NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Pengawal

Terjerat Cinta Sang Pengawal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Buna_Ama

Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.

Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.

Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE SEMBILAN BELAS

Brakk!!

"Sie-"

Pintu ruang rawat Siena dibuka begitu saja oleh Rani, Dena dan Livia tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Langkah kaki mereka terhenti tepat diambang pintu, terdiam memaku dan saling lirik ketika tak sengaja melihat Bastian dan Siena dengan jarak yang begitu dekat, hampir intim.

Siena yang melihat kedatangan sahabatnya, refleks mendorong kuat dada bidang Bastian, membuat pria itu terhuyung kebelakang tapi dengan sigap ia langsung menjaga keseimbangan tubuhnya.

"K-kalian datang..." ucap Siena terbata-bata gugup.

"Ekhemm..." Dena dan Rani berdehem pelan mencoba menetralkan rasa canggung yang tiba-tiba muncul.

Namun, berbeda dengan Livia. Gadis itu seperti orang kebingungan melihat interaksi ketiga sahabat nya.

Sebab diantara mereka berempat, hanya Livia sendirilah yang belum tau sebenarnya apa yang terjadi setelah pasca Siena mengalami kecelakaan.

"Siena, bagaimana kabarmu? Maaf aku baru bisa datang menjenguk mu". Livia berjalan duluan melewati Dena dan Rani yang masih berdiri diambang pintu seolah ragu untuk mendekat.

Apalagi, mereka tak sengaja melirik kearah Bastian yang ternyata juga melirik kearah mereka. Hanya sebentar.

"Aku sudah baik-baik saja, Liv. Hari ini juga sudah boleh pulang". Jawab Siena

"Ekhemm..." Bastian berdehem pelan. "Nona, saya tunggu anda di mobil". Ujar nya pelan

Siena hanya membalas nya dengan anggukan, setelah itu Bastian bergegas melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Siena. Namun, saat sampai diambang pintu ia berhenti sejenak tepat disisi Dena.

"Tolong bantu nona Siena berkemas, saya tunggu segera di mobil". Ucap Bastian dengan suara yang rendah tapi tegas. Ia bahkan tidak menoleh menatap kearah dua gadis itu.

Dena dan Rani yang mendengar itu hanya mengangguk-anggukkan kepala nya dan menyahutnya lirih.

"I-iya". Sahut mereka bersamaan.

Setelah itu, barulah Bastian kembali melangkahkan kaki nya pergi menuju tempat parkir.

.

Pintu ruang rawat kembali tertutup setelah kepergian Bastian. Hening menggantung di udara selama beberapa detik, hingga Dena dan Rani akhirnya menghela napas lega.

Padahal mereka hanya berhadapan dengan Bastian sebentar, namun aura dominan dan wibawa yang dipancarkan pria iru terasa begitu menekan.

Bergegas kedua nya melangkahkan kakinya cepat mendekati Siena dan Livia.

"Kalian kenapa sedari tadi hanya bengong saja dipintu? Terpesona dengan Bastian ya?" celetuk Livia dengan begitu santai nya

"Siapa juga yang terpesona dengan pria dingin seperti itu, justru kita malah takut iya kan Na?" sahut Rani seraya menyenggol pelan lengan Dena.

"Hmm". Dena hanya menyahutnya dengan deheman dan anggukan kepala.

"Sudahlah, lebih baik ayo bantu aku berkemas. Hari ini aku sudah boleh pulang, bosan sekali dirumah sakit". Keluh Siena seraya mendesahkan nafasnya kasar.

Dena langsung mengambil tas di meja, sementara Rani meraih jaket Siena yang tergantung di sandaran kursi.

Livia memandang keduanya bergantian, lalu tertawa kecil. “Kalian ini kenapa tegang sekali? Bastian hanya menyuruh membantu berkemas, bukan memerintahkan ikut pelatihan militer.”

Rani mendengus pelan. “Kau tidak merasakannya, Liv.”

“Merasakan apa?”

Dena akhirnya angkat bicara, suaranya lebih rendah. “Cara dia berbicara.”

Siena berhenti melipat pakaian. “Memangnya kenapa dengan cara bicaranya?”

“Seperti bukan permintaan,” jawab Dena tenang. “Lebih seperti perintah yang tidak bisa ditolak.”

Livia mengangkat alis. “Bukankah memang begitu pekerjaannya? Mengatur situasi supaya aman?”

“Menjaga itu satu hal,” sahut Rani, “tapi mengendalikan itu hal lain.”

Siena menatap mereka satu per satu. “Kalian terlalu membesar-besarkan.”

“Benarkah?” Rani mendekat sedikit. “Siena sayang, bahkan kami yang hanya berdiri di pintu saja merasa ditekan. Apalagi kau yang bersamanya setiap hari.”

Siena terdiam.

Jujur, ia sebenarnya tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran Bastian memang selalu memenuhi ruangan. Tidak perlu suara keras. Tidak perlu gerakan berlebihan.

Cukup berdiri dan semua orang otomatis memberi ruang.

Livia masih terdengar santai. “Menurutku itu hanya wibawa. Tidak semua pria bisa seperti itu.”

“Wibawa berbeda dengan dominasi, Liv". balas Dena pelan.

Siena menghela napas panjang. “Dia tidak pernah menyakitiku.”

Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir ranum Siena.

Mendengar itu, sontak Rani dan Dena saling pandang.

“Kami tidak bilang dia menyakitimu,” ucap Dena lembut. “Kami hanya tidak ingin kau merasa terbebani, kami ingin kamu bebas seperti dulu lagi, Na.”

Siena langsung menegakkan bahunya. “Aku tidak pernah merasa terbebani dan aku juga masih bisa bebas.”

Sunyi sesaat.

Rani mengulas senyum tipis. “Bagus kalau begitu.”

