Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden rumah sakit, menyinari ujung tempat tidur tempat Kinan terbaring.
Adnan, yang sepanjang malam hanya tertidur ayam di kursi sambil terus menggenggam ujung jari Kinan, terbangun saat merasakan pergerakan kecil dari atas ranjang.
Kinan melenguh pelan. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Namun, tidak ada kepanikan, tidak ada teriakan memanggil nama Adnan seperti di dalam mimpinya kemarin.
Matanya menatap langit-langit dengan jernih, seolah semua emosi telah dicuci bersih oleh tidurnya yang panjang.
Adnan langsung berdiri dengan wajah berbinar. "Kinan? Sayang. Alhamdulillah, kamu sudah bangun."
Kinan perlahan menolehkan kepalanya. Ia menatap Adnan, namun tatapan itu terasa sangat asing.
Tidak ada binar cinta, tidak ada kemarahan, hanya ada kekosongan yang dingin.
"Boleh saya minta segelas air?" suara Kinan terdengar serak, namun nadanya sangat datar dan formal.
Adnan sempat tertegun mendengar panggilan "saya" yang keluar dari bibir istrinya.
Biasanya, Kinan akan memanggil dirinya sendiri dengan sebutan "Kinan" atau "Aku" dengan nada yang manja atau lembut.
"I-iya, sebentar, Sayang," Adnan dengan cekatan menuangkan air ke dalam gelas dan membantu Kinan minum menggunakan sedotan.
Setelah beberapa teguk, Kinan kembali menyandarkan kepalanya di bantal.
Ia menjauhkan wajahnya sedikit saat Adnan mencoba mengusap sisa air di sudut bibirnya dengan tisu.
Kinan mengambil tisu itu dari tangan Adnan dan melakukannya sendiri.
"Terima kasih, Ustadz," ucap Kinan pendek.
Hati Adnan mencelos. Sebutan "Ustadz" itu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan. Sebutan itu seolah membangun tembok raksasa yang menegaskan bahwa hubungan mereka kini tak lebih dari sekadar orang asing yang saling mengenal secara formal.
"Kinan, jangan panggil Mas seperti itu. Mas minta maaf, Mas benar-benar—"
"Maaf, Ustadz," potong Kinan dengan sopan namun dingin.
"Saya masih merasa pusing. Jika tidak ada hal mendesak yang berkaitan dengan administrasi rumah sakit atau jadwal pengadilan, saya ingin beristirahat tanpa gangguan."
Adnan terpaku. Kata "pengadilan" itu keluar begitu saja dari bibir Kinan seolah-olah itu adalah agenda harian yang sudah pasti.
Kinan tidak melupakan niatnya sebelum jatuh dari tangga.
Justru, kecelakaan itu seolah memperkuat keputusannya untuk lepas dari luka yang selama ini ia tanggung.
"Kinan, Mas mohon. Beri Mas kesempatan untuk menjelaskan soal Fauziah, soal Abah yang sudah tahu semuanya..."
Kinan memejamkan matanya kembali, membelakangi Adnan dengan perlahan.
"Kebenaran itu sudah tidak penting lagi bagi saya, Ustadz. Karena yang hancur bukan hanya nama baik saya, tapi rasa percaya saya. Dan itu tidak bisa diperbaiki hanya dengan sebuah penjelasan."
Ruangan itu seketika kembali sunyi. Adnan berdiri mematung di samping tempat tidur, menyadari bahwa Kinan yang kini ada di depannya adalah sosok yang sudah mati rasa.
Fisiknya telah kembali, namun hatinya mungkin telah ia tinggalkan di anak tangga terakhir malam itu.
Pintu kamar rawat kembali terbuka pelan. Kali ini, bukan perawat yang masuk, melainkan Tuan Aris yang datang dengan langkah mantap dan wajah yang cerah.
Di tangannya, ia membawa sebuah map kulit berwarna hitam yang tampak sangat formal.
Adnan berdiri menyambutnya, namun Kinan hanya memperbaiki posisi duduknya dengan gerakan yang kaku dan wajah yang tetap datar.
"Nak Kinan," sapa Tuan Aris dengan nada penuh hormat.
"Saya senang melihat Anda sudah sadar sepenuhnya. Kabar kesembuhan Anda adalah hal yang paling ditunggu oleh seluruh pengurus yayasan."
Kinan menunduk sedikit. "Terima kasih atas kunjungannya, Tuan Aris."
Tuan Aris duduk di kursi yang disediakan, lalu membuka map yang ia bawa.
"Dua klien besar dari Jakarta yang mencicipi masakan Anda di rumah Ustadz Yusuf kemarin sangat terkesan. Bukan hanya soal rasa, tapi saat mereka tahu Anda juga yang mendesain bros perhiasan yang dikenakan istri Ustadz Yusuf, mereka langsung menawarkan kontrak kerjasama jangka panjang. Mereka ingin Anda menjadi kurator untuk lini kuliner dan perhiasan etnik di bawah naungan yayasan," lanjut Tuan Aris.
Kinan terpaku. Matanya yang tadi dingin kini tampak sedikit bergetar.
