Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Yang Terbuka
Rahman memapah Fariz kembali ke rumah yang ada di perbatasan desa.
Sesampainya di sana, ia merebahkan Fariz di atas kasur. Tubuh Fariz masih gemetar. Napasnya belum sepenuhnya teratur.
"Tadi itu apa, Man?" Suara Fariz pelan. Masih terkejut dengan serangan yang baru saja ia alami. Serangan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Nyata. Fisik. Mengerikan.
"Selama ini aku baru tahu kalau serangan itu memang nyata."
Rahman duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding. Mengatur napasnya yang masih terengah.
Keduanya terdiam.
Sesekali mengintip ke luar jendela. Takut ada yang mengikuti mereka sampai ke sini.
Hingga pukul dua belas siang, suasana desa masih tampak sama.
Kabut tebal masih berada di luar. Dibarengi dengan bayangan-bayangan hitam yang lalu lalang. Bukan bayangan warga. Lebih seperti sesuatu yang bergerak tanpa tubuh. Entitas yang berkeliaran di dalam kabut. Tinggi. Ramping. Bergerak dengan cara yang tidak wajar.
Fariz dan Rahman saling menatap dari jendela. Tidak bicara. Hanya menatap dengan wajah yang sama-sama pucat.
Lalu mereka bersiap untuk shalat Dzuhur.
Mengambil wudhu dengan sisa air yang ada di bejana. Air yang warnanya sedikit lebih gelap dari kemarin. Tapi masih bisa dipakai.
Keduanya menggelar sajadah. Berdiri. lalu memulai.
Selesai shalat, keduanya masih duduk di atas sajadah. Menunduk. Telapak tangan terbuka di pangkuan.
"Apa yang sebenarnya Kyai sembunyikan dari kami?" Rahman bergumam pelan. Lebih ke dirinya sendiri daripada ke Fariz.
Selama ini ia hanya menuruti perintah Kyai Salman tanpa banyak bertanya. Sebagai bentuk khidmat pada sang guru. Tapi sekarang, setelah melihat dan merasakan sendiri, ia mulai bertanya-tanya apakah Kyai Salman menyembunyikan terlalu banyak untuk melindungi mereka, atau justru karena tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya.
Di belakang Rahman, Fariz masih memegangi dadanya.
Sentuhan Kyai Salman masih terasa. Rasa hangat itu belum sepenuhnya hilang. Dan kali ini, bayangan wajahnya tampak lebih jelas. Seolah ia hadir di hadapannya. Lebih nyata dari mimpi. Lebih dekat dari memori.
"Apakah aku mampu melawan semua ini?" Fariz bergumam sambil menyentuh dadanya. Merasakan rasa hangat yang masih bersisa di sana.
Semua yang terjadi di rumahnya membuat ia semakin tidak percaya bahwa Kyai Salman mewariskan tugas yang seberat ini untuknya. Ia tahu siapa yang menyerang tadi. Dewi Kuasa yang disebutkan dalam lembaran tulisan Kyai Salman.
Tapi ia tidak tahu apa sebenarnya Dewi Kuasa itu.
Dari mana ia berasal. Kenapa ia berkuasa di desa ini. Dan bagaimana cara mengalahkannya.
Fariz hanya tahu satu hal: ia punya sesuatu di dalam dadanya yang bisa melawan. Tapi ia tidak tahu apakah itu cukup.
DI TEMPAT LAIN
Siang hari, Aisyah tampak gusar.
Rasanya ingin segera menemui Fariz. Tapi ia tidak berani keluar karena suasana Desa Sumberarum benar-benar tidak karuan. Kabut masih tebal di luar. Bayangan-bayangan hitam masih berkeliaran.
Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar. Mencari akal bagaimana caranya untuk bertemu dengan Fariz.
Lalu ia mendengar suara langkah berat dari balik pintu.
Ia berjalan perlahan. Membuka pintu kamarnya sedikit. Mengintip.
Dari sini ia melihat Darma Wijaya sedang berjalan menuju ruang kerjanya.
"Bapak."
Aisyah menggumam sambil menggosok matanya. Berusaha meyakinkan diri bahwa yang ia lihat adalah Darma Wijaya sang ayah. Bukan yang lain.
Ia memberanikan diri untuk mengekor dari belakang. Berjalan pelan. Tidak membuat bunyi.
Lalu berhenti di depan pintu ruang kerja.
Pintunya tertutup. Tapi dari celah bawah pintu, ia melihat bayangan bergerak di dalam. Seperti ada yang berdiri di tengah ruangan.
Aisyah menarik napas perlahan. Memegang gagang pintu. Lalu menekannya.
"Aisyah."
Suara itu datang dari belakangnya.