Kemudian, Livia menepuk tangan ringan. “Baiklah, sebelum diskusi ini berubah menjadi sidang, lebih baik kita benar-benar menyelesaikan berkemas. Kasihan bodyguard-mu itu menunggu terlalu lama.”

Siena menghela nafas pelan lalu kembali berkemas, sementara Dena dan Rani tak lagi menggubris ucapan Livia.

.

Ditempat parkir rumah sakit, Bastian dengan setia menunggu Siena dan teman-temannya itu keluar dari rumah sakit. Ia berdiri bersandar dipintu mobil sembari menunduk memainkan ponsel nya.

Tiba-tiba Darian datang entah darimana.

"Tuan". Sapa Darian sambil menundukkan kepalanya sekilas.

Bastian sontak mendongak menatap kearah Darian, "Dar.. Kenapa kau kemari? Aku tidak menyuruh mu datang". Ujar nya datar lalu menegakkan tubuhnya dan mengedarkan pandangannya menatap sekitar memastikan jika tidak ada yang melihat mereka berdua. Termasuk Siena dan teman-temannya.

"Maaf saya lancang tuan, tapi ada masalah dikantor". Ucap Darian

"Katakan".

Darian tak langsung menjawab, ia melangkah lebih dekat lalu berbisik.

"Kepar*t!! Berani sekali membuat masalah dikantor ku". Umpat Bastian, tangannya mengepal erat dan tatapannya berubah mengeras.

"Saya tidak berani bertindak jika tidak ada instruksi dari anda tuan". Kata Darian dengan sedikit menundukkan kepalanya.

Bastian menghela nafas berat, "Sementara kau awasi dulu mereka, Dar. Jika mereka semakin berbuat nekat aku akan segera menangani nya sendiri".

Darian mengangguk patuh. “Baik, Tuan. Saya pastikan tidak ada pergerakan di luar kendali.”

“Jangan bertindak sebelum aku memberi perintah,” lanjut Bastian rendah, namun jelas mengandung tekanan. “Biarkan mereka merasa aman untuk sementara.”

“Baik tuan".

Tatapan Bastian kembali mengeras sesaat. “Dan pastikan tidak ada yang mengetahui keberadaanku di sini. Terutama dari jajaran direksi.”

Darian sedikit terkejut, namun tetap menunduk. “Saya akan menutup semua akses informasi.”

"Hmm". Sahut Bastian berdehem

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki. Sontak Bastian dan Darian menoleh. Dilihatnya, Siena dan ketiga sahabatnya tengah berjalan kearah mereka dengan langkah pelan.

Dalam sekejap, ekspresi tegang di wajah Bastian menghilang. Tangannya yang tadi mengepal kini masuk ke saku jas dengan santai, seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi.

“Pergi sekarang,” perintahnya pelan pada Darian tanpa menoleh.

Darian langsung menjauh, berbaur dengan para pengunjung rumah sakit.

Sementara Bastian melangkah mendekat ke arah Siena dan dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya.

.

.

.

Haii temen-temen jangan lupa dukungannya yaa.... Like, vote dan komen... Terimakasih ♥️🫶🏻

1
vnablu
wahh apakah jodohnya Han juga akan muncul di cerita ini buna??...aku setuju banget kalau emang iyaa😄😄😄
Buna_Ama 🌺: mau request siapa jodohnya han 😅
total 1 replies
vnablu
ayooo Buna minimal kasihh visual lahh biar nggak kepo aku nya😌😌
Buna_Ama 🌺: besok yaa kapan2 buna kasih visual 🫶
total 1 replies
vnablu
kurang ajar kamu bas🤭😭
Buna_Ama 🌺: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
💝F&N💝
mana up nya hari ini
Buna_Ama 🌺: bentar yaa.. nunggu lulus review 🙏🫶
total 1 replies
vnablu
lanjut bunaa semangat terus 😄😄
Naufal Affiq
lanjut kak
💝F&N💝
soo sweet bingit, kak
ayo lanjut lagi

secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date

ok👍👍👍
Buna_Ama 🌺: terimakasih 🥰🫶🫶
total 1 replies
vnablu
hukumnya cium ak Bas🤭😭
Buna_Ama 🌺: heii antriii, buna duluan yaa 😌🤣
total 1 replies
Naufal Affiq
oh bastian kau yang terbaik untuk siena,buat siena jatuh cinta sama mu bas,aku mendukungmu
Buna_Ama 🌺: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Naufal Affiq
lanjut buna
Buna_Ama 🌺: beberapa hari ini buna up nya cuma satu bab dulu aja ya. di rl lagi sibuk 🙏🙏🫶
total 1 replies
💝F&N💝
ayo lanjut lagi yg banyak
tetap semangat yaaaaa
vnablu
ciee yang udah mulai dekat 😄😄🤭
vnablu
kamu pikirr Bastian 🐶 menggonggong 😭
Buna_Ama 🌺: 🤣🤣🤣🤣😭😭😭
total 1 replies
Naufal Affiq
memang yang terbaik kau seina,babang tampan sudah menunggu mu
Buna_Ama 🌺: siena bukan seina😭
total 1 replies
💝F&N💝
good👍👍
lanjut
vnablu
ayoo Bas sebaiknya jujur takutnya nanti Siena salah paham nanti ngira kamu itu mata mata 🤭🤭
vnablu
kira" apa yang penting yaa Emmm 🤔🤔 curiga ak Van sma kamu apa kamu adaa wanita lain di belakang Siena😄😄
💝F&N💝
up lagi dooooooong
Buna_Ama 🌺: sabar ya nunggu lulus review dulu 🙏
total 1 replies
vnablu
kalauuu rindu bilang lahh😄😄
Eliermswati
lnjut q tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!