NovelToon NovelToon
Dewa Level Nol

Dewa Level Nol

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kultivasi Modern / Action
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!

Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.

Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUNTEL MENEMUKAN GUDANG SENJATA SEKTE

TANG! KRAAAK!

Suara logam patah dan kunyahan keras langsung menyambut kedatangan Feng di depan pintu Gudang Senjata.

Dua penjaga gudang yang tadinya berjaga dengan tombak perak kini jatuh terduduk. Wajah mereka pucat pasi. Tangan mereka bergetar memegang gagang kayu yang ujung kayunya... sudah hilang.

"M-Monster apa ini?!" jerit salah satu penjaga. "Tombak pusaka tingkat tiga-ku... dimakan seperti kerupuk!"

"Kyuuuk!" Buntel bersendawa kecil. Asap perak keluar dari hidungnya. Dia mengunyah sisa mata tombak itu dengan nikmat, lalu menatap tajam ke arah dalam gudang yang terbuka setengah.

"Buntel! Berhenti!" Feng melompat dan mendarat tepat di depan naga buncitnya. Napasnya terengah-engah.

Feng langsung memeluk leher naga perak itu sekuat tenaga. "Jangan masuk! Di dalam sana itu bukan makanan, itu utang baru! Kita baru saja lunas, masa mau utang lagi?!"

Penjaga yang satu lagi akhirnya sadar dari syoknya. Dia menarik pedang cadangan dari pinggangnya. "Berani sekali kau melepaskan hewan buas di area terlarang! Serang dia!"

"Mas, jangan!" Feng melotot panik sambil menahan Buntel yang meronta. "Jangan keluarkan pedang Mas! Simpan saja! Masukkan lagi ke sarungnya!"

"Jangan bodohi kami! Kami penjaga elit!"

Penjaga itu menebas ke arah leher Buntel. Namun, Buntel sama sekali tidak menghindar. Naga sebesar anak lembu itu justru memanjangkan lehernya dan membuka rahangnya lebar-lebar.

KRAAAUK!

Bilah pedang itu masuk tepat ke mulut Buntel. Dengan satu gigitan renyah, pedang baja itu patah jadi dua. Buntel mengunyahnya dengan ekspresi sangat puas.

Penjaga elit itu membeku menatap gagang pedang di tangannya yang kini tak berbilah.

SISTEM: NOTIFIKASI KEUANGAN. DUA TOMBAK PERAK DAN SATU PEDANG BAJA TINGKAT TIGA TELAH DIKONSUMSI. TOTAL KERUGIAN: 15.000 KOIN EMAS. BIAYA AKAN DITAGIHKAN KEPADA TUAN.

"Lima belas ribu?!" Mata Feng melotot hampir keluar. Dia menampar jidatnya sendiri. "Mas Penjaga! Kan sudah saya bilang jangan dikasih lihat pedangnya! Dia itu gampang lapar kalau lihat barang mengkilap!"

"K-Kau... kalian berdua tamat! Aku akan bunuh—"

Belum sempat penjaga itu menyelesaikan kalimatnya, Buntel tiba-tiba menggeliat kuat. Kekuatan naga purba itu membuat Feng terlempar ke belakang dan mendarat dengan pantat mencium tanah.

Wuuush!

Buntel melesat masuk melewati celah gerbang raksasa itu.

"Tidak! Buntel! Kembali!" teriak Feng histeris. Dia langsung bangkit dan berlari menyusul naga rakusnya ke dalam.

Begitu masuk ke dalam gudang, rahang Feng nyaris jatuh ke lantai. Ruangan itu sangat luas, diterangi oleh batu kristal bercahaya di langit-langit. Ribuan rak kayu berjajar rapi, menampilkan segala jenis senjata. Mulai dari pedang, golok, tombak, cambuk, hingga perisai tebal.

Udara di dalam sini dipenuhi aroma besi tua dan energi sihir yang sangat pekat. Bagi manusia, ini adalah harta karun. Bagi Buntel, ini adalah surga kuliner tanpa batas.

"Kyuuuuk!"

