NovelToon NovelToon
Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nelramstrong

Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.

Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.

Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.

"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Terendah Nadira

Nadira menangis pilu di depan gerbang rumah mewah yang semula terbuka lebar, kini tertutup tak memberikan sela sedikitpun untuknya.

"Kenapa jadi kayak gini sih? Aku juga udah nggak peduli soal pernikahanku dengan Mas Bima. Aku hanya ingin dapatkan uang dan pulang," lirihnya.

"Sekarang... nggak mungkin aku pulang dalam keadaan seperti ini. Aku pergi meninggalkan Mas Arga dengan hidup yang lebih baik, tapi semuanya jadi kacau!" Suaranya serak, hampir habis karena sejak tadi berteriak.

Nadira memukul paving blok di sisinya, meluapkan perasaan marah juga sesal yang bergelayut. "Semua barang-barangku di dalam. Aku bahkan nggak diizinin ambil ponselku."

Nadira menjerit putus asa.

Ia menoleh kanan-kiri. Terdapat beberapa orang di sebrang sana yang memperhatikannya dengan ekspresi prihatin, namun tak ada satu orang pun yang berinisiatif membantunya.

Nadira perlahan bangkit. Kakinya bergetar saat diseret menyusuri jalanan meninggalkan kediaman keluarga Bima.

"Aku harus pulang dan meminta maaf pada Mas Arga. Dia pasti bisa maafin aku demi Andini," gumamnya, air mata penyesalan terus mengalir deras.

Setelah cukup lama berjalan, Nadira akhirnya tiba di depan sebuah pasar tradisional. Ia meremas perutnya yang terasa lapar.

"Aku lapar. Di mana aku bisa mendapatkan makan?" Ia memperhatikan sekeliling. Orang-orang di sana menatapnya dengan tatapan aneh.

Samar-samar terdengar mereka mengatakan jika dirinya adalah orang gila baru.

Nadira tak punya tenaga untuk meladeni mereka. Ia hanya ingin makan saat ini.

"Lapar!" katanya sambil melangkah masuk ke dalam pasar.

Perempuan itu mencium aroma wangi dari sebuah kedai makan. Dia masuk, bermaksud untuk meminta makan. Namun, baru saja kaki menginjak lantai, seorang penjaga sudah mengusirnya.

"Pergi sana! Jangan ngemis di sini. Jangan buat pelanggan kami nggak nyaman!"

"Saya hanya ingin makan, Mas. Bisa berikan saya makan?" pinta Nadira memelas.

Penjaga kedai itu mengamatinya penampilan Nadira yang bernatakan. Wajahnya bahkan sembab dan kotor akibat debu yang menempel.

"Kalo mau makan kerja! Bukan malah minta-minta!" bentak penjaga kedai lalu meninggalkan Nadira yang terduduk lemah di lantai.

Nadira kembali menangis. Bayangan masa lalu kembali melintas. Sesulit apapun hidupnya saat menikah dengan Arga, ia tidak pernah kelaparan. Kini, makan dengan ikan asin dan sayur terasa sangat mewah.

Tatapan Nadira tertuju pada sebuah keluarga kecil yang menempati salah satu meja kedai. Terlihat seorang wanita yang makan dengan lahap, sementara putri kecil mereka justru disuapi oleh ayahnya.

Pemandangan itu kembali menghantam dadanya dengan keras. "Mas Arga selalu memastikan aku makan dengan kenyang bersama lauk, sementara dia hanya mencocol minyak bekas goreng ikan asin," gumamnya.

Perlahan air mata memudarkan pandangannya. "Aku salah telah menukar suami dan anakku demi kebahagiaan yang semu," batinnya.

Rasa lelah dan lapar, kini sudah tak bisa ditahan. Tubuh Nadira limbung dan tergolek lemah di lantai yang kotor. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, dia bisa mendengar suara seseorang.

"Wanita itu pingsan, cepat tolong dia!"

Hati Nadira merasa sedikit tenang. Tahu ada seseorang yang akan membantunya, dan kesadaran perempuan itu seketika lenyap.

Beberapa jam kemudian...

Kelopak mata Nadira terbuka dengan perlahan. Ia mengamati ruangan tempatnya berada yang terasa asing. Selain itu, tempatnya kotor, sempit, dan aroma sampah menusuk indra penciumannya.

