NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18:Harus bisa

Tahun terakhir di sekolah ini berasa berjalan jauh lebih lambat dan menyiksa dari yang kubayangkan. Setiap detik yang berdetak seolah-olah membawa beban yang semakin berat di pundakku. Aku melangkah masuk ke dalam kelas dengan kaki yang terasa seperti diseret. Cermin di asrama tadi pagi menunjukkan pantulan yang menyedihkan,kulit kuning langsatku tampak pucat lesi, kehilangan rona alaminya karena aku terus-menerus terjaga di malam hari, terjebak dalam labirin pikiran tentang masalah di rumah yang tak kunjung usai.

"Hanie! Kamu ini kalau tidak memasang wajah sedih satu hari saja tidak bisa, ya? Muak aku melihatnya," tegur Syasya ketus, sesaat setelah aku mendaratkan tubuh di kursi.Dia sudah memulakan bacotan bodohnya.

Dulu, Syasya adalah tempatku berbagi tawa, namun sekarang dia telah terang-terangan menjadi "musuh dalam selimut" yang paling berbisa. Aku bahkan belum sempat membuka mulut untuk membalas sindirannya ketika tiba-tiba sebuah benda melayang di udara.

Buk!

Sebuah penghapus papan tulis mengenai tepat di bahu baju dan rok ku.Debu kapur putih seketika berjauhan dan mengotori kain biruku yang bersih dan rapi. Aku tersentak, rasa panas menjalar dari bahu hingga ke pipiku.

"Ops! Sorry, Nur Hanie. Tanganku tiba-tiba gatal sekali pagi ini."

Suara itu milik Arif. Dia berdiri di antara kerumunan meja kawan-kawannya, dikelilingi oleh tawa yang pecah. Mata gelap itu tampak bersinar nakal, memantulkan cahaya lampu kelas, namun ada sesuatu yang aneh. Dia terus tertawa , dan mengajak orang lain untuk turut serta dalam tawa itu.

Selepas kejadian tadi,Arif, yang duduk bersandar di kursinya sambil mengangkat kaki ke atas meja, memperhatikan Devian. Namun, sebagai orang yang paling lama mengenal Azka, Arif merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Dia menyadari Devian Azka hanya diam saja hari ini.Biasanya, Azka akan mengincar kepala atau sengaja menjatuhkan buku-buku korbannya hingga berhamburan. Tapi kali ini, Azka seolah-olah menjadi orang lain.

"Kok lu gak ketawa tadi, Ka," kata Arif sambil menyenggol lengan Azka. Biasanya kan ku bakal jahatin sampai ke meja depan. Kok sekarang diam saja di sini?"

Azka tersentak kecil, tawanya terdengar sedikit dipaksakan. "Ah, aku malas jalan ke depan. Buat apa meladeni orang yang menyedihkan seperti dia?"

Arif menyipitkan mata, menatap Azka dengan penuh selidik. Dia merasa sahabatnya ini sedang menyembunyikan sesuatu. Sejak kejadian di koridor beberapa hari lalu, Azka sering melamun dan jarang memulai provokasi jika tidak dipancing oleh Arif terlebih dahulu. Namun, Arif memutuskan untuk mengabaikannya sejenak dan kembali fokus meledek Hanie.

Aku menatap bahuku yang kotor, lalu perlahan beralih menatap Azka. Rasa sesak kembali menghujam dadaku. Aku teringat senyuman serba salah yang dia berikan padaku di koridor sepi itu. Aku teringat tatapan redupnya yang seolah-olah memohon ampun.Aku teringat juga Azka tadi hanya diam bahkan tak menoleh kepada ku saat Arif datang meledekku.Itu semua tipu muslihat atau mungkin sekadar rasa kasihan sesaat yang sudah menguap. Aku tak peduli

bagiku dia tetaplah Azka yang menyebalkan, Azka yang rela melakukan apa saja demi terlihat hebat dan mempertahankan posisinya dalam hirarki sosial sekolah.

"Kamu memang tidak punya pekerjaan lain ya, Arif?" tanyaku, mencoba sekuat tenaga menahan getaran di suaraku agar tidak terdengar seperti marah.

"Ada. Pekerjaanku adalah melihat sejauh mana kamu bisa bertahan tanpa punya satu pun teman di sekolah ini. Sejauh ini, kamu menang karena ternyata kamu masih belum gila," balas Arif , sambil mengenyitkan matanya ke arah Devian Azka mencari dukungan.