Aisyah tersentak. Bulu kuduknya merinding. Jantungnya berhenti sebentar.
Lalu tangan menyentuh pundaknya.
"Akh!"
Aisyah berteriak. Memejamkan kedua matanya. Tubuhnya benar-benar tidak bergerak. Seperti membeku di tempat.
"Aisyah, ada apa? Ini Bapak."
Suara Darma Wijaya pelan. Tangannya memutar tubuh Aisyah perlahan.
Aisyah tidak mau membuka matanya. Karena yang ia tahu, Darma Wijaya ada di dalam ruang kerja. Ia melihat bayangannya di sana. Ia yakin.
"Nak... hey."
Darma Wijaya menepuk pipinya perlahan. Berusaha menyadarkannya.
Aisyah membuka matanya.
Dan ia melihat Darma Wijaya.
Benar-benar Darma Wijaya yang sehari-hari ia lihat. Matanya tidak berubah. Wajahnya tidak pucat seperti yang ia lihat pagi tadi di ritual.
"Ba... bapak!"
Ia langsung memeluknya dengan erat. Seperti seseorang yang baru saja selamat dari sesuatu yang menakutkan.
"A-ada apa, Aisyah?"
Darma Wijaya tercekat. Putrinya tidak pernah seperti ini.
"A-aku baru saja..."
Aisyah tidak melanjutkan. Hanya menunjuk ke arah ruang kerja dengan tangan yang gemetar.
"Bapak ada di dalam."
Darma Wijaya tersenyum.
Dingin.
Terlalu dingin untuk situasi seperti ini.
Aisyah merasakan sesuatu yang tidak pas dari senyum itu. Tapi ia tidak bicara. Takut. Takut kalau ia bilang sesuatu, senyum itu akan berubah jadi sesuatu yang lain.
"Desa ini sedang diserang oleh wabah." Darma Wijaya bicara pelan. Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Mungkin leluhur sedang menjaga kita dari serangan wabah ini. Kamu mungkin melihat bayangan mereka."
Ia memutar tubuh Aisyah perlahan. Menunjuk ke arah jendela.
"Tapi kamu tidak perlu kuatir. Bapak dan para warga sudah selesai berdoa."
Dan memang benar.
Kabut yang tadi menutupi rumah perlahan mulai memudar. Tidak hilang sepenuhnya. Tapi menipis. Cukup untuk melihat matahari di balik awan.
Aisyah menatap dengan mata yang tidak sepenuhnya percaya. Tapi ia tidak bilang apa-apa.
"Malam ini Bapak mau berdoa di ruang belakang." Darma Wijaya menepuk pundak Aisyah. "Jadi tolong kamu tidak ganggu Bapak dulu."
Lalu ia membuka pintu ruang kerjanya.
Di dalam, tidak ada siapa-siapa.
Ruangan kosong. Tidak ada bayangan. Tidak ada yang berdiri di tengah.
Aisyah mengintip dari balik bahu ayahnya. Menatap sekeliling. Mencari tanda bahwa ia tidak salah lihat tadi.
Tapi tidak ada.
Darma Wijaya masuk. Menutup pintu dari dalam.
Aisyah berdiri di situ cukup lama. Menatap pintu yang tertutup.
Lalu berbalik dan kembali ke kamarnya dengan langkah yang pelan.
Hingga sore hari, Aisyah menunggu di ruang tamu.
Memantau ke arah luar. Kabut mulai pergi perlahan. Tidak hilang sepenuhnya. Masih ada di ujung jalan. Masih menutupi beberapa rumah. Tapi tidak setebal tadi pagi.
Beberapa warga terlihat lalu lalang di depan rumahnya. Berjalan seperti biasa. Tapi ada yang berbeda.
Semua warga mengenakan pakaian serba hitam.
Aisyah mengerutkan dahi. Menatap mereka satu per satu.
Kenapa hitam? Kenapa semua? Tidak ada yang pakai warna lain?
Tapi ia tidak berani bertanya. Hanya menatap dari jendela dengan perasaan tidak nyaman yang semakin kuat.
"Nduk."
Darma Wijaya berdiri di samping Aisyah. Entah sejak kapan. Aisyah tidak mendengar ia datang.
"Jangan lupa nanti malam kunci pintunya."
Ia merapikan pakaiannya di depan cermin. Pakaian hitam. Seperti yang dipakai warga di luar.
"Bapak akan berdoa kepada Sang Dewi Kuasa agar mengusir wabah itu dari sini selama beberapa hari ke depan."
Aisyah tersentak mendengar nama itu.
Sang Dewi Kuasa.
Nama yang sama yang ia baca di catatan yang ia temukan. Nama yang sama yang ia dengar dari bisikan di ritual pagi tadi.
