Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
Hari ini hujan turun tanpa henti sejak pagi buta. Suasana syahdu ini sebenarnya sangat pas untuk bermalas-malasan di balik selimut, apalagi hari ini adalah akhir pekan. Namun, di mansion keluarga Giovano, kata "malas" tampaknya tidak ada dalam kamus sang nyonya rumah.
Setelah sarapan usai, Ashley langsung mengurung diri di ruang kerja. Ia bahkan sempat memberikan setumpuk brosur dan daftar universitas terbaik kepada Kevin sebelum menghilang di balik pintu jati besar itu.
Kevin kini duduk di perpustakaan, dikelilingi ribuan buku yang aromanya menenangkan. Sebuah pena bertengger di daun telinganya, sementara jemarinya sibuk menggulir layar ponsel untuk mencari informasi detail mengenai setiap universitas.
"Hm, apa aku ambil jurusan konstruksi saja, ya?" gumamnya seraya mencatat beberapa poin penting di buku catatannya.
Tiba-tiba, ia teringat pada seseorang. Kevin meraih ponselnya dan mencari nama Mike, teman dekatnya yang saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi. Telepon diangkat pada dering kedua. Suara berat dan ceria menyahut dari seberang sana.
"Kevin! Sudah lama sekali kita tidak bicara. Bagaimana kabarmu?"
"Ah, ya... aku baik-baik saja, Mike."
"Apa yang kau lakukan sekarang? Masih betah di perusahaan media membosankan itu?"
"Tidak, aku sudah berhenti sejak lama. Saat ini aku... yah, pengangguran," jawab Kevin agak ragu. Ia sengaja merahasiakan status pernikahannya dengan Ashley. Bagaimanapun, identitas barunya sebagai seorang 'Giovano' belum saatnya menjadi konsumsi publik.
"Pengangguran? Wah, apa kau meneleponku untuk menanyakan lowongan kerja di kantorku?"
"Bukan begitu. Aku menelepon karena berencana untuk mulai kuliah. Aku ingin bertanya tentang kampusmu."
"Oh, kau akhirnya sadar akan pentingnya gelar, ya? Kampusku, Universitas Collux, adalah yang terbaik. Peringkat kedua di negara ini. Kualitasnya tidak perlu diragukan, tapi persaingannya gila-gilaan."
"Hm... kau sendiri ambil jurusan apa?"
"Hukum. Kau tahu sendiri kan, aku sangat ingin menjadi jaksa."
Kevin terdiam sejenak, mencoba mencocokkan ingatan masa lalunya dengan kenyataan sekarang. "Kau? Mike sang raja bolos yang hobinya tidur di jam sejarah?"
"Heh! Jangan bahas masa lalu, itu hanya fase puber!" Mike berdehem untuk menutupi rasa malunya. "Kembali ke topik, kau mau ambil jurusan apa?"
"Entahlah... aku bingung antara bisnis atau konstruksi."
"Loh, kenapa pilihannya spesifik sekali? Kau tidak ingin melanjutkan karier di bidang penyiaran atau komunikasi?"
"Tidak. Karena suatu kondisi... aku harus memilih di antara dua itu."
"Kondisi? Kau dapat beasiswa dari perusahaan kontraktor, ya?"
"Yah... anggap saja begitu."
"Hm, aku tidak bisa memutuskan sesukaku karena ini menyangkut masa depanmu, Vin. Tapi saranku, ambil saja jurusan bisnis dengan lingkup yang luas. Manajemen bisnis di Collux itu gerbang menuju jaringan elit."
"Begitu? Oke, aku akan mendiskusikannya dulu dengan seseorang kalau begitu."
"Seseorang?" Mike tertawa menggoda. "Kau tidak menyebut 'orang tua'. Apakah 'seseorang' ini adalah sosok rahasia yang cantik? Jangan bilang kau sedang dipelihara oleh tante kaya?"
"Sembarangan! Sudah ya, kututup dulu. Sampai jumpa!"
Kevin mematikan sambungan dengan wajah memerah. Ia segera merapikan catatannya dan melangkah menuju ruang kerja Ashley. Ia mengetuk pintu perlahan, lalu membukanya sedikit. Di sana, Ashley tampak sangat fokus di depan monitor. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya-pemandangan baru yang membuat Ashley terlihat berkali-kali lipat lebih cerdas dan... menawan.
"Um, Ash... boleh aku masuk?"
Ashley mengangkat kepala sejenak, lalu kembali menatap layar. "Masuklah. Ada apa?"
Kevin duduk di kursi seberang meja Ashley. "Soal kuliah..."
"Kau sudah memutuskan?"
"Ya. Aku akan memilih Universitas Collux."
"Pilihan bagus. Itu salah satu aset pendidikan yang didukung keluarga Giovano. Aku akan menyuruh Neena menyiapkan semua dokumen dan biaya administrasinya."