Seluruh kelas kembali meledak dalam tawa. Suara tawa mereka bagaikan duri-duri tajam yang menusuk pendengaranku. Aku menunduk, meraih penghapus papan tulis yang jatuh di lantai, lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan gerakan yang sangat pelan.

Aku benci fakta bahwa mata hazel-nya tetap terlihat seindah itu meski pemiliknya bertindak keji. Setiap kali aku tidak sengaja menatap mata itu, ada bagian dari diriku yang ingin percaya bahwa dia adalah orang baik yang tersesat namun setiap perbuatannya selalu menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwa dia adalah bagian dari kegelapan yang menghancurkanku.

Aku mulai membersihkan debu kapur di bahuku dengan tangan yang gemetar. Aku bisa merasakan tatapan Azka masih tertuju padaku, meski dia pura-pura sibuk mengobrol dengan yang lain.

"Hanie, lebih baik kamu diam dan jangan menjawab. Semakin kamu menjawab, semakin mereka senang," bisik Hilya yang duduk tak jauh dariku. Nada bicaranya bukan karena peduli, tapi lebih kepada rasa malu jika dia dikaitkan denganku.

Aku mengabaikannya. Aku tidak peduli lagi pada apa yang mereka pikirkan. Pikiranku justru kembali pada kejadian dulu kesedihan yang telah kucatat dalam ingatanku.

Tiba-tiba, saat jam pelajaran pertama dimulai dan guru masuk, Azka melemparkan selembar kertas kecil yang diremas ke arah mejaku. Dengan perasaan was-was, aku membukanya di bawah meja agar tidak terlihat guru.

Di dalam kertas itu tertulis: "Maaf soal bajumu. Tapi kalau kamu tidak melawan, Arif akan melakukan hal yang lebih parah. Jangan tunjukkan kalau kamu lemah di depannya."

Aku tertegun. Tulisan tangan itu kasar dan terburu-buru. Aku mengangkat wajahku, mencari sosok Azka di antara barisan kursi belakang. Dia sedang menatap papan tulis dengan ekspresi sangat serius, seolah-olah dia adalah murid teladan yang paling fokus. Namun, aku melihat jemarinya bergetar saat memegang pena.

Kebingungan menyelimuti hatiku. Siapa sebenarnya Devian Azka? Apakah dia perundung yang kejam, ataukah dia seorang pelindung yang terpaksa memakai topeng iblis? Rasa sakit di hatiku belum hilang, namun kertas kecil itu membuat luka-lukaku terasa semakin rumit.

Sepanjang pelajaran, aku tidak bisa fokus. Kata-kata Azka di kertas itu terus berputar di kepalaku. "Jangan tunjukkan kalau kamu lemah." Itu adalah saran yang aneh dari seseorang yang baru saja melemparkan penghapus ke arahku.

Arif, di sisi lain, mulai menyadari komunikasi kecil antara aku dan Azka. Dia melihat bagaimana Azka sesekali melirik ke arah mejaku dengan tatapan yang sulit diartikan. Arif bukan orang bodoh dia adalah predator yang tahu kapan sekutunya mulai berpindah haluan.

"Azka," panggil Arif berbisik saat guru sedang menulis di depan. "Nanti waktu istirahat, aku mau kamu siram tas si Hanie dengan air parit di belakang kantin. Kamu yang buat, aku yang tonton. Oke?"

Aku melihat punggung Azka menegang. Dia diam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Oke, Rif. Gampang."

Mendengar itu, hatiku mencelos. Ternyata kertas kecil tadi benar-benar hanya permainan mental. Azka akan tetap menghancurkanku demi menyenangkan Arif. Aku menggenggam serpihan cermin di saku rok ku dengan sangat kuat hingga telapak tanganku perih.

Aku menyadari bahwa di sekolah ini, kejujuran adalah barang yang lebih langka daripada emas. Setiap orang bahkan menggunakan topeng untuk menyelamatkan diri.

Aku menarik napas dalam. Jika Azka memilih untuk terus menjadi boneka Arif, maka aku juga harus memilih untuk berhenti menjadi mangsa yang pasif. Aku tidak akan membiarkan tas atau harga diriku diinjak lagi. Mulai sekarang ini mungkin akan menjadi titik balik di mana aku tidak lagi hanya menerima, tapi mulai berdiri melawan siapa pun lawannya, termasuk si mata hazel yang aneh itu.

Tembok yang kubangun di Bilik 7 semalam kini harus kubawa ke kelas. Aku tidak boleh hancur. Aku harus tetap berdiri, meski seluruh dunia ingin melihatku berlutut.Aku Hanie dan aku harus bisa.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!