Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34 simfoni kristal bumi dan gejolak rasa
Suasana di Pasar Gelap Distrik Ketiga berubah drastis. Jika sebelumnya tempat ini dipenuhi oleh hiruk-pikuk tawar-menawar dan bisikan rahasia, kini hanya ada keheningan yang mencekam. Di tengah arena, dua energi yang sangat berbeda sedang bertarung.
Lin Feng, sang Koki Bintang Satu, bekerja dengan kecepatan cahaya. Alat pembedahan atomnya mengeluarkan suara berdenging frekuensi tinggi, memecah struktur molekul Jantung Monster Kerak Bumi menjadi partikel-partikel halus yang melayang di dalam gelembung energi.
"Lihatlah, Manusia," gumam Lin Feng tanpa menoleh. "Aku sedang membuang 'dosa' dari bahan ini—rasa tanah yang kotor dan tekstur yang kasar. Yang tersisa hanyalah esensi murni energi tanah. Ini adalah kesempurnaan."
Han Shuo tidak membalas. Ia berdiri diam di depan kualinya yang membara dengan api putih. Matanya terpejam. Ia tidak lagi melihat dengan matanya, tapi dengan Indra Keenam Koki Agung.
Bagian 1: Pernapasan Sembilan Kuali
Han Shuo mulai menarik napas panjang. Bukan napas biasa, melainkan Teknik Pernapasan Sembilan Kuali, sebuah metode kultivasi kuno yang menghubungkan paru-paru manusia dengan denyut nadi alam semesta.
Huufff...
Setiap kali Han Shuo mengembuskan napas, api di bawah kualinya berdenyut.
Haahhh...
Tiba-tiba, hal aneh mulai terjadi. Energi spiritual dari bahan-bahan langka yang dijual di stan-stan sekitar—dinginnya Hati Naga Es, sengatan listrik Buah Guntur, hingga aroma manis Bunga Keabadian—mulai melayang keluar dari wadahnya. Energi itu membentuk aliran cahaya berwarna-warni yang tertarik menuju ke arah Han Shuo seperti sungai yang mengalir ke laut.
"Apa yang dia lakukan?!" teriak salah satu pedagang. "Dia mencuri esensi dari barang daganganku!"
[Sistem Notifikasi: Peringatan! Anda sedang melakukan 'Spatial Flavor Resonace' (Resonansi Rasa Ruang).]
[Status: Mengumpulkan 12 Jenis Energi Elemen. Tekanan pada tubuh: 85%.]
Han Shuo mengabaikan sistem. Keringat bercucuran dari dahi, namun tangannya tetap stabil. Ia menggunakan spatula-nya bukan untuk mengaduk, tapi untuk memandu aliran energi tersebut masuk ke dalam retakan Jantung Monster Kerak Bumi yang telah ia lumuri dengan Saus Pemberontakan.
Bagian 2: Karamelisasi Kehendak
"Bumi bukan sekadar tanah yang diam," bisik Han Shuo. "Bumi adalah ibu dari segala rasa. Jika kau membuang rasa tanahnya, kau membunuh jiwanya."
Han Shuo menghentakkan kakinya ke lantai. Energi getaran dari tubuhnya merambat masuk ke dalam masakan. Jantung batu yang keras itu mulai melunak secara ajaib. Saus Pemberontakan yang merah tua meresap ke dalam pori-pori batu, menciptakan reaksi kimia yang luar biasa.
Warna masakan Han Shuo berubah menjadi cokelat keemasan yang berkilau, dengan urat-urat merah yang bercahaya. Ini bukan lagi sekadar steak; ini terlihat seperti sebuah bongkahan permata yang sedang bernapas.
Aroma yang keluar sangat kompleks. Ada bau hujan pertama di tanah kering, aroma hutan pinus yang terbakar, dan manisnya nektar yang tersembunyi di balik akar tua.
Bagian 3: Penyajian Akhir
Lin Feng lebih dulu selesai. Di atas piring kristalnya, terdapat bola-bola cahaya transparan yang mengapung. "Hidanganku: Esensi Murni Bumi Tanpa Cela. Rasakan energi yang murni tanpa gangguan rasa kasar."
