata. "Itu bukan sihir elemen angin biasa. Saya tidak merasakan aliran mana yang normal."

"Dunia ini terdiri dari ruang kosong yang menunggu untuk diisi, Panglima. Saya hanya meminjam kekosongan itu sejenak," Elara menurunkan tangannya. Ia bisa merasakan darah segar mengalir dari hidungnya—konsekuensi dari manipulasi atmosfer yang melampaui batas Lv 1.6 miliknya. Ia segera menyeka darah itu dengan punggung tangan sebelum ada yang menyadarinya.

"Pemeriksaan logistik menunjukkan kita kehilangan hampir empat puluh persen cadangan gandum," Kapten Harka melapor dengan wajah pucat. "Dan seseorang sengaja menyiramkan minyak ke arah kereta medis."

Elara menatap tajam ke arah barisan prajurit yang masih berkumpul. "Siapa pun yang melakukannya tahu persis bahwa tanpa makanan, pasukan faksi militer lama akan menjadi beban bagi kekaisaran. Dan siapa pun itu, dia sedang mencoba memancing kaisar untuk menarik kembali mandat ekspedisi ini."

"Apa maksud Anda?" Vane menyipitkan mata.

"Sederhana, Panglima. Jika ekspedisi ini gagal di kaki gunung, Valerius akan menyalahkan kepemimpinan Anda, bukan saya. Ini adalah upaya sabotase terhadap karier Anda sendiri, atau mungkin... upaya dari seseorang di dalam barisan Anda yang ingin kita semua kembali ke ibu kota untuk melindungi faksi Elena yang sedang sekarat," Elara menebar benih keraguan di antara mereka dengan sangat lihai.

Vane menatap Harka dengan curiga, dan Harka menatap bawahannya dengan amarah. Kepercayaan di dalam hierarki militer itu retak secara instan di bawah manipulasi informasi Elara.

"Geledah seluruh tenda! Temukan siapa yang membawa minyak tanah tambahan!" Vane berteriak, mencoba menutupi kegugupannya.

Saat kerumunan mulai bubar untuk melakukan penggeledahan, Elara berjalan menjauh menuju kegelapan di luar jangkauan api unggun. Kaelen muncul dari balik bayangan pohon pinus, wajahnya tampak sangat tegang.

"Kau terlalu banyak mengambil risiko, Elara. Menggunakan Void untuk memanipulasi oksigen di depan ksatria tingkat logam seperti Vane adalah tindakan bunuh diri secara politis. Dia akan melaporkan kekuatan anehmu pada kaisar," bisik Kaelen.

"Biarkan dia melaporkannya. Valerius lebih takut pada kegagalan ekspedisi ini daripada kekuatan pribadiku. Selama aku berguna baginya, dia akan menutup mata," Elara bersandar pada batang pohon yang membeku, kakinya yang lecet kini terasa sangat nyeri hingga ia harus menggigit bibir bawahnya.

"Kakimu berdarah lagi. Biarkan aku mengobatinya," Kaelen berlutut, mencoba menyentuh pergelangan kaki Elara.

"Jangan, Kaelen. Jika ada yang melihat seorang jenderal Asteria menyentuh kaki penasihat kaisar, rencana kita akan hancur sebelum mencapai perbatasan," Elara menolak dengan halus namun tegas. "Bawakan saja aku salep dari jatah logistik prajurit. Aku harus terlihat menderita seperti mereka agar mereka berhenti melihatku sebagai musuh."

"Kau benar-benar telah berubah menjadi monster strategi," gumam Kaelen dengan nada duka yang mendalam.

"Aku hanya menyesuaikan diri dengan habitat baruku, Kaelen. Di istana, aku adalah mawar beracun. Di sini, aku harus menjadi es yang tajam," Elara menatap ke arah tenda Vane. "Vane menemukan sesuatu malam ini. Aku melihat pengintai rahasia mendekatinya sebelum kebakaran terjadi. Cari tahu apa yang dia pegang."

"Akan kulakukan. Tapi kau harus beristirahat. Wajahmu sepucat salju di bawah kita," Kaelen menghilang kembali ke dalam kegelapan.

Elara kembali ke tempat peristirahatannya, sebuah batu besar di dekat tenda Rina. Ia duduk di sana, membiarkan dinginnya malam meresap ke dalam tulang-tulangnya. Indra perasanya kini benar-benar mati; ia mencoba menjilat bibirnya yang pecah-pecah, namun tidak merasakan apa pun kecuali tekstur kasar. Ini adalah harga yang harus ia bayar. Void sedang memakan kemanusiaannya selapis demi selapis.

Apakah ini yang kau rasakan saat kau membakarku, Valerius? Kedinginan yang begitu absolut hingga kau butuh api untuk merasa hidup? batin Elara bertanya pada bayangan pria yang paling ia benci.

Pagi harinya, perjalanan dilanjutkan dengan suasana yang lebih berat. Langit mendung dan salju mulai turun lebih lebat, menutupi jejak-jejak api semalam. Elara berjalan di barisan paling depan, di samping Vane yang tampak tidak tidur sepanjang malam. Jubah sutranya kini sudah kotor dan robek di bagian bawah, namun ia tetap mengenakannya seperti panji kemenangan.

"Kita akan mencapai celah Lembah Ratapan sebelum tengah hari," kata Vane tanpa menoleh. "Jika ada serangan dari Sekte Utara, itu akan terjadi di sana."

"Saya sudah menyiapkan frekuensi Void untuk mendeteksi mana musuh dalam radius satu mil, Panglima. Fokuslah pada pedang Anda, biarkan saya yang menjadi mata Anda," jawab Elara.