Sebuah pencapaian yang luar biasa, namun hatinya yang terlanjur remuk membuat berita besar itu terasa hambar.
"Saya tidak pantas, Tuan Aris. Saya hanya..."
Kinan menghentikan perkataannya saat akan menyebut dirinya sebagai pelacur.
Kata itu sudah sampai di ujung lidahnya, siap untuk meluncur sebagai bentuk pertahanan diri dari rasa rendah diri yang selama ini menghantui. Namun, ia melihat tatapan Tuan Aris yang begitu tulus dan penuh penghormatan, juga melihat Adnan yang menunduk dengan wajah penuh penyesalan di sudut ruangan.
"Anda lebih dari sekadar pantas, Kinan," potong Tuan Aris seolah tahu apa yang dipikirkan wanita itu.
"Masa lalu adalah lembaran yang sudah ditutup. Bakat dan ketulusan Anda adalah bukti siapa Anda saat ini. Kami tidak melihat masa lalu, kami melihat karya dan integritas Anda."
Kinan mengepalkan tangannya di balik selimut. Tawaran ini adalah impian setiap orang, sebuah jalan untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri. Namun, di saat yang sama, ia merasa jiwanya terlalu lelah untuk memikul beban sebagai "panutan" di tempat yang pernah membuatnya merasa begitu kotor.
"Berikan saya waktu untuk berpikir, Tuan," bisik Kinan pelan.
Tuan Aris mengangguk paham. "Tentu. Pulihkan kesehatanmu dulu. Tapi ingatlah satu hal: dunia sudah mengakui nilaimu, sekarang tinggal kamu yang harus mengakui nilai dirimu sendiri."
Setelah Tuan Aris pergi, suasana kembali mencekam. Adnan mencoba mendekat, matanya berkaca-kaca menatap Kinan.
"Dengar itu, Sayang? Semua orang bangga padamu. Kamu bukan seperti yang kamu pikirkan selama ini," ucap Adnan lirih.
Kinan tidak menoleh. Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit yang mulai mendung.
"Pengakuan dunia tidak ada artinya, Ustadz, jika orang terdekat saya sendiri adalah yang pertama kali melemparkan tuduhan itu kembali ke wajah saya."
Suasana kamar rawat itu mendadak terasa begitu menyesakkan.
Kalimat Kinan barusan seperti sebuah hantaman telak yang meruntuhkan seluruh wibawa Adnan sebagai seorang suami dan pemuka agama.
Kinan menatap lurus ke arah jendela, enggan melihat wajah pria yang kini bersimpuh di samping ranjangnya.
"Bukankah dari pertama kali kita bertemu aku sudah mengatakannya, kalau aku wanita seperti itu?" tanya Kinan dengan suara yang bergetar hebat, namun penuh dengan penekanan.
"Aku tidak pernah menutupi noda hitam di hidupku. Aku sudah jujur sejak awal agar kamu tidak perlu kecewa di kemudian hari."
Adnan hanya bisa menunduk, air matanya menetes membasahi sprei rumah sakit.
Ia ingin menyela, namun kata-katanya seolah tersangkut di tenggorokan.
"Tapi Ustadz selalu bilang nazar, nazar..." lanjut Kinan dengan senyum sinis yang getir. Air mata kini mulai mengalir deras di pipinya, namun ia tidak terisak. Ia hanya bicara dengan nada datar yang menyayat hati.
"Nazar jam tangan yang membebani wanita pelacur seperti saya, Ustadz. Kamu mengikatku dengan janji suci atas nama Tuhan, meyakinkanku bahwa aku layak untuk dicintai dan dihormati. Kamu membuatku percaya bahwa masa laluku sudah terkubur. Tapi nyatanya? Hanya karena satu foto dan fitnah murahan, kamu adalah orang pertama yang menggali kembali kuburan itu dan melemparkan kotorannya ke mukaku."
Adnan memberanikan diri meraih ujung jemari Kinan, namun Kinan segera menarik tangannya dengan kasar.
"Kinan, demi Allah, Mas khilaf. Mas terbakar cemburu karena Mas terlalu mencintaimu," rintih Adnan.
"Cemburu?" Kinan tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat menyedihkan.
"Cemburu itu dasarnya cinta, Ustadz. Tapi tuduhanmu itu dasarnya adalah rasa rendah hati terhadap istrimu sendiri. Kamu tidak pernah benar-benar menerimaku. Kamu hanya mencintai 'ide' tentang menyelamatkan wanita berdosa, tapi saat kenyataan pahit itu muncul lagi, kamu langsung jijik padaku."
Kinan menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napasnya yang mulai sesak.
"Jangan bawa-bawa nazar lagi untuk menahanku di sini. Nazar itu sudah gugur saat kamu menghancurkan kehormatanku di depan santri-santrimu.
Sekarang, aku hanya ingin bebas. Aku ingin pergi dari tempat di mana aku selalu dipandang sebagai sampah yang kebetulan sedang dibersihkan."
Adnan terisak, ia menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya di pinggir tempat tidur.
Ia menyadari bahwa perisai "nazar" yang selama ini ia agung-agungkan justru menjadi belenggu yang menyiksa bagi Kinan.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