Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17. Rencana
Riverdale, Arcduchy of Vancroft.
“Bagaimana kondisi di Greenfields?” tanya Komandan Cassian dengan suara tenang namun tegas.
“Lapor, Komandan. Kami telah menerima balasan dari Wakil Komandan. Beliau menyampaikan bahwa situasi di sana berjalan lancar dan terkendali,” jawab salah satu bawahannya sambil memberi hormat.
Cassian mengangguk pelan. “Kalau begitu, bawa masuk orang-orang itu.”
Perintah tersebut segera dilaksanakan. Beberapa prajurit menyeret tujuh orang yang tampak babak belur. Mereka adalah para komandan pasukan militer Torrhen yang memimpin 'bantuan' tepatnya pengintai ke wilayah Arcduchy Vancroft.
Cassian berdiri dari kursinya, lalu berjalan mendekat. Ia berjongkok di hadapan mereka, menatap satu per satu dengan sorot mata dingin.
“Sebenarnya, dari mana pemimpin kalian mendapatkan keberanian hingga berani mengganggu waktu istirahat Arcduke kami?” ucapnya pelan. Tangannya menepuk ringan pipi salah satu tawanan—bukan dengan ramah, melainkan sebagai bentuk penghinaan.
Ia kemudian bertanya tanpa menoleh, “Semua pelanggar aturan militer kita sudah dihukum?”
“Sudah, Komandan. Semua yang melanggar telah dihukum sesuai peraturan militer Vancroft,” jawab bawahannya.
“Lalu tujuh orang ini?” tanya Cassian.
“Berdasarkan laporan warga, mereka menyalahgunakan kekuasaan. Ada dugaan penculikan terhadap perempuan desa serta tindakan keji lainnya terhadap warga sipil. Menurut hukum militer Vancroft, siapa pun yang menyalahgunakan wewenang—terutama terhadap anak-anak, perempuan, dan lansia—akan dijatuhi hukuman berat sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam hal ini adalah 5 ribu kali cambukan atau eksekusi langsung.”
Cassian terdiam sesaat, menatap ketujuh orang itu. Wajah mereka yang tadi masih menyisakan kesombongan kini dipenuhi ketakutan.
Salah satu dari mereka berseru, “Kami bawahan langsung Duke Torrhen! Kalian tidak bisa menghukum kami sesuka hati!”
Dalam sekejap, Cassian berdiri dan menendang pria itu hingga terjatuh ke belakang. Suaranya tetap terkendali, namun sarat ancaman.
“Bukan hanya Duke-mu. Bahkan kaisar sekalipun tidak berhak mencampuri penegakan hukum di wilayah Vancroft.”
Ia menoleh pada para prajuritnya.
“Bawa mereka. Tegakkan hukuman sesuai peraturan yang berlaku.”
Para prajurit segera menyeret ketujuh tawanan itu keluar ruangan. Suasana kembali sunyi, menyisakan ketegangan yang menggantung di udara.
...***...
Count Ashford memasuki ruang kerjanya dengan langkah berat. Pintu ditutup perlahan, lalu ia berjalan menuju meja kerjanya yang dipenuhi dokumen. Tangannya terangkat memijat pelipis, berusaha meredakan pening yang sejak tadi mengganggu.
Ia baru saja kembali dari rapat mingguan para menteri kekaisaran. Biasanya rapat itu berlangsung formal dan santai, namun hari ini terasa berbeda. Duke Stephen berkali-kali mengajukan pertanyaan kepadanya—pertanyaan yang tajam, terarah, dan seolah sudah dipersiapkan.
Sebagai Menteri Dalam Negeri, tugas Ashford meliputi pengawasan administrasi wilayah kekaisaran, pengelolaan pajak hingga memastikan stabilitas politik di antara para bangsawan. Ia juga bertanggung jawab atas distribusi logistik ke provinsi-provinsi dan pengawasan kebijakan hukum sipil.
Namun hari ini, Duke Stephen tidak sekadar menanyakan laporan rutin.
“Bagaimana perkembangan stabilitas di wilayah perbatasan barat?”
“Apakah ada peningkatan pengiriman logistik ke Vancroft dalam tiga bulan terakhir?”
“Seberapa sering Anda berkorespondensi langsung dengan Arcduke?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi cara penyampaiannya membuat Ashford sadar bahwa ia sedang diuji. Beberapa kali ia harus membuka kembali catatan untuk memastikan jawabannya tidak keliru. Bahkan ada momen singkat ketika ia terdiam, mencari kata yang tepat agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Ia sangat tahu semua ini berkaitan dengan surat balasan dari Arcduke beberapa waktu lalu—surat yang terlalu tenang, terlalu percaya diri.
Ashford menarik napas panjang.
“Arcduke… benar-benar tidak bisa diremehkan,” gumamnya pelan.
Yang bergerak sejauh ini bahkan bukan sang penguasa Vancroft secara langsung, melainkan bawahannya. Namun dampaknya sudah terasa hingga ruang rapat kekaisaran. Jika hanya menghadapi para komandan saja sudah membuat situasi bergejolak, bagaimana jika ia harus berhadapan langsung dengan Arcduke?
Ia duduk dan menatap kosong ke arah jendela sebelum akhirnya meraih selembar perkamen serta pena bulu. Tinta hitam menyentuh permukaan kertas dengan ragu-ragu.
“Setidaknya aku harus mengambil risiko,” bisiknya pada diri sendiri. “Jika rumor itu benar, aku akan mendapat keuntungan besar. Dan jika tidak… aku tidak akan kehilangan apa pun.”
Rumor yang beredar menyebutkan bahwa Arcduke tengah melemah. Jika itu benar, maka langkah cepat akan memberinya lebih banyak keuntungan. Namun jika kabar itu hanyalah umpan, maka ia harus memastikan dirinya tetap berada di sisi yang aman.
Pena itu kembali bergerak, menyusun kalimat yang terukur dan penuh kehati-hatian.
Kini yang tersisa hanyalah harapan—agar kabar tentang melemahnya Arcduke benar adanya.
...***...
Kantor Archduke — Sore Hari
Arthur duduk di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan dokumen—laporan ekonomi kuartal terakhir, proposal pembangunan jalur perdagangan baru, petisi dari berbagai guild pengrajin dan pedagang, serta pekerjaan administrasi tanpa akhir yang tampaknya menjadi bagian tak terpisahkan dari gelar Archduke.
Di seberangnya, Sebastian duduk tegak, sesekali membuka berkas lain untuk memberikan penjelasan singkat atau rekomendasi kebijakan. Mereka telah bekerja tanpa jeda selama tiga jam.
Arthur mengambil satu berkas berikutnya—dokumen personal mengenai tokoh-tokoh penting di Archduchy.
Ia membukanya dan membaca.
Nama: Valerine Silvaine Vancroft
Posisi: Duchess Vancroft, Ko-Administrator Wilayah Timur
Usia: 25 tahun
Tingkatan: Arcmage
Spesialisasi: Sihir Es, Alkimia, Hubungan Diplomatik
Julukan Resmi: The Silver Frost — menggambarkan kecantikan luar biasa serta sikap dingin dan sulit didekati
Julukan Tidak Resmi: The Crazy Goddess
Arthur berhenti membaca. Mata merahnya terpaku pada baris terakhir.
“‘The Crazy Goddess’?” ulangnya tanpa sadar.
Sebastian yang sedang membaca laporan lain mendongak.
“Maaf, Yang Mulia?”
Arthur mengangkat dokumen itu sedikit. “Valerine punya julukan ‘Dewi Gila’?”
Ekspresi Sebastian berubah—campuran antara geli dan waspada.
“Ya, Yang Mulia. Itu… julukan yang cukup dikenal di kalangan bangsawan. Meskipun, tentu saja, tidak banyak yang berani mengucapkannya di hadapan Duchess.”
Arthur meletakkan berkas itu di meja, menatap Sebastian dengan ketertarikan yang nyata.
“Aku tahu ada yang menyebutnya ‘orang gila’ secara informal. Tapi ‘Dewi Gila’ terdengar… dramatis. Ada cerita di baliknya?”
Sebastian ragu sejenak. Pandangannya sempat melirik pintu, seolah memastikan tidak ada sosok berambut perak yang tiba-tiba muncul.
“Ada beberapa… insiden yang melatarbelakanginya, Yang Mulia.”
“Ceritakan.”
“Yang Mulia yakin ingin—”
“Sebastian,” potong Arthur datar, nadanya tegas tanpa perlu ditinggikan, “ceritakan.”
Sebastian menarik napas panjang, lalu menutup dokumennya.
“Baiklah. Insiden pertama—dan yang paling terkenal—terjadi empat tahun lalu, saat Duchess masih berusia dua puluh satu tahun dan belum menikah dengan Yang Mulia.”
...***...
🤭🤭