Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie
Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.
Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.
Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?
Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"
Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4:Luka
Suasana kelas 4 pagi itu agak bising sambil menunggu kehadiran Bu Suraya. Aku mencoba fokus membaca catatan sejarah, namun konsentrasiku hancur saat segumpal kertas mengenai tepat di kerudungku.
Aku diam. Tidak mau melayani.
Namun, tidak lama kemudian, satu lagi gumpalan kertas mendarat di atas meja. Kali ini lebih besar. Aku menoleh ke belakang. Arif sedang bersandar di mejanya dengan senyuman yang sangat menyebalkan. Di sebelahnya, Farhan ,Devian Azka dan beberapa teman mereka sedang memperhatikan sambil berbisik-bisik.
"Woi, Nur Hanie. Kamu tidak merasa kulitmu itu makin hari makin gelap? Atau karena kamu jarang mandi?" Arif memulai serangan. Suaranya cukup keras untuk didengar oleh separuh penghuni kelas.
Beberapa siswa laki-laki mulai tertawa. Aku menggenggam pulpen di tangan hingga buku jariku memutih. Sakitnya hati hanya Tuhan yang tahu. Aku melirik ke sebelah kanan, tempat Syasya dan Hilya duduk. Aku berharap mereka akan bersuara. Setidaknya, katakan sesuatu untuk menghentikan Arif.
Tetapi, Syasya cuma menunduk memainkan kukunya, sementara Hilya berpura-pura sibuk menulis sesuatu. Mereka ada di situ, sangat dekat denganku, tetapi mereka memilih untuk membuatku menjadi "transparan".
"Diamlah, Arif. Jangan ganggu dia," tiba-tiba Farhan bersuara pelan. Namun, Arif tidak berhenti. Dia malah makin menjadi-jadi.
"Kenapa? Aku bicara kenyataan, kan? Sudah hitam, nama ayahnya pun seperti..." Arif menyebut nama ayahku dengan nada mengejek, diikuti dengan tawa besar yang sangat menghina.Devian juga menahan ketawanya bagaikan mendengar sesuatu yang lucu.
Air mataku mulai membendung. Menghina aku, aku mungkin bisa sabar. Tapi saat nama ayahku dijadikan bahan bercandaan, rasa harga diriku diinjak-injak itu sangat nyata. Aku lari ke luar kelas, menuju ke arah wastafel di ujung koridor.
Membasuh mukaku berkali-kali. Aku keluarkan cermin kecil yang selalu ada di saku baju sekolah. Di balik pantulan itu, aku melihat seorang gadis yang hancur. Bukan karena kulitnya, bukan karena namanya, tetapi karena hinaan dia sadar dia benar-benar sendirian di dunia ini.
Air mata yang bercampur dengan air keran itu terasa dingin, namun tidak mampu memadamkan api yang membara di dalam dada. Aku memandang cermin sekali lagi. Apakah warna kulit ini sebuah dosa? Apakah nama pria yang paling aku cintai di dunia ini ayahku pantas dijadikan bahan lelucon oleh seorang remaja yang tidak tahu arti hormat?
Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantung yang kencang. Di koridor yang sunyi itu, aku hanya ditemani oleh bunyi tetesan air dari wastafel yang bocor. Cus. Cus. Cus. Bunyinya seolah-olah mengejek kesunyianku.
Tiba-tiba, terdengar bunyi langkah kaki mendekat. Aku segera mengusap muka dengan ujung kerudung, tidak mau siapapun melihat kelemahanku. Ternyata Hilya. Dia berdiri di depan pintu toilet dengan wajah yang serba salah.
"Hanie... kamu oke?" suaranya lembut, namun bagiku, itu terdengar sangat munafik.
"Oke?" aku tertawa kecil yang terdengar getir. "Kamu lihat aku oke, Hilya? Tadi, saat Arif memanggilku hitam, saat dia menghina almarhum ayahku, kamu ada di situ. Kamu dengar semuanya. Kenapa kamu diam?"
