Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di sudut kantin kampus yang cukup tenang, Nadya duduk terdiam.
Matanya menatap kosong ke arah deretan kendaraan di parkiran, sementara pikirannya terbang jauh ke rumah, pada kakaknya yang tadi pagi terlihat sangat pucat.
Edwin datang menghampiri sambil membawa nampan berisi dua porsi ayam goreng krispi dan es teh manis.
Ia meletakkan makanan itu di depan Nadya, namun sang kekasih bahkan tidak bergeming.
"Eh, kok malah melamun? Ini ayam goreng favoritmu, mumpung masih panas," ujar Edwin sambil menyodorkan bungkusan saus.
Nadya menghela napas panjang, lalu menopang dagunya dengan satu tangan.
"Enggak nafsu makan, Win."
Edwin mengernyitkan dahi, ia ikut duduk di hadapan Nadya.
"Ada apa? Masih kepikiran soal tugas kelompok yang mau kita kerjakan nanti malam?"
"Bukan itu, Mas. Aku kasihan sama Mbak Linggar."
Edwin terdiam sejenak, ia tahu betapa dekatnya hubungan kakak-beradik itu.
"Soal Mbak Linggar yang pingsan kemarin? Kan tadi pagi kelihatannya sudah lebih baik, apalagi setelah minum bubur yang kubawa."
"Bukan cuma soal fisiknya, Win. Tapi soal hatinya," Nadya menatap Edwin dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mbak Linggar itu cantik, dia pintar, dia lembut. Tapi dia selalu merasa dirinya kurang karena bentuk tubuhnya dan karena perkataan Riko yang mengatakan kalau Mbak Linggar seperti Babi. Dia terlalu menutup diri sampai-sampai nggak punya kehidupan pribadi. Aku sedih melihat dia terus-terusan mengutamakan kepentinganku dan pekerjaannya, tapi dia sendiri kesepian."
Nadya mengaduk-aduk es tehnya dengan tatapan sedih.
"Hari Minggu kemarin, dia bilang mau mulai olahraga lagi. Aku senang, tapi aku juga takut dia memaksakan diri cuma karena rasa minder. Aku ingin sekali melihat Mbak Linggar dicintai oleh pria yang tulus, yang nggak cuma melihat penampilan saja."
Edwin meraih tangan Nadya dan menggenggamnya lembut.
"Mbak Linggar itu orang baik, Nad. Orang baik pasti akan bertemu dengan jalan yang baik juga. Mungkin ini saatnya dia keluar dari zona nyamannya."
Nadya mengangguk pelan, tanpa menyadari bahwa di saat yang sama, kakaknya sedang terlibat dalam jaring kebohongan yang sangat rumit dengan bosnya sendiri demi mengejar cinta yang selama ini Nadya harapkan untuknya.
Sementara itu di rumah Linggar dimana jam menunjukkan pukul empat sore.
Linggar sudah bersiap dengan celana legging hitam dan kaos longgar.
Sore itu, suasana kamar Linggar terasa sunyi sebelum dering ponsel di atas nakas memecah keheningan.
Layar menunjukkan nama "Nadya". Linggar yang sedang duduk melamun di tepi tempat tidur segera mengangkatnya.
"Halo, Nad?"
"Mbak, aku lagi sama Edwin di tempat ayam goreng yang biasa kita beli. Mbak mau aku belikan juga? Masih panas nih, kulitnya krispi banget. Biar Mbak semangat pemulihannya," suara Nadya terdengar antusias di seberang sana.
Linggar spontan tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sebenarnya digunakan untuk menutupi rasa sesak di dadanya karena teringat salad organik pemberian Rangga tadi pagi.
"Mbak sudah makan, Nad. Kenyang banget malah," jawab Linggar sambil berusaha meredakan tawanya.
"Sudah, kamu lanjut saja makan sama Edwin. Jangan kepikiran Mbak terus."
"Beneran, Mbak? Biasanya Mbak paling nggak bisa nolak ayam goreng ini. Mbak lagi apa sekarang?" tanya Nadya heran.
Linggar melirik setelan olahraga yang sudah ia siapkan di atas kursi.
" Mbak masih santai, lagi nonton drama Cina di kamar. Seru banget ceritanya, jadi Mbak malas gerak. Sudah ya, lanjut saja kencannya!"
"Hahaha, dasar Mbak! Ya sudah, jangan lupa minum air putih yang banyak. Aku tutup ya!"
Klik.
Linggar menutup ponselnya dan menghela napas panjang.