Juri pasar gelap, seorang pria tua bertopeng perak, mengambil satu bola cahaya itu. Saat ia menelannya, tubuhnya bersinar kuning redup. "Luar biasa. Energinya sangat stabil. Ini akan meningkatkan kultivasi siapa pun yang memakannya."
Namun, wajah juri itu datar. Tidak ada kenikmatan, hanya kepuasan fungsional.
Kini giliran Han Shuo. Ia menyajikan potongan jantung batu itu di atas piring tanah liat sederhana yang ia temukan di pojok pasar.
"Hidanganku," kata Han Shuo singkat. "Simfoni Akar Langit."
Begitu piring itu diletakkan di meja juri, sebuah gelombang kejut rasa tiba-tiba menyapu seluruh pasar gelap. Semua orang yang berada dalam radius lima puluh meter tiba-tiba merasakan sensasi aneh. Mereka merasa seolah-olah kaki mereka benar-benar tumbuh akar yang menembus ke dalam tanah, sementara kepala mereka menyentuh bintang-bintang.
Bagian 4: Penghakiman Sang Juri
Juri bertopeng perak itu memotong sedikit bagian dari "jantung batu" Han Shuo. Ia terkejut karena pisau peraknya memotong bahan itu seolah memotong mentega yang lembut.
Saat suapan itu masuk ke mulutnya...
BOOOOOOM!
Topeng perak sang juri retak dan jatuh ke lantai, memperlihatkan wajah yang dipenuhi bekas luka dan air mata. Ia terdiam selama satu menit penuh. Seluruh pasar ikut membeku.
"Lin Feng," kata juri itu dengan suara bergetar. "Masakanmu adalah obat yang hebat. Tapi masakan manusia ini... masakan ini adalah Kehidupan."
Sang juri berdiri, tangannya gemetar. "Aku merasakan kepahitan tanah, panasnya magma, dan dinginnya air tanah. Dia tidak membuang kekurangan bahan ini, dia justru mengubah kekurangan itu menjadi kekuatan yang menghancurkan batasan antara rasa dan jiwa. Lin Feng, kau kalah."
Lin Feng mundur selangkah, wajahnya sepucat kertas. "Tidak mungkin! Aku menggunakan teknologi atom! Aku koki bintang satu! Bagaimana mungkin seorang manusia dari duni bawah bisa..."
"Karena kau memasak dengan mesin, Lin Feng," potong Han Shuo sambil menyeka keringatnya. "Sedangkan aku memasak dengan rasa lapar dari sejuta jiwa yang terabaikan di bawah sana."
Bagian 5: Hadiah dan Perjanjian
Berdasarkan aturan duel, Lin Feng harus menyerahkan indra pengecapnya. Namun, saat juri mengangkat tangannya untuk melakukan segel, Han Shuo berbicara.
"Tunggu," kata Han Shuo. "Aku tidak butuh lidahnya yang sombong itu. Biarkan dia tetap bisa merasakan, agar setiap kali dia memakan makanan mewah yang hambar, dia akan selalu teringat rasa pedas dari gang sempit Sektor Akar."
Han Shuo menatap Lin Feng. "Sekarang, tepati janjimu. Beli Lot #99 untukku."
Dengan tangan gemetar dan penuh rasa malu, Lin Feng mengeluarkan kartu kristalnya dan membayar 50.000 Kristal Rasa kepada pelelang. Lot #99—sebuah kotak kayu kecil yang memancarkan energi hijau yang hangat—akhirnya berpindah tangan ke Han Shuo.
[Sistem Notifikasi: Misi Selesai!]
[Anda Mendapatkan: Bibit Pohon Kedelai Surgawi (Peringkat Ilahi).]
[Reputasi di Distrik Ketiga: 'Si Koki Pemberontak'.]
Bagian 6: Rahasia di Balik Bibit
Han Shuo kembali ke Sektor Akar malam itu juga. Di dalam kedaunya yang sederhana, ia membuka kotak Lot #99. Di dalamnya, terdapat sebuah biji kecil berbentuk seperti air mata yang bersinar dengan cahaya zamrud.
Tiba-tiba, suara ayahnya terdengar dari Kotak Bumbu Raja di pinggangnya, lebih jelas dari sebelumnya.
"Shuo-er... biji itu... dia haus."
Han Shuo terkejut. "Haus? Apa aku harus memberinya air suci atau energi Qi?"