"Saya tidak butuh mata dari seorang wanita yang bahkan tidak bisa merasakan panas api di tangannya sendiri," balas Vane sinis.

Elara hanya tersenyum tipis. Ia tahu Vane sedang mencoba memancing reaksinya, namun ia sudah tidak memiliki energi untuk kemarahan yang sia-sia. Perhatiannya teralihkan oleh Juna, prajurit muda yang semalam ia tolong. Juna berjalan di dekatnya, matanya menatap Elara dengan penuh pengabdian.

"Nyonya... terima kasih untuk semalam. Garam itu... membuat saya merasa seolah-olah paru-paru saya terbuka kembali," bisik Juna pelan agar tidak terdengar Harka.

"Simpan terima kasihmu untuk saat kau berhasil menebas musuh di depanmu, Juna. Di tanah ini, hanya kegunaanmu yang akan membuatmu tetap hidup," jawab Elara dingin, namun ia memberikan sedikit anggukan kecil yang membuat Juna tersenyum lega.

Saat mereka memasuki Lembah Ratapan—sebuah celah sempit dengan dinding es yang menjulang tinggi di kedua sisi—suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Suara angin yang melolong di antara celah batu terdengar seperti jeritan wanita yang sedang berduka, sesuai dengan nama lembah tersebut.

Sirkuit Void, pindai anomali mana.

Tiba-tiba, jantung Elara berdegup kencang. Ia merasakan sebuah denyutan energi yang sangat besar, namun sangat tipis, bersembunyi di balik lapisan es di atas kepala mereka. Bukan energi dari penyihir, melainkan sesuatu yang jauh lebih purba.

"Berhenti!" teriak Elara, suaranya bergema di sepanjang lembah.

"Ada apa lagi?" Vane menghentikan kudanya dengan gusar.

"Jangan melangkah lebih jauh. Es di atas kita tidak stabil karena getaran mana, bukan karena suhu," Elara menunjuk ke arah puncak tebing yang tertutup kabut.

"Jangan konyol, itu hanya tumpukan salju biasa—"

Belum sempat Vane menyelesaikan kalimatnya, sebuah ledakan mana yang sunyi menghantam puncak tebing. Ribuan ton salju dan bongkahan es raksasa mulai meluncur turun dengan kecepatan mengerikan menuju barisan logistik.

"Longsor! Semuanya mundur!" teriak Kaelen dari barisan belakang.

"Terlambat," bisik Elara. Ia melihat kereta logistik yang membawa sisa makanan mereka berada tepat di jalur jatuh es tersebut. Jika kereta itu hancur, ekspedisi ini berakhir hari ini.

Tanpa memikirkan keselamatan jiwanya sendiri, Elara berlari menuju arah longsoran. Ia merentangkan kedua tangannya, membiarkan energi Void meluap keluar dari setiap pori-pori kulitnya.

"Apa yang kau lakukan, gila?!" Vane berteriak dari kejauhan.

Void, Mode Penyerapan Getaran Kinetik. Konversi energi menjadi Barrier Statis!

Elara merasakan tekanan yang luar biasa menghantam dadanya. Ia sedang mencoba menahan kekuatan alam dengan tubuh manusianya sebagai medium. Seluruh sirkuit energinya menjerit, matanya mulai mengeluarkan darah, dan tangannya bergetar hebat hingga ke tulang. Namun, ia tidak mundur.

Aku tidak akan membiarkan salju ini mengubur rencanaku. Jika dunia ingin aku mati, dunia harus berusaha lebih keras dari ini!

Bongkahan es raksasa menghantam barrier transparan yang diciptakan Elara. Suara benturannya seperti guntur yang membelah bumi. Debu salju menutupi segalanya, membuat seluruh perkemahan tenggelam dalam warna putih yang membutakan.

Saat debu mulai menipis, para prajurit melihat pemandangan yang mustahil. Kereta logistik itu masih berdiri utuh, terlindungi di bawah kubah energi yang berdenyut redup. Dan di tengah jalan, Elara berlutut di atas salju yang kini merah oleh darahnya sendiri. Jubah sutranya telah hilang, menyisakan kulit bahunya yang kini memiliki tanda hitam kecil yang mulai menjalar—tanda bahwa Void telah mulai memakan dagingnya.

Vane turun dari kudanya, berjalan mendekati Elara dengan wajah yang pucat pasi. Ia melihat wanita itu perlahan berdiri, meskipun tubuhnya goyah. Elara menatap Vane dengan mata yang kini berwarna perak redup, sebuah tatapan yang tidak lagi memiliki kemanusiaan di dalamnya.

"Logistik Anda aman, Panglima. Sekarang, bersihkan salju ini dari jalan kita. Kita punya musuh yang harus dibunuh," kata Elara, suaranya parau dan dingin.

Vane tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap tangannya sendiri yang gemetar, menyadari bahwa wanita di depannya bukanlah seorang penasihat kaisar biasa. Dia adalah entitas yang jauh melampaui pemahamannya tentang kekuatan. Dan di balik saku zirahnya, Vane meremas surat rahasia Elena yang berisi instruksi untuk membunuh Elara di tempat ini. Ia tahu, jika ia mencoba melakukannya sekarang, salju ini akan menjadi kuburannya sendiri.

Langkah pertama di atas salju Utara telah diambil, dan jejak yang ditinggalkan Elara bukan lagi jejak kaki seorang wanita, melainkan jejak seorang penguasa yang siap membakar atau membekukan siapa pun yang menghalangi jalannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!