Senyum di wajahnya perlahan memudar. Ia merasa bersalah karena lagi-lagi harus berbohong pada adiknya.
Ia bukan sedang menonton drama, melainkan sedang mempersiapkan diri untuk "drama" nyata dalam hidupnya.
Ia menatap jam dinding yang jarumnya terus bergerak menuju angka lima.
Linggar bangkit dan mulai mengenakan pakaian olahraganya, kaos oversize berwarna abu-abu dan legging hitam.
Ia menguncir rambutnya dengan tinggi, mencoba menyeka keringat dingin yang mulai muncul di telapak tangannya.
"Mbak tidak sedang menonton drama Cina, Nad. Mbak sedang bersiap untuk masuk ke dalam lubang yang Mbak gali sendiri."
Linggar duduk di ruang tamu, terdiam di depan jendela sambil menunggu suara mobil yang sangat ia kenali.
Setiap detik terasa seperti detak bom waktu yang siap meledak sore ini di gym milik Rangga.
Tepat pukul lima sore, sebuah klakson pendek terdengar dari depan pagar rumah Linggar.
Suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat jantung Linggar berdegup dua kali lebih kencang.
Dengan menarik napas panjang, ia menyandang tas olahraganya dan melangkah keluar.
Rangga sudah berdiri di samping mobilnya. Pria itu telah menanggalkan setelan jas formalnya, berganti dengan kaos compression hitam yang mencetak jelas lekuk otot dadanya dan celana training senada.
Penampilannya benar-benar definisi pria atletis yang sempurna.
"Sudah siap?" tanya Rangga sambil membukakan pintu mobil.
Linggar hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan.
Lidahnya terasa kelu untuk sekadar mengucap kata "siap", karena sejujurnya, ia merasa sangat tidak percaya diri.
Perjalanan sore itu berakhir di sebuah gedung modern dengan desain industrial yang elegan.
Papan nama besar bertuliskan "Steward’s Elite Gym" menyambut mereka.
Tempat itu tampak sangat eksklusif, jauh dari kesan gimnasium umum yang sesak.
Begitu mereka masuk, aroma segar dan dentuman musik bertempo cepat langsung menyapa.
Rangga berjalan dengan langkah penuh otoritas, menyapa beberapa stafnya dengan anggukan singkat. Ia kemudian memanggil seorang asisten wanita bertubuh fit bernama Maya.
"Maya, bantu aku. Tolong ambil data awal untuk Linggar," perintah Rangga tegas.
Maya tersenyum ramah dan mengarahkan Linggar menuju timbangan digital yang canggih.
Rangga berdiri tidak jauh dari sana, menunggu dengan tangan bersedekap di dada.
Ia tidak menatap dengan tatapan menghakimi, melainkan dengan tatapan seorang pelatih yang serius.
Linggar naik ke atas timbangan dengan perasaan campur aduk.
Angka-angka di layar digital itu bergerak cepat sebelum akhirnya berhenti.
"Berat badan 90 kilogram, Pak Rangga. Dan untuk tinggi badannya 167 sentimeter."
Linggar menunduk, menatap ujung sepatunya saat mendengar angka 90 itu terasa seperti beban yang sangat berat di pundaknya.
Ia membayangkan apa yang ada di pikiran Rangga sekarang dimana seorang pria yang memuja foto "Nadya" yang ramping, kini harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sekretarisnya memiliki berat hampir satu kuintal.
Rangga melangkah mendekat, mengambil tablet dari tangan Maya dan memperhatikannya sejenak.
Kemudian ia menatap Linggar yang masih tertunduk.
"Tinggi 167 dengan berat 90. Artinya kamu punya potensi otot yang bagus jika dilatih dengan benar, Linggar," ucap Rangga dengan wajah yang tidak menunjukkan rasa kecewa sedikit pun.
"Potensi?"
"Ya. Jangan melihat angkanya sebagai musuh. Lihat itu sebagai titik awal. Aku tidak peduli berapa angkanya hari ini, yang aku pedulikan adalah berapa banyak keringat yang akan kamu keluarkan mulai sore ini," Rangga menyerahkan kembali tablet itu pada Maya.
"Maya, siapkan jadwal latihan beban dasar. Aku sendiri yang akan mengawasi sesi cardio-nya di treadmill setelah ini. Ayo, Linggar. Jangan hanya berdiri, perjuanganmu dimulai sekarang."
Linggar menelan salivanya, ia tahu sore ini akan menjadi sore yang sangat panjang, namun entah mengapa, kata-kata Rangga barusan memberinya sedikit percikan keberanian yang selama ini hilang.