"Bukan," jawab suara ayahnya yang terdengar lelah namun bijak. "Biji ini tidak tumbuh dari air. Ia tumbuh dari Esensi Rasa. Kau harus memasakkan sesuatu untuk biji ini agar dia mau bersemi dan membentuk tubuh baru untukku."
Han Shuo menatap biji itu. Benua Atas benar-benar gila. Bahkan tanaman pun memiliki selera makan yang tinggi.
Bagian 7: Ancaman Baru dari Menara Langit
Sementara itu, di puncak Menara Langit yang megah, Lin Feng berlutut di depan sebuah bayangan besar yang duduk di atas takhta emas.
"Maafkan aku, Guru," bisik Lin Feng dengan suara ketakutan. "Manusia itu... dia memiliki teknik yang tidak masuk akal."
Sosok di atas takhta itu adalah Dewa Kuliner Ba-Zhen, penguasa tertinggi Gastronomy City. Ia sedang memutar sebuah anggur yang terbuat dari esensi bintang.
"Seorang manusia yang bisa melakukan Resonansi Ruang?" suara Ba-Zhen terdengar seperti gesekan pisau di atas piring porselen. "Menarik. Sudah ribuan tahun sejak seseorang dari Benua Bawah mengusik ketenangan kita. Jika dia memiliki Bibit Kedelai Surgawi itu, berarti dia sedang mencoba membangkitkan sebuah jiwa."
Ba-Zhen berdiri. "Kita tidak bisa membiarkan benih itu tumbuh. Jika benih itu mekar sempurna, ia akan menyerap 10% energi spiritual seluruh kota ini hanya untuk satu orang. Itu adalah pemborosan yang tidak bisa dimaafkan."
"Lalu apa perintah Anda, Guru?"
"Kirimkan Tiga Algojo Lidah Hitam ke Sektor Akar," perintah Ba-Zhen dingin. "Hancurkan kedainya, ambil kembali bijinya, dan pastikan tangan manusia itu tidak akan pernah bisa memegang spatula lagi."
Bagian 8: Persiapan di Kedai Arwah Lapar
Han Shuo tidak tahu bahwa badai sedang menuju ke arahnya. Ia sedang sibuk bereksperimen. Ia menyadari bahwa untuk menumbuhkan bibit ini, ia membutuhkan bahan yang sangat ekstrem: Garam dari Lautan Air Mata Penyesalan.
"Grog!" panggil Han Shuo.
Raksasa biru itu muncul dengan wajah bengkak (ia baru saja memenangkan duel gulat demi mendapatkan bahan tambahan untuk Han Shuo). "Ya, Bos?"
"Apakah kau tahu di mana aku bisa menemukan Lautan Air Mata Penyesalan?"
Wajah Grog seketika berubah menjadi biru pucat. "Bos... jangan ke sana. Itu bukan laut biasa. Itu adalah tempat di mana semua koki yang gagal di Benua Atas membuang diri mereka. Airnya sangat asin hingga bisa menghancurkan kulit dalam hitungan detik."
Han Shuo tersenyum, kilatan tekad muncul di matanya. "Jika itu bisa menghancurkan kulit, maka itu juga bisa memurnikan jiwa. Aku harus pergi besok pagi."
Tiba-tiba, pintu depan kedai ditendang hingga hancur. Tiga sosok berjubah hitam dengan topeng berbentuk mulut yang terkunci berdiri di sana. Udara di dalam ruangan seketika menjadi dingin dan berbau busuk.
"Han Shuo," salah satu algojo berkata, suaranya serak. "Makan malam terakhirmu sudah siap. Dan kamilah yang akan menyajikannya."
Han Shuo perlahan mengambil Pisau Bulan Sabit-nya.
"Maaf, Teman-teman," kata Han Shuo sambil mengaktifkan Qi apinya. "Tapi kedai ini sudah tutup untuk malam ini. Dan aku tidak menerima tamu yang masuk tanpa
* Pencapaian: Memenangkan duel melawan Lin Feng, mendapatkan Bibit Kedelai Surgawi.
* Item Baru: Bibit Kedelai Surgawi (Sentient).
* Musuh Baru: Dewa Kuliner Ba-Zhen & Tiga Algojo Lidah Hitam.
* Misi Berikutnya: Mencari Garam dari Lautan Air Mata Penyesalan.