Hilya menunduk. Jarinya memutar-mutar ujung baju kurungnya. "Aku... aku tidak mau cari masalah dengan kelompok Arif. Kamu tahu kan dia anak orang berpengaruh? Aku takut nanti aku juga jadi 'target'.Aku juga tahu kau mampu sendiri" Jawabnya lalu tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.
Jawaban itu lebih menyakitkan daripada ejekan Arif. Sahabat yang kuanggap sebagai pelindung ternyata hanyalah pengamat yang pengecut. "Takut jadi target? Melihatku bisa menahannya?Jadi kamu tega melihat sahabatmu sendiri hancur asalkan dirimu aman? Terima kasih, Hilya. Sekarang aku tahu di mana posisiku dalam hidupmu."
Aku melangkah melewati Hilya tanpa menoleh ke belakang. Aku tidak masuk kembali ke kelas. Aku menuju ke taman herbal di belakang blok biologi, sebuah tempat yang jarang dikunjungi siswa. Di situ, di bawah pohon rimbun, aku melepaskan segalanya. Aku menangis sejadi-jadinya.
Selama ini, aku bertahan. Aku bertahan saat mereka memanggilku 'aib ', 'arang', atau 'si gelap'. Aku anggap itu sekadar candaan bodoh remaja. Tetapi saat nama ayah dibawa-bawa—pria yang bekerja keras sebagai kuli bangunan di bawah terik matahari demi menyekolahkanku,sudah keterlaluan. Ayah berkulit gelap karena dia berkorban untukku. Dan berkulit gelap juga bukan aib.Itu normal.Dan Arif, dengan segala kemewahan hidupnya, tidak layak menyebut nama suci itu dengan nada menghina.
Sedang aku meratapi perasaan, sebuah suara berat mengejutkanku.
"Menangis tidak akan mengubah warna kulitmu, dan itu pastinya tidak akan membuat Arif tutup mulut."
Aku tersentak. Itu Farhan. Dia berdiri tidak jauh dari bangku semen yang kududuki. Dia adalah satu-satunya orang yang mencoba menegur Arif tadi, meskipun suaranya hampir tidak terdengar.
"Kamu mau apa? Mau ikut menertawakanku juga?" tanyaku kasar.
Farhan menghela napas. Dia duduk di ujung bangku, memberikan ruang yang luas di antara kami. "Aku tidak seperti mereka, Hanie. Aku minta maaf atas nama mereka. Arif dan Devian memang keterlaluan hari ini."
"Minta maaf tidak ada gunanya, Farhan. Besok dia buat lagi. Lusa dia buat lagi. Dan teman-teman 'baikku' akan terus jadi patung," aku mengusap sisa air mata.
"Kenapa kamu tidak melawan?" tanya Farhan tiba-tiba.
Aku memandangnya tepat di mata. "Lawan? Aku sendirian. Dia punya penggemar, punya pengaruh. Guru-guru pun sayang padanya karena dia atlet sekolah. Siapa aku? Cuma murid yang membawa aib."
Farhan menggeleng. "Kamu salah. Kamu punya sesuatu yang tidak dia miliki. Kamu punya harga diri. Arif? Dia cuma punya rasa sombong yang kosong. Kalau kamu terus lari seperti ini, kamu cuma memberi dia apa yang dia mau yaitu kepuasan melihatmu kalah."
Kata-kata Farhan meninggalkan kesan mendalam. Aku pulang ke rumah sore itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Di rumah, aku melihat ayah sedang beristirahat di teras. Wajahnya yang dimakan usia dan dibakar matahari tampak sangat tenang. Dia tersenyum melihatku pulang.
"Hanie sudah pulang? Mau ayah buatkan minum?" tanyanya lembut.
Aku memeluk ayah erat-erat. Aku menangis di bahunya yang kasar itu. Ayah kebingungan, namun dia mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang. "Kenapa ini nak? Ada orang yang mengganggumu di sekolah?"