"Di mana aku?" bisiknya dengan suara tercekat. Tenggorokannya terasa sakit dan kering.

"Kamu udah bangun?"

Nadira spontan bangkit dan mendudukkan tubuh. Ia menoleh dan melihat perempuan paruh baya bertubuh pendek dan berpenampilan lusuh mendekat, membawa segelas air.

"Minum dulu. Tadi kamu pingsan di depan kedai makan." Perempuan paruh baya itu menyerahkan air minum pada Nadira.

Nadira dengan cepat menyambarnya dan meminumnya hingga habis. Ia bernapas lega setelah berhasil membasahi tenggorokannya.

"Saya lapar," kata Nadira sambil mengusap-usap perutnya yang perih.

"Kamu pasti belum makan, ya? Tapi, di sini nggak ada makanan," kata perempuan itu.

"Nggak ada makanan sama sekali?" tanya Nadira tak percaya.

"Nama saya Sri. Saya kerja cari rongsokan di pasar. Saya belum dapat uang buat beli makanan karena tadi, malah ketemu kamu yang pingsan," tutur perempuan bernama Sri.

Wajah Nadira pucat. "Kenapa aku terus ketiban sial? Aku menikah dengan pria miskin seperti Mas Arga. Lalu, hampir nikah dengan pria jahat seperti Mas Bima, dan sekarang terjebak dengan perempuan tukang rongsokan?" batinnya.

Nadira tidak mengatakan apapun, otaknya benar-benar kalut, tidak bisa berpikir apapun.

"Nama kamu siapa?"

"Nadira," sahut Nadira sangat pelan, terdengar seperti gumaman.

Sri mengangguk. "Kalo gitu, Nadira. Kamu tunggu dulu di sini, ya. Saya akan pergi cari makanan dulu. Kamu bisa beristirahat di sini, anggap saja rumah sendiri," kata perempuan itu lalu pergi meninggalkan Nadira.

Nadira memperhatikan sekeliling sambil memeluk tubuhnya yang terasa lemah. "Rumah? Tempat ini malah lebih mirip kandang kambing dibandingkan rumah," hardiknya.

"Tapi, aku nggak punya pilihan. Sebelum aku punya uang untuk pulang, aku terpaksa harus tinggal di sini," gumamnya kemudian.

Hari sudah mulai gelap. Nadira berbaring dengan gelisah di atas tikar yang robek-robek. Ia menekan perutnya yang terasa melilit di dalam sana.

"Ke mana wanita itu? Aku lapar sekali," keluhnya.

Bruk!

Suara benda yang terjatuh dengan keras terdengar dari luar rumah. Nadira terlonjak, dia langsung memasang tanda siaga.

"Siapa itu?!" teriaknya sambil beringsut mundur ke sudut ruangan.

Ia menatap pintu di depan yang terlihat berusaha dibuka seseorang sambil menahan napas. Tepat setelah pintu itu terbuka, Nadira menghela napas lega.

"Mbak Sri," sapanya.

"Maaf, kamu pasti nunggu lama, ya. Saya tadi nyari sayuran sisa dulu buat lauk makan," kata Sri, semangat meletakan sebuah plastik berisi sayuran yang terlihat sudah layu.

"Nyari sayuran sisa?" ulang Nadira, menatap jijik pada sayuran yang beberapa helai daunnya sudah busuk.

"Iya. Alhamdulillah tadi ada pedagang baik hati nawarin sayuran sisa yang udah nggak layak dijual, jadi saya bawa pulang. Lumayan, buat teman makan," kata Sri. Tubuh ringkihnya berjalan menuju sebuah pintu.

Nadira yang merasa penasaran, mengikuti Sri sambil memegangi perut. Tubuhnya membeku di ambang pintu saat melihat kondisi dapur yang becek.

Tidak ada kompor, tidak ada tungku. Perempuan itu masak di atas batu sebagai penyangganya. "Ya Tuhan, apa belum cukup Engkau menyiksaku?" batin Nadira.

Tatapannya beralih pada sebuah ruangan kecil yang ditutup oleh kain yang sudah robek-robek. Ia menduga jika tempat itu adalah kamar mandi.

Nadira rasanya ingin menenggelamkan diri dari kenyataan itu. Ia tiba-tiba terisak, tak kuasa menanggung nasib.

