EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Bersentuhan
Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaan itu, matanya kembali menatap lurus ke arah Zunaira kali ini dengan tatapan yang sangat dalam dan jujur.
"Karena saya butuh seseorang yang mengerti bahasa hati santri Zunaira, keilmuan bisa dikejar tapi empati dan ketulusan adalah anugerah dan..." Azlan menggantung kalimatnya sejenak.
"Dan karena saya ingin orang pertama yang membantu saya membangun kembali tempat ini adalah seseorang yang selama tujuh tahun ini fotonya...eh maksud saya namanya selalu ada dalam doa-doa saya di depan Multazam." jawab Azlan.
Zunaira seolah lupa cara bernapas, kalimat Azlan barusan hampir menyerupai sebuah pengakuan meski dibungkus dengan bahasa yang sangat halus.
Sebelum Zunaira sempat menanggapi Azlan sudah berdiri.
"Sudah hampir Maghrib, kita lanjutkan besok lusa dan terima kasih untuk waktunya Ustadzah Zunaira." ucap Gus Azlan.
Azlan melangkah pergi dengan langkah tenang meninggalkan Zunaira yang masih terpaku di tempatnya duduk.
Teh di gelasnya sudah mendingin, namun hatinya justru terasa terbakar oleh debaran yang tak menentu.
Zunaira menatap punggung Azlan yang kian menjauh, di bawah langit senja yang mulai menggelap ia menyadari satu hal yaitu pengabdiannya di pesantren ini tidak akan pernah sama lagi.
Ada sebuah rahasia besar yang mulai tumbuh di antara tumpukan kitab dan diskusi kurikulum ini.
Sebuah rahasia yang ia takutkan akan menghancurkan ketenangannya namun di saat yang sama memberikan harapan yang selama ini terkunci rapat di dasar hatinya.
Ia membereskan catatannya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Di salah satu sudut kertasnya tanpa sadar ia telah mencoretkan sebuah kalimat kecil puitis.
“Sejauh apapun burung terbang, ia akan kembali ke dahan tempatnya pertama kali belajar mengenal angin.”
Zunaira bangkit, berjalan menuju asrama putri dengan langkah yang terasa lebih ringan namun penuh tanya.
Apakah ini awal dari sebuah keberkahan ataukah awal dari sebuah ujian kesabaran yang lebih besar lagi? Hanya sang pemilik waktu yang tahu jawabannya.
...****************...
Pagi itu, suasana di lorong-lorong kelas asrama putri terasa sedikit lebih terik dari biasanya.
Kabar bahwa Gus Azlan akan masuk ke kelas Ulya tingkat tertinggi di madrasah bersama Ustadzah Zunaira telah menyebar lebih cepat daripada aroma kopi di kantin pesantren.
Bagi para santriwati, melihat Gus Azlan adalah sebuah peristiwa tapi namun melihatnya mengajar bersama ustadzah favorit mereka adalah sebuah fenomena.
Zunaira berdiri di depan cermin kecil di kamarnya dan merapikan letak jarum pentul di dagunya untuk kesekian kalinya.
Ia mengenakan gamis berwarna cokelat tua dengan kerudung lebar berwarna senada.
Penampilannya sangat bersahaja namun ada aura keanggunan yang terpancar dari ketenangannya.
Meski begitu di dalam hatinya Zunaira merasa seperti sedang bersiap menuju medan perang yaitu perang melawan gejolak batinnya sendiri.
"Ustadzah Zu sudah ditunggu Gus Azlan di depan kantor madrasah." suara santri khadamah mengejutkannya.
"Nggih, saya segera ke sana." jawab Zunaira sambil menarik napas panjang.
Saat ia berjalan menuju kantor, ia bisa merasakan mata-mata kecil dari balik jendela kelas memperhatikan langkahnya.
Bisik-bisik santriwati yang biasanya membicarakan hafalan bait Alfiyah kini berganti topik.
"Lihat, Ustadzah Zu serasi sekali ya kalau jalan searah sama Gus Azlan." bisik salah satu santri yang sayup-sayup terdengar oleh Zunaira.
Zunaira mempercepat langkahnya, menundukkan kepala lebih dalam.
Kalimat "serasi" adalah belati yang manis namun menyakitkan bagi hatinya yang sadar diri.