Ia menatap punggung ayahnya. Ingin bertanya. Ingin bilang sesuatu.
Tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.
Darma Wijaya berbalik. Menatap Aisyah sebentar. Seperti menunggu reaksi.
Tapi Aisyah hanya mengangguk. Diam.
Darma Wijaya tersenyum tipis. Lalu berjalan ke pintu.
Aisyah membukakan pintu untuknya.
"Kunci dari dalam." Darma Wijaya bicara tanpa menoleh. "Jangan buka untuk siapa pun sampai Bapak kembali."
Lalu ia pergi.
Malam hari.
Aisyah sudah tidak mampu lagi menahan diri. Ingin bertemu dengan Fariz. Harus bertemu dengan Fariz.
Beberapa anak buah Darma Wijaya terlihat berdiri di depan rumah. Cukup ketat. Nyaris tanpa celah untuk ia bisa keluar.
Lalu terdengar suara kentungan dari ruangan yang digunakan Darma Wijaya.
Puluhan orang mulai berjalan memasuki rumah. Satu per satu. Semua memakai pakaian serba hitam. Semua diam. Seperti prosesi yang sudah diatur.
Aisyah menunggu sampai sepi.
Lalu ia bergerak.
Keluar lewat pintu belakang. Perlahan. Mengendap seperti bayangan.
Sampai di pagar. Melompat. Mendarat dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Lalu ia mendengar langkah.
Aisyah langsung bersembunyi di balik pohon besar di samping rumah. Napasnya tertahan. Jantungnya berdetak keras.
Salah satu anak buah Darma Wijaya berjalan melewatinya. Tidak melihat. Tidak menoleh.
Aisyah menunggu sampai langkah itu menjauh. Lalu ia bergerak lagi.
Menyelinap dari rumah ke rumah. Bersembunyi dibalik bayang-bayang. Sampai akhirnya ia tiba di rumah Fariz.
"Fariz!"
Aisyah berbisik ke jendela rumahnya. Jendela kamar yang ia ingat.
"Fariz!"
Tidak ada balasan.
Ia mengintip dari balik sirip. Kamarnya kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Lalu ia mendengar suara.
Suara Sucipto dan Ratna sedang berbicara di dalam rumah. Aisyah menempelkan telinganya ke dinding.
"Bu... jangan sampai Fariz pergi ke pondok." Suara Sucipto terdengar jelas. Lelah. Putus asa.
"Ibu sudah tidak tahu lagi harus bagaimana kalau anak itu benar-benar tinggal di sana, Pak."
Rintihan Ratna. Suara yang penuh kekhawatiran bercampur ketakutan.
Aisyah menarik napas.
Fariz tidak ada di rumah. Dan orang tuanya tahu ia ada di pondok.
Ia harus ke sana.
Aisyah berlari ke arah pondok Al Mukhlisin.
Tidak lagi bersembunyi. Tidak ada waktu. Kakinya bergerak cepat di jalan yang masih ditutupi kabut tipis.
Sampai di depan gerbang pondok, ia berhenti.
Gerbang tertutup. Tapi tidak terkunci.
"Fariz!"
Aisyah memanggil dari luar. Suaranya pelan tapi cukup keras untuk didengar kalau ada yang di dalam.
"Rahman!"
Tidak ada jawaban.
Ia mendorong gerbang perlahan. Masuk.
Halaman pondok sunyi. Tidak ada cahaya dari dalam. Tidak ada suara langkah.
"Fariz!"
Aisyah berjalan ke dalam. Melewati koridor yang gelap. Tangannya meraba dinding untuk mencari jalan.
"Rahman!"
Masih tidak ada jawaban.
Hanya suara angin yang bertiup pelan. Dan suara jangkrik yang terdengar terlalu keras di keheningan ini.
Lalu matanya tertangkap oleh sesuatu.
Pintu.
Pintu kamar di ujung koridor. Pintu yang ia ingat selalu tertutup rapat setiap kali ia ke sini.
Pintu kamar Kyai Salman.
Sekarang terbuka lebar.
Aisyah berdiri di situ.
Menatap pintu yang terbuka itu. Dari dalam kamar, tidak ada cahaya. Hanya kegelapan.
Tapi ada sesuatu yang menariknya untuk mendekat. Sesuatu yang membuatnya merasa ia harus masuk ke sana.
Atau mungkin ada yang menunggu di dalam.
Aisyah melangkah pelan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Mendekat ke pintu yang terbuka itu.
Dan berhenti tepat di ambang.
Menatap ke dalam kegelapan.
Tidak tahu apa yang akan ia temukan di sana.
Tidak tahu apakah ia siap untuk menemukannya.
Tapi ia tahu satu hal.
Ia tidak bisa berbalik sekarang.