Buntel melompat ke atas rak terdekat yang berisi tumpukan belati perunggu. Tanpa ampun, dia membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai menyedot belati-belati itu seperti mesin penyedot debu.

Klotak! Klotak! Kraaak!

"Berhenti! Berhenti mengunyah!" Feng berlari dan mencoba menarik ekor Buntel. "Itu uang semua, Buntel! Uang! Patriark bisa stres dan botak kalau tahu isi gudangnya kau jadikan camilan sore!"

Buntel hanya mendengus cuek. Ekornya mengibas, membuat Feng terpental menabrak rak berisi baju zirah.

Tiba-tiba, dari lorong sebelah kiri, muncul seorang kakek tua bungkuk. Dia memakai kacamata setebal pantat botol dan berjalan sangat lambat menggunakan tongkat. Itu pasti Tetua Penjaga Gudang.

"Siapa di sana?" suara kakek itu bergetar parau. Matanya menyipit ke arah Buntel yang sedang sibuk mengunyah perisai baja. "Oh... kucing siapa ini? Kok besar sekali? Masuk dari mana, meong?"

Feng buru-buru berdiri. "Kek! Jangan mendekat! Itu bukan kucing, itu naga pemakan logam!"

Tapi kakek itu kelihatannya setengah tuli. Dia malah tersenyum ramah dan merogoh saku jubahnya. Dia mengeluarkan sebuah pisau lempar berkarat.

"Pus meong lapar ya? Ini, kakek punya sisa besi tua tadi pagi," ucap kakek itu sambil melempar pisau tersebut ke arah Buntel.

"Kek, astaga! Jangan dikasih makan!" jerit Feng frustrasi.

Hap! Buntel menangkap pisau berkarat itu di udara, menelannya utuh, lalu menjilat bibirnya menatap si kakek dengan mata berbinar. Buntel perlahan maju mendekati kakek itu, mengendus-endus tongkat besinya.

"Aduh, kucing pintar. Mau tongkat kakek juga?" kakek itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Sistem! Berapa biaya kalori untuk menghentikan naga gila ini secara paksa?!" batin Feng panik.

SISTEM: MENGHENTIKAN NAGA PURBA TAHAP DUA YANG SEDANG MABUK BESI MEMBUTUHKAN KEKUATAN FISIK PENUH. BIAYA: 5 JAM WAKTU HIDUP.

"Lima jam! Lumayan mahal, tapi lebih baik daripada disuruh bayar ganti rugi miliaran lagi!"

Feng langsung memasang kuda-kuda. Otot kakinya mengencang. Dia melesat secepat kilat, menyela di antara kakek tua itu dan Buntel. Tangan kanan Feng langsung memiting leher Buntel dengan teknik kuncian gulat.

"Kena kau, Kadal Buncit! Ayo kita keluar sekarang!" Feng menarik leher Buntel sekuat tenaga.

TENG! TENG! TENG! TENG!

Suara lonceng darurat tiba-tiba berbunyi sangat keras dari luar gudang. Para penjaga di luar rupanya sudah memukul tanda bahaya.

"Gawat, pasti sebentar lagi rombongan panitia dan keamanan datang," gumam Feng sambil terus menyeret Buntel ke arah pintu keluar. "Kalau kita ketahuan di sini, habis sudah rencana makan siang gratisku."

Buntel meronta pelan. Tapi anehnya, naga itu tiba-tiba berhenti melawan. Dia diam mematung.

"Nah, gitu dong. Penurut sedikit," ucap Feng lega.

Tapi kelegaan Feng hanya bertahan satu detik. Hidung Buntel yang pesek itu kembang kempis. Matanya yang keperakan tiba-tiba menatap tajam ke arah langit-langit gudang. Tepatnya, ke arah lantai dua ruangan ini yang disegel dengan pintu emas besar.

"Kyuk?" Buntel bergumam pelan. Air liur peraknya menetes ke lantai, langsung membuat ubin batu itu mendesis kepanasan.

SISTEM MENGELUARKAN PERINGATAN MERAH MENYALA: SENSOR TARGET MENDETEKSI TUJUH SUMBER ENERGI LOGAM PURBA DI LANTAI DUA.

IDENTIFIKASI: TUJUH PEDANG PUSAKA LELUHUR SEKTE.

STATUS: HADIAH UTAMA TURNAMEN BESOK.

NILAI: TIDAK BISA DIHITUNG.

Wajah Feng langsung sepucat mayat. "Buntel... jangan bilang kau mencium bau..."

Sebelum Feng selesai bicara, Buntel mengibaskan tubuhnya dengan kekuatan penuh. Kuncian lengan Feng lepas begitu saja. Naga perak itu mengaum keras, mengeluarkan raungan kegirangan yang menggetarkan seluruh rak senjata di lantai satu.

Buntel menekuk lutut kakinya, lalu melompat setinggi belasan meter, meluncur lurus ke arah langit-langit dan pintu emas pelindung lantai dua.

"TIDAAAAAAK!!!" Feng berteriak kencang sambil melompat menyusul, mencoba meraih ekor naga peliharaannya.

BRAAAAK!

Pintu emas tebal yang dijaga oleh puluhan lapis formasi pelindung itu hancur berantakan ditabrak kepala keras Buntel. Bunyi ledakan sihir dan pecahan logam bergema memekakkan telinga.

Feng berhasil mendarat di tepian lantai dua yang hancur, tepat beberapa detik setelah Buntel masuk. Debu keemasan mengepul tebal di udara.

Saat asap mulai menipis, pemandangan di dalam ruangan itu membuat jantung Feng serasa ditarik paksa dari dadanya.

Tujuh buah pedang pusaka dengan warna dan aura berbeda-beda tertancap rapi di atas altar batu giok putih. Energi yang dipancarkannya begitu tajam, membuat kulit Feng terasa tersayat hanya dengan melihatnya dari jauh.

Dan tepat di tengah altar itu, Buntel sedang membuka rahangnya lebar-lebar. Mulutnya mengarah tepat pada pedang pusaka yang terletak paling tengah—sebuah pedang berwarna biru kristal yang memancarkan badai angin puting beliung kecil di sekeliling bilahnya.

"Buntel! Muntahkan niatmu sekarang juga! Itu pedang leluhur, bukan permen es serut!" teriak Feng panik, bersiap menerjang ke depan.

Namun, dari arah tangga utama di ujung ruangan, terdengar suara derap langkah puluhan orang yang berlari naik dengan tergesa-gesa.

"Ada penyusup di Ruang Pusaka Leluhur! Tangkap dia mati atau hidup!" teriak suara seorang pria yang sangat dikenal Feng. Itu suara Long Chen, jenius nomor satu dari faksi dalam.

Feng menoleh ke belakang, melihat Long Chen dan belasan Tetua elit sudah berdiri di depan pintu tangga. Mereka menghunuskan senjata dengan wajah penuh amarah mematikan.

Lalu Feng kembali menoleh ke depan, melihat Buntel yang baru saja menggigit gagang pedang biru kristal itu dan mulai mengunyahnya dengan bunyi *krak krak krak* yang sangat renyah dan keras.

"Sistem," gumam Feng pasrah, kedua tangannya terkulai lemas di samping badan. "Pesan peti mati sekarang. Yang ukuran sedang saja, bayar pakai sisa umurku."

1
Fatur Fatur
cepat bantai sosok berjubah hitam itu thor bikin racun itu tidak mempan pada mcnya
M. Zayden: siap bosku😊
total 3 replies
strivee
smphnjs
Gege
kereen...sangat apik dan epic
M. Zayden: maksi bosku masukannya, saya minta maaf kalau jalan cerita sudah berubah lagi karna saya ada perbaiki ulang🙏
total 1 replies
strivee
bahasa alien
M. Zayden: di skip kak
total 1 replies
Gege
gasss teruus thorr
Gege
apik dan epic
M. Zayden: mkasi bosku😊😊🙏
total 1 replies
Gege
kereen sangat apik dan epic...gasss 10k kata tiap update...
M. Zayden: siap bosku di usahakan karna saya juga kerja bosku
total 1 replies
Gege
mantab thor. gaya bahasanya enak ..
M. Zayden: makasih bosku masukannya 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!