Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Naya melirik pistol yang menempel di sisi kanan kepalanya, lalu membayangkan bagaimana jadinya jika benda itu diletakkan di kepala ayahnya dan pelatuknya ditarik. Tentu saja ayahnya akan langsung meninggal dunia.
Tidak.
Benar-benar tidak boleh berakhir seperti itu, Naya tidak akan pernah mau itu terjadi. Ia menyayangi ayahnya lebih dari apapun, bahkan lebih dari dirinya sendiri.
“Baiklah, aku setuju.” Dengan susah payah Naya mengumpulkan kembali suara yang sejak tadi hanya tercekat di tenggorokan.
“Bagus. Itu keputusan yang bijak.” Lucio menarik kembali pistolnya dan menyimpannya. Setelah itu seolah-olah tidak ada terjadi, Lucio duduk di samping Naya.
“Apa lagi?” Tanya Naya menggeser duduknya menjauh.
“Ganti bajumu, aku antarkan pulang.”
“Aku bisa pulang sendiri,” Naya berdiri kemudian mulai mencari baju yang ia pakai tadi malam. Namun setelah cukup lama mencari, baju itu tidak ditemukan dimanapun. “Dimana bajuku?”
“Sedang dicuci oleh petugas kebersihan, aku sudah bilang kan kalau kamu muntah tadi malam. Itu tidak hanya mengotori bajuku, tetapi juga bajumu.”
“Terus aku pakai apa?”
Suasana hening. Pria itu tidak segera berkata apa-apa, hanya menatapnya beberapa detik, lalu dia berjalan ke sebuah pintu. Dan tak lama kemudian kembali sambil membawa satu kemeja putih.
“Pakai itu saja,” Lucio melemparkan kemeja tersebut pada Naya, dan jatuh tepat diatas kepalanya. Naya hampir saja mengumpat jika saja ia tidak segera sadar kalau orang yang melakukannya adalah orang yang sangat mengerikan yang bisa membunuhnya dalam satu kali kedipan mata.
“Kenapa kamu harus bertemu papaku? Maksudku kita bisa melakukannya tanpa–”
“Papamu harus tahu. Aku akan pastikan semuanya jelas. Semua pihak tahu posisi mereka.” potong Lucio kemudian berjalan ke pintu.
“Tapi–”
Pria itu berhenti di pintu, sedikit menoleh dan kembali memotong. “Tidak ada tapi-tapian. Dia harus tahu. Kita tidak bisa menyembunyikan hal ini. Kamu akan menikah denganku, dan aku akan memastikan semuanya dilakukan dengan cara yang tepat.”
Naya merasa perutnya mual. Ini terasa seperti mimpi buruk yang semakin dalam, dan tidak ada jalan keluar. “Tapi aku... Aku tidak siap untuk ini. Papaku tidak akan setuju,” katanya, berusaha mencari sedikit keberanian.
“Papamu akan setuju. Aku bisa menjamin itu. Kalau tidak, aku akan memastikan kamu tetap aman.” Lucio menatapnya tanpa emosi, seolah tidak terpengaruh dengan kekhawatirannya.
Naya menatapnya sekali lagi, merasakan beban yang berat di pundaknya. Ia tidak tahu apa yang lebih menakutkan, terjebak dalam pernikahan yang dipaksakan ini atau menghadapi kenyataan bahwa ia mungkin tidak punya pilihan lain.
Tahu kalau Naya perlu waktu sendiri untuk berganti pakaian, Lucio segera keluar.
“Tidak apa-apa Naya, dia memang mengerikan tetapi tidak berusaha terlihat baik seperti Ardan.” Gumam Naya menghibur diri sendiri, setidaknya ia tahu bahwa ia harus selalu waspada berada di dekat Lucio. Tidak seperti saat berada di dekat Ardan, ia merasa terlalu aman sehingga ia tidak pernah menduga kalau pria bisa menyakitinya.
Kemeja putih milik Lucio membungkus tubuh Naya hingga sebatas lutut. Kemeja itu kebesaran di tubuhnya, tentu saja karena perbedaan ukuran dan tinggi badan mereka yang cukup jauh.