"Nadira, kenapa? Kamu pasti nggak terbiasa tinggal di tempat kumuh seperti ini, ya?" tanya Sri, dia tidak tersinggung, memaklumi.

Tubuh Nadira merosot dan terduduk lemah di belakang Sri. "Mbak, saya harus pulang ke desa. Anakku... dia pasti mencariku," kata Nadira.

Ia ingin segera meninggalkan rumah Sri. Daripada menanggung derita lagi, lebih baik dia pulang ke desa, meksipun harus menahan malu di depan Arga.

"Kamu sudah punya anak?" tanya Sri.

"Terus kenapa bisa kamu di sini? Anakmu bersama siapa?" tanya Sri menatap dengan prihatin, padahal hidupnya juga susah.

"Saya... saya datang ke kota ini untuk kerja, Mbak. Tapi, majikan saya... dia nyiksa saya. Dia tidak bayar upah saya, bahkan ngusir saya dari rumahnya," ungkap Nadira menaburkan bumbu kebohongan di atas ceritanya.

"Astaghfirullah. Tega sekali mereka."

"Hp saya diambil sama mereka. Saya jadi sulit menghubungi suami dan anak saya. Mereka pasti khawatir," lanjut Nadira berusaha mendapatkan simpati dari Sri.

"Nadira, saya ingin bantu kamu. Tapi saya nggak bisa bantu apa-apa saat ini," kata Sri perhatian.

"Mbak nggak punya uang? Kalo ada, saya pinjam buat ongkos saya pulang. Setelah itu, saya janji bakal balik lagi buat ganti." Nadira menggenggam tangan Sri, tatapan penuh harap.

Sri menggeleng. "Hasil jual rongsokan cuma cukup buat beli beras untuk makan, Nadira. Saya nggak punya uang lebih."

Bahu Nadira merosot tajam. Tangannya yang menggenggam tangan Sri terlepas.

"Terus, bagaimana caranya saya bisa dapat uang untuk pulang? Saya nggak mungkin bisa biarin anak dan suami saya khawatir terlalu lama," gumam Nadira, berharap Sri memberikan bantuan lebih.

Sri terdiam sejenak, menimbang-nimbang sebelum berkata, "Begini saja. Besok, kamu ikut saya ke pasar. Semoga saja kamu bisa dapat pekerjaan di sana. Kamu bisa mengumpulkan uang untuk ongkos pulang," usul Sri.

Bersambung...

1
Wanita Aries
cuit cuit bu bidan di lamar 🤭
Wanita Aries
ya kerja lah nadira jgn berpangku tangan
Nelramstrong: keenakan dikasih 😆
total 1 replies
Wanita Aries
deritamu nadira mau aja di bodohi
Nelramstrong: 🫢🫢🫢 jangan diketawain, kak. kasihan
total 1 replies
Wanita Aries
haduhh nadira nasibmu makin ngenes
Nelramstrong: nasibbbbb, kak 🤭🤭
total 1 replies
Wanita Aries
nah nah makin seru
Wanita Aries
arga makin sukses, nadhira makin nelangsa
Nelramstrong: itu karma baik dan buruk buat mereka, kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
suka thor gk bosen bacanya
Nelramstrong: aaaa... Makasih, kak
total 1 replies
Wanita Aries
kyknya nadira korban selanjutnya
Wanita Aries
nah lhoo siap2 aj nadira menyesal nntinya
Nelramstrong: harus sih 😄
total 1 replies
Wanita Aries
bagus thorr
Nelramstrong: terima kasih 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
mampir thor
Nelramstrong: hai, kak. terimakasih sudah mampir, ya 🙏
total 1 replies
Arema Nia
semoga sukses untuk penulisnya
Arema Nia
ceritanya bagus dan lancar
Ani
nahkan pasti Mamanya Bima juga dijadikan pembokat sampe stroke.
Ani
bau baunya Si Nandira mau dijadikan pembokat sekalian pengasuh mamanya Bima nih...
Nelramstrong: lanjut baca yuk, kak. terima kasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
Arema Nia
bagus danenarik
Nelramstrong: Terima kasih ulasannya, Kak. Ditunggu bab selanjutnya, ya 😁
total 1 replies
Arema Nia
pertama baca bagus ceritanya ...sukses selalu
Nelramstrong: Terima kasih, kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!