"Tapi..." Kevin menjeda kalimatnya, membuat Ashley mengalihkan perhatian sepenuhnya. "Aku masih bingung soal jurusan."
"Kenapa harus bingung? Pilih saja di antara akuntansi, bisnis, atau konstruksi."
"Bagaimana menurutmu? Ada saran?"
"Saranku, ambil jurusan bisnis. Lingkupnya luas dan akan sangat berguna saat kau memegang kendali Giotech C&T nanti."
Kevin mengangguk mantap. "Oke. Karena 'kalian berdua' bilang begitu, aku akan mengambil bisnis saja."
"'Kalian berdua'?" Ashley menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit tidak senang dengan istilah itu.
"Temanku, Mike, yang kubicarakan waktu itu. Dia juga kuliah di Collux dan menyarankan hal yang sama."
"Jadi kau memilih kampus itu karena temanmu ada di sana?"
"Yah, setidaknya agar aku tidak harus repot-repot mencari teman baru dari nol. Dia teman masa SMA-ku."
"Memiliki koneksi lama itu bagus. Tapi ingat, Collux bukan tempat sembarangan. Hanya orang-orang dengan uang melimpah dan otak encer yang ada di sana. Kau harus menjalin koneksi baru dengan para pewaris di sana," ucap Ashley dengan nada bisnisnya yang kaku.
"Iya, aku akan mencoba."
Ashley menatap Kevin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya mendadak berubah menjadi kritis, seolah sedang menginspeksi barang cacat di pabriknya. "Karena kau akan sering keluar rumah dan mewakili namaku, kau harus dirombak sedikit."
"Hm? Merombak?" Kevin menunduk, menatap dirinya sendiri.
"Kulihat selama setahun ini kau hanya memakai kaos polos dan celana pendek. Apa hanya itu pakaian yang kau punya?"
"Tentu saja tidak. Aku punya baju lain. Aku hanya mengenakan ini karena aku selalu di rumah. Kupikir tidak perlu berdandan kalau tidak ada tamu."
Ashley menghela napas panjang, lalu melepaskan kacamatanya. "Besok, kosongkan jadwalmu. Kita akan pergi belanja. Aku akan memenuhi ruang pakaianmu dengan merk-merk perancang terkenal. Kau tidak boleh terlihat seperti pengangguran saat masuk ke gerbang Collux."
Keesokan Harinya: Pusat Perbelanjaan Elit Diamond District
Ashley benar-benar membuktikan ucapannya. Ia menutup salah satu butik ternama hanya untuk mereka berdua. Kevin berdiri di depan cermin besar, merasa canggung saat beberapa pelayan toko mengukur tubuhnya dengan sangat teliti.
"Cobalah setelan ini," perintah Ashley sambil menunjuk sebuah jas semi-formal berwarna navy.
Setiap kali Kevin keluar dari ruang ganti, Ashley hanya menggeleng atau mengangguk singkat.
"Terlalu longgar."
"Warnanya membuatmu terlihat pucat."
"Nah, yang ini lumayan."
Kevin merasa seperti manekin hidup. Namun, saat ia mencoba sebuah kemeja sutra berwarna hitam dengan kerah terbuka, Ashley terdiam cukup lama. Matanya menatap leher Kevin yang terekspos, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.
"Itu... cukup bagus. Kita ambil sepuluh warna berbeda untuk model itu," ucap Ashley dengan suara yang sedikit bergetar, meski ia mencoba tetap terlihat datar.
"Sepuluh?! Ash, aku tidak butuh baju sebanyak itu!" protes Kevin.
"Diamlah. Kau juga butuh jam tangan baru. Aku tidak ingin suamiku melihat waktu dari ponsel murah itu lagi."
Sore itu berakhir dengan belasan tas belanjaan mewah yang memenuhi bagasi mobil. Kevin hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa hidupnya memang telah berubah total. Ia bukan lagi Kevin sang rakyat jelata; ia adalah proyek terbaru Ashley Giovano yang harus tampil sempurna di mata dunia.
POV Mike: Di Apartemen Mahasiswa
Setelah menutup telepon dari Kevin, Mike terdiam menatap ponselnya. Ia merasa ada yang aneh. Suara Kevin terdengar jauh lebih tenang, bahkan ada aura kemewahan yang sulit dijelaskan meski hanya melalui audio.
"Kondisi khusus? Dan dia bisa masuk Collux begitu saja?" gumam Mike. Ia tahu masuk ke Collux butuh koneksi atau uang yang sangat besar. "Kevin... apa yang sebenarnya kau sembunyikan?"
Mike tersenyum kecil. Ia tidak sabar bertemu temannya itu di kampus. Ia punya firasat bahwa Kevin yang akan ditemuinya nanti bukanlah Kevin yang ia kenal dulu.