Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Ye Chenxu
Cao Tianxu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, seolah merasa puas atas jawaban pemuda itu.
Dia lalu melangkah turun dari singgasananya, melayang perlahan hingga kakinya menyentuh lantai di depan Ye Chenxu. Setiap langkahnya membuat seluruh aula bergetar, seolah istana itu sendiri memberi hormat.
"Dengarkan aku, Ye Chenxu. Aku bukan orang yang suka membuang talenta. Bergabunglah denganku secara resmi. Aku akan mengeluarkan maklumat untuk menghentikan seluruh perburuan terhadapmu. Aku juga akan memberikan perlindungan tingkat tertinggi bagi ibumu di dalam istana ini, di mana tidak ada satu pedang pun yang bisa menyentuhnya."
Ia mendekat, suaranya kini rendah dan menggoda. "Aku akan membuka seluruh perpustakaan terlarang dan sumber daya Dunia Bawah hanya untukmu. Aku akan menjadi gurumu, mentor yang tidak pernah kau miliki. Dan suatu hari ... saat aku melangkah ke tingkat yang lebih tinggi, kau akan duduk di singgasana ini sebagai Raja Wilayah berikutnya."
Keheningan membeku di aula itu. Para tetua Paviliun Darah tampak pucat; tawaran itu adalah sesuatu yang melampaui mimpi siapa pun di Dunia Bawah.
Namun, Ye Chenxu justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung ironi pahit.
"Tawaran yang sangat dermawan, Tuan Cao. Dan sebagai gantinya? Tidak ada makan siang gratis di Dunia Bawah, bukan?"
Cao Tianxu menatapnya tajam, cahaya merah berkilat di pupil matanya.
"Sederhana saja. Kau menyerahkan kendali mutlak atas energi kehampaanmu kepadaku melalui segel kontrak jiwa. Kau menjadi bagian dari tatanan Paviliun Darah. Lalu, kau menjadi senjata terkuatku."
Untuk pertama kalinya dalam pertemuan itu, mata Ye Chenxu benar-benar mengeras, berubah menjadi kegelapan yang pekat.
"Kalau aku menolak?"
Cao Tianxu tidak marah. Ia justru menghela napas, seolah sedang menatap anak kecil yang bebal.
"Maka seluruh Dunia Bawah, mulai dari pengemis di jalanan hingga naga di puncak gunung, akan memburumu sampai ke ujung dunia. Kau akan melihat ibumu membusuk di depan matamu, dan kau akan menyesal karena pernah lahir ke dunia ini."
Ye Chenxu menghela napas perlahan, bahunya rileks. Lalu dia menjawab, "Aku sudah menjalani hidup seperti itu sejak hari pertama membangkitkan kekuatan ini. Jika aku harus menukar jiwaku demi keamanan yang palsu, maka apa bedanya aku dengan budak yang mati di tambangmu?"
Aura Ye Chenxu bangkit secara mendadak. Kali ini bukan lagi sekadar tekanan spiritual biasa, melainkan kehampaan murni yang mulai memakan cahaya di sekitarnya.
Fragmen hukum di dalam intinya bergetar hebat, memancarkan resonansi yang membuat ruang di sekelilingnya sedikit terdistorsi, melengkung dan retak.
Para tetua di sekitar mereka secara insting mundur, wajah mereka penuh kengerian.
Cao Tianxu menyipitkan mata, auranya sendiri bangkit membentuk perisai darah yang menahan distorsi tersebut.
"Kau berani menantang seorang Raja Wilayah di kediamannya sendiri? Kau pikir sedikit pemahaman hukum bisa menyelamatkanmu?"
"Aku tidak menantangmu, Tuan Cao," ujar Ye Chenxu dengan suara yang bergema seperti ribuan bisikan kehampaan. "Aku hanya menolak dikendalikan oleh siapa pun, entah itu dewa purba atau raja manusia."
Untuk sepersekian detik, dua kehendak raksasa bertabrakan di tengah aula. Benturan itu tidak menghasilkan suara ledakan, melainkan gelombang kejut hening yang merobek karpet marmer dan membuat pilar-pilar raksasa retak.
Formasi perlindungan istana menyala terang, berjuang keras menahan energi yang bergejolak.
Namun, Cao Tianxu tiba-tiba menghentikan auranya. Ia tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memenuhi seluruh lembah.
