NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Penjaga Terakhir dan Gadis dari Kuil Hening

Suasana di halaman rumah Ki Garna masih berbau amis akibat cairan hitam Manusia Kerak. Ranu menatap Ki Sastro yang sedang membersihkan pedangnya dengan tangan gemetar.

"Sastro," panggil Ranu. Suaranya berat, penuh pertimbangan.

"Iya, Den? Hamba siap berangkat. Tas perbekalan sudah hamba isi dengan dendeng dan sambal kering ekstra," jawab Sastro dengan semangat yang dipaksakan.

Ranu menggeleng pelan. Ia meletakkan tangannya di bahu Sastro. "Kau tidak ikut denganku ke Gerbang Antar Alam. Tugasmu jauh lebih berat di sini."

Sastro tertegun. "Tapi Den, siapa yang akan mengurus makan Anda? Siapa yang akan menyiapkan air hangat? Anda tahu sendiri, Anda sering lupa waktu kalau sudah meditasi."

"Sastro, dengarkan aku," mata perak Ranu menatap tajam. "Manusia Kerak yang tadi hanyalah pengintai. Jika aku pergi dan membawa serta Ki Ageng Jagat, desa ini akan kosong. Aku butuh seseorang yang aku percayai sepenuhnya untuk menjaga Bapak dan Ibu. Seseorang yang tahu cara menghadapi sisa-sisa energi iblis."

Sastro terdiam. Ia melihat Ki Garna dan Nyai Sumi yang tampak trauma di ambang pintu. "Tapi Den... Anda sendirian?"

"Aku tidak akan sendirian," ucap Ranu sambil menoleh ke arah hutan jati. "Aku sudah memanggil 'dia' lewat getaran batin sejak aku bangun dari tidur delapan tahun lalu. Sudah waktunya dia memenuhi janjinya pada langit."

Tiba-tiba, dari puncak pohon jati tertinggi, melesat sesosok bayangan yang sangat ringan. Sosok itu mendarat tanpa suara di samping Ranu. Dia adalah seorang gadis remaja seusia Ranu, mengenakan pakaian ringkas berwarna hijau lumut dengan kain penutup wajah tipis. Di punggungnya terikat sebuah busur besar yang terbuat dari kayu hitam yang memancarkan cahaya hijau redup.

"Lapor, Sang Pemilik Bintang," ucap gadis itu sambil berlutut satu kaki. "Hamba, Nara dari Suku Penjaga Hening, siap mendampingi perjalanan Anda."

Sastro melongo. "Nara? Bukankah Suku Penjaga Hening itu dianggap mitos yang sudah punah seribu tahun lalu?"

"Kami tidak punah, Paman," sahut Nara sambil membuka penutup wajahnya, menampakkan wajah yang cantik namun dingin dengan mata hijau zamrud. "Kami hanya menunggu pemegang tujuh bintang terbangun dari tidurnya. Tugasku adalah menjadi mata dan telinga bagi Gusti Ranu."

Ranu tersenyum kecil. "Nara memiliki kemampuan Langkah Tanpa Jejak dan busurnya bisa menembus dimensi. Dia adalah rekan yang paling cocok untuk masuk ke Gerbang Antar Alam. Sementara kau, Sastro, kau adalah benteng terakhir rumah ini."

Sastro akhirnya mengangguk mantap, meski matanya berkaca-kaca. "Baik, Den Ranu. Hamba bersumpah, selama nyawa hamba masih dikandung badan, tidak akan ada satu pun serangga langit yang bisa menyentuh ujung kaki Bapak dan Ibu."

Perjalanan Dimulai: Menuju Danau Cermin

Tanpa membuang waktu, Ranu dan Nara berangkat menuju Benua Utara. Berbeda dengan Sastro yang cerewet, Nara adalah sosok yang sangat pendiam. Namun, ia sangat cekatan. Setiap kali Ranu merasa lapar (yang mana sering terjadi), Nara sudah lebih dulu menyiapkan buah-buahan hutan atau ikan bakar tanpa perlu diminta.

"Nara," panggil Ranu saat mereka beristirahat di tepi sungai.

"Iya, Gusti?"

"Berhenti memanggilku Gusti. Di bumi ini, namaku Ranu. Dan satu lagi... apakah kau punya makanan yang sedikit lebih 'berasa'? Ikan bakar tanpa garam ini membuatku rindu sambal terasi Sastro," keluh Ranu sambil menggigit ikan dengan wajah melas.

Nara menatap Ranu dengan heran. "Hamba kira seorang Dewa Tertinggi sudah melampaui nafsu duniawi seperti rasa asin dan pedas."

Ranu menghela napas panjang. "Itulah kesalahan persepsi kalian. Menjadi dewa itu membosankan. Menjadi manusia itu melelahkan, tapi setidaknya lidahmu bisa menari. Jadi, di perhentian depan, tolong cari pasar atau kedai, ya?"

Nara hanya mengangguk datar, namun ada kilatan jenaka di matanya. "Hamba mengerti, Ranu."

Ancaman di Danau Cermin

Sesampainya di perbatasan Benua Utara, udara berubah menjadi sangat dingin hingga membekukan napas. Di depan mereka terbentang Danau Cermin, sebuah danau yang airnya begitu tenang hingga tampak seperti kaca raksasa yang memantulkan langit.

"Hati-hati, Ranu," bisik Nara sambil menyiapkan busurnya. "Air ini tidak memantulkan bayangan kita, tapi memantulkan ketakutan kita."

Ranu melihat ke dalam air. Benar saja, ia tidak melihat wajah tampannya, melainkan melihat bayangan orang tuanya yang sedang dikepung oleh kegelapan.

"Ilusi tingkat rendah," gumam Ranu. Ia hendak melangkah maju, namun tiba-tiba permukaan danau pecah.

Bukan Manusia Kerak yang muncul, melainkan sesosok wanita dengan gaun putih panjang yang melayang di atas air. Wajahnya sangat cantik, namun tangannya memegang sebuah harpa yang terbuat dari tulang manusia.

"Selamat datang, Wira Candra," ucap wanita itu. "Aku adalah Sari si Penenun Mimpi, utusan dari Langit Kesepuluh. Kau datang untuk mencari Pusaka Pemurni? Sayangnya, pusaka itu sudah menjadi bagian dari jantungku."

Nara langsung melepaskan tiga anak panah cahaya sekaligus. Namun, anak panah itu justru berbalik arah dan menyerang mereka sendiri.

"Nara, mundur!" teriak Ranu. Ia menghantam tanah dengan tangannya, menciptakan dinding tanah untuk melindungi mereka.

"Dia menggunakan kekuatan Pembalik Ruang," ucap Ranu sambil menyipitkan mata. "Satu-satunya cara mengalahkannya adalah dengan menyerangnya dari dua dimensi sekaligus. Nara, kau bisa melakukan itu?"

Nara menarik napas dalam-dalam, auranya berubah menjadi hijau pekat. "Hamba bisa membelah anak panah hamba ke alam bayangan. Tapi hamba butuh gangguan selama tiga detik."

Ranu menyeringai. "Tiga detik? Aku akan memberimu sebuah pertunjukan orkestra."

Ranu melesat maju, bukan dengan kekuatan dewa yang menghancurkan, melainkan dengan tarian yang sangat cepat hingga menciptakan puluhan bayangan dirinya.

"Hoi, Nona Harpa! Musikmu terlalu sedih, bagaimana kalau aku ajarkan cara berjoget yang benar?" teriak Ranu sambil melemparkan segenggam kacang tanah yang ia curi dari kedai terakhir ke arah wajah sang musuh.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!