Tak lama kemudian Lucio menuntunnya ke mobil dengan langkah cepat dan tegas. Mobil mewah yang sama dengan yang ia lihat semalam sudah menunggu di depan pintu.
Mario dengan sangat sopan membukakan pintu untuk Lucio dan Naya. Dua orang asing yang baru saja menjalin hubungan atas dasar kesepakatan, duduk berdampingan dalam mobil mewah itu.
"Aku masih tidak mengerti, kenapa kamu memilihku?" Tanya Naya saat mobil mulai meninggalkan halaman luas mansion Lucio. Ia menatap keluar jendela, memperhatikan bangunan dan pohon-pohon pinggir jalan yang mulai bergerak cepat yang menandakan kendaraan melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
"Karena kamu yang cukup berani muntah di bajuku."
Jawaban macam apa itu? Naya tentu tidak bermaksud melakukannya dengan sengaja, apalagi saat itu ia sedang mabuk. Jika Naya sepenuhnya sadar, meskipun ia punya sepuluh kali lipat keberanian ia tidak akan mau melakukannya.
"Jangan bertanya-tanya lagi, aku tidak punya banyak kesabaran untuk menjawab." Kata Lucio memperingatkan, suaranya dingin dan mencekam.
Naya meremas kuat ujung kemeja kebesaran Lucio yang melekat di tubuhnya, lalu mengangguk.
Selama perjalanan menuju rumahnya, suasana canggung. Tidak ada yang berbicara. Naya menatap jalanan yang berlalu di luar jendela, pikirannya berputar-putar.
Ketika akhirnya mobil berhenti di depan rumahnya, pria itu memandangnya sekali lagi dengan tatapan yang tidak bisa disembunyikan.
“Nanti malam, aku akan datang." katanya, dengan suara yang begitu meyakinkan.
Naya hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia keluar dari mobil dengan langkah lemas, menuju pintu rumah yang terasa begitu jauh. Sebelum ia sempat membuka pintu, pria itu memanggilnya.
"Naya," panggil Lucio. "Ingat, pernikahan ini bukan hanya untukmu. Ini juga untukku. Jangan coba-coba mengkhianatiku."
Naya berhenti sejenak, menoleh, namun tidak menjawab apa-apa. Ia hanya membuka pintu dan melangkah masuk ke rumah.
“Hebat sekali, Naya, kamu membuat ayahmu khawatir sepanjang malam dan baru pulang sekarang?” Irania, ibu tirinya menghampirinya dengan tatapan sinis yang menghujam.
“Oh…tunggu!” Irania memusatkan perhatian ke kemeja yang membungkus tubuh Naya. “Kamu memakai kemeja pria. Jadi sepanjang malam kamu menghabiskan waktu bersama pria lain? Kamu benar-benar memalukan, Naya.”
Naya memutar bola matanya malas, ia paling benci jika wanita ular ini bicara. Telinganya sakit setiap kali Irania bicara. Naya melewati wanita itu begitu saja tanpa berkata apa-apa.
“Mas! Naya sudah pulang, dan lihat apa yang dilakukan oleh anakmu!” Irania berteriak memanggil Tuan Tuqman.
Tak lama kemudian Tuan Tuqman turun bersama Rima dan Ardan. Ayahnya itu menatap Naya tajam namun sesaat kemudian berganti dengan tatapan lembut penuh kekhawatiran.
“Dari mana saja kamu, Naya? Papa mencarimu semalam.” Berbanding terbalik dengan reaksi marah Irania, Tuan Tuqman memeluk putrinya erat seolah takut kehilangan.
Sementara itu Ardan menatap Naya dengan tangan terkepal, entah kenapa ia tidak suka melihat Naya mengenakan kemeja pria lain.
Setelah Tuan Tuqman melepaskan pelukannya, Ardan dengan cepat menarik tangan Naya dan membentaknya.
“Jadi kamu memutuskan hubungan kita karena kamu selingkuh? Aku tidak terima, Naya. Kita tidak bisa berakhir seperti ini!”
...***...
...Like, komen dan vote ...