Di depan kantor madrasah Azlan sudah berdiri menunggu, ia mengenakan baju koko berwarna biru langit yang nampak sangat segar dan dipadukan dengan sarung sutra hitam.
Ia sedang memegang beberapa lembar fotokopi materi yang akan dibagikan.
Begitu melihat Zunaira mendekat Azlan tidak memberikan senyum yang berlebihan hanya sebuah anggukan kecil yang sangat menghargai.
"Sudah siap ustadzah Zunaira?" tanya Azlan pelan saat mereka mulai berjalan beriringan menuju kelas, tetap dengan jarak dua meter yang terjaga.
"Insya Allah Gus, tapi saya sedikit khawatir dengan antusiasme anak-anak sepertinya mereka lebih tertarik melihat Gus daripada melihat kitabnya." canda Zunaira tipis, mencoba mencairkan suasana kaku di antara mereka.
Azlan terkekeh rendah, suara yang membuat beberapa santriwati yang kebetulan lewat mendadak salah tingkah.
"Itu tugasmu ustadzah, tugasmu adalah memastikan perhatian mereka kembali ke kertas bukan ke pengajarnya, saya hanya akan bicara di sepuluh menit pertama, sisanya saya serahkan padamu untuk memandu diskusi." seru Gus Azlan.
Begitu mereka memasuki ruang kelas, suasana yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap.
Tiga puluh pasang mata santriwati menatap ke depan dengan binar yang tak bisa disembunyikan.
Zunaira memulai dengan salam dan mukadimah singkat, lalu memberikan panggung kepada Azlan.
Azlan mulai menjelaskan visi baru pengajaran bahasa Arab, cara bicaranya sangat runut, logis, dan penuh dengan analogi-analogi cerdas yang ia bawa dari Mesir.
Namun Zunaira menyadari sesuatu, sesekali saat sedang menjelaskan poin yang sulit, Azlan akan menoleh ke arahnya seolah meminta konfirmasi apakah penjelasannya bisa dipahami atau apakah ia perlu menurunkan standarisasi bahasanya.
"Bahasa itu seperti ruh." ucap Azlan sambil menuliskan sebuah kalimat di papan tulis dengan kaligrafi yang sangat indah.
"Jika kalian hanya hafal rumusnya tanpa tahu cara menjiwainya, maka bahasa itu mati. Ustadzah Zunaira akan membantu kalian bagaimana cara meniupkan ruh ke dalam kalimat-kalimat yang kalian susun." ucap Gus Azlan.
Zunaira mengambil alih sesi berikutnya, ia mengajak santriwati untuk membuat sebuah paragraf pendek tentang "Kerinduan pada Rumah" dalam bahasa Arab.
Ia berkeliling dari meja ke meja mengoreksi diksi dan tata bahasa para santri, tanpa ia sadari Azlan juga ikut berkeliling di sisi yang lain.
Kejadian yang membuat jantung Zunaira hampir copot terjadi saat mereka berdua tanpa sengaja berhenti di meja yang sama untuk mengoreksi tulisan seorang santri bernama Fatimah.
"Diksi ini kurang tepat Fatimah, pakai 'isytiyaq' lebih dalam maknanya daripada sekadar 'rindu'." saran Zunaira sambil menunjuk kertas Fatimah.
Di saat yang sama, Azlan juga mengulurkan tangan untuk menunjukkan kata yang dimaksud di kamus yang tergeletak di meja.
Jari mereka hampir bersentuhan yaitu hanya terpaut beberapa milimeter, Zunaira secara refleks menarik tangannya secepat kilat sementara Azlan terdiam sejenak menatap jarinya sendiri lalu menatap Zunaira dengan tatapan yang sulit diartikan.
Fatimah, sang santri hanya bisa menutup mulut dengan telapak tangan wajahnya memerah melihat momen singkat namun intens tersebut.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
Ada yang penasaran sama kelanjutan ceritanya???
Yuk komen yaaaa gimana perasaan kalian setelah membaca sampai di bab ini.
Aku berharap buat para pembaca semuanya yuk dukung aku biar tambah semangat buat update bab nya setiap hari yang bisa bikin cerita-cerita seru lainnya.
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...