Aku menggeleng. "Tidak ada apa-apa, ayah. Hanie cuma lelah."
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Kata-kata Farhan dan wajah tenang ayah berputar-putar di pikiran. Aku sadar, selama hari persekolahan di kelas 4 ini, aku selalu menjadi korban yang pasif. Aku membiarkan orang lain menentukan nilai diriku.
Keesokan harinya, aku melangkah ke kelas dengan semangat yang berbeda. Aku memakai kerudung yang paling rapi. Aku tegakkan bahu. Saat aku masuk ke kelas, suasana yang tadi bising tiba-tiba sunyi. Arif sudah siap dengan modal barunya.
"Eh, 'Si Hitam' sudah kembali! Kirain sudah pindah sekolah semalam karena malu," Arif memulai provokasi. Teman-temannya mulai bersiap untuk tertawa.
Aku tidak menunduk. Aku berjalan lurus ke mejaku, meletakkan tas, dan kemudian berbalik menghadap Arif. Aku berjalan perlahan-lahan ke arah mejanya. Seluruh kelas memperhatikan dengan napas tertahan.
"Arif," suaraku tenang, namun tegas. "Kamu bilang kulitku gelap? Benar. Aku bangga dengan kulitku. Ini adalah bukti aku anak dari seorang pejuang. Ayahku bekerja di bawah terik matahari untuk memastikan aku bisa belajar di sini. Kulitnya gelap karena dia pria sejati yang bertanggung jawab."
Aku merapatkan jarak. Arif tampak sedikit tidak nyaman. Dia tidak menyangka aku akan bersuara.
"Tapi kamu? Kamu menghina orang agar terlihat hebat. Kamu menggunakan nama ayahku sebagai lelucon karena kamu tidak punya modal lain untuk menutupi kekurangan dirimu sendiri. Kamu tahu apa yang lebih gelap dari kulitku? Hatimu, Arif. Hatimu hitam karena penuh dengan kebencian dan kebodohan.Devian Azka yang selalu mendukung Arif juga terdiam."
Suasana kelas menjadi sangat sunyi. Tidak ada yang tertawa. Malah, teman-teman Arif mulai menunduk melihat lantai.
"Jangan sekali-kali menyebut nama ayahku lagi. Kalau kamu melakukannya lagi, aku tidak akan segan-segan membawa masalah ini ke ruang kepala sekolah dan membuat laporan polisi atas perundungan verbal. Aku punya saksi," aku melirik ke arah Farhan yang memberikan anggukan kecil, lalu ke arah Syasya dan Hilya yang tampak terkejut.
Arif terdiam seribu bahasa. Mukanya merah padam, bukan karena marah, tetapi karena malu. Dia tidak menyangka gadis yang biasanya diam ini bisa membalas dengan begitu tajam.
Aku kembali ke tempat dudukku. Syasya mencoba menyentuh bahuku. "Hanie... aku..."
"Tidak perlu bicara apa-apa, Syasya," potongku. "Aku tidak butuh teman yang hanya ada saat aku tertawa, tapi menjadi 'tak terlihat' saat aku dihina. Mulai hari ini, aku lebih baik sendiri daripada dikelilingi orang yang tidak punya pendirian."
Hari itu, aku belajar sebuah pelajaran besar. Dunia ini memang kejam, dan manusia bisa menjadi sangat jahat. Namun, kuasa untuk merasa terhina itu sebenarnya ada di tangan kita sendiri. Jika kita tidak mengizinkan kata-kata mereka masuk ke dalam hati, maka kata-kata itu hanyalah kebisingan yang tidak bermakna.
Aku membuka buku pelajaran. Kali ini, aku benar-benar fokus. Bukan karena aku ingin melarikan diri, tetapi karena aku tahu, keberhasilanku adalah tamparan yang paling keras untuk orang-orang seperti Arif. Di luar jendela, cahaya matahari memancar terang, dan aku tidak lagi takut pada bayang-bayang.
Aku harus kuat untuk diriku.