"Bagus! Sangat bagus!" Cao Tianxu melambaikan tangannya, dan seluruh tekanan di ruangan itu menghilang seolah tidak pernah ada.
"Kalau kau tadi langsung berlutut dan menerima tawaranku, aku akan langsung membunuhmu di tempat. Seseorang yang memiliki kekuatan kehampaan namun memiliki mentalitas budak tidak pantas menyentuh esensi ketiadaan."
Ia berbalik, berjalan kembali menuju singgasananya.
"Kau bebas pergi, Ye Chenxu. Aku tidak akan menghentikanmu hari ini."
Ye Chenxu sedikit terkejut, namun ia tetap waspada.
"api ingat," suara Cao Tianxu terdengar dingin dari kejauhan. "Mulai hari ini, kau bukan lagi hanya milik Dunia Bawah. Kau telah menarik perhatian entitas yang jauh lebih besar. Berlarilah secepat yang kau bisa, karena saat kita bertemu lagi, aku tidak akan memberikan tawaran. Aku akan mengambil apa yang ingin menjadi milikku."
Saat Ye Chenxu melangkah keluar dari gerbang Istana Darah, langit di atasnya berdenyut halus, seolah-olah seluruh dunia baru saja merasakan pergeseran tektonik dalam tatanan takdir.
Ia berdiri di puncak tangga istana, menatap cakrawala yang kini tampak lebih berbahaya. Ia tahu—sejak pertemuan itu berakhir, seluruh keseimbangan kekuatan di Dunia Bawah dan sekitarnya telah berubah selamanya.
Kabar tentang "Bayangan Kehampaan" yang keluar hidup-hidup dari Istana Darah menyebar seperti api di atas tumpahan minyak.
Di berbagai wilayah yang jauh, sekte-sekte besar dari wilayah atas mulai membuka gulungan naskah kuno mereka, mencari tahu tentang Klan Ye.
Organisasi rahasia mulai mengerahkan mata-mata terbaik mereka untuk mengikuti jejak Ye Chenxu. Bahkan penguasa wilayah atas, entitas yang selama ini menganggap Dunia Bawah sebagai tempat pembuangan sampah, mulai mengirim utusan untuk menyelidiki anomali ini.
Nama Ye Chenxu mulai bergema melampaui batas-batas wilayah bawah tanah. Takdirnya telah menembus penghalang yang selama ini mengurungnya.
Malam telah turun sepenuhnya saat Ye Chenxu tiba kembali di markas tersembunyi Paviliun Senyap. Luo Yan menyambutnya di ambang pintu, wajahnya menunjukkan kelegaan yang jarang diperlihatkan, namun matanya tetap waspada.
"Kau masih hidup," ujar Luo Yan pendek. "Dan fakta bahwa kau kembali dengan utuh dari Istana Darah berarti satu hal, Dunia Bawah tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini."
Ye Chenxu duduk di atas sebuah batu besar, menghela napas panjang untuk melepaskan beban yang menghimpit dadanya sejak undangan itu tiba.
Tubuhnya terasa lelah secara spiritual, namun matanya bersinar dengan kejelasan baru.
"Permainan sudah naik level, Senior Luo Yan," ujar Ye Chenxu sambil menatap telapak tangannya.
"Kita tidak lagi bermain di lumpur melawan pemburu bayaran rendahan. Kita telah masuk ke panggung para penguasa. Cao Tianxu hanya awal dari badai yang sesungguhnya."
Luo Yan tersenyum samar, menyandarkan tubuhnya pada pilar. "Lalu, apa langkah berikutnya untuk sang Bayangan Kehampaan?"
Ye Chenxu menatap langit jauh, di mana awan tampak menyelimuti bintang-bintang yang tak pernah terlihat di Dunia Bawah.
"Membangun kekuatan sejati. Mengumpulkan fragmen warisan yang tercecer. Menyiapkan fondasi yang tidak bisa digoyahkan oleh Raja Wilayah mana pun," kata Ye Chenxu sambil mengepalkan tangannya.
"Karena perang berikutnya tidak lagi soal bagaimana cara bertahan hidup. Melainkan soal bagaimana cara menaklukkan dunia yang ingin mengendalikan kita."
Luo Yan mengangguk, auranya sendiri sedikit meningkat. "Kalau begitu, bersiaplah. Karena panggung ini akan menjadi sangat berdarah."
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya